
Ruben membuka pintu kamar adiknya, berjalan mendekatinya dan menarik selimut yang menutupi sekujur tubuhnya.
Kevano masih terbaring tidur dengan nyamanya, dari wajahnya tercium salep dan terlihat bekas obat merah.
"Bangun, Sya." Ucap Ruben sambil mengguncang tubuh Kevano.
Kevano merespon sambil menggerakkan tubuhnya.
"Bangun gak lu. Gue siram nih!" sambungnya sambil berteriak.
Mendengar itu, Kevano bergegas bangun dan duduk seakan ia sudah benar-benar bangun. Padahal setengah nyawanya masih terbang entahlah kemana.
"Apa sih, bang?" Tanya Kevano sambil menguap.
Pek!
Ruben menepuk pelan wajah samping bibir Kevano. Kevano langsung merespon kesakitan.
"Kira-kira lu bang, ini masih sakit." keluh Kevano. Dipegangnya pipinya sambil menahan sakit.
"Kata Mama tadi malam lu pulang udah lebam."
Kevano mengangguk.
"Berantem sama siapa? Kok lu masih hidup?"
"Tega lu ah. Enggak berantem sama siapa siapa. Biasalah."
"Lu bohong gue jitak." Gertak Ruben terus agar Kevano itu mengatakan yang sejujurnya tentang luka yang dimilikinya.
Kevano masih diam. Ia berpikir apa perlu mengatakan itu pada abangnya. Ia takut akan menjadi masalah nantinya, karena Ruben tipe yang tak bisa menyimpan emosinya.
Ruben gak sekali marah jika itu menyangkut soal keluarganya, apalagi jika keluarganya terkena masalah.
"Gue dihajar anak buahnya Biandra." Akhirnya kata itu keluar dari mulut Kevano.
Ia menatap wajah abangnya, ia ingin melihat respon apa yang akan diperlihatkan Ruben. Tapi, rautnya tak berbeda.
"Sudah gue duga. Lagian kok lu gak ngelawan, percuma gue masukin sekolah Karate."
"Dih ngejek lu." Kevano mengerutkan bibirnya. "Sebentar, lu tadi bilang sudah duga, apa maksudnya?"
"Kayaknya Bian sama Om Gio udah curiga kalau lu tau kalau mereka bersekongkol."
"Emang gue tahu. Mereka itu licik, apalagi Kesya itu pacar Bian."
"Gue sudah tau itu semua. Tapi, gue mau lu gak perlu ikut campur. Biar gue sama Papa yang nyelesaikan."
"Tapi, bang." Kevano tak melanjutkan ucapannya.
Ruben hanya menyentuh pundak Kevano, lalu berjalan keluar kamar. Sementara Kevano masih berada diatas kamar.
Seperti yang dikatakan Mama dan Abangnya, ia mungkin tak perlu ikut campur masalah itu. Permasalahan itu terlalu berat baginya, tapi kenapa setiap menyangkut soal Kesya ia serasa tak tega.
Kevano mengacak rambutnya. Lalu membuka selimutnya dan berjalan kearah kamar mandi.
Dilepaskannya celana pendek yang dipakainya tidur tanpa atasan, seperti ke biasanya. Mandi air hangat sepertinya akan menyegarkan dirinya dan menghilangkan pikirannya soal masalah yang akhir-akhir ini mengganggunya.
Perlahan ia membasahi tubuhnya dengan shower, dengan pelan ia menggosok tubuh wajah dan perutnya yang terasa nyeri.
Sesekali ia mengerang kesakitan dan menahannya, tapi tetap ia lakukan.
%%%
Ini hari pertamanya kerja setelah selesai mengajar di kampus selama seminggu. Tapi, seminggu ini juga masalah terus berdatangan.
Apalagi sifat Kevano dan Bian akhir-akhir ini sedikit berbeda, seperti ada yang mereka sembunyikan.
Kevano yang selalu mengatakan bahwa Bian itu bukan lelaki baik, sementara Bian mengatakan harus menjauhi Kevano. Kejadian beberapa waktu lalu juga menimbulkan tanda tanya lebih. Apa meraka sebelumnya memiliki masalah?
"Kes," panggil Ganda sambil menggerakkan tubuh Kesya.
"Hmm" Kesya hanya mendehem sebagai jawaban lesu atas panggilan Ganda.
"Lu kenapa sih?"
"Aku mau mati." Ucap Kesya berhalu.
Plak!
Yunda menepuk belakang kepala Kesya, karena geram melihat sahabatnya seperti manusia yang mau sekarat.
"Sakit peak." Sambung Kesya, meskipun berserapah ia tetap menjawabnya seperti tanpa tenaga.
"Lu kenapa Kes, tumben banget sih." Tanya Yunda sambil menarik bangki mendekati Kesya.
"Aku ada masalah sama Bian dan Kevano."
"Masalah apa?" sergah Ganda.
"Aku gak tau, tapi sepertinya mereka sudah kenal dan seperti punya masalah yang sering. Kemarin lusa mereka berantem di resto."
"Serius lu?" Tanya serempak Ganda dan Yunda.
Kesya mengangguk.
"Kok bisa?" Sambung Ganda.
"Mana aku tau, tiba-tiba aja mereka marahan."
"Santuy, gimana buat menghilangkan pikiran lu tentang dua cowok itu besok kita shopping. Mumpung weekend." Ajak Yunda sambil mengelus punggung Kesya.
"Gendis setuju banget."
"Serius?" Tanya Kesya, keceriaannya tiba-tiba saja bertambah dengan sendirinya. Apalagi mendengar kata shopping dan jalan jalan.
Mungkin ada baiknya ia menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya dan menikmati makanan, tanpa harus memikirkan masalah yang penting.
"Shopping besok. Sekarang kerjakan tugas kalian." Ucap Pak bos ikut dalam percakapan mereka.
Trio kalong menatap pak Bos dengan senyum aneh yang dipaksakan, atas bibir mereka bergetar karena aneh.
"Ganda sama Kesya ikut keruangan saya." Sambung pak Bos.
Ganda dan Kesya mengangguk, lagi mengekor di belakang pak Bos, meninggalkan Yunda sendiri yang tersenyum sumringah.
Ketika sampai diruang pak Bos dan lansung duduk disana, pak Bos mengeluarkan sebuah map dan menerbitkan pada keduanya.
"Itu kontrak yang dibuat agensi." Ucap Pak bos kemudian sambil memberikan map itu pada Ganda dan Kesya.
"Kontrak apa pak Bos?" Tanya Kesya.
"Pak Kevin dari AB group menyetujui iklan yang dikirim Kesya dan syuting iklan bisa dilakukan minggu ini."
Mendengar ucapan pak Bos raut bahagia Ganda dan Kesya terlihat. Membuat Kevin Sanjaya menerima proyek itu begitu sulit, tapi akhirnya bisa berjalan.