My Berondong Husband

My Berondong Husband
#115 Masalah Yunda dan Lamaran Ganda



“Kenapa anak-anak gak makan, Ma?” tanya Abrar pada Yunda yang makan di depannya, saat melihat kedua anak kembarnya tak menyentuh sarapan pagi itu, malah hanya berlalu pergi.


“Mungkin mereka buru-buru sekolah, piket kali,” jawab Yunda sekenanya, tanpa mau mengatakan lebih pada Abrar bahwa anak-anaknya marah karena kartu kredit mereka di sita.


“Tumben banget.” Abrar masih bingung dengan tingkah kedua anaknya, tapi ia masih melanjutkan makannya. “Oiya hari ini aku ngambil libur.”


Mendengar itu Yunda hanya bisa mengangguk sambil mengatakan-oh-dengan bulatan bibirnya, seakan tak nampak bahagia dengan apa yang di katakan Abrar. Sedangkan Abrar bingung dengan jawaban Yunda, tumben sekali ia tak terlihat semangat mengetahui kalau dirinya libur.


“Kok gitu jawabnya,” selidik Abrar.


Yunda membereskan piringnya, berjalan menuju tempat cucu. “Terus aku harus jawab apa, Pa. Bahagia sampai lompat-lompat gitu, atau bilang ‘kok tumben kamu libur’?”


“Tapi, Papa kan libur pengen dirumah sama Mama, Papa sengaja ninggalin rumah sakit lho.”


“Mama gak nyuruh, Papa libur,” ujar Yunda tanpa membalikkan wajahnya, tak ingin melihat wajahnya Abrar yang mengajaknya bicara.


Abrar menghembuskan napas beratnya, sambil terus mengunyah makannya, sepertinya ada masalah dengan Yunda, Yunda memikirkan sesuatu yang Abrar sendiri tak tahu apa itu, bahkan saat di tanya masalah kedua anaknya Yunda tak seperti biasanya yang begitu antusias dan seakan Abrar harus tahu.


Yunda selesai mencuci pirinya, melap tangannya lalu berjalan keluar dari ruang makan, dan duduk di sofa ruang tengah sambil bermain dengan ponselnya. Bermain sosmed tanpa memperdulikan Abrar masih menikmati masakannya.


Ia sebenarnya senang dengan Abrar yang libur bekerja, apalagi ini belum tentu sebulan sekali, tapi entah kenapa ia malah melakukan hal itu, ngambek dan seakan tak peduli, karena masalah dengan anak-anaknya tadi malam, ditambah dengan sikap Abrar yang memang susah di mengerti selama 16 tahun mereka menikah.


Sudah 16 tahun sejak perjodohan yang di terima Abrar dan janjinya pada sang papa dulu, sampai sekarang ia masih berpikir jika Abrar hanya terpaksa menerimanya dan berusaha mengincar harta warisan papanya, namun sampai sekarang Abrar tak pernah menyentuh ataupun membahas warisan itu.


Sikap Abrar pun baik, tak dingin, lebih terlihat romantis dan ramah.


Meskipun selama itu mereka sudah menikah, tapi Abrar selalu sibuk dengan pekerjaanya, sibuk dengan dunianya, bahkan saat dulu perayaan ulang tahun Yunda dan Anniversary pernikahan mereka Abrar tak pernah ingat, membuat perayaan pun tak pernah.


Kadang memang Abrar tanpa sengaja membelikannya bunga, sebagai tanda betapa ia sayang, tapi itu tak membuktikan apapun bahwa ia menyayangi Yunda ataupun mengharapkan Yunda selamanya.


Siang harinya.


Abrar masih dirumah, ia memang berniat mengambil hari libur karena ingin lebih dekat dengan Yunda dan anak-anaknya, mungkin banyak hal yang tertinggal selama ia sibuk bekerja, tapi setelah melihat sikap Yunda tadi pagi, ia jadi merasa bersalah dan aneh.


Yunda masih sibuk bermain ponselnya di ruang tengah, tak bergeming dari pagi setelah sarapan. Abrar mendekatinya sambil berusaha lembut.


“Ma,” panggil Abrar lembut, Yunda hanya mendehem pertanda sebagai jawaban. “Kamu kenapa sih, kok dari tadi diam aja?”


“Kenapa apanya? Aku gak kenapa-kenapa, biasa aja kok,” jawab Yunda, masih tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang terus ia picik.


