My Berondong Husband

My Berondong Husband
#94 Motor Baru Keylan



Keylan tengah menikmati makannya di kantin,


saat lonceng pergantian jam pelajaran sudah berbunyi.


Semua murid sibuk berhamburan untuk masuk


kedalam kelas masing masing, sementara Keylan masih tak bergeming dari


tempatnya.


"Lan, ayo masuk." Ajak Rama saat


melihat Keylan masih di sana, dengan terus menyendokkan baksonya kedalam mulut.


"Bentaran, gue lagi makan." Jawab


Keylan dengan santainya.


"Ini pelajaran Bu Reka, nanti kalau lu


telat bisa berabe." Terus ajak Rama, tapi dengan santainya Keylan masih


disana.


"Lu duluan aja, Ram. Nanti gue


nyusul." Kata Keylan.


"Bodo amat lah."


Setelah mengatakan hal itu, Rama berlalu


pergi meninggalkan Keylan. Karena mengajak pun percuma, jika sikap sok santai


Keylan sudah kumat.


Sikap itu sudah seperti mendarah daging,


padahal kalau ketahuan guru, dia kalang kabut sendiri.


Saat itu Keylan benar benar sendiri, kantin


lengang. Padahal semua temannya sudah masuk kelas masing-masing. Apalagi


kelasnya ada pelajaran matematika yang di ajar Bu Reka, salah satu guru senior


yang begitu kejam.


Bu Reka menakutkan, kalau marah bakalan


keluar taring dan tanduk, serta memiliko cambuk. Setidaknya itulah yang di


bayangkan murid-murid.


"Berapa bang?" tanya Keylan


ketika ia hendak membayar bakso dan teh yang di santapnya tadi.


"Dua belas ribu." ujar abang


penjual.


"Dih, mahal amat. Sepuluh ribu


ya,"


"Bukan mall jadi gak ada diskon. Cepet


bayar gih, kelas lu masuk noh."


Keylan mengeluarkan uang pas dua belas


ribu, setelah membayar ia berniat menuju ke kelas, tapi..


Plas!


Sebuah penggaris panjang dari kayu mengenai


tangan belakangnya.


"Aduh," rintih Keylan kesakitan.


Setelah itu ia membalikkan badan, saat ia


melihat pak Rahman berdiri dengan wajah datarnya.


"Eh bapak," sambung Keylan.


"Yang lain udah pada masuk, ini malah


enak-enakan di kantin." Ujar Pak Rahman.


"Saya cuma mau beli pulpen, Pak."


Ucap Keylan, sambil mengeluarkan pulpen dari saku bajunya. Memang sengaja ia


siapkan.


"Alasan. Cepat masuk." Perintah


Pak Rahman.


"Siap, Pak." Keylan berusaha


berjalan menjauh dari Pak Rahman, tapi Pak Rahman mengatakan bahwa tak berapa


lagi sang Papa Keylan akan datang. "Nanti kalau Papa Keylan sudah datang,


Keylan ke Kantor, Pak."


"Ngapain ke kantor?" tanya Pak


Rahman, Keylan menghentikan langkahnya.


"Lah kata bapak tadi suruh nemuin,"


kata Keylan.


"Ruangan bapak ada di sebelah kantor,


kan."


"Lupa, Pak." Ucap Keylan sambil


memamerkan giginya.


Keylan benar-benar berlalu pergi dari sana,


menuju kelasnya. Dia tak ada alasan lagi untu berlama-lama di kantin, padahal


ia juga malas masuk ke kelas, tapi tak ada setidaknya ia memiliki bangku di


belakang. Sementara bu Reka menjelaskan, ia akan tidur.


Tak berapa lama Keylan sampai di depan


kelas, mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Bu Reka menatap Keylan sambil


menyipitkan mata nya (Rabun).


"Dari mana kamu?" tanya Bu Reka.


"Bantuin Pak Rahman angkat bangku ke


gudang, Bu." Jawab Keylan dengan entengnya.


"Boong, Bu. Dia dari kantin."


Seloroh Rama. Keylan memelototkan matanya.


"Kantin apa Angkat bangku?" tanya


Bu Reka lagi.


"Habis dari kantin pas mau masuk


jelas, ada Pak Rahman suruh minta bantuan."


"Yaudah duduk."


Keylan menarik napas dan mengelus dadanya,


akhirnya selamat juga dia dari serangan mulut beracun bu Reka. Keylan berjalan


menuju kursinya yang berada di belakang Rama, sesaat sebelumnya ia sempat


menyentil telinga Rama, dan Rama mengaduh.


