My Berondong Husband

My Berondong Husband
#79 Bian Mengetahui Titik Terang (2)



Selama di penjara banyak hal yang telah terjadi pada Bian. Pelajaran pelajaran hidup yang tak ia dapatkan di luar dipenjara ia dapatkan didalam di penjara. Juga ia mengetahui mana orang yang benar-benar baik padanya atau hanya sekedar menumpang nama.


Selain itu belum lama ini Ini ayah yang selama bertahun-tahun pergi dari hidupnya kembali datang membawa cerita baru. Bian pikir Papa telah mati seperti yang diceritakan sang mama padanya selama ini.


Hari itu untuk kesekian kalinya sang pengacara datang membawa berita baru untuknya tentang siapa laki laki yang telah bersekongkol dengan Reno untuk membuat hidupnya semakin menderita.


Bian pun yakin pindahnya ia didalam sel umum pasti karena laki laki itu.


"Ini lebih jelasnya, Pak." Kata pengacara itu sambil memperlihatkan ponselnya yang berisi video amatir tentang pertemuan kembali Reno dengan laki laki itu.


Bian memperhatikan dengan seksama, apa yang terjadi padanya. Mereka sangat jelas terlihat bekerja sama. Dari cara mereka akrab seperti bukan hanya klien biasa.


Padahal laki laki itu begitu Baik dan bahkan hampir menjadi bagian dari hidupnya.


Lalu jika benar, kenapa laki laki itu tega melakukan itu padanya? Apa salahnya? Apa ia pernah berguat salah padanya.


Bian pikir selama diluar penjara dulu sikapnya begitu ramah. Bahkan seperti memang tak memiliki sedikit masalah pun.


"Jadi apa pendapatmu?" Tanya Bian kemudian.


"Sepertinya memang laki laki ini yang bekerjasama dengan Reno, Pak." Jawab sang pengacara.


"Tapi apa motifnya?"


"Balas dendam mungkin."


Balas dendam? Dua kata itu menggantung dalam pikirannya. Balas dendam soal apa? Apa Bian merugikan laki laki itu? Jika benar kapan?


Ia terus mengingat tentang hal itu, sampai pikiran muncul dalam otaknya. Tepatnya sekitar lima tahun lalu.


Bian masih ingat kejadian itu, Laki laki itu tersandung kasus pencemaran nama baik. Dan Bian menjadi pengacara lawannya, kasus memberatkan laki laki itu, tuduhan tuduhan juga sudah ia keluarkan.


Berbagai pasal pencemaran nama baik dan lainnya sudah ia keluarkan. Bian pikir ia akan memenangkan hal itu, tapi nyatanya hakim memutuskan bahwa laki laki itu bebas karena tak terbukti.


Dan malah menyerang balik kliennya, sejak saat itu sepertinya laki laki itu dendam padanya.


Bodohnya Bian, ia bisa lupa raut wajahnya dua tahun Kemudian, bahkan memilki hubungan yang hampir baik.


Dipikirin lainnya, ia menghubungkan masalahnya dengan sang Papa. Sejak berbincang dengan papanya beberapa hari lalu.


Tentang seorang laki laki yang melakukan hal tega padanya, yang juga kalah dalam persidangan.


Apa benar laki laki itu juga, jika benar berarti dendam laki laki itu sudah tertawa sejak lama.


"Saya ingin kamu menghubungi Papa saya, jemput dia bawa kesini. Sepertinya saya tau titik terangnya." Ucap Bian pada pengacaranya.


"Untuk apa, Pak?" tanya pengacara itu.


"Kamu bawa aja ke sini."


Sang pengacara mengangguk, lalu berjalan keluar dari tempat itu..


Kemudian...


Sang pengacara sampai ditempat yang dikatakan Bian, untuk menjemput Tedi. Sebuah rumah sederhana, karena ia tak memiliki apapun lagi seperti dulu.


Masanya bangkit belum saatnya.


Sang pengacara mengetuk pintu. Beberapa kali hingga pintu itu terbuka.


"Tuan Tedi," kata pengacara itu.


"Iya, siapa ya?" tanya Tedi bingung dengan lelaki berjas itu.


"Saya Remon, pengacara Pak Biandra."


"Oh, silahkan masuk dulu."


"Tidak Tuan, karena Pak Bian yang meminta saya untuk menjemput Tuan sekarang."


"Kemana?"


"Ke kantor polisi, ada hal penting yang ingin dibicarakan."


Tedi mengerti lalu mengangguk mendengarkan perkataan pengacara itu.


