
Keylan tengah menikmati makannya di kantin,
saat lonceng pergantian jam pelajaran sudah berbunyi.
Semua murid sibuk berhamburan untuk masuk
kedalam kelas masing masing, sementara Keylan masih tak bergeming dari
tempatnya.
"Lan, ayo masuk." Ajak Rama saat
melihat Keylan masih di sana, dengan terus menyendokkan baksonya kedalam mulut.
"Bentaran, gue lagi makan." Jawab
Keylan dengan santainya.
"Ini pelajaran Bu Reka, nanti kalau lu
telat bisa berabe." Terus ajak Rama, tapi dengan santainya Keylan masih
disana.
"Lu duluan aja, Ram. Nanti gue
nyusul." Kata Keylan.
"Bodo amat lah."
Setelah mengatakan hal itu, Rama berlalu
pergi meninggalkan Keylan. Karena mengajak pun percuma, jika sikap sok santai
Keylan sudah kumat.
Sikap itu sudah seperti mendarah daging,
padahal kalau ketahuan guru, dia kalang kabut sendiri.
Saat itu Keylan benar benar sendiri, kantin
lengang. Padahal semua temannya sudah masuk kelas masing-masing. Apalagi
kelasnya ada pelajaran matematika yang di ajar Bu Reka, salah satu guru senior
yang begitu kejam.
Bu Reka menakutkan, kalau marah bakalan
keluar taring dan tanduk, serta memiliko cambuk. Setidaknya itulah yang di
bayangkan murid-murid.
"Berapa bang?" tanya Keylan
ketika ia hendak membayar bakso dan teh yang di santapnya tadi.
"Dua belas ribu." ujar abang
penjual.
"Dih, mahal amat. Sepuluh ribu
ya,"
"Bukan mall jadi gak ada diskon. Cepet
bayar gih, kelas lu masuk noh."
Keylan mengeluarkan uang pas dua belas
ribu, setelah membayar ia berniat menuju ke kelas, tapi..
Plas!
Sebuah penggaris panjang dari kayu mengenai
tangan belakangnya.
"Aduh," rintih Keylan kesakitan.
Setelah itu ia membalikkan badan, saat ia
melihat pak Rahman berdiri dengan wajah datarnya.
"Eh bapak," sambung Keylan.
"Yang lain udah pada masuk, ini malah
enak-enakan di kantin." Ujar Pak Rahman.
"Saya cuma mau beli pulpen, Pak."
Ucap Keylan, sambil mengeluarkan pulpen dari saku bajunya. Memang sengaja ia
siapkan.
"Alasan. Cepat masuk." Perintah
Pak Rahman.
"Siap, Pak." Keylan berusaha
berjalan menjauh dari Pak Rahman, tapi Pak Rahman mengatakan bahwa tak berapa
lagi sang Papa Keylan akan datang. "Nanti kalau Papa Keylan sudah datang,
Keylan ke Kantor, Pak."
"Ngapain ke kantor?" tanya Pak
Rahman, Keylan menghentikan langkahnya.
"Lah kata bapak tadi suruh nemuin,"
kata Keylan.
"Ruangan bapak ada di sebelah kantor,
kan."
"Lupa, Pak." Ucap Keylan sambil
memamerkan giginya.
Keylan benar-benar berlalu pergi dari sana,
menuju kelasnya. Dia tak ada alasan lagi untu berlama-lama di kantin, padahal
ia juga malas masuk ke kelas, tapi tak ada setidaknya ia memiliki bangku di
belakang. Sementara bu Reka menjelaskan, ia akan tidur.
Tak berapa lama Keylan sampai di depan
kelas, mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Bu Reka menatap Keylan sambil
menyipitkan mata nya (Rabun).
"Dari mana kamu?" tanya Bu Reka.
"Bantuin Pak Rahman angkat bangku ke
gudang, Bu." Jawab Keylan dengan entengnya.
"Boong, Bu. Dia dari kantin."
Seloroh Rama. Keylan memelototkan matanya.
"Kantin apa Angkat bangku?" tanya
Bu Reka lagi.
"Habis dari kantin pas mau masuk
jelas, ada Pak Rahman suruh minta bantuan."
"Yaudah duduk."
Keylan menarik napas dan mengelus dadanya,
akhirnya selamat juga dia dari serangan mulut beracun bu Reka. Keylan berjalan
menuju kursinya yang berada di belakang Rama, sesaat sebelumnya ia sempat
menyentil telinga Rama, dan Rama mengaduh.