"Kenapa Ram?!" tanya Bu Reka dari


depan.


"Enggak papa bu, tulang kering saya


kepentok kaki kursi." Jawab Rama bohong. Dia tak mungkin mengatakan


sebenarnya, kalau dia salah ucap Keylan bisa membully nya nanti.


%%%


Pukul sembilan pagi, Kevano yang belum


sejam sampai di kantor harus menata kembali berkas yang ada di mejanya, saat


teringat bahwa ia mendapat panggilan dari sekolah karena Keylan bikin ulah


lagi.


"Maya, batalkan jadwal rapat hari ini,


saya mau ada urusan." Kata Kevano kepada sekretaris nya, bernama Maya.


"Tapi, Pak," Ucap Maya terpotong.


"Sudah batalkan aja dulu, atau mundur


sedikit. Saya ada urusan di sekolah Keylan." lanjut Kevano, setelah itu ia


berjalan keluar kantor saat Maya hanya bisa mengangguk.


Lagi-lagi Kevano dengan mudah membatalkan


jadwal yang sudah di susun secara apik oleh Maya, alasannya pun kadang kurang


logis, karena urusan keluarga.


Sementara itu Kevano sudah berada di mobil


nya, mengendarainya dan membawanya pergi dari area kantor.


Sesekali di liriknya jam di tangan


kanannya, masih ada setengah jam lagi untuk sampai ke sekolah Keylan.


Ini bukan pertama kalinya ia harus datang


dan mendengarkan guru BK atau kepala sekolah menegur dan mengatakan apa yang sudah


di lakukan Keylan selama di sekolah.


Kevano sudah melakukannya sejak Keylan


masuk SMP.  Setelah mendapat teguran


kadang ia memarahi Keylan, tapi kadang juga ia hanya diam.


Dulu saat masih sekolah pun, ia juga begitu


nakal, bahkan lebih dari itu. Awalnya ia anak baik baik, lalu mengenal dunia


malam yang penuh trek-trekan dan teriakan.


Dulu ia juga tak suka merokok, tapi setelah


menikah dan memiliki Keylan ia ikut merokok, tapi sifat tak suka merokoknya


dulu perlahan menurun pada Keylan, setidaknya itulah yang nampak padanya.


Mengingat kejadian belasan tahun lalu,


Kevano teringat terakhir kali saat ia mengikuti turnamen dan berakhir di kantor


polisi. Menang tidak, tapi berakhir dengan pipi lebam karena tamparan sang


Papa.


Untung saja saat itu Ruben dengan sigap


menolongnya, jika tidak mungkin ia akan di gantung di depan gerbang rumah oleh


sang Papa karena sudah merasa jengkel.


Mengingat kejadian itu, Kevano sampai tak


sadar jika sudah berada didepan sekolah Keylan. Seorang satpam membuka pintu


gerbang, dan Kevano membawa mobilnya masuk ke parkiran.


Setelah sampai di parkir, Kevano melepaskan


jasnya, yang hanya menyisakan kemeja biru polos dengan dasi belang yang senada.


Ia masih ingin terlihat muda.


Kevano berjalan masuk ke area sekolah, saat


beberapa siswi memandangnya dengan tatapan aneh dan kagum. Apa aku setampan


itu. Batin Keylan.


"Pa!" Teriak Keylan sambil


berjalan mendekati  Kevano. Kevano


menoleh, begitu pula dengan para siswi yang memandang Kevano tadi.


"Apa?" tanya Kevano.


"Papa mau ke ruang BK, ya?" tanya


balik Keylan.


"Kan guru mu yang minta Papa


datang."


"Iya juga sih." Kata Keylan.


"Yaudah yok, Keylan temenin."


"Kamu enggak masuk?"


"Enggak, gurunya lagi gak


datang." Kata Keylan bohong, padahal Pak Azmi sedang memulai


pembelajarannya.


Kevano mengangguk, lalu berjalan di samping


Keylan. Saat berjalan seperti itu kedua sepeti adik-kakak, dengan wajah mirip,


kulit mirip dan tak ada yang berbeda selain bentuk badan.


Badan Kevano yang sehat terawat jauh lebih


bagus dari badan Keylan yang masih memunculkan otot semu.


Keduanya sampai di ruang BK, Pak Rahman


sudah menunggu di sana, dengan senyum merekahnya, padahal biasanya jika dengan


Keylan dia begitu judes.


