My Berondong Husband

My Berondong Husband
#72 Reno Mulai Khawatir (2)



Reno terus mengaduk kopinya saat ia menikmati istirahanya dikantin kantor.


Pikirannya masih berkecamuk tentang laki laki menakutkan yang berjiwa psikolog itu.


Bagaimana mungkin ada orang yang tega melakukan apapun pun hanya untuk mendapatkan yang ia mau. Padahal dari penampilannya laki laki itu nampak baik.


Apalagi laki laki itu sempat akan menjadi bagian terpenting dari hidup Bian. Tapi, jika Bian tahu mungkin akan Bian urungkan semua hal yang ia inginkan selama ini.


"Bro!" Sapa seseorang dari belakang dengan menepuk pundak Reno. "Melamun aja sih, mikirin kerjaan ya? Gak usah dipikirin tapi dikerjakan."


"Lu Dan, gue gak mikirin kerjaan, cuma mikirin soal Bian." Ucap Reno pada Dani.


"Lu gak jenguk dia?" Tanya Dani sambil duduk disamping Reno yang masih saja bermain dengan kopinya.


"Beberapa kali jenguk, cuma Gue gak tega aja lihatnya."


"Kenapa emangnya dia? Gue gak sering kesana soalnya."


"Dia makin kurus, kayaknya gak terurus."


Keduanya lalu bercerita tentang kasus yang menjerat Bian, apalagi Dani berteman dengan Bian lebih lama ketimbang Reno.


Dani juga merasa terpukul dengan masalah yang menyangkut soal Bian. Ia tak pernah berpikir jika Bian bisa melakukan hal senekat itu, padahal sebelum masuk penjara Bian selalu mengatakan bahwa hati hati dalam bekerja tapi nyatanya malah ia yang terjerat omongannya.


Bagi Dani, Bian bukan hanya seorang pengacara yang pandai, tapi juga baik dalam berbicara. Hal itu nampak pada attitude nya dalam bekerja.


Dalam tahun pertama bekerja, Bian sudah sebegitu terkenal, bahkan dari kalangan kelas atas pun menggunakan jasa Bian.


Dani tak perlu cemburu dengan keberhasilan Bian, baginya jika dibandingkan dengan seorang pengacara handal bernama Bian ia memang bukan apa apa.


Bian yang cekatan dan pandai, selalu punya cara untuk keluar dari masalah. Namun kali ini Bian menjadi si malang yang tak bisa melakukan apapun selain hanya diam dan menunggu masalahnya selesai dengan sendirinya.


Dani yakin Bian bisa keluar dari masalahnya, karena Bian seorang pengacara.


"Berapa tahun lagi katanya" tanya Dani.


"Seharusnya lima tahun, tapi ia mendapatkan remisi setahun. Dan ini sudah tahu pertamanya, berarti tiga tahun lagi." Jawab Reno.


"Semoga saja ia bisa keluar secepat mungkin dan kembali bekerja, lagi pula perusahan ini masih membutuhkan nya dalam banyak hal."


Keluar dari penjara? Kalimat itu berputar didalam pikiran Bian. Ia tak pernah berpikir apa yang akan terjadi nanti jika Bian keluar dari penjara.


Apa Bian akan balas dendam padanya? Dengan cara memenjarakannya? Jika benar hal itu terjadi, ia harus pergi sejauh mungkin. Karena pasti Bian tak akan berdiam diri begitu saja.


"Lu melamun lagi, kepikiran banget sih." Ucap Dani membuat Reno tersadar.


"Gak apa apa, gue cuma mau pulang. Sudah jam absen pulang nih."


"Gue ikut lu pulang ya, mobil gue dipake istri."


"Oke, Lu yang bawa." Kata Reno sambil melemparkan kunci mobilnya pada Dani. Kemudian ia dan Dani berlalu pergi dari kantin itu. Mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kantor.


Reno dan Dani menuju mobil fortuner milik Reno, mobil mahal yang baru ia bisa beli setelah menabung beberapa lamanya.


Ia sengaja menyisihkan tabungan dan gajinya hanya agar terlihat bergaya dengan mobil mahal dan bisa ia pamerkan kepada banyak orang.


"Lu kenapa, Dan?" Tanya Reno saat melihat Dani tak menjalan Kan mobilnya malah sibuk melihat kanan-kiri, atas bawah.


"Ini mobil mahal, kan? Keren banget lagi."


"Kalau lu mau beli aja lah, kayak gajih lu dikit aja. Beli satu lagi biar gak gantian sama istri lu."


