
Sudah dua hari ini Bian tidak menghubungi Kesya, sebagai seorang perempuan ia gengsi untuk menghubungi lebih dulu, meskipun rasa penasaran dan rindunya jauh lebih kuat.
Ia terus saja melirik ponselnya, sampai-sampai pekerjaanya belum ia sentuh sejak pagi. Jika terpikir sesuatu, moodnya selalu berubah dan tak jelas.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Bian menghilang tanpa kabar, tapi entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu kepikiran soal kekasihnya. Bian adalah lelaki aneh, sifatnya memang ramah tapi tertutup, bahkan Kesya saja tidak pernah tahu latar belakang yang jelas soal siapa Bian, selain pengacara dan keluarganya yang tinggal dirumah megah, ia pernah dibawa ke sana sekali dalam dua tahun terakhir.
Sementara Kevano, Berondong itu juga tidak ada kabarnya semenjak bertemu dengannya Di bus beberapa hari lalu. Kesya mengerutkan kening karena tiba tiba teringat Bocah yang banyak tingkah dan pecicilan itu.
"Eh Kes!" Teriak Ganda dengan nyaring tepat ditengah telinga Kesya, yang rasanya membuat kendangnya benar-benar bertabuh.
"Iss apaan sih, Ndis? Penging telingaku." Ujar Kesya merajuk sambil menggosok-gosok telinganya, rasanya seperti habis mendengar suara bom nuklir yang begitu kencang.
Dasar lelaki tulang rawan dengan suara cempreng.
"Lu ya, jam segini malah tidur. Pak Bos mau ngomong, kita disuruh kumpul. Cepeten."
"Iya sebentar, aku mau benerin make-up."
Kesya merapikan sedikit rambutya dengan jari-jari, memoles wajahnya dengan bedak. Lalu berjalan mengekor dibelakang Ganda. Sedikit maju kedepan.
Pak Bos dengan gayanya yang seperti biasa, berdiri didepan beberapa karyawanya, termasuk Kesya, Ganda, dan Yunda. Disampingnya berdiri seorang lelaki muda dengan setelan kemeja biru dan celana katun hitam.
"Selamat Siang semuanya, saya berdiri disini bukan untuk memberi kalian bonus. Tapi, ini jauh lebih penting dari itu. Saya akan memperkenalkan pada kalinya adik saya, yang tampannya mirip saya, Namanya Kevano."
Kesya yang awalnya tidak memperdulikan omongan bosnya tiba tiba saja menoleh karena mendengar nama Kevano. Ia memberatkan lehernya, ia berharap itu bukan Kevano yang Berondong yang selalu mengganggu hidupnya untuk sebulan terakhir ini.
"Kevano disini akan membantu kita sekalian sama belajar, karena ia kuliah jurusan Design and Management. Tolong dibantu dia belajar. Ah kamu Nur." Sambung pak Bos.
"Hah, saya bos?" Tanya Kesya memastikan apa yang didengarnya tidak salah.
"Iya, disini yang punya nama Nur siapa lagi, masa Nur si OB."
"Ba..Baik Bos" Katanya Kesya gugup. Bukan ia takut, tapi ia hanya tak ingin terus-terusan bersama bocah menyebalkan itu.
"Lu kenapa sih, Kes?" Bisik Ganda ditelinga Kesya, meskipun matanya tak henti memperhatikan Kevano. "Ganteng banget sih adiknya pak Bos."
"Aku sih ogah. Dia itu bocah yang udah cium aku di bus."
"Serius lu, Kes. Ah, jadi pengen dicium sama Kekev deh."
"Kekev?"
"Panggilan sayang buat dia, muach."
"Dih udah deh, gak usah halu. Kita kekantin yuk, gue lapar." Sergah Yunda sesaat setelah Pak bos menghentikan pembicaraannya. Dan menyuruh karyawanya bubar untuk makan siang.
"Ide yang bangus." Jawab Kesya.
"Boleh gue gabung?"
"Engg..."
Kesya belum menyelesaikan ucapannya saat Yunda menyela.
"Boleh banget, biar kita makin akrab, bener kan Ndis."
"Betul."
Kevano mengedipkan sebelah matanya pada Kesya yang malah memasang wajah tak peduli.
%%%%
Sejak sampai dikantin Kesya terus saja diam, tapi otaknya berpikir keras sambil was-was dan berjaga-jaga, ia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya ke depan. Semua seperti hidup dalam sihir yang tiba-tiba saja ada, Kevano berkenalan denganya dan bekerja dalam satu atap yang sama, lalu Bos yang notabene nya adalah kakak Kevano menyuruh Kesya menjaga bocah itu.
"Lu lagi mikirin apa sih?" Tanya Ganda, melihat Kesya terus melamun, sementara Kevano pergi memesan makanan.
"Aku mikir apa jadinya hidupku jika ia terus disampingku."
"Siapa tau lu bisa jatuh cinta sama dia. Berondong kinyis-kinyis and buat gue gemes. Lagian, lupain aja itu Bian."
"Why? Bian pacarku. Tidak semudah itu gendis."
"Lu itu munafik banget, selama pacaran sama Bian hidup lu juga gak berubah banyak, status perawan juga masuk melekat."
"Terus kalau aku sama Kevano apa statusku ikut berubah. Dia itu masih bocah, masih suka main-main dan ngegombal."
"Tapi, dia itu adik bos. Meskipun kagak mirip. Sumpah kayak Langit sama kerak bumi."
Mereka menghentikan pembicaraan itu saat Kevano dan Yunda datang dengan nampan yang berisi makanan mereka masing-masing. Kevano terseyum mematikan kearah Kesya, lalu mengangkat alis kirinya perlahan.
"Ngomongin gue ya," ucap Kevano ketika belahan pantat seksinya menyentuh kursi.
"Jangan Kege-eran deh, kami lagi ngomongin kerjaan."
"Bo.. Aw!" Belum sempat Ganda mengatakan sesuatu Kesya lebih dulu menentang tulang kering kakinya dengan hak tingginya. "Sakit Kes, lecet kan, please ambulan perlu operasi."
Ganda ribut sendiri, membuat suasana kantin tiba-tiba ramai. Kesya dan Yunda ketawa bahagia melihat sahabat tulang rawan mereka bertingkah aneh.
Sementara Kevano malah melihat terus kearah Kesya, sepertinya ada sesuatu yang ia pikiran. Ia merasa puas, seperti memenangkan atas taruhan yang sudah dinantikannya.
Memang ini keinginan Kevano untuk dimasukan kedalam kantor, padahal awalnya ia menolak untuk berurusan dengan kantor. Tapi, semenjak bertemu dengan Kesya semuanya berbeda.