My Berondong Husband

My Berondong Husband
#113 Kencan Pertama Ganda



Malam harinya, Ganda yang sudah menalin komunikasi dengan gadis bernama Maya sejak Manda memberikan nomor ponselnya, ia berniat menemui Maya. Meskipun Ganda sedikit ragu apa Maya mau menerimya, bahkan ia yakin dari pandangan pertama Maya pasti akan ilfeel, terlebih ia tak bisa menyembunyikan sikap kemayunya meskipun didepan orang banyak.


Malam itu ia sudah memakai pakaian yang rapi, dengan semprotan parfum di seluruhnya tubuh, setelah bersiap ia mulai berpamitan dengan sang mama, meskipun mamanya sedikit menggpda karena tahu Ganda akan berkencan dengan seorang perempuan malam itu.


Dijalankannya mobil itu dengan perlahan karena sekarang masih pukul tujuh malam, mereka memiliki janji satu jam lagi, perjalanan juga tak begitu jauh, tapi karena jalan malam sedikit banyak kendaraan, ada kemungkinan itu memakan begitu banyak waktu.


Selama mengendarai mobilnya, pikiran Ganda campur aduk dengan banyak hal, mulai dari pertemuan yang di atur sang mama dan adik iparnya, sampai pikiran buruk tentang Maya. Dari foto dan suara Maya memang nampak cantik, tak ada kekurangan sedikitpun, meskipun saat itu Ganda menolak untuk melakukan video call, entah apa maksudnya.


Ini pertama kalinya bagi Ganda untuk berkencan, selain gugup ia juga masih bingung apa yang harus ia bicaran dengan Maya nanti. Pertemuannya dengan perempuan kali ini bukan membahas tentang pekerjaan ataupun mengghibah ria, tapi lebih pada masa depan, meskipun ia masih tak yakin Maya akan mau menerimanya.


Ganda juga sudah melihat berbagai sosial media milik Maya, sebagai perempuan yang sudah lebih 35 tahun, Maya masih nampak cantik, terlihat awet muda dengan senyuman yang manis. Pekerja keras sebagai seorang perempuan karir, dari segi apapun Maya begitu mempesona, pasti banyak laki-laki yang menginginkannya.


Harapan paling tipis bagi Ganda, dan pastinya itu akan menjadi malam pertama dan terakhir mereka bertemu. Meskipun Ganda seorang desainer kondang dengan banyak fans, tapi perempuan mana yang mau menikahinya jika tingkahnya saja begitu.


Pikirannya kadang bisa sekacau itu, meskipun tak sesuai dengan realiti yang ada, ia terlalu melebihkan diri dan perasaan, ketimbang membiarkan itu terjadi dengan sekilas.


Tak terasa ia mengemudi sudah memakan waktu sekitar 30 menit, Ganda pun sampai di resto yang sudah mereka sepakati malam itu untuk bertemu. Resto dengan makanan eropa, Maya yang mengusulkannya, dan Ganda yang menyutujuinya.


Setelah memarkirkan mobil, Ganda berjalan masuk dengan elegan, seorang pramusaji menyambutnya, setelah duduk pramusaji lainnya memberikan deretan menu, Ganda menundanya sampai Maya datang dan mereka akan memesan masing-masing.


Sembari menunggu Maya, Ganda hanya mengoceh ponselnya, menanyakan tentang toko pada salah satu karyawannya karena hari ini ia tak pergi kesana. Padahal seharusnya ia meninjau sejauh mana pekerjaan untuk beberapa hari kedepan berlangsung.


Selain itu ia juga melihat sosial media miliknya, melihat prestasinya sendiri sambil tersenyum, dan memperhatikan banyak hal sudah terjadi selama ini. Sudah sejauh ini ternyata ia bekerja, petengahan tahun bahkan gaunnya akan ikut kontes di acara Miss Internasional yang di adakan di Filiphina, prestasi baru yang pastinya di idamkan setiap desainer.


Sesekali Ganda, menatap ponselnya, sudah hampir pukul delapan malam, Maya pun men-chatnya hanya untuk memastikan dimana Ganda duduk, menggunakan pakaian apa, untuk mengenalinya saat pertama kali bertemu.


Saat Ganda bermain dengan ponselnya lagi, seorang perempuan menghampiri Ganda, tepat pukul delapan malam.


“Ganda,” ujar perempuan itu.


Ganda mengalihkan pandangannya pada perempuan bersuara lembut itu. Didepannya kini nampak seorang perempuan menggunakan dres minu sebatas lulut berwarna merah terang, dengan rambut hitram yang disisir rapi, tak ketinggalan tas kecil dari salah satu brand yang terkenal dengan mahalnya.


