My Berondong Husband

My Berondong Husband
#80 Renata Yang Jatuh Cinta



Beberapa Bulan Lalu.


Ketika malam semakin melarut, sekitar pukul delapan. Renata dan Angga baru saja pulang dari kampus, meskipun sebenarnya kuliah Angga lebih dulu pulang.


Sebelum pulang meraka memutuskan untuk lebih dulu mencari makan malam, meskipun hanya dipinggir jalan.


Angga tak begitu banyak punya uang, karena memang ia hanya anak dari tukang buah biasa bukan pengusaha atau pemilik kantor seperti Renata.


"Ngga," ujar Renata tertahan, belum sempat mengucapkan kata-kata lagi, ia mengalihkan pandangannya pada Smartphone.


"Iya, kenapa Nata sayang?" jawab Angga bersikap sok manis, seakan mereka sudah memiliki hubungan.


"Jijik Angga. Gue mau tanya serius nih."


Angga mengangguk dan tersenyum sebagai tanda membolehkan.


"Kenapa temen-temen lu, memanggil lu Sat-Sat sih. Nama lu, Ba*g Sat."


"Bisa ae nih. Nama gue Satria Angga Prayudipta Adi Kusuma Citpo. Dan biasanya teman-teman manggis Satria, dirumah Tria sih."


"Panjang bener namanya."


"Biasa nama orang jawa. Dan gue kenalin ke lu nama Angga, sebenarnya gak ada alasan, gue mau aja."


Renata mengangguk-angguk, meskipun tak paham dengan alasan Angga.


Tak berapa lama, pesanan mereka datang dan Angga sudah begitu antusias dengan makanannya.


Angga dan Renata menikmati makanannya dengan nikmat, bagi Renata makan seperti sangat jarang bahkan ia lupa kapan pertama kali ia makan dipinggir jalan dengan beratapkan langit dan duduk disebuah bangku kayu. Yang pasti itu pengalaman tak terlupakan untuknya.


Sesekali perasaan jijiknya makan dipinggir jalan bisa menghilang, karena makanan itu tak seburuk dalam pikirannya.


Apalagi makan bersama dengan Angga, laki laki yang dulu tak pernah ia pikir akan sedekat ini.


Angga yang aneh kadang membuatnya ilfiel tapi juga bisa membuatnya mabuk kepayang dengan tingkah absurtnya. Bayangkan saja setiap hari selalu antar jemput Renata dengan alasan jadwal kuliah meraka sama. Padahal sudah jelas berbeda.


Teknik kadang kuliah pagi sementara Renata selalu masuk sore dan malam hari.


Meskipun tingkah Angga aneh, Renata tak menampiknya bahwa ia menyukai Angga. Rasa suka yang dulu juga ia rasakan pada seorang Kevano.


Jika mengingat Kevano ia tak mau lagi ambil pusing karena sekarang Kevano sudah bahagia bersama istrinya. Mungkin pikirkan ingin menghancurkan kebahagian Kevano dan Kesya hanyalah sebuah kekesalan atas apa yang telah terjadi dalam hidupnya.


Kevano baik dan Kesya juga baik. Sekarang ia pun ingin mendapatkan yang baik dari seorang Angga.


Gaya pembawaan Angga yang begitu simple membuat Renata bisa terbius hanya dengan satu cara. Jika bisa terbang mungkin Renata akan melakukannya sejak lama, tapi Renata menancapkan kakinya ke tanah agar tubuhnya tak melayang ke langit dengan buaian Angga.


"Eh ngapain lu senyum-senyum sendiri. Gila lu ya?" kata Angga membuyarkan lamunan Renata.


Renata tersadar dan lansung mengalihkan pandangannya pada piring yang penuh sate.


"Hah? Enggak apa apa, ini gue kepikiran susahnya makan sate, jadi senyum sendiri." Jawab bohong Renata.


"Apanya yang susah, sini." Angga mengambil piring milik Renata. Lalu mengambil satu tusuk sate. "A.. Ayo buka mulut."


Renata tak mau membuka mulutnya, malah hanya diam.


"Ayo buka." Sambung Angga sambil memaksa Renata.


"Aku bisa makan sendiri." Desis Renata tanpa membuka giginya.


"Katanya susah makan sate, ya aku suapin."


"Enggak mau Angga."


"Yaudah kalau gak mau." Angga kemudian menaruh kembali piring Renata itu.


Lalu keduanya menikmati makanan itu dengan sangat lahap. Setelah selesai makan meraka memutuskan untuk pulang kerumah. Dengan menaiki motor Angga.


Didalam perjalanan mereka terlibat pembicaraan yang tak serius tapi lumayan membuat tertawa. Angga sengaja memperlambat motornya.


"Besok kan Weekend, gimana kalau kamu main kerumahku." Kata Angga kemudian.


"Ngapain?"


"Aku sama keluarga mau panen apel sama Nanas di kebun. Kamu mau ikut?"


"Wah kayaknya seru tuh. Boleh deh. Jam berapa?"


"Pagi kalau bisa, ya sekitar jam enam."


"Oke."


Lalu pembicaraan itu berhenti, karena mereka sudah sampai dirumah Renata. Angga berlalu pergi sementara Renata masuk kedalam rumah.


Lampu rumah masih nampak terang. Sepertinya sang Mama belum tidur, dan benar saja saat sampai diruang tengah sang mama masih sibuk menonton televisi.


"Mama belum tidur?" tanya Renata melihat sang Mama.


"Mama belum ngantuk, kamu kok tumben jam segini baru pulang?"


"Tadi habis jalan bentar." Ucap Renata lalu ikut duduk disamping sang Mama dan merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya.