"Kenapa Ram?!" tanya Bu Reka dari
depan.
"Enggak papa bu, tulang kering saya
kepentok kaki kursi." Jawab Rama bohong. Dia tak mungkin mengatakan
sebenarnya, kalau dia salah ucap Keylan bisa membully nya nanti.
%%%
Pukul sembilan pagi, Kevano yang belum
sejam sampai di kantor harus menata kembali berkas yang ada di mejanya, saat
teringat bahwa ia mendapat panggilan dari sekolah karena Keylan bikin ulah
lagi.
"Maya, batalkan jadwal rapat hari ini,
saya mau ada urusan." Kata Kevano kepada sekretaris nya, bernama Maya.
"Tapi, Pak," Ucap Maya terpotong.
"Sudah batalkan aja dulu, atau mundur
sedikit. Saya ada urusan di sekolah Keylan." lanjut Kevano, setelah itu ia
berjalan keluar kantor saat Maya hanya bisa mengangguk.
Lagi-lagi Kevano dengan mudah membatalkan
jadwal yang sudah di susun secara apik oleh Maya, alasannya pun kadang kurang
logis, karena urusan keluarga.
Sementara itu Kevano sudah berada di mobil
nya, mengendarainya dan membawanya pergi dari area kantor.
Sesekali di liriknya jam di tangan
kanannya, masih ada setengah jam lagi untuk sampai ke sekolah Keylan.
Ini bukan pertama kalinya ia harus datang
dan mendengarkan guru BK atau kepala sekolah menegur dan mengatakan apa yang sudah
di lakukan Keylan selama di sekolah.
Kevano sudah melakukannya sejak Keylan
masuk SMP. Setelah mendapat teguran
kadang ia memarahi Keylan, tapi kadang juga ia hanya diam.
Dulu saat masih sekolah pun, ia juga begitu
nakal, bahkan lebih dari itu. Awalnya ia anak baik baik, lalu mengenal dunia
malam yang penuh trek-trekan dan teriakan.
Dulu ia juga tak suka merokok, tapi setelah
menikah dan memiliki Keylan ia ikut merokok, tapi sifat tak suka merokoknya
dulu perlahan menurun pada Keylan, setidaknya itulah yang nampak padanya.
Mengingat kejadian belasan tahun lalu,
Kevano teringat terakhir kali saat ia mengikuti turnamen dan berakhir di kantor
polisi. Menang tidak, tapi berakhir dengan pipi lebam karena tamparan sang
Papa.
Untung saja saat itu Ruben dengan sigap
menolongnya, jika tidak mungkin ia akan di gantung di depan gerbang rumah oleh
sang Papa karena sudah merasa jengkel.
Mengingat kejadian itu, Kevano sampai tak
sadar jika sudah berada didepan sekolah Keylan. Seorang satpam membuka pintu
gerbang, dan Kevano membawa mobilnya masuk ke parkiran.
Setelah sampai di parkir, Kevano melepaskan
jasnya, yang hanya menyisakan kemeja biru polos dengan dasi belang yang senada.
Ia masih ingin terlihat muda.
Kevano berjalan masuk ke area sekolah, saat
beberapa siswi memandangnya dengan tatapan aneh dan kagum. Apa aku setampan
itu. Batin Keylan.
"Pa!" Teriak Keylan sambil
berjalan mendekati Kevano. Kevano
menoleh, begitu pula dengan para siswi yang memandang Kevano tadi.
"Apa?" tanya Kevano.
"Papa mau ke ruang BK, ya?" tanya
balik Keylan.
"Kan guru mu yang minta Papa
datang."
"Iya juga sih." Kata Keylan.
"Yaudah yok, Keylan temenin."
"Kamu enggak masuk?"
"Enggak, gurunya lagi gak
datang." Kata Keylan bohong, padahal Pak Azmi sedang memulai
pembelajarannya.
Kevano mengangguk, lalu berjalan di samping
Keylan. Saat berjalan seperti itu kedua sepeti adik-kakak, dengan wajah mirip,
kulit mirip dan tak ada yang berbeda selain bentuk badan.
Badan Kevano yang sehat terawat jauh lebih
bagus dari badan Keylan yang masih memunculkan otot semu.
Keduanya sampai di ruang BK, Pak Rahman
sudah menunggu di sana, dengan senyum merekahnya, padahal biasanya jika dengan
Keylan dia begitu judes.
