
Mobil dinas milik Putra group berhenti, tepat ditempat parkir perusahaan besar dengan puluhan lantai milik AldeBaran group.
Meski tak sesuai janji, karena Kevin Sanjaya mengundurkan pertemuan, tapi kesepakatan tetap di jalankan.
Yunda, Ganda, Kesya dan sang penguntit yang terus ikut kemana pun Kesya pergi keluar dari mobil. Berjalan menuju dalam gedung itu.
"Gue deg-deg'an ketemu si manis yang kaku." Ucap centil Ganda seperti biasanya.
"Deg-deg'an? Emang dia dedemit apa?" Yunda bertanya dengan pernyataan Ganda tadi.
"Bukan itu Kam**et. Deg-deg'an ketemu lelaki gan..."
Hap.
Belum sempat Ganda melanjutkan ucapannya, mulutnya sudah ditutup erat dengan pergelangan tangan Kesya, sebagai tanda agar si centil itu diam, karena mereka sudah sampai didalam kantor.
Perusahaan makanan itu semakin hari semakin besar, bahkan terakhir kali entah beberapa bulan lalu, Kesya melihat ada interior dan desain yang berubah dan begitu mencolok.
"Permisi, Mbak. Kami mau bertemu Pak Kevin Sanjaya." Ucap Kesya pada seorang perempuan yang berada di meja Resepsionis.
"Sudah ada janji?" Tanya perempuan itu.
"Sudah, jam sembilan ini."
"Sebentar saya lihat dulu." Ujar perempatan itu, lalu memeriksa sesuatu di komputernya mirip seperti mencari nama pasien dirumah sakit. "Dari Pengilklanan putra group ya, Mbak. Silahkan masuk."
"Masuk lewat mana nih? Kantornya besar banget." Kata Yunda begitu mereka disuruh jalan tanpa tahu arah.
"Silahkan naik lift lantai tiga belas, sebelah kiri ruangan paling besar."
Keempatnya mengangguk, lalu berjalan menuju lift. Lift yang dimiliki AB Group pun berbeda dengan milik Putra Group, lift ini besar dan terlihat mewah dilengkapi CCTV.
"Kekevnya Kekes, dari tadi diam aja, sakit gigi ya?" Tanya Ganda saat mereka berada didalam lift.
"Jangan ganggu suamiku." Ucap Kesya sambil merangkul erat Kevano dari samping.
Ganda dan Yunda mendengus geli melihat tingkah aneh Kesya, sementara Kevano hanya bisa tersenyum. Kemudian pintu lift terbuka.
Mereka berjalan menuju tempat yang perempuan tadi katakan. Tak jauh dari ruangan itu, ada seorang perempuan lain yang duduk ditempat kerjanya.
"Dari Putra Group, ya?" Tanya Perempuan itu langsung.
"Bener sekali, kami mau bertemu Pak Kevin yang ganteng." Ujar Ganda bersemangat.
"Silahkan masuk lewat sini, kecuali yang cowok." Perempuan itu menunjuk Kevano. "Silahkan menunggu diluar, duduk disana, atau didekat saja juga boleh."
Kesya menajamkan matanya pada perempuan itu, tapi sebelum Kesya berteriak dengan mengatakan itu suaminya, Ganda lebih dulu menarik pergelangan tangannya dan ketiganya kemudian berjalan masuk kedalam ruangan Kevin Sanjaya. Sebelumnya mereka mengetuk pintu lebih dulu.
Sementara itu Kevano tertinggal diluar, kemudian duduk didepan perempuan tadi.
"Eh bocah," tegur perempuan tadi, yang tak lain bernama Stefani.
Kevano mengalihkan pandangannya melihat Stefani.
"Bocah?" tanyanya memastikan.
"Lu kan masih bocah. Gue lihat sering banget sama kumpulan ibu-ibu itu, salah satu dari mereka tante gi***g lu, ya?" Ucap Stefani yang begitu terbuka. Membuat Kevano menyatukan alisnya dan terdiam sesaat.
"Sembarangan. Lagian lu juga masih bocah." Ujar Kevano, kali ini ia menyindir Stefani.
Mendengar ucapan Kevano itu, Stefani bergegas mengambil kaca cermin dari lacinya, kemudian memandangi wajahnya sendiri. Berulang kali ia memegang wajahnya, mengelus pipinya, sekalian merapikan make-upnya.
"Ternyata masih ada yang sadar gue bocah." Kata Stefani kemudian.
"Berarti lu emang bocah." Ucap Kevano tak percaya. Stefani mengangguk.
"Nama gue Stefani, lu?" Stefani mengulurkan tangannya.
"Kevano, panggil aja Vano." Kevano meraih tangan Stefani, menyalaminya perlahan lalu melepaskannya.
