
Dalam Episode ini menceritakan tentang masa lalu Laras dan Bian saat Bian mengalami masa terpuruk, ada Flashback di dalam Episode ini. Gak perlu bertanya kenapa kok di ulang, ya karena Flashback, awas sampai koment begitu, Author jitak manja nanti.
***
Bian menggeser tubuhnya menuju kursi samping dan duduk disana, menyadarkan kepalanya dan mencoba tidur, sementara mobil yang membawa Laras.
Laras membawa mobil itu keluar dari area rumah sakit. Saat Bian sudah tidur begitu juga anak perempuannya yang berada dibangku belakang.
Jalanan malam itu sedikit lengang, tapi ia tak ingin membawa mobil itu untuk lebih laku dari kecepatan enam puluh KM/Jam, karena ia tak ingin terjadi hal yang tak ia inginkan.
Sudah lama sekali rasanya ia tak membawa mobil sendiri, biasanya supir. Terakhir ia membawa saat bekerja di kantor orangtua dari Kesya.
Mengingat Kesya ia jadi teringat hal yang terjadi beberapa menit lalu, saat ia menjenguk Keylan yang menurut Bian kecelakaan motor.
Lama sekali ia tak bertemu dengan Kesya selepas ia melepaskan Kesya untuk Bian. Saat itu remuk hatinya, mengetahui laki laki yang sangat dicintainya pergi bersama perempuan lain, yang tak lain anak bosnya.
Laras mengalah bukan karena Kesya anak tuan Susanto, tapi karena ia tak pikir tak ada gunanya bersaing dengan seorang Kesya yang memiliki apapun, pintar, cantik, dan anak dari orang kaya.
Sementara ia hanya seorang perempuan biasa, hanya pekerja biasa yang tak pantas bersaing.
Laras putus dari Bian tanpa Bian mengucapkan kata maaf atau merasa menyesal telah menyelingkuhinya. Sakit rasanya, ia berusaha membuang semua hal tentang Bian baik dari kontak ataupun semua kenangannya.
Setelah ia putus, lebih tiga tahun, ia mendapat kabar jika seorang pengacara Biandra masuk penjara karena kasus suap.
Awalnya ia takut untuk mendekati Bian, karena ia masih sakit hati, tapi perasaanya tak bisa di bohongi, ia tetap ingin dekat dengan Bian.
Keadaan Bian di penjara tidak sedang baik-baik saja, Bian mengatakan telah putus dengan Kesya karena alasan tertentu, alasan itupun sampai sekarang tak pernah ia tahu.
(Flashback)
Beberapa bulan sejak Bian di penjara Laras mulai menjenguk Bian.
“Gimana kabar kamu? Lama kita gak ketemu," tanya Laras sambil berusaha bersikap ramah dan baik pada Bian saat itu.
“Seperti inilah keadaan nya. Kamu sendiri?”
“Aku selalu baik. O iya, ini aku ada bawa makanan. Enggak banyak sih, tapi lumayan enak daripada makanan dipenjara ini," Laras menyodorkan sekotak tupperware pada Bian yang berisi banyak makanan serta yang lainnya.
“Nanti kamu titip sama penjaga aja. Soalnya makannya dikasih pas jatah makan siang,"
Laras terdiam. Begitupun Bian.
Saat itu ada pikiran berkecamuk bagi Bian, hati kecilnya selalu malu jika bertemu dengan Laras. Teringat apa yang pernah ia lakukan dulu pada perempuan itu.
Hampir empat tahun lalu saat pertama kali ia mengenal Laras. Perempuan yang selalu bisa membuatnya tertawa dan bahagia, punya segudang cara agar dirinya tak merasa sedih.
Laras menghiburnya saat rindu sang Papa, menemaninya pergi jika ia sedang bad mood. Bersama Laras bagai sebuah bunga opium yang menjadi candu. Laras adalah dunianya saat itu.
Bian memutuskan untuk mengutarakan perasaanya, meskipun berulang kali Laras menolak, Bian tetap mengatakan rasa cintanya.
Pernyataan yang kesekian kali, akhirnya Laras memutuskan untuk menerima hal itu.
Mereka menjalin hubungan seperti biasa, layaknya sepasang kekasih. Mama dan adiknya pun merestui hubungan mereka.