Pak Rahman kemudian memulai pembicaraannya, menjelaskan tertantang Keylan yang
selalu berbuat ulah di sekolah.
%%%
Keylan berjalan cepat menuju arah parkir,
tepat setelah pukul tiga sore lonceng pulang berbunyi.
Rasanya menunggu kepulangan sekolah begitu
lama, Padahal hanya belajar beberapa jam saja.
Sesampainya di parkir, Keylan langsung
menuju motor milik Raka, tapi tak menemukan siapapun disana, Raka sepertinya
belum sampai di parkiran.
Sambil bermain dengan ponsel pintarnya dan
duduk diatas motor, Keylan menunggu Raka. Tapi, sampai sepuluh menit berlalu,
dan parkiran sudah mulai sepi, Raka tak muncul juga.
Sedikit risau, Keylan berusaha menghubungi
nomor Raka, tapi tak ada jawaban. Padahal Berdering tanda panggilan itu masuk.
"Mana sih itu bocah," gumam
Keylan sendiri sambil menggaruk belakang kepalanya tanda bingung.
Berulang kali Keylan menghubungi dan mencoba
menchat Raka, tapi tetap saja. Setelah tak sabar menunggu, Keylan berjalan
kembali menyusuri lorong sekolah.
Keylan menaiki anak tangga, dimana kelas
Raka berada, tapi dengan tatapan yang terus memperhatikan sekeliling, siapa
tahu Raka tiba-tiba saja pingsan dijalan.
Sesaat setelah sampai di kelas Raka, yang
berada di ujung, Keylan tak menemukan siapapun disana. Kelasnya kosong dan
gelap.
Keylan menghembuskan napasnya capek, Raka
menghilang lagi.
Tapi, tak berapa lama, ponsel pintar Keylan
berbunyi, satu pesan masuk. Ternyata Raka yang menchatnya, mengatakan bahwa
Raka sedang ada bimbingan belajar di lantai satu. Ruangan di dekat lab.
Keylan kembali berjalan dengan cepat, turun
dari sana. Dan menuju ruangan yang dikatakan Raka tadi.
Sesampainya di ruangan yang ditunjunya
tadi, Keylan melihat Raka yang tengah sibuk mendengarkan seorang guru
menjelaskan pelajaran Fisika bersama empat orang teman lainnya.
Keylan menunggu di bangku disamping pintu
ruangan itu sambil bermain ponsel. Entah apa yang Keylan lakukan, tapi ia hanya
mencari cara agar ia tak bosan menunggu Raka yang mungkin akan memakan waktu
tiga puluh sampai satu jam didalam ruangan itu.
Raka memang tipikal murid pandai yang
selalu mendapati rangking dalam pembelajaran akademik, kadang mengikuti
perlombaan sains antar sekolah dan juga kota.
Seperti saat ini, kelas tambahan itu
dilakukan sebelum Raka mengikuti Olympiade sains tingkat kota.
Berbeda dengan Raka, Keylan malah hanya
menajdi murid biasa yang tak pandai dalam akademik dan non akademik. Keylan
bisa bermain sepak bola, basket dan beberapa olahraga lainnya. Tapi itu hanya
olahraga yang dilakukannya saat waktu luang, tidak menghasilkan apapun.
Sering kali sang Mama mengomel saat ia
mendapatkan nilai yang jelek didalam rapot, omelan itu berkepanjangan hingga
membuatnya kadang muak.
Sementara sang Papa hanya bisa diam dan
menganggap semua itu wajar, karena papanya juga tak begitu pandai dulu saat
sekolah.
Sifat tak pandai sang Papa itu sepertinya
ikut menular dalam dirinya. Dan membuatnya melekat disana.
Mengingat itu Keylan hanya bisa mencibirkan
bibirnya, ia harus tak peduli. Pikirnya sendiri.
Berulang kali Keylan melirik jam di layar
ponsel nya, tapi waktu masih begitu lama. Dengan bosan Keylan berdiri dari
duduknya dan berjalan berkeliling sedikit menikmati apa yang bisa ia nikmati.
Keylan berjalan kelorong lantai satu,
melewati ruangan guru dan sampai di sebuah aula. Dari luar terdengar suara cekikikan beberapa
perempuan.
Dengar sedikit ragu Keylan menarik gagang
pintu, semoga saja itu bukan hantu atau sejenisnya. Karena akan tak lucu jika
ia bertemu hantu di sore hari yang masih sangat terang ini.
