
Bian menghadapi sidang keduanya, ia dituntut kembali oleh jaksa penuntut umum. Karena terbukti salah, meskipun hakim pernah memberikan remisi pada Bian, yakni potongan masa tahanan selama dua belas bulan.
Mendengar tuntutan itu, kembali hakim menolak dan pengacara Bian mengajukan keberatannya.
Akhirnya tuntutan yang diberikan jaksa penuntut umum tidak dikabulkan majelis.
Bian dan pengacaranya keluar ruangan dengan senyum merekah bahagia, dan Bian sudah bisa mencium aroma kebebasan yang sebentar lagi akan ia dapatkan.
Saat ia berjalan menuju mobil tahanan polisi, seseorang menepuk pundaknya perlahan. Bian menoleh dan memastikan sang penepuk.
Ia melihat Reno tengah tersenyum dan mengangkat alisnya dengan gaya ejekkan. Raut wajah Bian seketika berubah tak enak.
"Ngapain lu?" Tanya Bian ketus.
"Sabar bro, gue cuma mau ngasih selamat sama lu." Ucap Reno dengan nada sombongnya, bibirnya tersenyum menyebalkan. Sementara tanganya mengacung berusaha salam.
Bian tak lekas menyambut tangan Reno, ia masih terus berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi pada Reno, kenapa laki laki itu berusaha menghianatinya padahal dulu mereka begitu akrab selama bertahun-tahun.
"Oke, enggak masalah sih." sambung Reno, sambil menarik tangannya kembali. Kemudian Reno berjalan mendekati Bian, lalu berbisik didekat telinganya. "Permainan belum selesai."
Mendengar ucapan itu, Bian tiba-tiba saja memanas, ia memberontak, lalu dengan kecakapan perlahan ia melayangkan tinjunya dan tepat mengenai bibir kiri Reno.
Reno sedikit mundur kebelakang, sambil memegang bibirnya yang mulai meneteskan darah segar. Beberapa polisi yang lebih hal itu langsung menghentikan Bian, sang pengacara pun sadar Bian tengah dalam masalah.
"Kenapa, Pak?" Tanya si pengacara.
Bian menggeleng, lalu beberapa polisi tadi membawa Bian secara paksa menuju mobil dan meninggalkan tempat pengadilan.
Didalam mobil Bian terus mengulang pertanyaan yang sama yang selama ini ia tanyakan pada dirinya sendiri, apa yang membuat Reno melakukan semua itu? ia tahu kemungkinan ada orang di balik perubahan sikap Reno itu.
Karena yang selam ini Bian kenal Reno begitu Baik dan peduli, meskipun dari wajahnya yang nampak kesal jika ia mendapatkan client yang lebih berbobot.
Atau mungkin Reno iri padanya, yang lebih terkenal, tapi hal itu wajar mengingat ia lebih dulu menjadi pengacara.
"Bapak ada masalah lagi dengan Reno?" Tanya sang pengacara lagi.
"Iya, dia seperti mengancamku. Kamu sudah tahu siapa orang dibalik Reno?"
"Belum, Pak. Tapi, kemungkinan bapak akan yakin dengan orang ini." Sang pengacara memperlihatkan ponselnya. Reno kembali bertemu dengan lelaki itu, dan lelaki itu sedang memberikan sebuah amplop cokelat yang sepertinya berisi uang. "Ini saya ambil sehari sebelum sidang."
"Atau mereka juga yang mensabotase sidang tadi." Ucap Bian dengan nada geramnya.
"Kemungkinan begitu, Pak. Karena terlihat jelas sejak sidang Reno tersenyum."
"Aku ingin kamu memantau laki-laki ini, aku tahu dimana rumahnya, selain itu dia juga relasi dari Orang tuaku."
Sang pengacara mengangguk.
Bian terus berkecamuk dengan pikirannya sendiri yang semakin kalau tiap saatnya. Mamanya tak mau menebusnya, Reno yang mengaku sahabatnya menghianatinya, dan ketika keluar nanti ia harus mendapati kenyataan bahwa Kesya, perempuan yang dicintainya telah menikah bersama orang lain.
Apa ia egois, jika terus memikirkan soal Kesya dan berharap terus Kesya menjadi miliknya. Ia selalu meyakini jika Kesya tak benar-benar menyukai Kevano, tapi selama ia masuk dalam penjara selama hampir setahun, Kesya sekalipun tak menjenguknya.
