My Berondong Husband

My Berondong Husband
#75 Angga dan Cerita Cintanya



Angga mengucek matanya, saat terdengar suara sang kakak yang berteriak sambil menggedor pintu kamarnya.


Suaranya begitu nyaring dan melengking, membuat Angga terkaget dari tidurnya.


Angga kemudian bangun dan berjlan menuju arah pintu, dibukanya pintu itu dengan perlahan sambil sesekali ia menguap hebat.


“Kenapa, Mas?” tanya Angga begitu pintu terbuka dan menampakkan sang kakak tanpa sedikitpun raut bersahabat. Tapi, memang begitu adanya. Sang kakak tipikal orang yang kaku dan cuek dengan siapapun, kecuali dengan ibunya.


“Jam berapa ini? Kamu mau telat bangun lagi.” Ucap sang kakak datar tanpa ekspresi sedikitpun.


Respon Angga hanya menggaruk pipinya perlahan, lalu menatap jam yang ada didinding kamarnya.  Jarumnya berjalan pada pukul delapan lebih lima belas menit.


Tiba-tiba matanya membulat dan melotot, ternyata sudah sesiang ini, ia mulai panik dengan sendirinya dan bingung tan menentu. Ssesekali a meenpuk pelan pipi kananya.


“Mas kenapa baru bangunin aku sih, aku telat kuliah nih.” Kata Angga lalu berhambur menuju kamar mandi.


Sang kakak yang melihat tingkah laku Angga hanya malah menggaruk belakang kepalanya. Bingung apa yang tengah terjadi pada si adik. Apa mungkin saat tertidur kepalanya sempat terpentok ranjang temapt tidur, hingga menjadi aneh dan seperti orang gila.


Sedangkan Angga kini sudah berada di dalam kamar mandi, menyiram seluruh tubuhnya dengan air yang ada, lalu cepat cepat selesai dan berlari keluar menuju kamar dengan hany menggunakan handuk yang melilit tubuh dan perut  bawahnya.


Angga berniat mengganti pakaiannya, membuka lemari dan kemudian menghamburkan semua isinya. Karena ia tak menemukan seragam kuliah yang biasanya ia gantung didalam sana.


Ia lantas keluar kamarnya berlari kecil menuju dapur, untuk menemui sang  ibu.


“Bu! Ibu!” teriak Angga begitu ia melihat sang ibu tengah menyiapkan makanan di dapur, dan sang kakak pun berada disana.


“Apa sih, kenapa teriak teriak begitu?” tanya sang ibu begitu Angga berada disampinngnya.


“Ibu lihat seragamku gak?”


“Seragam yang mana?”


“Itu lho yang putih, Aku cari di lemari gak ada.”


“Kemarin ibu cuci, sekarang ditempat setrika. Lagian baju kotor digantung di lemari.” Omel sang ibu.


Angga tak peduli dengan omelan itu, ia sudah berlari secepat mungkin menuju tempat setrika dan mengambil baju putih yang menurutnya itu seragamnya.


Lalu cepat cepat memakainya dan bergegas pergi berangkat kekampus. Setelah sebelumnya ia lebih dulu berpamitan pada sang ibu dan kakaknya.


Dijalankannya motor gede miliknya, dengan kecepatan tinggi, untungnya hari itu jalanan sepi karen memang bukan jamnya lagi berangkat bekerja atau beraktivitas lainnya.


Angga sampai diparkiran kampus, lalu buru buru menaiki tangga lantai tiga di mana kelasnya berada. Hari ini jadwalnya mengambil mata kuliah matematika dengan para juniornya. Jika ia datang terlambat lagi sang dosen pasti mempermalukannya lagi seperti biasanya.


Menjadi mahasiswa senior yang entah kapan lulusnya, kadang tak selalu menyenangkan. Bahkan banyak tidaknya. Apalagi kalau para dosen bertanya kapan penelitian, selain tersenyum dan bilang nanti pak, bu, apalagi yang bisa Angga lakukan.


Saat sampai di luar pintu kelas, Angga mengetuk perlahan. Seorang dosen perempuan separuh baya menatapnya dengan tatapan elang yang tak bersahabat. Seolah mengatakan “dasar senior kurang ajar, enyah kau.”


“Maaf bu saya telat.” Kata Angga sambil terus menarik napas yang tersingkal dibagian dadanya.


“Bukan telat, tapi telat lagi.” Ucap dosen perempaun itu lalu mendekati Angga sambil membawa amplop putih tanpa menyuruh Angga untuk masuk terlebih dahulu. “Ini kamu bawa ke fakultas, kamu tinggui sampai selesai tanda tangan. Kamu gak usah masuk anggap saja ini sebagai pengganti absenmu.”


Angga terdiam sambil mengambil amplop putih itu. Apa maksudnya pengganti absen, apa berati ai dianggap tak hadir dalam pertemuan ini?


“Maksudnya, Bu?”


“Kamu tetap ibu anggap masuk. Catatan pinjam dengan adik tingkat mu.”


“Lalu setelah ini selesai di tanda tangani, Bu?” tanya Angga lagi.


“Antar keruang saya.” Ucap ibu dosen itu kembali.


