My Berondong Husband

My Berondong Husband
#28 Jangan Menganggu Hubungan Kami!



"Lu harus menang." Ucap Adrian.


Kevano sudah mendengar kalimat itu berulang kali sejak Adrian menyarankan ia ikut turnamen, tapi ia bosan mendengarnya. Ia selalu optimis pasti menang.


"Iya. Gue pasti menang." Kata sombong Kevano dibarengi gelak tawa.


Malam itu mereka berdua sengaja bertemu lagi ditempat biasa untuk mengecek mesin dan latihan, persiapan untuk turnamen yang akan diadakan lusa nanti.


Borang susah dikumpulkan, motor sudah tersedia, dan keselamatan diri sendiri sudah Kevano jaga. Karena ia baru mengetahui bahwa itu turnamen ilegal yang sepertinya lebih mirip balapan liar.


Awalnya ia ragu dengan hadiah yang ditawarkan, tapi pihak panitia mengatakan bahwa motor itu dari sponsor untuk memasarkan brand mereka.


"Gue yakin lu memang. Lu kan sepupu gue."


"Apa hubungannya?"


"Karena gue pinter, lu pasti pinter."


Cetak!


Kevano menjitak kepala Adrian dengan keras, otak sepupunya ternyata makin geser karena berambisi ia ingin menang.


"Sakit, No." Sambung Adrian sambil memegang kepalanya.


"Hadiah buat lu." Ucap Kevano masih dengan tawanya.


Ia seperti bahagia. Padahal tidak. Sejak kejadian tak mengenakan tempo hari di resto, ia selalu kepikiran soal Kesya, bagaimana kabarnya sekarang ia tak tahu.


"Eh pulang kuy." Sambung Kevano sambil berjalan menuju motornya.


Sementara Adrian mengikuti dari belakang.


Sambil berjalan pulang, Kevano dan Adrian beradu dijalanan. Meskipun sudah menarik gasnya dengan kencang Adrian tetap saja kalah dengan sang juara yang tak tertandingi. Mungkin jalanan adalah hidupnya dan motor adalah rumahnya.


Adrian dan Kevano berpisah disebuah persimpangan, Adrian kembali kebengkel dan Kevano berniat pulang kerumah.


Kevano terus menarik gasnya melaju ditengah malam yang sepi, memang jalan menuju rumahnya kadang lelang.


Tapi, ada yang aneh malam itu. Sejak berpisah dengan Adrian tadi, ia serasa diikuti sebuah mobil berwarna putih dari sebuah brand mahal.


Awalnya Kevano berpikir mobil itu akan lewat sebuah jalan, tapi tidak. Saat ia melaju, mobil itu melaju, saat pelan mobil itu mengikuti.


Ia hendak menarik kembali gasnya untuk mengebut, tapi sepertinya pemilik mobil itu membaca pergerakan Kevano, hingga mobil itu berhenti didepan motornya yang membuat Kevano berhenti.


Dibukanya helm yang ia pakai, saat ia melihat dua orang berbadan besar keluar dari mobil putih itu. Lalu salah satunya menarik tubuh Kevano sampai turun dari mobilnya.


"Woi, apaan ini! Lepas gue!" Teriak Kevano berusaha memberontak. Tapi, tubuhnya kalah kuat.


Tangannya dikunci dibelakang oleh orang yang menariknya tadi. Dan,


Buk!


Orang lainya memukul perut Kevano berulang kali. Kevano menahan pukulan itu dengan sakit. Saat ia menahan sakit, bergantian wajahnya yang terkena pukulan.


Pusing kepalanya. Dari bibir dan hidungnya keluar darah segar, ia hampir saja pingsan tapi seorang lainya datang mendekati mereka.


"Ini hanya pelajaran kecil buat lu." Ucap suara itu.


Saat melihat Bian yang tersenyum padanya, dengan spontan amarahnya memuncak. Lelaki seperti Bian memang brengsek.


"Aaaa!" Kevano berusaha berteriak saat tangan Bian memegangi dagu keatas.


"Dengerin gue, jauhin Kesya dan jangan coba-coba nyebarin berita soal gue sama Lesmana." kata Bian sambil melepaskan tanganya.


Kevano tak menjawab ucapan Bian, meskipun matanya mengatakan bahwa ia marah dengan perlakuan itu.


"Lu itu bocah. Gue bisa ngelakuin apa aja buat dapetin Kesya, termasuk ngebuang mayat lu." Sambung Bian.


Dak!


Duk!


Bak!


Kevano menginjak, menyundul dan menyikut kepala orang yang memegang tubuhnya tadi. Dengan tenaga yang tersisa, Kevano menerjang tubuh Bian.


Setelah menerjang dan membuat Bian terjatuh, Kevano mencengkram kerah kemeja dan mendaratkan pukulanya pada wajah Bian berulang kali, hingga darah dari hidungnya ikut keluar.


"Sampai kapanpun, gue bersumpah gak akan melepaskan Kesya buat cowok macem lu!" Ucap Kevano sambil mengatur napasnya dan menghentikan pukulannya. "Gue sayang sama Kesya."


"Lu tau apa soal sayang?! Lu masih bocah!" Teriak Bian.


Dua pengawal Bian tadi kembali menarik tubuh Kevano untuk berdiri dan menjauh dari Bian.


Sebuah pukulan kembali mendarat diperut Kevano dari Bian.


"Om lu bisa bayar orang untuk ngelakukan hal yang lebih dari ini." kata Bian. "Ayo pergi."


Setelah mendengar ucapan Bian itu, kedua anak buahnya begitu saja menjatuhkan tubuh Kevano dan meninggalkannya.


Kevano memegang ujung bibirnya yang berdarah dan menahan sakit pada perutnya. Ia berusaha bangkit dan naik kemotornya. Dan menjalankan motor itu dengan perlahan. Lalu bergegas pulang.


%%%


Sesampainya dirumah, ia pikir orang tuanya sudah tidur dan dengan santai ia bisa masuk. Tapi, ternyata Mamanya masih terjaga diruang tamu.


Melihat Kevano baru saja pulang. Sang mama langsung merespon.


"Sya, dari mana kamu baru pulang jam segini?" Tanya Nyonya Putra sambil berdiri dari duduknya dan mendekati Kevano. "Ini kenapa wajahmu babak-belur gitu? Berantem?"


"Sstt. Jangan keras-keras, Ma. Nanti Papa dengar gimana." Ucap Kevano sambil menaruh telunjuknya didepan bibir sebagai isyarat agar mamanya diam.


"Jawab dulu omongan, Mama."


"Arsya cuma jatuh." Jawab Kevano bohong.


"Jangan bohong. Kamu berantem, kan." Suara mamanya meninggi.


Saat mamanya mulai berteriak, dari kejauhan terdengar suara Papanya yang berjalan mendekat.


Karena tak ingin mejadi masalah, Kevano berlari kecil menuju kamarnya dan seakan tak terjadi apapun.


Sesampainya didalam kamar, Kevano mengunci pintu dan menarik napas pelan. Diambilnya kotak P3K yang berada didalam lemari untuk mengobati lukanya, siapa tahu besok pagi luka itu bisa samar.