Mobil itu terus melaju, membawa Bian dengarkan pikirannya yang begitu penuh. Semakin melaju dan semakin menjauh meninggalkan tempat pengadilan.
Sementara itu Reno juga berniat meninggalkan pengadilan. Dibawanya mobilnya berkeliling. Meskipun ia tak mendapatkan apa yang ia inginkan dari hidup Bian, setidaknya ia bisa membuat Bian terus merasa ketakutan.
Setelah selesai melihat sidang, ia berniat menemui laki-laki yang selama ini sudah bekerja sama dengannya untuk membuat hidup Bian hancur.
Dengan kata membuat hidup Bian hancur, ia nampak seperti kriminal yang begitu jahat. Demi uang dan dendam semua rela ia lakukan, tapi ia memang harus melakukan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari Bian.
Reno memarkirkan mobilnya disamping mobil-mobil lain, lalu turun dan berjalan memasuki gedung itu.
Beberapa pasang mata menatapnya tapi tampak acuh, hingga saat sampai disana, ia tampa sengaja menabrak seseorang.
Orang yang ditabrak Reno mundur sedikit kebelakang, beberapa barang seperti kertas terjatuh kebawah.
"Maaf saya gak sengaja." Ucap Reno sambil memungut kertas-kertas itu.
Setelah selesai mengambilnya, Reno mengembalikannya. Dan melihat orang tadi. Seorang perempuan, cantik. Namun, teringat seseorang.
Perempuan itu dulu pernah dekat dengan Bian, sangat dekat, mereka dulu sepasang kekasih dan berpisah karena tragedi yang begitu menyakitkan.
"Terima kasih," kata perempuan itu pelan. sambil menerima kertas dari Reno.
"Sama-sama. Bos kamu ada?"
"Ada Pak, diruangannya."
Setelah mendengar ucapan perempuan itu, Reno mengangguk dan berlalu meninggalkan perempuan tadi, terus berjalan menuju ruangan Bos perempuan tadi.
Perusahaan milik laki-laki itu begitu besar, sebuah grup di bidang Industri yang tengah sukses, pantas saja dalam beberapa tahun langsung menjadi trending.
Reno sampai di ruangan laki-laki itu, setelah mengetuk dan dipersilahkan masuk, Reno duduk dikursi yang telah disediakan.
"Gimana?" Tanya laki-laki itu langsung.
"Sidangnya gagal, hakim tak menerima alasan yang jelas soal tuntutan jaksa." Jawab Reno dengan santainya.
"Tak apa, kita masih banyak waktu untuk membuat hidup laki-laki itu berantakan."
Reno diam sesaat, sambil mengamati wajah laki-laki itu. Dari raut wajahnya tak nampak sedikitpun kalau laki laki itu jahat ataupun punya niat terselubung.
"Hampir setahun ini kita sudah bekerja sama, tapi kenapa aku belum tahu alasanmu sampai sebenci ini pada Bian?" Tanya Reno kemudian.
"Kamu gak perlu tahu alasannya, yang pasti aku ingin hidup Bian bertambah buruk. Kalau bisa buat dia menetap di penjara sampai puluhan tahun."
"Kau nampak seperti psikopat, bagaimana anakmu jika tahu Papahnya orang gila." Gelak Reno. Laki-laki itu ikut tertawa.
"Anakku tak boleh tahu, yang perlu ia tahu bahwa keluarganya bahagia dan akan terus bahagia."
Reno mengangguk-anggguk, meskipun tak paham.
"Apa yang kau minta kemari? Kau kan bisa memberiku kabar lewat chat." Sambung laki-laki itu.
"Kau bilang menang ataupun tidak sidang Bian, Kau tetap akan memberikanku uang."
"Oke sebentar." Ucap laki-laki itu mengeluarkan ponselnya, lalu menekan sesuatu. "Aku sudah transfer uangnya, aku tambah dua kali lipat, tapi aku ingin kau buat Bian pindah dari selnya."
"Pindah?" Ragu Reno.
"Iya, buat Bian masuk ketahanan biasa, berkumpul dengan narapidana lain."
"Itu tak bisa dilakukan, karena sudah jelas kalau soal suap ada selnya sendiri."
"Lakukan, biar uang yang berbicara pada mereka."
Reno kembali terdiam, tapi ia paham maksud dari ucapkan laki laki itu.