"Eh lu belum jawab pertanyaan gue tadi. Lu apanya mereka?" desak Stefani.
"Gue suami dari Kesya."
Brak!
"Apa!" Teriak Stefani sembari menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya. Ekspresi tak percaya yang aneh di wajahnya. "Lu bercanda kan, masa lu nikah sama tante-tante?"
Lagi-lagi Kevano hanya bisa mendatarkan wajahnya. Kemudian tangannya masuk kedalam tas ransel, mengambil sesuatu, lalu mengeluarkannya dan menaruh benda itu diatas meja kerja Stefani.
"Nih, gue bawa untuk berjaga-jaga."
Melihat itu Stefani langsung mengambil dan membuka isinya. Dibacanya dan diperhatikan isinya, ada wajah Kesya dan Kevano disana.
"Gimana?" Sambung Kevano sambil bertanya.
"Buku nikah ini asli." Ucap Stefani masih dengan tak percaya.
"Asli lah, ngapain juga aku buat yang palsu. Lagian aku ini anak dari pemilik perusahaan pengiklan terbesar di Indonesia, Putra Group Company. Ngapain aku bisa yang palsu." Papar Kevano.
Kini Stefani yang terdiam, sambil menaruh kembali buku nikah itu diatas meja, Kevano bergegas memasukkannya kedalam tas, takut terlupa, kan bisa gawat.
Kevano memperhatikannya wajah Stefani yang kemudian terdiam, tak cerewet seperti tadi. Apa baterai didalam tubuhnya kehabisan daya.?
"Eh, Fan, kok diam?" Tanya Kevano.
"Apa rasanya nikah sama yang lebih tua?" balik tanya Stefani. "Enak apa enggak?"
Kini Kevano yang terdiam, memikirkan jawaban apa yang sebaliknya ia katakan pada Stefani. Tapi, dilihat dari wajahnya, Stefani begitu menantikan jawaban itu.
"Memang kenapa? Inikan rumah tangga orang, aib lho." Ucap Kevano, berusaha tak ingin menjawab.
"Ayolah, sedikit saja. Aku ingin tahu, soalnya aku juga akan menikah dua bulan lagi."
"Serius? Sama Om-om mana? Kaya apa enggak?" Tanya Kevano membabi buta.
"Om-om? Umurnya masih tiga puluh lima tahun. Kaya banget, sekarang lu sedang berada didalam perusahaannya."
Brak!
"Apa!" Kini Kevano yang seakan tak percaya dengan ucapan Stefani sambil menggebrak meja. "Enggak mungkin, kan? Pasti ini cuma joke, prank, biar gue kagum."
"Kurang kerjaan banget gue nge-prank lu, lagian yang nyuruh lu kagum siapa. Memang sekarang belum ada bukti, tapi nanti kalau sudah cetak undangan pasti gue undangan kalian."
Kevano menggaruk pipinya, seakan perempuan bernama Stefani itu sedang menghayal begitu tinggi. Sepertinya tidak mungkin seorang Stefani menikahi pemilik perusahaan dan seorang laki-laki karya raya. Seperti hanya sebuah gurauan karena mereka kehabisan pembicaraan.
Semenatara itu diruang Kevin Sanjaya, trio kalong masih berusaha meyakinkan Kevin dengan iklan yang akan mereka kerjakan.
"Kali ini saya setuju dengan pemilihan warnanya, cantik sekali." Puji Kevin Sanjaya. " Siapa yang mendisain?"
"Saya, Pak." Ucap Yunda tersenyum.
"Kamu, sepertinya lagi jatuh cinta."
Mendengar ucapan Kevin Sanjaya itu, Ganda dan Kesya menatap sekilas ke arah Yunda, seakan mengatakan dalam telepati mereka. Kita Bicarakan Ini Nanti.
"Oke, saya suka desain iklan terbaru ini. Kita bisa mulai menggarapnya secapatnya." Sambung Kevin.
Trio kalong tersenyum.
"Baik, Pak. Terima kasih." Ucap Kesya mengulurkan tangannya, Kevin menyambutnya. "Kalau begitu kami permisi dan akan mempersiapkan semuanya dengan cepat."
Kevin Sanjaya mengangguk, kemudian Trio kalong berjalan menjauh meninggalkan meja Kevin, lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Senyum-senyum puas nampak diwajah mereka, entah pikiran mereka atau memang begitu yang terjadi, Kevin nampak lebih ramah dari biasanya.
Sesaat setelah sampai diluar pintu, Kevano bergegas menyambut mereka dengan berdiri, Kemudian berjalan disamping Kesya, setelah lebih dulu berpamitan pada Stefani.
Tapi, masih ada yang menggantung di kepalanya dengan pernikahan antara Stefani dan pemilik perusahaan AldeBaran Group.