Pak Rahman  kemudian memulai pembicaraannya, menjelaskan tertantang Keylan yang


selalu berbuat ulah di sekolah.


%%%


Keylan berjalan cepat menuju arah parkir,


tepat setelah pukul tiga sore lonceng pulang berbunyi.


Rasanya menunggu kepulangan sekolah begitu


lama, Padahal hanya belajar beberapa jam saja.


Sesampainya di parkir, Keylan langsung


menuju motor milik Raka, tapi tak menemukan siapapun disana, Raka sepertinya


belum sampai di parkiran.


Sambil bermain dengan ponsel pintarnya dan


duduk diatas motor, Keylan menunggu Raka. Tapi, sampai sepuluh menit berlalu,


dan parkiran sudah mulai sepi, Raka tak muncul juga.


Sedikit risau, Keylan berusaha menghubungi


nomor Raka, tapi tak ada jawaban. Padahal Berdering tanda panggilan itu masuk.


"Mana sih itu bocah," gumam


Keylan sendiri sambil menggaruk belakang kepalanya tanda bingung.


Berulang kali Keylan menghubungi dan mencoba


menchat Raka, tapi tetap saja. Setelah tak sabar menunggu, Keylan berjalan


kembali menyusuri lorong sekolah.


Keylan menaiki anak tangga, dimana kelas


Raka berada, tapi dengan tatapan yang terus memperhatikan sekeliling, siapa


tahu Raka tiba-tiba saja pingsan dijalan.


Sesaat setelah sampai di kelas Raka, yang


berada di ujung, Keylan tak menemukan siapapun disana. Kelasnya kosong dan


gelap.


Keylan menghembuskan napasnya capek, Raka


menghilang lagi.


Tapi, tak berapa lama, ponsel pintar Keylan


berbunyi, satu pesan masuk. Ternyata Raka yang menchatnya, mengatakan bahwa


Raka sedang ada bimbingan belajar di lantai satu. Ruangan di dekat lab.


Keylan kembali berjalan dengan cepat, turun


dari sana. Dan menuju ruangan yang dikatakan Raka tadi.


Sesampainya di ruangan yang ditunjunya


tadi, Keylan melihat Raka yang tengah sibuk mendengarkan seorang guru


menjelaskan pelajaran Fisika bersama empat orang teman lainnya.


Keylan menunggu di bangku disamping pintu


ruangan itu sambil bermain ponsel. Entah apa yang Keylan lakukan, tapi ia hanya


mencari cara agar ia tak bosan menunggu Raka yang mungkin akan memakan waktu


tiga puluh sampai satu jam didalam ruangan itu.


Raka memang tipikal murid pandai yang


selalu mendapati rangking dalam pembelajaran akademik, kadang mengikuti


perlombaan sains antar sekolah dan juga kota.


Seperti saat ini, kelas tambahan itu


dilakukan sebelum Raka mengikuti Olympiade sains tingkat kota.


Berbeda dengan Raka, Keylan malah hanya


menajdi murid biasa yang tak pandai dalam akademik dan non akademik. Keylan


bisa bermain sepak bola, basket dan beberapa olahraga lainnya. Tapi itu hanya


olahraga yang dilakukannya saat waktu luang, tidak menghasilkan apapun.


Sering kali sang Mama mengomel saat ia


mendapatkan nilai yang jelek didalam rapot, omelan itu berkepanjangan hingga


membuatnya kadang muak.


Sementara sang Papa hanya bisa diam dan


menganggap semua itu wajar, karena papanya juga tak begitu pandai dulu saat


sekolah.


Sifat tak pandai sang Papa itu sepertinya


ikut menular dalam dirinya. Dan membuatnya melekat disana.


Mengingat itu Keylan hanya bisa mencibirkan


bibirnya, ia harus tak peduli. Pikirnya sendiri.


Berulang kali Keylan melirik jam di layar


ponsel nya, tapi waktu masih begitu lama. Dengan bosan Keylan berdiri dari


duduknya dan berjalan berkeliling sedikit menikmati apa yang bisa ia nikmati.


Keylan berjalan kelorong lantai satu,


melewati ruangan guru dan sampai di sebuah aula. Dari  luar terdengar suara cekikikan beberapa


perempuan.


Dengar sedikit ragu Keylan menarik gagang


pintu, semoga saja itu bukan hantu atau sejenisnya. Karena akan tak lucu jika


ia bertemu hantu di sore hari yang masih sangat terang ini.