Tapi, bodohnya ia. Saat Laras sudah jatuh cinta dan mulai menerima semua sikap egoisnya, ia malah dirasuki rasa bosan yang menggema Di dinding hatinya.
Setahun hubungan mereka. Saat itu ia membantu salah satu karyawan Putra Group keluar dari masalah, seorang perempuan ideal yang sedikit cuek yang akhirnya ia tahu bernama Kesya.
Awalnya biasa ia melihat Kesya, tapi setelah tahu latar belakang perkerjaan dan keluarganya, ia mulai menepis perasaan pada Laras.
Ia mendekati Kesya dengan berbagai cara, mengatakan bahwa ia sendiri dan sedang menunggu yang pasti.
Tiga tahun lalu, Bian dan Kesya memutuskan untuk berpacaran. Laras tahu dan sempat melihat kemesraan mereka, tapi Laras tak pernah marah atau berusaha mengatakan bahwa Bian miliknya.
Laras pergi dari hidupnya selama beberapa tahun, hilang entah kemana. Meskipun ia tahu dimana tempat kerja Laras.
"Gimana kerjaanmu?" Tanya Bian mencairkan suasana yang sempat beku.
"Lancar."
"Masih disana kerjanya?"
"Masih, kamu tau sendiri kan aku betah disana. Dan keahlianku dalam bidang perusahaan itu." Laras mengulas senyum.
Begitupun Bian yang berusaha tersenyum. Manis. "Iya, aku ingat saat memaksamu pindah kerja, eh belum sebulan sudah keluar dan balik ke pekerjaan yang lama."
"Lagian kamu maksa sih."
"Hidup kan kadang berwarna, kita butuh sesuatu yang berbeda, Ras."
"Maksudmu seperti kamu yang masuk penjara," celetuk Laras.
Bian terdiam sambil menggaruk belakang kepalanya, sedikit salah tingkah dengan ucapan Laras.
"Kalau ini warna gelap, gak baik ditiru." ucap Bian.
"Siapa juga yang mau niru, makanan disini gak enak, kan?"Tanya Laras sedikit berbisik, agar penjaga tahanan tak mendengar obrolan mereka.
"Betul, makanannya aneh. Enggak enak." Ucap Bian ikut berbisik pelan.
"Makanya jangan masuk penjara."
"Sudah terlanjur, Ras."
"Yaudah nikmati saja, masih tiga tahun ini kan,"
Bian mengangguk sambil tersenyum simpul. Benar apa yang ada dalam pikirannya selama ini, perempuan itu selalu bisa membuat sebuah warna gelap berubah menjadi deretan pelangi yang terang dan begitu cerah.
"Aku pamit dulu, Ian. Sudah waktunya aku pulang ke rumah." Sambung Laras sambil membenarkan tasnya.
"Iya, makasih untuk makanannya. Hati-hati pulangnya."
Laras mengangguk, kemudian berdiri lalu berjalan menjauh meninggalkan Bian yang masih Di tempat yang sama.
Laras keluar dari kantor polisi dengan seulas seyum yang entah tercipta karena apa. Sesampainya dijalan, ia melambai pada sebuah taksi.
(End Flash Back)
Rasanya kejadian itu baru beberapa hari lalu ternyata sudah terjadi lama sekali, sekitar tujuh belas tahun lalu.
Semuanya masih membekas dalam dirinya, tentang seorang Bian yang sudah berubah dari kehidupannya.
Meskipun ia masih selalu berpikir bawah Bian masih menyimpan perasaan pada Kesya, ia tak bisa memungkiri itu, sebagai seorang perempuan ia pantas menaruh curiga dan cemburu.
Ia dan Bian sudah memiliki seorang anak, dan seorang anak lagi yang tengah di kandungnya, umur Bian juga tak pantas bermain dangan rumah tangganya.
Tapi, sejauh ini selama mereka menikah Bian tak pernah berbuat macam-macam, hanya kadang sibuk bekerja dan berkumpul dengan teman-temanya sampai lupa waktu.
Laras tak pernah mempermasalahkan hal itu.
Tak terasa sudah tiga puluh menit, Laras sampai dirumahnya. Ia membangunkan Bian dan sang anak saat mobil itu sudah masuk pagar.
Setelah menaruh mobil pada tempatnya, mereka pun masuk kedalam rumah.