
Seminggu sudah berlalu sejak Kesya mengambil cuti dari pekerjaan dan berniat fokus untuk menyiapkan pernikahnnya yang tinggal beberapa minggu lagi. Meskipun sudah cuti, ia tetap tinggal di apartemennya sampai ia benar-benar ingin kembali kerumah.
Ia dan Bian sudah menyebar undangan, kepada teman, saudara, client dan lainnya. WO juga sudah dipersiapkan dengan matang. Ia hanya tinggal menunggu Bian mengambil cutinya, Bian mengatakan bahwa ada satu pekerjaan yang sulit ia tinggalkan. Kesya tak pernah bertanya pekerjaan apa itu, yang pasti berkaitan dengan persidangan.
Kesya tak mempersalahkannya, karena ia tahu itu pekerjaan Bian. Jika pun ia bisa bekerja lebih lama, mungkin akan ia lakukan, tapi orang tuanya mendesak untuk ia cepat meliburkan diri. Menikmati hari-hari terakhirnya sebagai seorang buajangan.
Seperti malam itu, ia baru saja pulang dari berjalan-jalan dan kembali dengan membawa cemilan yang ia beli disalah satu minimarket. Setelah sampai di apartemen nanti ia berniat menonton film horor dan menikmati makanannya.
Sesaat setelah seorang ojek online menghentikannya ditempat yang sudah tertera di aplikasi, Kesya berjalan sedikit menuju apartemennya. Namun, dibawah lampu yang cukup temaram, matanya menemukan sosok seseorang yang tergeletak.
Kesya mulai penasaran dengan sosok itu, ia tak berpikir bahwa itu hantu karena sosoknya jelas. Ia mendekati dengan perlahan, mengamatinya, sesekali menggoyakan tubuhnya dengan kaki, yang ternyata seorang lelaki.
Tubuh lelaki yang tergeletak itu merespon, lalu tubuhnya terguling kesamping tepat menghadap Kesya. Kesya yang melihat wajah penuh luka itu sedikit kaget dan syok. Diaturnya napasnya berulang kali, menariknya-mengeluarkannya terus, tapi semakin sesak.
Tangannya yang gemetar berusaha meraih lelaki itu, tapi tak kuasa, hingga mulutnya hanya mampu berteriak. “Tolong!”
Kata tolong itu berulang kali ia teriakan, karena itu sudah sekitar pukul sebelas malam dan daerah itu sepi, orang-orang tak ada yang merespon, hingga datang dua orang satpam apartemen yang medengar teriakan Kesya.
“Kenapa, Bu? Ada apa?” tanya salah satu dari satpam itu.
“I... ini pak, ada orang pingsan.” Ucap Kesya dengan nada panik.
Kedua satpam itu menyadari keberadaan lelaki itu, dan berusaha menolong. Saat ditanyakan untuk membawanya kerumah sakit, Kesya enggan. Ia malah meminta kedua satpam itu membawanya kedalam kamar apatemennya.
Dengan digendong salah satu satpam, mereka berjalan menuju kamar Kesya. Sayangnya kamar itu cukup jauh dilantai atas. Darah segar dari wajah lelaki itu menempel lalu membekas dibaju putih sang satpam, sementara Kesya yang mengikuti masih terlihat bingung dan tak mengerti apa yang terjadi.
Sudah lebih dari seminggu ia tak bertemu dengan lelaki itu, tapi setelah bertemu kenapa lelaki itu malah jadi seperti ini? Apa ada masalah atau hanya pertarungan antar lelaki biasa?
Sesampainya dikamar, Lelaki itu diletakkan diatas ranjang, kedua satpam itu berlalu pergi setelah Kesya mengucapkan terima kasih dan meyakinkan bahwa akan mengobati sendiri lukanya.
Kesya membongkar kotak P3Knya yang sudah ia ambil dari lemari. Di lapnya perlahan wajah lelaki itu dengan kapas putih sebelum ia memberikannya obat.
Wajah lelaki itu babak-belur dengan luka menganga dan beberapa membekas lebam biru. Dari luka yang dimilikinya, sepertinya lelaki itu dikeroyok karena juga nampak lebam dibagian leher.
Saat alkohol itu Kesya lapkan diwajah lelaki itu, sesaat ia berekasi, namun dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, ia menggenggam pergelangan tangan Kesya dengan pelan.
“Bian,” ucap Kesya pelan, lelaki yang tak lain Bian itu mulai kembali dengan kesadarannya, matanya perlahan membuka. “Kamu kenapa?”