Pelan sekali ia menarik pintu, entah


bingung atau takut, saat setapak tangan sudah terbuka, ia melihat beberapa


perempuan tengah bermain cherleaders, sambil menggerakkan pom-pom dan membuat


gerakan aneh.


Keylan berdiri tegap sambil melebarkan


pintu ruangan aula saat ia tahu bahwa salah satu dari mereka adalah Aresti.


Keylan memperhatikan Aresti dari kejauhan


dengan tersenyum sendiri. Gadis pujaannya itu bukan hanya cantik tapi juga


pandai dalam banyak hal.


Sayangnya Aresti terkenal agak cuek


meskipun sikapnya baik dan suka blak-blakan. Termasuk saat menolak Keylan


beberapa hari lalu.


Aresti menolaknya, padahal Aresti tak memiliki pacar, begitupun dengan Keylan.


Menurutnya sendiri, ia tampan dan tipikal remaja pujaan seumuranya. Tapi, entah


lah alasan penolakan itu masih menjadi bagi Aresti sendiri.


"Eh lu ngapain di sini?!" Teriak


Aresti saat melihat Keylan berdiri diambang pintu, Keylan tergagap bingung dan


menjadi gugup. "Lu mau ngintip kita latihan ya,"


Aresti berjalan mendekati Keylan yang belum


juga bergeming sedikit pun.


"En... Enggak kok, gue tadi gak


sengaja lewat sini, terus pintunya terbuka." jawab Keylan berbohong,


nampak sekali dari caranya berbicara yang gagap.


"Alasan." kata pelan Aresti.


"Mau gue laporin guru lu."


Mendengar ucapan Aresti itu Keylan malah


menyengirkan giginya. "Galak amat sih Res sama calon pacar."


"Masih calon ya, dan lu juga belum


tentu menang balapan itu." Ucap Aresti judes


"Eh siapa yang tau, pas gue menang lu


harus mau jadi pacar gue." Kata Keylan berlagak sombong.


Aresti tak menjawab, karena teman temannya


sudah memanggil dan meninggalkan Keylan disana kembali sendirian.


Setelah Aresti pergi, Keylan menutup pintu


ruangan aula itu, lalu berjalan menjauh dari sana. Mungkin saat ini Raka sudah


selesai dengan pelajaran tambahannya.


Sambil berjalan, Keylan terus saja


tersenyum sendiri dan memikirkan ekspresi wajah Aresti tadi yang tak begitu


suka saat ia dengan songong nya mengatakan akan memenangkan balapan nanti.


Tapi, Keylan tersadar, bagaimana mungkin ia


memenangkan perlombaan jika motor dan tak pernah menggunakan motor besar.


Dan itu juga alasan yang logis untuknya


menunggu Raka untuk mengantarkannya pergi kerumah sang Nenek.


"Dari mana sih lu?" tanya Raka


begitu melihat Keylan akhirnya muncul di ruangan yang digunakannya tadi untuk


melakukan pelajaran tambahan.


"Habis keliling, soalnya nunggu lu


lama banget, sampai gue bosan." Jawab Keylan.


"Alasan banget lu, baru juga


sejam."


"Sejam itu banyak lah Kampret juga lu.


Dah jangan bawel. Cepetan antar gue kerumah nenek."


Raka hanya mendeham lalu berjalan lebih


dulu menuju arah parkiran, sementara Keylan mengikuti dari arah belakang dengan


jalan santai.


Sesampainya di parkir, Keylan mengambil


kunci dari Raka dan lansung membawa motor matic itu berlalu pergi dari area


sekolah.


"Kita mau ngapain sih kerumah


nenek?!" tanya Raka sedikit berteriak agar suaranya terdengar lebih jelas.


"Lu minta gue getok, nah!" Keylan


ikut berteriak.


"Lah kenapa?!"


"Kan gue sudah bilang sama lu, kalau


gue mau minta dibeliin motor sama nenek."


"Buat apa?"


"Banyak tanya lu kayak tetangga


sebelah rumah, kan gue udah ngomong buat apa. Gue tinggal nih dijalan."


Mendengar ucapan Keylan, Raka hanya terdiam


sambil mengingat untuk apa motor itu. Sampai akhirnya ia ingat bahwa Keylan


menginginkan motor itu untuk balapan demi mendapatkan hati seorang gadis


bernama Aresti.


