
Adrian terus memajukan mobilnya dengan pikiran yang semakin kacau, ia tak pernah berpikir bahwa mamanya akan melakukan aksi gila itu hanya tepi untuk menjalankan keegoisannya sendiri.
Sesekali ia melihat Yola yang duduk di sampingnya mengemudi, ia tak pernah melihat Yola begitu ketakutan, rautnya terlihat bingung dan Bimbang seperti Tengah menyimpan duka yang begitu dalam.
"Maaf ya kalau aku membawamu dalam masalah besar seperti ini, aku nggak pernah berpikir kalau mama bisa berbuat nekat." ucapan Adrian dengan sambil tangannya terus mengelus rambut dari Yola. Yola tak merespon sepertinya ketakutannya membuat tubuhnya tak terkuat hingga ia tertidur dengan pulasnya di dalam mobil itu.
Tak Berapa lama mobil yang dikendarai Adrian sampai di rumah kecil Yola. Adrian menggoyangkan dengan Yola perlahan agar bangun. Dengan tubuh yang masih kesakitan Yola bangun dan menyadarkan dirinya sendiri saat bangun itu napas Yola masih memburu namun ia berusaha untuk menyesuaikan nya.
"Ayo bangun kita sampai." sambung Adrian.
Yola respon lalu membuka pintu mobil dan berjalan perlahan menuju rumah. Ketika mengetuk pintu tak Berapa lama Pintu itu terbuka ada sang Ibu dan Lukman disana dengan raut yang ikut cemas karena sudah sehari semalam ia tak pulang ke rumah
"Dari mana saja kamu? Kenapa tidak pulang?" tanya sang Ibu begitu khawatir " keadaanmu juga kenapa kok Bibirmu sedikit ke lebam."
Mendapat pertanyaan dari sang ibu membuat Yola tak merespon Ia hanya menunduk sambil memegangi pipinya dalam berjalan masuk dalam kamar.
"Yola Kenapa nak Adrian?" begitu tanya ibu Yola pada Adrian saat Yola tak menjawab.
Pertanyaan itu membuat Adrian diam sesaat, Jika ia mengatakan Ia tak enak hati dengan ibu Yola tapi jika tak mengatakan semuanya akan semakin rumit.
"Kenapa diam nak Adrian?" Sambung Ibu Yola.
"Maaf bu, ini kesalahan saya. Saya yang membuat Yola masuk kedalam masalah ini." Kata Adrian sambil menunduk lesu, sulit rasanya untuk mengatakan semua itu pada ibu Yola.
Ibu Yola terdiam, bulir air mata menetes dari pipinya. Ia tahu bahwa anaknya sedang masalah besar dan harus menenangkan diri.
Ia merasa kasihan pada Yola karena sejak ayahnya meninggal Yola yang mengurus semaunya, bahkan sampai rela bekerja menjadi tulang punggung.
Ia tak sekuat dulu, tubuh nya sakit sakitan, semenatara Lukman adik Yola masih teramat kecil untuk membantu semuanya.
"Ya sudah, mungkin Yola butuh istirahat nak Adrian." Ucap Ibu Yola kemudian.
Adrian mengangguk. Lalu berpamitan dan kemudian keluar dari rumah itu.
Ia menjalankan mobilnya pergi entah kemana, ia ingin menenangkan diri sebisa mungkin agar ia yakin bahwa Yola akan terus baik baik saja.
Adrian tak mungkin pulang kerumah, karena itu akan terus membuatnya merasa marah pada sang Mama.
Ia tahu bahwa Sang Mama ingin yang terbaik untuknya, tapi bukan begitu caranya. Hal yang dilakukan terlalu kejang dan arogan. Ia sudah tak peduli jika mamanya ingin mengambil semuanya yang telah diberikan dan juga fasiltas yang ada.
Kemudian ia membawa dirinya untuk chek in kembali, kali ini ia hanya ingin sendiri tanpa teman ataupun seseorang.
Disegarkannya dirinya lalu berganti pakaian dan menikmati udara malam yang bercampur suara kendaraan yang tak pernah sunyi.