"Nanti lah, gue belum kepikiran soal ganti mobil, soalnya banyak yang harus gue urus. Mana anak masih kecil-kecil lagi." Kata Dani kemudian, akhirnya ia menjalankan mobil itu. Meskipun dengan secara perlahan takut jika mobil itu lecet dan tergores sedikit.


Meskipun hanya sedikit, biaya memperbaikinya pasti mahal, apalagi itu memang mobil yang cukup mahal.


Sesampainya dirumah Reno langsung menghempaskan tubuhnya diatas sofa sambil melepaskan tasnya ditempat yang sama.


Pekerjaanya begitu melelahkan, apalagi semenjak Bian berada dipenjara banyak klien yang datang padanya.


Ada rasa bahagia ada juga rasa lelah yang menyelimuti. Apalagi saat sampai dirumah semua nampak kosong.


Reno sudah tak memiliki orangtua, mereka meninggal dalam kecelakaan sepuluh tahun lalu.


Sejak saat itu Reno menjadi yatim piatu, untung saja kedua orangtuanya mewarisi banyak sekali harga, yang bisa ia bagi dengan kedua orang saudaranya.


Reno memang memiliki satu adik seorang laki laki bernama Rian dan seorang kakak juga laki laki bernama Randi.


Meskipun sesama laki laki, tapi ia merasa berbeda dengan sifat kedua saudaranya.


Rian yang sekarang masih duduk dibangku kelas sebelas, sementara Randi seorang laki-laki bo**h yang jarang sekali berada dirumah.


Sejak kematian orang tua meraka, sifat Randi perlahan berubah. Ia sering sekali keluyuran sampai tak tahu waktu. Bekerja pun tak jarang bahkan Reno sampai malas bertegur siapa dengannya.


Karena sikap Randi yang seperti itu membuat Reno harus memenuhi semua hal pada Rian, bahkan nafkah Rian berpindah padanya.


Kadang ia ingin sekali memaki kakaknya itu, tapi jika ingat perkataan orangtua mereka yang sudah seperti firasat untuk tetap rukun, ia urungkan keinginan itu. Meskipun rasa kesal masih membelenggunya.


"Loh kakak sudah pulang." Ucap Rian masuk kedalam rumah, saat melihat Reno masih tiduran di sofa.


"Iya baru aja." Jawab Reno lemas. "Kamu dari mana? Jam segini baru pulang,"


"Tadi habis ngerjain tugas sama teman-teman."


"Beneran? Kamu gak bohongin kakak, kan?" Tanya Reno sambil menyelidiki adiknya, kadang jika tidak ditanya begitu Rian bisa ikut nakal.


"Serius kak, Rian gak bohong. Kakak bisa tanya Leo deh."


Reno mengabaikan perkataan Rian, jika ingin bertanya pun pasti meraka sudah merencanakan semua ini sebelumnya.


"Pijitin kakak kalau gitu." Perintah Reno pada Rian lagi.


"Rian ganti baju dulu, kak. Bersih bersih sebentar."


Reno mengangguk.


Lalu Rian berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Tak lama kemudian ia kembali dengan kaos dan celana pendek. Lalu bersiap menjalankan perintah Reno yang tak bisa ia tolak sedikitpun. Karena jika dibantah Reno akan mudah tersulut emosinya dan memuncak.


Malam harinya...


Hampir pukul dua belas malam, Reno terbangun dari tidurnya karena haus. Ia berjalan menuju dapur, tapi langkahnya terhenti saat ia melewati kamar Randi dengan pintu yang setengah tertutup.


Didalam ia melihat Randi bersama dengan seorang perempuan melakukan hal yang tak baik. Reno mengelus dadanya sambil menarik napas berat.


Randi berulah lagi. Untung saja hanya ia yang melihat, bagaimana jika sampai Rian yang melihat itu.


Ia menarik pegangan pintu itu lalu menutupinya dengan kencang, ia tak peduli jika Randi tahu dan kaget. Ia hanya tak ingin Rian melihat kelakuan buruk kakaknya.


Reno meneruskan berjalan kearah dapur, mengambil air dan menghabiskan nya. Setelah selesai ia berjalan kembali menuju kamarnya dan bersiap untuk tidur.


Meskipun sudah siap untuk menutup mata, banyak hal yang kemudian ia pikirkan.


Ia rela melakukan pekerjaan sesulit ini hanya untuk membuat adiknya bahagia, karena perlahan warisan yang diberi orangtuanya pasti akan dipakai Randi untuk hura-hura.


Jika ia bekerja, pada siapa lagi nanti Rian akan bergantung.