Mengingat itu Raka hanya bisa menggeleng,


sepupunya agak sedikit gila saat terserang penyakit bernama cinta.


%%%


Keylan


menghentikan motornya didepan rumah megah milik keluarga Putra yang tak lain


kakek dan neneknya sendiri, setelah merasa enak Keylan memakirkan motornya


tepat di halaman, kemudian keduanya turun dari motor dan berjalan menuju pintu


ruang tamu.


Raka


beberapa kali mengetuk daun pintu itu, dan tak berapa lama seorang perempuan


setengah baya membuka pintunya.


“Den Raka


sama Den Keylan, masuk Den.” Seorang ART mempersilahkan keduanya untuk masuk.


“Kakek sama


nenek mana, Bi?” tanya Keylan.


“Ada, Den.


Sebentar saya panggilkan.”


Kerylan dan


Raka mengangguk, lalu duduk di sofa ruang tamu itu sambil bermian ponsel


mereka. Keylan rindu rumah besar ini, meskipun hampir setiap saat ia dapat ke


rumah ini, tapi kadang ia bosan.


Berbeda


dengan Raka yang rumahnya tak jauh dari rumah nenek dan kakeknya.


“Loh


cucu-cucu nenek tumben datang kesini,” ucap nyonya putra mendekati kedua cucu


tampannya.


“Nenek,


kayak kami gak pernah kesini aja.” Gumam Raka.


“Tumben


saja, biasanya kalian kesini gak pernah bareng kan.” Kata Nyonya Putra lagi.


“Keylan


kangen sama nenek katanya.” Celetuk Raka lagi.


“Keylan


kangen, beneran?” tanya Nyonya Putra.


Keylan


mengangguk bodoh sambil tersenyum. “Keylan kangen banget sama nenek. Kakek


mana?”


“Dibelakang


kayaknya.”


“Raka ke belakang


ya, mau ketemu kakek.”


Keylan dan


sang nenek mengangguk, saat Raka berllau pergi menuju taman belakang dimana


biasanya Tuan Putra menikmati sorenya.


Sementara


Keylan sudah duduk begitu dekat dengan sang nenek sambil bermanja ria, sifat


kekannya muncul dengan sendirinya.


“Nek,” ucap


Keylan kemudian.


“Key sudah


makan?” tanya nyonya Putra tak menjawab ucapan Keylan.


Keylan


mengangguk. “Nek, beliin Keylan motor.”


“Apa?!” ujar


nyonya Putra kaget mendengar ucapan Keylan yang begitu mendadak. “Ngomong apa


kamu ini.”


“Serius nek,


Keylan pengen motor gede.”


“Kenapa gak


minta Papamu, kok jadi minta nenek.”


“Kalau


Keylan minta sama Papa, pasti Mama gak ngasih nanti malah ngomel.”


“Emang motor


apa kok sampai gak di kasih?”


“Motor


gede.”


“Mau buat apa


motor gede? Buat kamu kebut-kebutan di jalan ya?”


“Enggak lho,


Nek. Pengen aja. Please nek.”


Nyonya Putra


terdiam sesaat. “Coba minta kakekmu, siapa tau di kasih.”


“Makasih,


nek.” Keylan memeluk sang nenek lalu kemudian berlalu pergi menyusul Raka dan


sang kakek, sementara neneknya hanay bisa menggeleng dan tersenyum.


Melihat


Keylan, nyonya Putra teringat kelakuan Kevano yang dulu juga begitu nakal dan


jika memiliki satu keinginan harus dan wajib di kabulkan, jika tidak Kevano


bakalan marah dan uring-uringan sampai keinginannya di kabulkan, berbeda dengan


Ruben yang selalu diam dan tak peduli jika keinginannya tak diberikan.


Meskipun


begitu Kevano bisa dengan mudahnya berubah menjadi dewasa dalam sejekap, bahkan


belum genap dua puluh tahun Kevano sudah menikah.


Awal meminta


restu untuk menikah, Nyonya Putra sedikit ragu, jika Kevano menikah karena


suatu insiden, nyatanya tidak. Kevano menikah demi menolong seorang perempuan


bernama Kesya dari masalah dan malu akibat di tinggal calon suaminya.


Keraguan


nyonya Putra itu terbayar dengan semakin tumbuh dewasanya Kevano dan sampai


sekarang Kevano sudah menjadi seorang lelaki yang sukses, bahkan melebihi ruben


dulu saat seusia Kevano.


