
Kesya menarik gagang pintu apartemennya saat ia mendengar suara ketukan. Saat membuka, seorang lelaki muda berdiri disana, sambil tersenyum menjengkelkan.
"Kamu, Kev. Ngapain?" Tanya Kesya bingung saat melihat Kevano semalam ini berada diapartemennya.
"Jangan sok lupa deh. Tante kan mau ngajarin aku, udah janji lho."
"Gitu ya." Kesya seperti tak senang mendengar Kevano berucap. Karena bocah itu menganggu malamnya yang asyik, penuh bintang. "Masuk sih."
Tanpa rasa canggung Kevano melangkahkan kakinya masuk kedalam, melepaskan sepatunya dan berusaha mulai duduk.
Tapi, belum sempat ia duduk, matanya tertuju pada sosok formal yang dengan santainya duduk disofa, sambil bermain gawai. Sosok itu yang pernah dilihatnya tempo hari dirumah sang om.
Kevano memastikan bahwa yang dilihatnya tak salah, dan benar sekali itu rekan bisnis om Gio yang dibicarakan Adrian, apa laki-aki itu juga akan membantu masalah omnya.
"Malah ngelamun, ayo duduk." Tegur Kesya.
Kevano tersadar lalu duduk disofa, melihat Kevano datang laki-laki yang tak lain adalah Bian sadar dan tersenyum ramah.
"Ian, kenalin ini adik bosku, namanya Kevano. Kevano kenalin, itu Bian pacarku."
"Bian."
"Kevano, om."
Pacar. Kata itu bergerak di otak Kevano sambil terus menari-nari disana. Jadi selama sini memang Kesya sudah memiliki kekasih, dan kekasih itu laki-laki yang keluar dari rumah Renata. Anehnya kenapa ia tak tahu.
Ia pikir, seorang seperti Kesya tak memiliki kekasih, karena Kesya seperti perawan tua yang tak akan laku.
Kevano seperti kesambar petir di malam yang terang, hatinya perlahan mulai retak dan sebentar lagi remuk, sakit tapi tidak berdarah. Ia memegang dadanya dengan sesak, tak bisa ditahan, seperti sakit jantung. Sakit sekali.
"Yaudah, aku pamit dulu ya yang?" Pamit Bian, Kesya mengangguk dan mendekat.Saat itulah Bian mendaratkan ciumannya dikening Kesya.
Boom! (Bacanya Bum)
Melihat kemesraan yang tampil live show didepannya, Kevano memasang wajah datar tanpa ekspresi, seakan ia tak peduli dengan semua itu, padahal ia membohongi dirinya sendiri.
Ekor mata Kevano terus mengikut Bian yang dengan perlahan berjalan mengambil sepatunya hitamnya lalu berjalan keluar apartement Kesya.
Kevano menyipitkan mata, lalu menarik senyum bibirnya keatas. Tidak ada lagi pengangganggu. Ucap Batin Kevano bahagia.
"Kita mulai dari Mana?" Tegur Kesya pada Kevano yang masih terseyum aneh.
"Sebentar aku ambil bukunya." Ucap Kevano sambil mengeluarkan buku dan laptopnya dari dalam tas ransel. "Ini, tan."
Setelah Kevano menunjukkan tugasnya, Kesya kemudian berjalan menuju lemari, dan mengambil setumpuk buku mata kuliahnya dulu.
"Gila, ini buku apa batako, tebal amat." Sambung Kevano dengan raut tak percaya.
"Lebih baik ngerjain tugas lewat buku, jangan copas internet. Gak etis."
Kevano mengangguk.
"Sambil buka laptopmu gih." Sambung Kesya.
"Tante udah lama pacaran sama om Bian?" Tanya Kevano kemudian.
Kesya mengalihkan pandangannya pada Kevano, "Eng.. Lumayan lah, mau dua tahun. Kenapa?"
"Enggak papa, tan. Cocok kok."
"Serius?" Tanya Kesya tersenyum sambil mengedipkan matanya berulang kali, seperti anak kecil yang meminta permen.
" Enggak jadi deh."
"Dih kok gitu."
"Habis dipuji dikit, langsung besar kepala." Ucap Kevano kesal lalu mengalihkan pandangannya lagi pada laptop. "Om Bian kerja apa?"
"Pengacara."
"Pengangguran banyak acara?"
"Beneran dia orang hukum, kerjanya pengacara."
"Oh Bantuin orang koru..." Belum sempat Kevano meneruskan ucapannya, ia menutup mulutnya dengan bibir. Hampir saja keceplosan.
"Koru apa?"
"Koru-koru, penemuan hewan baru, kawin silang antara penyu sama koala."
Kesya mengangguk-angguk bodoh, otak malam nya sudah mulai lemot, ia tak paham dengan pembicaraan itu.
Semakin menipis kesempatan Kevano untuk mendekati Kesya. Malam itu hatinya benar-benar patah sampai tak bisa disambung dengan lem.
Meskipun hatinya patah, ia selalu optimis untuk bisa memiliki Kesya bagaimanapun caranya, meski harus berhadapan dengan Bian, walaupun ia tak benar-benar berani. Jika terlibat masalah dengan Pengacara, ia tak mungkin bisa lepas.
%%%
Kesya menghempaskan tubuhnya keatas ranjang, saat ia menyentuh rasanya begitu empuk seperti awan dilangit.
Sejak pulang kantor tadi, ia ingin sekali lekas tidur, tapi ada saja halangan, dari Bian yang terus mengajaknya ngobrol sampai melantur hingga Kevano yang datang untuk meminta mengerjakan tugas.
Ia tak bisa menolak jika kedua lelaki itu datang. Mereka mungkin berbeda sifat, Bian yang tenang dan Kevano yang ugal-ugalan. Tapi, meskipun berbeda mereka tetap orang baik yang entah mengapa berada didalam hidupnya.
Dret.
Jangan tidur malam, love you.
Chat dari Bian dengan tambahan emoticon berbentuk hati dibelakang kalimat.
Bian selalu saja begitu, bisa membuat Kesya tersenyum dengan caranya yang tak biasa. Sejak pembicaraan tentang pernikahan, ada sedikit perubahan pada Bian, ia menjadi lebih sering menghubungi dan menemuinya.
Tante Mira juga mengatakan bahwa minggu depan mereka akan melihat baju pernikahan untuk hari penting mereka. Ia sudah tak sabar menantikan hari itu, hari paling penting dalam hidupnya.