
“Coba Bang Ganda suruh pakai aplikasi pencari jodoh, kan banyak itu, lagi ngetren kan,” saran Manda pada Hendra saat mereka tengah menikmati sarapan bersama.
“Bang Ganda mana mau pakai yang begituan, dia gak bakalan pe-de,” ujar Hendra sambil menyuapkan makanan kemulutnya.
“Tumben banget Bang Ganda gak pe-de, bukannya dia paling narsis. Bang Ganda itu ganteng lho, terlepas dari gayanya yang kemayu.”
Hendra mengangkat kedua bahunya keatas, tanda tak tahu, karena sebelumnya Ganda pernah bilang tak suka menggunakan aplikasi aneh untuk mencari pasangan. Meskipun apa yang di katakan Manda benar, Ganda cukup tampan sebagai seorang lelaki, wajahnya manis dan kulitnya putih, pasti banyak perempuan yang suka.
Bahkan menurut Manda sebagai seorang perempuan, Ganda tak seperti om-om berusia 40 tahunan, masih nampak muda pastinya humble.
“Kenalin aja teman-teman Mama, kan banyak tuh,” ucap Hendra lagi, karena ia tahu sang istri memilik banyak teman, gang-gang ibu arisannya juga banyak, teman semasa pendidikan juga ada.
“Tapi, beberapa kan sudah menikah, Pa. Adapun janda, emang Bang Ganda mau?” tanya Manda mempertanyakan keinginan kakak iparnya.
“Coba aja kenalin dulu.”
Kemudian pembicaraan itu berlanjut saat Maura sudah selesia dengan makannya, dan bersiap pergi kesekolah, sembari Hendra yang berangkat bekerja. Setelah itu rumah keluarga kecil Hendra terlihat sepi, hanya ada Manda yang mulia membereskan sisa makanan dan piring tadi.
Manda tak paham kenapa sang suami sibuk mencarikan sang ipar pasangan untuk dinikahi, padahal kan menurutnya Ganda bisa mencari sendiri, tapi terlepas dari itu semua, Manda tak bisa mengatakan tidak, karena ia tahu mungkin sang suami berusaha membantu yang terbaik pada Ganda.
Ganda adalah orang yang mampu membuat Hendra menjadi seperti ini, bisa tumbuh menjadi orang sukses dan berada, bisa membuatnya menikmati hidup mewah sebagai seorang nyonya.
Manda menyelesaikannya pekerjaannya, setelah itu ia mengambil tas dan mulai mempersiapkan diri untuk menuju toko tempat Ganda berada, biasanya sepagi ini Ganda sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Di bawanya mobil itu melaju keluar drai rumahnya, setelah mengunci pintu dan pagar, jalanan nampak sekali macet, padahal sudah hampir pukul delapan pagi, tak ada waktu mencari jalan tikus, lagi pula ia tak sedang terburu-buru, tak ada yang memaksanya untuk pergi ke tempat Ganda, begitupun Hendra.
Meskipun Hendra bilang untuk memperkenalkan beberapa temannya pada Ganda.
###
Beberapa menit kemudian Manda sudah sampai di rumah Ganda, karena saat pergi ke toko, salah satu karwayannya mengatakan bahwa Ganda belum sampai di boutique. Manda memarkirkan mobilnya di depan teras, membuka pintu mobil dan berjalan masuk kedalam rumah setelah mengetuk pintu. Ia sudah terbiasa melakukan hal itu.
“Aku tadi ke boutique lho,” seru Manda saat ia melihat Ganda dan sang mertua tengah bersantai di ruang tengah.
“Mama mau pergi belanja, aku suruh nememin, dan Hendra bilang katanya kamu mau ketemu Abang,” jawab Ganda saat Manda sudah ikut duduk didekatnya.
“Mama mau belanja apa emangnya?” tanya Manda.
“Belanja kebutuhan dapur, sama jalan-jalan. Suntuk Mama di rumah terus,” ujar sang mertua pada Manda.