Angga mengangguk sambil menarik napas beratnya lagi. Dosen perempuan itu ingin menyiksanya, karena setelah turun menuju fakultas dilantai dua ysng dekat dengan program studi Desain dan Managemen, ia harus naik lagi kelantai empat ujung, tempat para dosen fakultas teknik.


Tanpa berpikir lagi, Angga membawa amplop itu berpamitan dan menuju fakultas lantai dua gedung B, dan itu pun sudah beda gedung.


Angga berjalan santai, ia tak harus berjalan memburu lagi. Karena terbebas dari jeratan dosen menyeram kan itu, meskipun ia masih ada pekerjaan lain. Saat sampai di lantai dua dekat program studi Desain dan Mangemen ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia merogoh kantung belakang celananya.


“Hallo, Bu.” Sapanya saat ia tahu yang yang menghubunginy adalah sang ibu. “Hah, apa, masa sih?”


Setelah mengatakan hal itu dengan nada kaget, Angga melirik baju seragamnya. Ternyata ia salah mengenakan baju. Pakaian itu milik sang kakak yang mengambil jurusan pendidikan guru. Seragam mereka memang mirip, hanya beda corak dibagian leher. Bahkan dibagian dada bukan namanya.


“Aduh, ibu kok gak bilang sih.” Sambungnya.


Brak!


Angga menabrak sesuatu . Tidak. Lebih tepatnya seseorang. Orang yang Angga tabrak terjatuh begitu pula tumpukan buku yang ia bawa.


"So..Sorry." Ucap Bian pada orang yang ditabrak itu.


"Iya, maaf gue gak sengaja." Kata Angga lagi Meskipun Renata terlihat tak peduli.


"Lain kali hati-hati." Renata masih cemberut. "Lu anak pendidikan, kan? Ngapain disini?"


"Oh, ini gue mau ngantar Surat buat Fakultas teknik. Tapi, gue gak tau dimana."


"Fakultas teknik ada di ujung."


"Gue gak tau, lu bisa anterin."


"Modus. Lagian bawaan gue banyak."


Mendengar itu, Angga mengambil buku-buku dari tangan Renata.


"Sekarang gak ada alasan lu buat nolak."


Renata tak bisa menolak permintaan Angga sekarang, mau tak mau ia harus mengantarkan, lagi pula ia sedang tak sibuk sekarang.


"Nama gue Angga, kalau lu?" Sambung si penabraknya yang mengaku bernama Angga.


"Renata, panggil Rena."


"Kalau gue panggil Nata gimana?"


"Jangan sok akrab, Rena aja."


"Nata aja, atau kupanggil sayang."


Mendengar ucapan Angga, Renata menoleh. Memicingkan mata tajam kearah Angga. Lelaki ini sok akrab banget. Batin Renata.


"Memang anak Pendidikan itu suka gombal dan modul, ya?"


"Kami gak pernah diajarkan gombal, kami berbicara sesuai fakta. Karena kami nanti mengajar anak-anak dengan rasional. Atau siapa tau bukan anak orang aja yang aku ajar, anak kita juga bisa."


Renata semakin memburu langkahnya, Angga semakin terlihat aneh. Apalagi Angga mencoba akrab dengan mengganti suku kata menjadi aku.


Sesampainya di ujung Renata menunjuk sebuah ruangan fakultas, Angga masuk kedalam sedangkan Renata berjalan pergi.


Sebenarnya Angga tahu fakultas itu, hanya saja ia ingin modus dengan Renata. Kemudian Angga masuk menyerahkan amplop itu.


###


Sejak saat itu Angga dan Renata selalu terlihat dekat, Angga menyukai karakter Renata yang lucu dan kadang cuek.


Semenatara Renata mencoba berbaik sangka dengan seorang Angga.


"Gue suka sama lu, lu mau gak jadi pacar gue?" Ucap Angga dengan nada puas, seakan perasaan itu sudah memuncak dan ingin keluar sejak lama.


Itu sudah berbulan bulan sejak pertemuan dan perkenalan mereka.


"Enggak." Ujar Renata enteng.


"Iss, sakit hati banget aku. Please aku butuh oksigen," Angga mendramatisir keadaan.


"Apaan sih lu, lu itu tukang ngibul."


"Ngibul gimana?"


"Ngibul lah, pertama lu bukan anak jurusan pendidikan, lu itu senior di kampus, kedua yang lu pakai ini bukan motor lu kan. ketiga lu bukan anak orang kaya."


Angga diam sesaat, menggaruk rambutnya meskipun tak gatal. Lalu ia tersenyum.


"Yah ketahuan."


"Ketahuan Pala kau." Rajuk Renata.


"Oke, yang pertama gue emang bukan jurusan Pendidikan, kedua ini motor vespa tua milik abang gue, ketiga iya gue anak tukang buah."


"Harusnya dari awal lu jujur Angga, kita sudah barengan hampir setahun."


"Kalau gue jujur dari awal lu bakalan suka?"


"Enggak juga sih. Udah ayo jalan."


Mendengar ucapan dari Renata itu, Angga dengan wajah santainya mulai menjalakan motornya kembali, mengedarainya lebih lambat dari tadi, agar bisa lebih lama bersama Renata.


Sementara Renata hanya tersenyum simpul mengingat Angga yang mengutarakan perasaanya. Angga begitu baik, humble dan care, penuh komedi meski kadang suka marah.