Pelan sekali ia menarik pintu, entah
bingung atau takut, saat setapak tangan sudah terbuka, ia melihat beberapa
perempuan tengah bermain cherleaders, sambil menggerakkan pom-pom dan membuat
gerakan aneh.
Keylan berdiri tegap sambil melebarkan
pintu ruangan aula saat ia tahu bahwa salah satu dari mereka adalah Aresti.
Keylan memperhatikan Aresti dari kejauhan
dengan tersenyum sendiri. Gadis pujaannya itu bukan hanya cantik tapi juga
pandai dalam banyak hal.
Sayangnya Aresti terkenal agak cuek
meskipun sikapnya baik dan suka blak-blakan. Termasuk saat menolak Keylan
beberapa hari lalu.
Aresti menolaknya, padahal Aresti tak memiliki pacar, begitupun dengan Keylan.
Menurutnya sendiri, ia tampan dan tipikal remaja pujaan seumuranya. Tapi, entah
lah alasan penolakan itu masih menjadi bagi Aresti sendiri.
"Eh lu ngapain di sini?!" Teriak
Aresti saat melihat Keylan berdiri diambang pintu, Keylan tergagap bingung dan
menjadi gugup. "Lu mau ngintip kita latihan ya,"
Aresti berjalan mendekati Keylan yang belum
juga bergeming sedikit pun.
"En... Enggak kok, gue tadi gak
sengaja lewat sini, terus pintunya terbuka." jawab Keylan berbohong,
nampak sekali dari caranya berbicara yang gagap.
"Alasan." kata pelan Aresti.
"Mau gue laporin guru lu."
Mendengar ucapan Aresti itu Keylan malah
menyengirkan giginya. "Galak amat sih Res sama calon pacar."
"Masih calon ya, dan lu juga belum
tentu menang balapan itu." Ucap Aresti judes
"Eh siapa yang tau, pas gue menang lu
harus mau jadi pacar gue." Kata Keylan berlagak sombong.
Aresti tak menjawab, karena teman temannya
sudah memanggil dan meninggalkan Keylan disana kembali sendirian.
Setelah Aresti pergi, Keylan menutup pintu
ruangan aula itu, lalu berjalan menjauh dari sana. Mungkin saat ini Raka sudah
selesai dengan pelajaran tambahannya.
Sambil berjalan, Keylan terus saja
tersenyum sendiri dan memikirkan ekspresi wajah Aresti tadi yang tak begitu
suka saat ia dengan songong nya mengatakan akan memenangkan balapan nanti.
Tapi, Keylan tersadar, bagaimana mungkin ia
memenangkan perlombaan jika motor dan tak pernah menggunakan motor besar.
Dan itu juga alasan yang logis untuknya
menunggu Raka untuk mengantarkannya pergi kerumah sang Nenek.
"Dari mana sih lu?" tanya Raka
begitu melihat Keylan akhirnya muncul di ruangan yang digunakannya tadi untuk
melakukan pelajaran tambahan.
"Habis keliling, soalnya nunggu lu
lama banget, sampai gue bosan." Jawab Keylan.
"Alasan banget lu, baru juga
sejam."
"Sejam itu banyak lah Kampret juga lu.
Dah jangan bawel. Cepetan antar gue kerumah nenek."
Raka hanya mendeham lalu berjalan lebih
dulu menuju arah parkiran, sementara Keylan mengikuti dari arah belakang dengan
jalan santai.
Sesampainya di parkir, Keylan mengambil
kunci dari Raka dan lansung membawa motor matic itu berlalu pergi dari area
sekolah.
"Kita mau ngapain sih kerumah
nenek?!" tanya Raka sedikit berteriak agar suaranya terdengar lebih jelas.
"Lu minta gue getok, nah!" Keylan
ikut berteriak.
"Lah kenapa?!"
"Kan gue sudah bilang sama lu, kalau
gue mau minta dibeliin motor sama nenek."
"Buat apa?"
"Banyak tanya lu kayak tetangga
sebelah rumah, kan gue udah ngomong buat apa. Gue tinggal nih dijalan."
Mendengar ucapan Keylan, Raka hanya terdiam
sambil mengingat untuk apa motor itu. Sampai akhirnya ia ingat bahwa Keylan
menginginkan motor itu untuk balapan demi mendapatkan hati seorang gadis
bernama Aresti.
Mengingat itu Raka hanya bisa menggeleng,
sepupunya agak sedikit gila saat terserang penyakit bernama cinta.