Saat nyonya


Putra sibuk dengan pikirannya sendiri, Keylans sudah sampai di taan belakang,


berbincang dengan sang kakek, mengatakan bahwa ia ingin motor.


Keylan


begitu yakin saat meminta motor pada kakek dan neneknya dari keluarga sang


papa, karena mereka adalah keluarga kaya dan memiliki banyak uang, motor satu


biji saja pasti mereka kasih untuk cucu tersayangnya.


“Kamu minta


kunci motor sama bibi, motor biru yang ada di garasi.” Ucap tuan Putra.


“Motor siapa


di garasi, Kek?” tanya Keylan penasaran.


“Dulu motor


Papa Raka, tapi kakek sita karena di buat balapan sama Papa kamu.”


“Hah, Papa


balapan?” Keylan semakin penasaran dengan motor dan balapan.


Selama ini


papa Keevano tak pernah mengatakan bahwa dulu suka balapan, yang selalu ia tahu


kalau sang papa gemar main game. Apa rahasia itu sengaja disimpan untuknya,


agar ia tak meminta motor.


“Papamu gak


cerita?” kini tuan putra yang bergantian bertanya.


Keylan


menggeleng.


Kemudian


tuan Putra menceritakan tentang masa muda Kevano pada Keylan dan Raka, saat


sebelum menikah dengan Kesya. Keylan yang penasraan terus mendengar cerita itu,


hingga ia akhirnya tahu bahwa sang papa dulu lebih nakal dari dirinya, tapi


kenapa setiap ia nakal sang papa marah begitupun mamanya.


“Papa gak


pernah cerita, Kek.” Kata Keylan.


“Sama, Papa


juga gak pernah nyinggung soal om Kevano.” Ujar Raka ikut menimbrung.


“Yasudah


lupakan, cepat ambil motornya.”


Setelah


mendengar ucapan itu Keylan dan Kevano terburu-buru menjauh dari sang kakek dan


menuju dapur untuk mencari si bibi, supaya bisa menanyakan dimkana kunci motor


diletakkan.


Tingkah


kedua cucunya mengingatkan antara Kevano dan Ruben yang dulu selalu saja saling


membantu menutupi masalah. Dulu tuan Putra tak pernah setuju dan selalu marah


jika Kevano sampai ngebut-ngebutan karena itu bisa menghancurkan masa depannya.


Tapi,


perlahan ia sadar jika Kevano masih mencari jati dirinya. Sekarang ia tak perlu


marah lagi jika Keylan mau melakukan papun, karena tuganya hanya sebagai


seorang kakek yang menyayangi cucu-cucunya, jika menjaga itu tugas dari kedua


orang tuanya.


Sementara


itu Keylan dan Raka sudah berada di garasi, membuka penutup yang menutupi motor


gede milik papa Raka.


"Wih


kerennya motor Papa lu." Ucap Keylan saat melihat motor gede berwarna biru


terparkir bagus di garasi rumah yang nampak di matanya. "Kok lu gak ngasih


tau sih."


"Gue


juga baru kalau Papa punya motor kayak gini, kalau pun tau dari awal udah gue


pakai." Ujar Raka.


"Sekarang


karena kakek bilang buat gue, jadi gue yang pakai."


"Terserah


lu."


Keylan terus


mengelus dan mengelilingi motor itu dengan rasa kagumnya. Akhirnya ia


mendapatkan motor untuk mendapatkan hati pujaan hatinya. Ia akhirnya bisa


balapan dan tak bingung harus mencari motor dimana.


Tapi ada


satu hal yang mengganggunya sekarang, ia tak bisa menggunakan motor gede,


karena belum pernah menaikinya.


"Ka, ajarin


gue naik motor ini dong." Keylan cengengesan.


"Lu apa


aja gak bisa," Ujar Raka ketus. "Gih bawa keluar motornya."


Keylan


hampir saja meng-iyakan ucapan Raka, tapi ia mengurukan niatnya untuk


mengeluarkan motor gede itu. Raka yang melihat hal itu kemudian mendekati


Keylan lagi.


“Kenapa?”


sambung Raka.


“Besok aja


deh belajarnya, mumpung besok libur. Sekarang kan sudah sore, Mama gue nanti


bawel kalau gue pulang telat.”


Raka


mengangguk, Keylan kembali mengunci motor itu dan berjalan masuk kedalam rumah


untuk berpamitan kepada nenek dan kakenya. Tapi kunci motor tetap ia bawa


karena motor itu sudah menjadi haknya sekarang.