“Sebenarnya Manda mau ngomong serius sama Bang Ganda, tapi ngobrolnya sambil kita jalan-jalan. Manda juga mau ikut,” kata Manda.
“Gak Hendra gak kamu dari tadi malam ngomong yang serius mulu, apa sih?” Ganda penasaran dengan pasangan suami-istri itu karena tiba-tiba saja berubah.
Sang mama sudah mulai bersia-siap untuk pergi belaja ke salah satu mall, Ganda juag sudah siap dengan dirinya sendiri. Setelah itu mereka bergita keluar dan menuju mobil Manda.
Awalnya ketika Hendra memperkenalkan dirinya sebelum mereka menikah beberapa tahun lalu, Manda sedikit risih dengan penampilan dan cara gerak Ganda, yang sangat berbeda sekali dengan Hendra, bahkan ia pikir mereka bukan saudara kandung, tapi ternyata ia salah.
Ketika sudah menikah dan beberapa bulan hidup bersama mertuanya dan Ganda, Manda mulai menerima kakak iparnya itu, Ganda sangat baik dan semua hal tentangnya begitu positif, bahkan saat mendengar cerita bahwa hanya Ganda dan sang mama yang Hendra punya saat itu.
Tak berapa lama mereka sampai di mall, setelah memparkirkan mobil, mereka masuk dan langsung menuju toko yang menyediakan bahan dapur, seperti sayur, buah dan banyak hal lainnya. Manda pun ikut berbelanja, sekalian untuk memenuhi kebutuhan selama seminggu.
Setelah itu mereka berkeliling mall, mencari pakaian dan lainnya, hingga akhirnya setelah beberapa jam, mereka berhenti di salah satu cafe untuk mengistirahatkan diri.
“Mama ketoilet dulu ya,” pamitnya, lalu meninggalkan Ganda dan Manda yang sudah berada di sana.
Ganda dan Manda, sibuk dengan ponsel mereka masing-masing, hingga kemudian Manda teringat sesuatu.
“Bang, perempuan ini gimana?” tanya Manda meminta Ganda melihat foto perempuan yang ada di layar ponselnya kini.
“Cantik, tapi bajunya gak cocok,” jawab Ganda.
“Bang, Manda gak tanya bajunya, yang Manda tanya, gimana wajahnya?”
“Cantik kok, Nda. Kenapa sih?” kini Ganda yang bertanya pada Manda.
“Namanya Maya, pekerja kantor umur 35 tahun, belum pernah menikah. Abang mau kenalan gak sama dia?” kata Manda mulai memperkenalkan perempuan bernama Maya.
“Maksudnya kenalan?” tanya Ganda lagi masih tak paham dengan ucapan Manda.
“Kata Hendra, Bang Ganda mau cari pasangan, udah pengen menikah.”
“Nikah,” ujar sang mama yang sudah selesai dari toilet dan kini ikut pembicaraan itu.
“Ini lho Manda ada temen perempuan cantik, siapa tau Bang Ganda tertarik,” Manda memberikan ponselnya pada sang mertua, sang mertua memperhatikan dengan seksana.
“Cantik kok, Gan. Coba deh kamu kenalan, pasti cocok.”
“Hmm...” kata Ganda singkat, lalu memberikan ponselnya pada Manda, agar Manda mencatat nomor ponsel Maya.
Selama ini ia memang belum pernah berkenalan dengan perempuan jika tak lebih dari sebatas klien, bahkan Ganda tak tahu harus memulai dari mana. Ganda juga belum yakin untuk menikah, apa perempuan bernama Maya itu menyukainya atau tidak pun ia tak tahu.
Ganda melihat Sang mama dan adik iparnya yang terus saja sibuk foto Maya.
Setelah selesai dengan semua kegiatan, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Manda mengantarkan Ganda dan sang mertua, seteah itu pulang kerumahnya sendiri.
Dirumah sang mama masih sibuk membahas soal Maya dan kapan waktu yang cocok untuk mempertemukannya dengan Ganda. Sementara Ganda hanya tak acuh.