"Sama Angga ya?" selidik sang Mama.


"Iya sama Angga." Jawab Renata sambil tersenyum.


"Angga kayaknya suka sama kamu."


"Rena tahu, sudah sering ngomong juga sama Rena."


"Suka sih, tapi Rena pengen kenal Angga lebih jauh dulu, Ma."


"Sejauh apa? Nanti kalau lama dia bisa berpaling ke yang lain lho. Laki laki mudah mencari yang baru."


"Iya juga sih. Tapi nanti lah Ma."


Setelah pembicaraan itu, Renata berjalan masuk kedalam kamarnya. Didalam kamar ia masih terpikirkan ucapan sang Mama.


Jika dipikir lebih jauh memang benar apa yang ada, seandainya ia terus menggantungkan perasaan Angga bisa jadi Angga jenuh dan bosan dengan sikapnya itu.


Tapi, sepertinya Angga bukan tipe orang yang mudah menyerah dalam mengatakan perasaanya. Nyatanya Angga terus mengatakan perasaannya meskipun Renata sudah menolak berulang kali.


%%%


Pagi harinya Renata sudah sampai didepan rumah Angga, setelah Angga mengirim lokasi padanya.


Saat melihat rumah Angga, Renata hampir tak percaya, rumah itu unik dan gayanya pun klasik, masuk kedalam pekarangan yang luas dengan beberapa tumbuhan buah kecil seperti ceri.


"Permisi, Bu." Kata Renata saat melihat seorang perempuan separuh baya yang menggunakan Jilbab membersihkan pekarangan itu.


"Iya," jawab perempuan itu sedikit bingung. "Mau beli buah ya? Hari ini tutup dek."


"Bukan bu, saya mau ketemu sama..."


"Sama Bambang? Mahasiswanya?" potong perempuan itu.


"Bukan, sama temannya Angga."


"Angga?" ucap perempuan itu seolah berpikir nama laki laki yang disebut perempuan muda tadi. "Oh maksudnya Satria?"


Renata mengangguk sambil tersenyum.


"Ada di kebun belakang. Adek ini namanya siapa?" sambung perempuan itu lagi.


"Saya Renata Bu, teman sekampusnya Angga." Renata mengulurkan tangan.


Perempuan itu menjabat tangan Renata. "Saya ibunya. Tumben sekali Angga punya teman perempuan. Ayo ibu antar ke kebun. Dia lagi ngambilin Nanas kayaknya."


Renata tersenyum lalu mengikuti kemana ibu Angga itu berjalan. Mereka melewati samping rumah dekat dengan toko, lalu menuju belakang. Disana ternyata ada kebun yang cukup luas mungkin beberapa hektar.


Selain ada nanas dan apel, ada juga kebun belimbing dan ladang Semangka. Buah segar yang bisa lansung dijual.


"Tria!" Teriak sang ibu pada Angga yang tengah mengambil nanas.


Angga dan sang kakak menghentikan pekerjaanya lalu menatap kearah sang ibu.


"Kenapa bu?" Ucap Angga berusaha mendekati sang ibu.


"Ini ada temanmu, katanya nyari kamu."


Mendengar ucapan sang ibu, Angga menatap perempuan yang berada disamping ibunya. Renata.


Melihat Renata, Angga lansung berlari secepat mungkin dan sampai didekat Renata.


"Eh Nata, kukira tuan putri gak jadi kesini." Kata Angga sambil cengegesan.


"Jadi lah kan udah janji."


"Yaudah ibu pergi dulu berisikan halaman. Dek Rena, ikut aja kalau mau." Timpal Sang ibu lalu berjalan pergi menjauh.


Renata mengangguk sambil tersenyum simpul dan terlihat manis.


"Ayo bantuin." Ajak Angga. "Tapi pakai ini dulu, biar gak ketusuk duri nanas, nanti bisa bengkak."


Angga memberikan sarung tangan karet pada Renata. Renata mengambil sarung tangan itu sambil menyatukan alisnya.


"Serius bisa bengkak?" tanya Renata penasaran.


"Serius kalau ketusuk satu pohon." Jawab Angga sambil menarik dan membantu Renata untuk memilih jalan yang bagus.


"Dih bercanda aja lu."


"Habis parnoan sih."


Renata mengulas senyum. "Itu siapa?"


Angga melihat laki laki yang sedang membersihkan tumbuhan nanas dari daun yang kering yang tadi ditunjuk Renata.


"Itu kakakku. Lagi bersihkan yang kering."


"Terus kita ngapain?"


"Kita lihat sambil makan buah.Ya kita ambillin yang sudah siap panen lah."


"Begitu. Jadi aku ngambilin yang mana?" tanya terus Renata tak mengerti.


"Kamu ambil yang kelihatan bagian buahnya agak kekuningan, agak ya jangan yang sudah kuning banget. Pilih aja. Aku mau ambilin sebelah sini." Kata Angga.


Renata mendengarkan lalu memilih buah nanas seperti yang dikatakan Angga tadi.


Keduanya berbagi tugas bersama. Saat mengambil buah buah itu sesekali mereka bercanda dan tertawa.


Pengamalan pertama bagi Renata, ia suka dan menikmatinya. Rasa bahagianya timbul karena bersama dengan Angga.


Sejak saat itu mereka begitu dekat. Bahkan mereka lebih dekat dari biasanya. Meskipun belum memiliki hubungan yang bisa mereka banggakan.


Yang Mau Tahu Kisah Angga lebih Jauh, silahkan baca novel satu saya judulnya "Mengejar Cinta Mas Bambang"