Dari ketinggian puluhan meter itu Adrian menatap sekeliling dekat hotel. Hidupnya tak pernah bisa tenang, hidupnya memiliki banyak masalah, dari Papa ataupun Mamanya.
%%%
Berhari hari sudah lamanya Adrian mengurung diri dan selalu menyendiri, ia tak tahu harus bercerita pada siapa.
Malam itu ia kembali berniat ingin menemui Yola di tempat biasa Yola menjajakan diri, tapi saat sampai di sana ia tak menemukan jalan. Kata salah satu teman seprofesinya, Yola sudah lebih seminggu tak ada datang.
Seminggu? Berarti itu sesaat setelah ia diculik oleh mamanya. Adrian meninggalkan tempat itu, kemudian menuju rumah Yola.
Namun saat sampai di sana Ia juga tak menemukan Yola ataupun keluarganya, tetangga bilang Yola sudah pindah beberapa hari lalu
Semakin terpuruk rasa dalam dirinya semakin bersalah ia dengan keluarga Yola. Siapa yang perlu ia salahkan, dirinya yang terus lari dari kenyataan atau mamahnya yang bersikap egois hanya ingin membuatnya bahagia.
Tak ada kelegaan lagi baginya dan tak ada harapan lagi untuknya. Akhirnya ia berpikir untuk pulang rumah meskipun ia harus menemukan mamahnya yang terus bersikap egois padanya.
Sesampainya dirumah, semua nampak sama dan tak ada perubahan sama sekali.
"Akhirnya kamu pulang juga." Ucap sang Mama saat Adrian berjalan melewatinya dan berniat menuju kamarnya.
Adrian menghentikan langkahnya.
"Aku pulang karena keegoisan Mama, bukan untuk Mama." Ujar Adrian dingin.
Sang Mama berdiri dari duduknya.
"Mama lakukan semua itu agar kamu punya masa depan yang baik. Berteman dengan perempuan malam. Mau jadi apa kamu nanti."
"Adrian mau jadi apapun itu bukan urusan Mama. Ma, jangan pikir hanya dengan uang Adrian bisa bahagia. Mama salah." Adrian berusaha memenangkan dirinya sendiri, jika tidak emosinya akan memuncak dan membuat suasana tak begitu nyaman.
"Tapi, Mama lakukan semua agar kamu bisa kuliah, Keluyuran dan foya-foya. Apa kamu gak sadar semua itu."
"Iya, semua memang benar. Tapi Adrian gak bakal Keluyuran kalau Mama dan Papa gak terlalu sibuk sama kerjaan. Beri sedikit waktu luang untuk anakmu merasa bahagia bersama orangtuanya."
Setelah mengucapkan hal itu Adrian berlalu pergi menuju kamarnya.
Nyonya Gio masih disana dengan terus mengatur napasnya. Ia tak tahu apa salahnya, sampai Adrian bersikap begitu. Membuat anaknya sendiri bahagia apa itu salah. Jika salah dimana kesalahannya?
Ia pun lalu mendudukkan dirinya lagi disofa, sejak suaminya masuk penjara rasanya hidup semakin tak tenang. Ada saja masalah yang terus bermunculan Masalah kantor juga sekarang masalah tentang Adrian.
Meskipun ia benci keadaan itu, tapi ia tahu pekerjaan suaminya memang beresiko dan itu tak bisa dihindari.
Saat seperti itu. Ponselnya berbunyi. Nyonya Gio mengangkatnya.
"Bagaimana?" Tanyanya pada seseorang disana yang telah lebih dulu ia lihat IDnya.
"Aman Bos, saya sudah memberikan apa yang bos mau sama pel***r itu. Dia gak akan datang lagi ke kota ini." Jawab orang diponsel.
"Bagus. Jika dia macam-macam habisi. Jangan pedulikan masa beberapa hari lalu. Perempuan itu bisa merusak Adrian."
Setelah menjawab, telephone itu pun mati. Dan Nyonya Gio bernapas lega. Akhirnya Yola bisa pergi sejauh mungkin dari kehidupan Adrian untuk selama-lamanya.