Ganda memperhatikan sesaat, mengangguk, lalu berdiri sebagai refleks, entah dari mana ia mendapatkan sikap itu.


“Duduk,” ucap Ganda spontan, suaranya tak ia buat berat pada lelaki umumnya.


“Sudah lama menunggu?” tanya Maya setelah ia mendudukkan kedua belah bokong seksinya.


Ganda menggeleng. “Enggak, baru saja dan kamu tepat waktu.” Ganda berusaha menahan dirinya sendiri, entah nanti jika kebiasaanya keluar.


Maya tersenyum sekilas memperlihatkan senyum manisnya yang bertumpu pada bibir merah merona akibat sapuan lipstick. Ganda yang didepannya begitu tampan, dengan kulit putih bersih bahkan lebih dari lelaki lain, mungkin metroseksual, pikirnya. Ia pun tak aneh dengan sikap lembut Ganda, karena dari beberapa video dan foto sudah jelas bagaiamana dirinya.


“Aku lapar dan haus, sengaja tidak makan malam, hanya agar perutku kosong untuk pertemuan ini. Makan malam terlalu banyak tidak bagus, kan,” ujar Maya masih dengan senyuman yang manis, Maya pintar berbicara tidak terlihat canggung ataupun ilfeel dengan Ganda. “Bagaimana pekerjaanmu, Ganda?”


Ganda dan Maya memilih pesanan dan tak berapa lama mereka sepakat untuk mendapat menu yang sama, sama-sama rendah lemak dan karbohidrat, tinggi protein.


“Lancar, aku meliburkan diri hari ini, mengistirahatkan pikiran...”


“Atau sengaja untuk menemuiku,” potong Maya pada ucapan Ganda.


“Apa? Tidak. Aku libur karena ingin santai dirumah, sambil membantu Mama saja.”


“Anak yang rajin, masih sayang orangtua di usiamu sekarang.”


“Tentu hanya Mama yang aku punya sekarang, saudaraku sudah menikah semua,” ujar Ganda.


“Manda itu adik iparmu?” tanya Maya sesat setelah ia mengingat tentang Manda, Manda temannya dulu di kantor yang sama sebelum akhirnya memutuskan untukk menjadi seorang ibu rumah tangga.


Ganda mengangguk pelan, “Kamu sendiri bagaimana? Orangtuamu?”


“Mereka sudah tidak ada, ketika aku masih kuliah. Setahun setelah Mama pergi, Papa ikut menyusul, untuk saja aku sudah bisa bekerja,” jawab Maya, meskipun menceritakan tentang kematian orangtuanya, tapi Maya tak sedikitpun terlihat murung ataupun bersedih, mungkin karena baginya itu sudah biasa, dan tak harus di pusingkan lagi.


Tak berapa lama makanan mereka sampai, mereka menikmatinya sambil terus mengobrol banyak hal. Maya jauh dari pikiran ketakuan Ganda, meskipun Ganda sudah memperlihatkan sifat aslinya, tapi Maya nampak tak ilfeel dan bersikap biasa.


Sambil makan mereka juga masih bercerita apapun, tentang pekerjaan, teman, keluar, bahkan hal-hal lucu yang mengundnag tawa keduanya.


Tak terasa waktu begitu cepat berlallu, sudah lebih dari dua jam mereka disana. Makanan sudah habis dari tadi meskipun bahan pembicaraan mereka sudah habis.


Ganda memutuskan mengantar Maya untuk pulang, karena sejak awal Maya datang dengan menggunakan taksi. Maya setuju dengan hal itu. Di dalam perjalan mereka masih asyik berbincang, Maya yang supel dan ramah membuta Ganda tak malu untuk bertingkah kemayu.


Setelah sekitar setengah jam, Ganda sampai di tempat Maya, sebuah rumah asri yang cukup mewah untuk ukuran perempuan yang tinggal sendirian.


“Makasih untuk malam ini, Gan. Aku harap kita bisa berkencan lain kali,” ujar Maya setelah kelaur dari mobil Ganda.


“Tentu, jika kamu mau bertemu kamu bisa mampir ke boutiqueku kapan-kapan,” ucap Ganda dengan tersenyum.


Maya mengangguk, meninggalkan Ganda dan kemudian hilang di telan pintu gerbang, setelah sebelumnya melambaikan tangan pada Ganda.


Ganda memutar setirnya, dan membawa mobilnya berjalan untuk pulang. Malam yang cukup bahagia untuk perasaanya. Ia kini berharap itu bukan pertama dan terakhir kalinya.


Tiga episode lagi dari cerita ini, setelah itu Author akan memberikan filler atau kembali kemasa lalu paling sedikit lima episode, karena banyak yang tertinggal selama 17 tahun itu.