%%%
Keylan
menghentikan motornya didepan rumah megah milik keluarga Putra yang tak lain
kakek dan neneknya sendiri, setelah merasa enak Keylan memakirkan motornya
tepat di halaman, kemudian keduanya turun dari motor dan berjalan menuju pintu
ruang tamu.
Raka
beberapa kali mengetuk daun pintu itu, dan tak berapa lama seorang perempuan
setengah baya membuka pintunya.
“Den Raka
sama Den Keylan, masuk Den.” Seorang ART mempersilahkan keduanya untuk masuk.
“Kakek sama
nenek mana, Bi?” tanya Keylan.
“Ada, Den.
Sebentar saya panggilkan.”
Kerylan dan
Raka mengangguk, lalu duduk di sofa ruang tamu itu sambil bermian ponsel
mereka. Keylan rindu rumah besar ini, meskipun hampir setiap saat ia dapat ke
rumah ini, tapi kadang ia bosan.
Berbeda
dengan Raka yang rumahnya tak jauh dari rumah nenek dan kakeknya.
“Loh
cucu-cucu nenek tumben datang kesini,” ucap nyonya putra mendekati kedua cucu
tampannya.
“Nenek,
kayak kami gak pernah kesini aja.” Gumam Raka.
“Tumben
saja, biasanya kalian kesini gak pernah bareng kan.” Kata Nyonya Putra lagi.
“Keylan
kangen sama nenek katanya.” Celetuk Raka lagi.
“Keylan
kangen, beneran?” tanya Nyonya Putra.
Keylan
mengangguk bodoh sambil tersenyum. “Keylan kangen banget sama nenek. Kakek
mana?”
“Dibelakang
kayaknya.”
“Raka ke belakang
ya, mau ketemu kakek.”
Keylan dan
sang nenek mengangguk, saat Raka berllau pergi menuju taman belakang dimana
biasanya Tuan Putra menikmati sorenya.
Sementara
Keylan sudah duduk begitu dekat dengan sang nenek sambil bermanja ria, sifat
kekannya muncul dengan sendirinya.
“Nek,” ucap
Keylan kemudian.
“Key sudah
makan?” tanya nyonya Putra tak menjawab ucapan Keylan.
Keylan
mengangguk. “Nek, beliin Keylan motor.”
“Apa?!” ujar
nyonya Putra kaget mendengar ucapan Keylan yang begitu mendadak. “Ngomong apa
kamu ini.”
“Serius nek,
Keylan pengen motor gede.”
“Kenapa gak
minta Papamu, kok jadi minta nenek.”
“Kalau
Keylan minta sama Papa, pasti Mama gak ngasih nanti malah ngomel.”
“Emang motor
apa kok sampai gak di kasih?”
“Motor
gede.”
“Mau buat apa
motor gede? Buat kamu kebut-kebutan di jalan ya?”
“Enggak lho,
Nek. Pengen aja. Please nek.”
Nyonya Putra
terdiam sesaat. “Coba minta kakekmu, siapa tau di kasih.”
“Makasih,
nek.” Keylan memeluk sang nenek lalu kemudian berlalu pergi menyusul Raka dan
sang kakek, sementara neneknya hanay bisa menggeleng dan tersenyum.
Melihat
Keylan, nyonya Putra teringat kelakuan Kevano yang dulu juga begitu nakal dan
jika memiliki satu keinginan harus dan wajib di kabulkan, jika tidak Kevano
bakalan marah dan uring-uringan sampai keinginannya di kabulkan, berbeda dengan
Ruben yang selalu diam dan tak peduli jika keinginannya tak diberikan.
Meskipun
begitu Kevano bisa dengan mudahnya berubah menjadi dewasa dalam sejekap, bahkan
belum genap dua puluh tahun Kevano sudah menikah.
Awal meminta
restu untuk menikah, Nyonya Putra sedikit ragu, jika Kevano menikah karena
suatu insiden, nyatanya tidak. Kevano menikah demi menolong seorang perempuan
bernama Kesya dari masalah dan malu akibat di tinggal calon suaminya.
Keraguan
nyonya Putra itu terbayar dengan semakin tumbuh dewasanya Kevano dan sampai
sekarang Kevano sudah menjadi seorang lelaki yang sukses, bahkan melebihi ruben
dulu saat seusia Kevano.
