My Berondong Husband

My Berondong Husband
#103 Mengenang



Tak berapa lama mereka akhirnya sampai di tempat mie ayam langganan Kevano saat kuliah dulu, dan langganan juga saat Kesya dan Kevano sedang menikmati masa PDKT.


Kevano memesan dua mangkok mie ayam dan kembali duduk didepan Kesya, saat Kevano disana, Kesya menutup ponselnya dan memasukkan kedalam tas.


"Yang jualan ganti, atau kita salah tempat?" tanya Kesya saat melihat penjual nya berbeda orang, pertanyaan yang sama seperti Kevano tadi.


"Yang jual mie ayam disini kan cuma satu, itu anaknya Mang Ali, orangnya lagi sakit katanya," ucap Kevano.


Tak berapa lama dua mangkuk mie ayam yang mereka pesan telah sampai dan keduanya menikmatinya.


Lama sekali rasanya tak menikmati makanan dipinggir jalan seperti itu, waktu yang tak memungkinkan mereka untuk bersama dalam waktu yang lama kecuali malam hari.


"Gimana tadi keadaan Adrian, Pa?" tanya Kesya di sela sela mereka makan.


Kevano lekas mengunyah makananya untuk menjawab pertanyaan dari Kesya. "Baik seperti biasanya, hanya saja, aku menyarankan dia untuk nikah lagi, Ma,"


"Nikah? Kenapa?" tanya Kesya lagi.


"Aku pikir dia itu masih muda, perlu istri, Alika juga harusnya masih punya sosok ibu,"


"Terus apa katanya?"


"Dia bisa jaga sendiri Alika, padahal aku lihat Alika sering dititipin ke orang lain kalau Adrian benar benar sibuk,"


"Mungkin dia masih ingin lebih lama bersama Alika, wajar saja kan cuma Alika satu satunya kenangan dari Mili," ucap Kesya.


"Kalau begitu terus dia gak bisa move on dan hidup tenang dong," ujar Kevano.


"Yang tahu dia tenang atau enggak kan cuma dia sendiri, Pa,"


Kevano menyesap es tehnya sambil berusaha mencerna omongan Kesya. Ia mulai berpikir, mungkin permintaannya pada Adrian untuk menikah lagi itu seperti kembali membuka luka lama, dimana Adrian sudah melupakan masalah cinta tapi malah teringat lagi sebab diminta untuk menikah.


Namun, Kevano hanya ingin Adrian melupakan tentang kematian Mili, kematian yang memilukan bukan hanya bagi Adrian tapi untuk kedua keluarganya juga.


Sepuluh tahun lalu, masih jelas sekali saat Alika masih kecil, Adrian dan keluarga kecilnya pergi berlibur layaknya orang liburan. Kevano tak merasakan apapun, atau firasat buruk.


Tapi, keesokan harinya saat tengah pergi kekantor ia mendapatkan telephone jika Adrian, Mili dan Alika kecil kecelakaan sepulang liburan.


Mili meninggal ditempat, dan Adrian sadarkan diri dua hari kemudian. Ia juga masih ingat bagaimana raut Adrian ketika tersadar dan mengetahui bahwa istrinya meninggal dunia.


"Tapi, jika mau aku banyak kenalan cewek, beberapa sudah matang tapi ada juga yang seumuran bahkan dibawah Adrian," ucap Kesya kemudian sambil meletakkan sendok dan garpu di mangkuk yang telah kosong.


"Cantik gak?" tanya Kevano.


"Kalau cantik kenapa? Ini buat Adrian ya bukan buat kamu," ujar Kesya.


"Siapa tau kan kamu mau temen dirumah," Kevano tersenyum memamerkan giginya.


"Enggak," ucap singkat Kesya sambil berdiri lalu berjalan menuju si penjual mie ayam untuk membayar makannya.


Melihat hal itu Kevano buru buru menghabiskan makananya, sesekali ia tersedak karena terlalu cepat.


Setelah berhasil makananya, Kevano menyusul Kesya yang berjalan menuju mobil dengan cepat.


"Kok buru buru sih, Ma. Aku kan lagi makan," Ucap Kevano begitu sudah sampai di samping Kesya.


"Lama kamu makan, katanya lapar,"


"Kamu yang makannya kayak orang kalap," rungut Kevano.


Kesya tak mendengarkan ucapan Kevano, ia sudah menarik pintu mobil dan masuk kedalamnya. Kevano ikut masuk dan duduk dibelakang kemudi.


"Aku masih ada waktu tiga jam lebih buat meeting, apa mau ke Resto?" tanya Kevano begitu mobil itu sudah melaju memasuki jalan besar.