“Kamu gak kayak biasanya, kamu marah ya sama aku?”


“Marah kenapa?”


“Ya enggak tahu, soalnya kamu dari tadi diam aja. Kamu gak senang aku dirumah?”


“Seneng kok, tapi aku sudah kebiasaan kamu gak ada dirumah, jadi biasa aja. Ada ataupun enggak, gak ada bedanya,” ujar Yunda, membuat Abrar hanya bisa menggaruk kepalanya.


Sudah jelas sekali alasan Yunda mengatakan hal itu, mungkin Yunda marah karena selama ini ia jarang ada waktu berkumpul bersama keluarga, kadang terlalu pagi datang kerumah sakit dan larut malam sampai rumah.


Waktunya sejak awak menikah sudah sibuk di rumah sakit, membuat Yunda hanya bersikap biasa meskipun ia membagi waktu luangnya.


Ia sampai tak tahu ada permasalahan apa di rumah, baik tentang Yunda ataupun anak-anaknya yang tak biasanya tak sarapan dan bersikap masam dengan dirinya. Ia membiarkan Yunda untuk diam, tak ingin mengganggunya, bukan ia tak peka tapi jika di paksa berbicara mungkin Yunda akan mulai mengomel dan marah padanya.


Malam harinya.


Ganda sudah menjenguk Maya, mereka sudah memilik janji untuk makan malam bersama hari itu, menikmati malam yang di indah di sebuah cafe bergaya rooftop.


“Gimana boutique?” tanya Maya memulai pembicaraan saat sampai di cafe itu, dan setelah memesan makanan.


“Kamu tanya boutique, gak tanya kabarku?” ujar Ganda sambil tersenyum.


“Kamu sudah dewasa, Ganda. Kabarmu pasti baik, kalau mulai tak baik kamu bisa menjaga dirimu sendiri.”


Ganda tersenyum mendengar ucapan Maya itu, perempuan pintar itu selalu punya cara cerdas untuk menjawab semua pertanyaannya.


“Jawabanmu selalu di luar perkiraanku,” kata Ganda.


Minuman yang mereka pesan datang, hanya sebuah minuman dan cemilan ringan, karena keduanya sudah makan, tak ingin nembah lagi.


“Bagimana boutiquemu? Apa sudah persiapan untuk acaramu nanti?” tanya Maya lagi.


“Baik, semuanya sudah berjalan lancar, dua hari acaranya dan aku minta toko tutup sehari biar anak-anak istirahat, kasihan jika H mereka kelalahan.”


“Kamu bos yang baik ya pada karyawan, pasti pegawaimu pada senang.”


“Mungkin, aku gak pernah tanya mereka satu-satu.”


Lalu mereka mulai berbicara tentang diri mereka masing-masing selama tak bertemu beberapa hari ini, Maya berbicara tenatng kantornya yang begitu asyik, sementara Ganda hanya bisa memandang Maya dengan senyuman yang terus mengambang.


“May,” ujar Ganda sambil memegang tangan kanan Maya, “Aku ada hadiah buat kamu.”


“Apa?” tanya Maya penasaran.


“Tutup mata,” minta Ganda.


“Untuk apa?” Maya masih bingung sekaligus penasaran.


“Tutup mata aja.”


Setelah itu Maya mulai menutup matanya, mengikuti keinginan Ganda, ia tak tahu apa yang akan di lakukan Ganda padanya. Dan tak berapa lama Ganda menyuruh Maya membuka matanya hingga memperlihatkan Ganda yang sudah memegang sebuah kotak merah berisi cincin.


“May, kamu mau menikah sama aku?” tanya Ganda sedikit ragu mengucapkan kata-kata yang sudah ia persiapkan sejak tadi.


Maya masih tak percaya dengan apa yang dikatan Ganda, ini seperti mimpi di lamar Ganda. Tak ada alasan ia menolak, karena sejak awal ia sudah merasa nyaman dekat dengan Ganda.


“Aku mau,” jawab Maya sambil tersenyum.


Ganda menajamnya telinganya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa jawaban dari Maya adalah “iya”


“Serius, May?” tanya Ganda.


Maya mengangguk dan Ganda terlihat bahagia, bahkan ia hampir saja berteriak dengan suara cemprengnya, tapi ia tahan, karena cafe itu ramai dengan orang.