Saat nyonya
Putra sibuk dengan pikirannya sendiri, Keylans sudah sampai di taan belakang,
berbincang dengan sang kakek, mengatakan bahwa ia ingin motor.
Keylan
begitu yakin saat meminta motor pada kakek dan neneknya dari keluarga sang
papa, karena mereka adalah keluarga kaya dan memiliki banyak uang, motor satu
biji saja pasti mereka kasih untuk cucu tersayangnya.
“Kamu minta
kunci motor sama bibi, motor biru yang ada di garasi.” Ucap tuan Putra.
“Motor siapa
di garasi, Kek?” tanya Keylan penasaran.
“Dulu motor
Papa Raka, tapi kakek sita karena di buat balapan sama Papa kamu.”
“Hah, Papa
balapan?” Keylan semakin penasaran dengan motor dan balapan.
Selama ini
papa Keevano tak pernah mengatakan bahwa dulu suka balapan, yang selalu ia tahu
kalau sang papa gemar main game. Apa rahasia itu sengaja disimpan untuknya,
agar ia tak meminta motor.
“Papamu gak
cerita?” kini tuan putra yang bergantian bertanya.
Keylan
menggeleng.
Kemudian
tuan Putra menceritakan tentang masa muda Kevano pada Keylan dan Raka, saat
sebelum menikah dengan Kesya. Keylan yang penasraan terus mendengar cerita itu,
hingga ia akhirnya tahu bahwa sang papa dulu lebih nakal dari dirinya, tapi
kenapa setiap ia nakal sang papa marah begitupun mamanya.
“Papa gak
pernah cerita, Kek.” Kata Keylan.
“Sama, Papa
juga gak pernah nyinggung soal om Kevano.” Ujar Raka ikut menimbrung.
“Yasudah
lupakan, cepat ambil motornya.”
Setelah
mendengar ucapan itu Keylan dan Kevano terburu-buru menjauh dari sang kakek dan
menuju dapur untuk mencari si bibi, supaya bisa menanyakan dimkana kunci motor
diletakkan.
Tingkah
kedua cucunya mengingatkan antara Kevano dan Ruben yang dulu selalu saja saling
membantu menutupi masalah. Dulu tuan Putra tak pernah setuju dan selalu marah
jika Kevano sampai ngebut-ngebutan karena itu bisa menghancurkan masa depannya.
Tapi,
perlahan ia sadar jika Kevano masih mencari jati dirinya. Sekarang ia tak perlu
marah lagi jika Keylan mau melakukan papun, karena tuganya hanya sebagai
seorang kakek yang menyayangi cucu-cucunya, jika menjaga itu tugas dari kedua
orang tuanya.
Sementara
itu Keylan dan Raka sudah berada di garasi, membuka penutup yang menutupi motor
gede milik papa Raka.
"Wih
kerennya motor Papa lu." Ucap Keylan saat melihat motor gede berwarna biru
terparkir bagus di garasi rumah yang nampak di matanya. "Kok lu gak ngasih
tau sih."
"Gue
juga baru kalau Papa punya motor kayak gini, kalau pun tau dari awal udah gue
pakai." Ujar Raka.
"Sekarang
karena kakek bilang buat gue, jadi gue yang pakai."
"Terserah
lu."
Keylan terus
mengelus dan mengelilingi motor itu dengan rasa kagumnya. Akhirnya ia
mendapatkan motor untuk mendapatkan hati pujaan hatinya. Ia akhirnya bisa
balapan dan tak bingung harus mencari motor dimana.
Tapi ada
satu hal yang mengganggunya sekarang, ia tak bisa menggunakan motor gede,
karena belum pernah menaikinya.
"Ka, ajarin
gue naik motor ini dong." Keylan cengengesan.
"Lu apa
aja gak bisa," Ujar Raka ketus. "Gih bawa keluar motornya."
Keylan
hampir saja meng-iyakan ucapan Raka, tapi ia mengurukan niatnya untuk
mengeluarkan motor gede itu. Raka yang melihat hal itu kemudian mendekati
Keylan lagi.
“Kenapa?”
sambung Raka.
“Besok aja
deh belajarnya, mumpung besok libur. Sekarang kan sudah sore, Mama gue nanti
bawel kalau gue pulang telat.”
Raka
mengangguk, Keylan kembali mengunci motor itu dan berjalan masuk kedalam rumah
untuk berpamitan kepada nenek dan kakenya. Tapi kunci motor tetap ia bawa
karena motor itu sudah menjadi haknya sekarang.