Bian belum menjawab, ia mengamati wajah Kesya dengan mata yang tak sepenuhnya terbuka. Ia masih berpikir, kenapa ia berada disini, karena seingatnya ia jatuh dari mobil.
"Aku kena masalah, Yang.” Ucap Bian dengan mulut yang belum begitu terbuka. Bibirnya masih terasa ngilu akibat beberapa tonjokan disana.
“Iya, kenapa? Masalah apa? Cerita sama aku.” Paksa Kesya terus, tapi Bian tetap diam. “Sekarang aku ingin tahu masalahmu, jangan tutup mulut dan jangan rahasiakan apapun lagi.”
Bian masih berusaha tak merespon ucapan Kesya, tapi nanar mata perempuan itu terlihat berusaha ingin tahu dan begitu peduli.
“Aku berusaha membantu persidangan Lesmana, tapi ia kalah oleh jaksa penuntut umum.”
“Lalu, kenapa kamu seperti ini?” tanya Kesya semakin ingin tahun.
“Dia ingin melakukan apapun untuk menang, lalu aku menyuap hakim. Dia mengeluarkan banyak uang, tapi tetap kalah dan mendapat hukuman dua tahun serta beberapa milyar denda.” Cerita Bian. “Lesmana tak terima, lalu menyuruh beberapa orang untuk memberiku pelajaran, mereka berniat membunuhku, tapi aku berusaha kabur keluar dari pintu mobil, aku terjatuh lalu tak sadarkan diri.” Bian terus mengingat kejadi itu meski samar tapi begitu membekas.
Kesya yang mendengar cerita Bian, hanya mampu menarik napasnya. Pikiran buruknya tentang pekerjaan Bian ternyata mulai terjadi. Padahal berulang kali ia mengatakn pada Bian untuk tidak mengambil resiko, tapi Bian tak pernah mendengarnya.
Sebagai orang yang bekerja didunia perngiklanan, ia begitu kenal dengan Gio Lesmana, selain pemilik beberapa anak cabang Putra Group, Om dari pak bos Ruben, Lesmana juga salah satu pegawi pemerintahan.
Kesya tak tahu harus berkata apa lagi untuk masalah Bian, ia hanya bisa diam dan terus mengobati luka Bian. Bian makin mempererat pegangan pada tangannya, matanya mulai intensi melihat matanya, wajah Bian perlahan mendekat kearahnya, ada sesuatu yang memaksa Kesya untuk diam.
Dengan gerakan perlahan Bian menarik tubuh Kesya kedalam pelukannya, Lalu semuanya berjalan begitu saja.
%%%
Pagi hari. Kesya terbangun karena sinar matahari yang masuk kedalam kamarnya lewat jendela kaca, tirainya tersingkap angin dari ventilasi. Ia membuka matanya perlahan, lalu berniat menarik selimut. Tapi, alangkah terkejutnya ia tak menggunakan baju atasan, hanya kain kecil yang menutup daerah sensitivenya.
Ia mulai mengingat kejadian malam itu setelah mengobati Bian, disapukannya pandangannya kesamping, tapi ia tak melihat sosok Bian disana ataupun dikamarnya. Ia hanya menemukan bajunya yang berserakan.
Wajah Kesya mulai bingung dan pucat, kemana Bian setelah melakukan hal itu padanya? Bukankah Bian masih tak bisa bangun? Begitu pikirannya terus bertanya. Diraihnya ponsel yang berada dimeja samping tubuhnya terduduk.
Ia mencari nomor Bian, lalu berusah menghubungi tapi tidak aktif.
Dengan pikiran kacaunya, Kesya berjalan menuju kamar mandi menggunakan selimut. Aktivitasnya tadi malam serasa membuat seluruh tubuhnya kotor dan ia sendiri merasa malu. Bian yang dikenalnya selama dua tahun, entah kenapa bisa berubah begitu cepat. Apalagi Bian tak pernah melakukannya.
Sesampainya didalam kamar mandi, ia membasahi tubuhnya dengan air dari shower. Bulir air matanya perlahan menetes, ia menangis terus mengingat kebodohannya.
Saat deru tangisnya hilang bersama air, matanya menemukan sebuah sikat cucian. Digosokkannya gosok badan kekulitnya dengan tubuhnya, berharap semua noda bisa menghilang bersama larutan air. Semakin ia menggosok tubuhnya semakin ia kencang berteriak.
Kesya benar-benar ragu dengan pernikahannya.