"Enggak lah, nanti aja kalau kamu sudah mulai meeting aku ke Resto, hari ini mereka gajian soalnya jadi aku mau datang cepat,"


"Iya aku tahu. Aku bukan bos gak tahu diri kok," kata Kesya, "Gimana kalau kita jalan jalan aja, ngabisin bensin,"


"Enggak bakalan habis ya, ini masih bisa sampai Amerika," ucap Kevano sambil tertawa renyah, Kesya ikut tertawa mendengar ucapan Kevano.


Kemudian mereka berbincang banyak hal sembari mobil itu berjalan terus menyusuri jalanan, tak ada lagi marah yang nampak di wajah Kesya, Kesya kembali seperti biasanya, perempuan yang tak pedulian yang dikenal Kevano.


"Kamu ingat gak pas kita sebelum nikah dulu, kita sering keluar pakai mobil kantor," ucap Kevano pada Kesya.


"Ingat lah kamu kan emang nakal, ada aja alasan biar kita bisa keluar, gak mikir kalau aku banyak kerjaan," ujar Kesya.


"Maaf, aku kan saat itu gak tau gimana sibuknya orang kerja,"


"Sekarang tau, kan?"


"Tau banget, makanya sekarang nyesel ngeremehin orang kerja kantor,"


Kesya tersenyum simpul mendengar ucapan Kevano itu. Laki laki yang selalu disebutnya bocah dulu, sudah berubah dengan cepat ternyata.


Delapan belas tahun lalu Kesya tak begitu suka dengan semua sifat kekanakan Kevano, bocah nakal yang melakukan semua hal semuanya seolah bisa diajak bercanda dunia ini.


Tapi, cinta selalu menampilkan kejutan tak terduga, Kejutan yang bahkan tak pernah ia pikir sebelumnya. Seorang bocah bernama Kevano berubah menjadi laki laki gagah yang bisa menanggung beban keluarganya. Menanggung semua beban sakit di pundak kokohnya.


"Hayo kenapa lihatin terus, aku ganteng ya?" ujar Kevano membuyarkan lamunan Kesya.


"Ganteng? Itu ubanmu udah kelihatan,"


"Uban?" Kevano melambatkan mobilnya, lalu membuka kaca diatas kemudi, dan melihat rambut hitamnya yang masih berlumur pomade mahal dengan bau maskulin, "Sebelah mana? Gak ada kok, kamu bohong ya?"


"Ada itu, di dekat belahan," ucap Kesya.


Kevano masih terus melihat rambutnya, tapi tak ia temukan satu ubanpun disana. Kemudian ia beralih menatap Kesya, Kesya tertawa melihat kebingungan Kevano.


"Oh, kamu ngerjain aku ya, awas kamu ya," Kata Kevano sambil tangan kirinya berusaha meraih pinggang  Kesya dan menggelitiknya, tapi Kesya menepis dengan cepat dan sedikit menjauh.


"Sudah, Pa. Lihat jalan itu nanti kenapa-kenapa lagi," ujar Kesya, Kevano menghentikan kelakuannya.


"Habisnya kamu ngerjain sih,"


"Lucu tau lihat kamu kayak gitu, bingungnya kayak anak kecil,"


"Masa anak kecil punya anak kecil,"


"Keylan udah gede, udah tujuh belas tahun, kecil dari mana," kata Kesya.


"Kecil lah, belum bisa cari uang sendiri,"


"Kamu suruh aja dia kerja. Tapi, jangan dulu deh, biar dia belajar sendiri,"


Kevano mengangguk tak paham dengan ucapan Kesya, yang tanya sendiri dijawab sendiri.


"Sebentar lagi aku meeting, aku antar kamu ke Resto aja ya?" tanya Kevano.


"Iya," ujar Kesya singkat.


Kevano memutar mobilnya di sebuah pertigaan untuk menuju resto Kesya yang tak jauh dari sana.


Sekitar sepuluh menit akhirnya mereka sampai, setelah Kesya turun dan masuk kedalam resto, Kevano berlalu pergi menuju kantornya, karena sejak tadi sang sekretaris terus menghubunginya


Saat itu resto Kesya nampak ramai, karena ia melihat pegawainya sedikit kewalahan akhirnya ia membantu mereka. Tak peduli bahwa ia pemilik resto itu, karena ia ingin semua berjalan baik tanpa sedikit kendala pun.


Saat tengah membantu, seseorang yang baru saja masuk kedalam resto nya tertangkap matanya, orang itupun melihat Kesya yang tengah menunggu pesanan.