Ia masuk kedalam untuk mengganti pakaiannya, lalu berjalan menuju mobil bersama pengacara itu.


Mobil yang dibawa sang pengacara melaju kencang.


"Saya kurang tahu tuan, tapi sepertinya ada masalah yang begitu serius."


"Masalah apa? Apa begitu penting?"


"Ini tentang masalah yang menyangkut soal masuk nya Pak Bian kedalam penjara."


"Saya belum paham,"


"Biarkan Pak Bian yang menjelaskan nanti tuan."


Tedi mengangguk.


%%%


Tak berapa lama keduanya sampai Di kantor, Bian sudah menunggu sang Papa dan pengacaranya untuk membahas hal itu.


Tedi sampai dengan raut wajah yang masih bingung dan penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Ia merasa datang membawa banyak masalah tapi ternyata ada masalah yang lebih rumit dari masalahnya.


"Kenapa Bian nyuruh Papa Ke sini?" begitu tanya Tedi.


Bian meminjam ponsel milik sang pengacara. Lalu membuka ponsel itu.


"Papa kenal laki laki ini?" tanya Bian sambil memperlihatkan foto laki laki itu yang berada didalam ponsel pada sang Papa.


Tedi memperhatikan foto itu, meskipun diambil dari kejauhan tadi ia bisa langsung mengenalnya.


Laki laki mengerikan yang memberikan banyak kesakitan dalam hidupnya.


"Papa kenal dengan dia. Kenapa dengan dia?"


"Siapa laki laki ini bagi Papa?"


"Dia dulu mantan musuh klien Papa. Dia juga yang menyebabkan masalah papa hilang ingatan."


Lalu setelah itu Bian menceritakan semua yang terjadi padanya. Tentang bagaimana ia masuk penjara, masalah lain yang memberatkan persidangannya dan pindahnya ia kedalam sel umum.


Bian juga menceritakan seorang laki laki bernama Reno yang memiliki hubungan dengan laki laki itu.


Bian mengatakan kemungkinan ada hubungan semua ini dengan dendam lama yang tak kunjung usai.


"Jadi maksudnya laki laki ini juga yang menjebak kamu untuk masuk penjara."


"Iya, Pa. Sepertinya ia bersekongkol dengan Reno sebelum kasus suap itu. Agar Bian mengambil kasus ini. Karena Reno tahu Bian tak bisa menolak semua itu."


"Laki laki itu gila, tapi kita gak punya bukti untuk memberatkannya." Kata Tedi.


Bian mengangguk dengan ucapan sang Papa.


"Itu yang sedang Bian pikirkan. Bian akan mencari cara untuk menghukum laki laki itu, karena Bian bisa lama dipenjara, laki laki bisa melakukan hal yang nekat."


"Iya, Papa akan mencoba membantu sebisa papa. Papa juga memilki dendam pada laki laki itu. Jika bukan karena dia mungkin sekarang hidup kita bahagia."


Raut nampak dendam dan amarah terus menggelayut diwajah Bian dan Tedi. Musuh meraka sama, yakni laki laki itu. Orang yang sudah menghancurkan semua miliknya.


Siang hari...


Di kantor Nyonya Mira, ia bertemu dengan Pak Bondan orang yang akan mengurus dan menggantukan saham miliknya.


Hari itu Pak Bondan datang untuk meminta tanda tangan surat pernyataan pergantian nama pemilik saham yang baru.


"Ini bukan nama Bapak?" tanya Nyonya Mira setelah melihat surat itu.


"Iya, Bu. Ini akan saya serahkan ke perusahaan lain, disana ada pengawasnya." Jawab Pak Bondan bohong. Padahal saham itu aja jatuh ketangan Laki laki itu. Pak Bondan juga salah satu dari kaki tangan laki laki itu.


Mendengar ucapan itu Nyonya Mira hanya mengangguk, lalu menandatangani surat itu setelah selesai ia memberikan pada Pak Bondan.


"Baik, setelah ini saham pindah tangan ya Bu. Jika ada masalah bisa Ibu baca ulang surat persetujuannya." Ucap Pak Bondan.


Nyonya Mira mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi." sambung Pak Bondan lagi. Lalu berpamitan dan pergi dari hadapan Nyonya Mira.


Berjalan keluar dari ruangan dan kantor itu.


Sementara Nyonya Mira hanya bisa menarik napas beratnya. Ia harus melakukan semua itu agar perusahaannya tetap berjalan dan bertahan, ia tak ingin perusahaanya mengalami failid karena semakin mengatakan penurunan pendapatan.