My Berondong Husband

My Berondong Husband
#54 Dilema Yunda



Yunda tengah berlari dilorong ruma sakit, sesaat setelah ia mendapatkan telepon dari sang Mama, yang mengatakan bahwa penyakit jantung Papa nya kambuh.


Malam itu ia baru saja pulang dari berkumpul bersama teman semasa sekolah nya dulu, saat ia masuk kedalam rumah begitu sepi, lalu telephone itu membuatnya sibuk.


Saat ini dengan gerakan secepat mungkin ia berlari, lorong rumah sakit tidak seramai biasanya, karena memang malam sudah sangat larut.


Wajahnya nampak cemas dan bingung, pikirannya kacau dan selalu negatif, ia tak ingin apapun terjadi pada Papa yang sangat di cintanya, ia adalah cinta pertama putrinya.


Tuan Rendra sudah pensiun sejak penyakit itu mengambil aktivitasnya, ia diberhentikan kantor dengan sangat baik, karena kantor tak ingin memberikan beban pada Tuan Rendra jika suatu saat terjadi hal yang tak diinginkan.


Sejak saat itulah, Yunda dan kakak laki-kakinya, Raihan, giat bekerja untuk kebutuhan keluarga, apalagi gaya hidup Yunda yang kelewat glamor. Ia tak mungkin meminta orang tuanya terus.


"Maaf Sus, Ruangan Bapak Rendra Padamu Diaji, mana?" Tanya Yunda pada salah satu suster begitu ia sampai resepsionis. Napasnya masih sedikit terengah-engah, ia terus mengaturnya saat sang suster mencari nama Papanya.


"Bapak Rendra ada dirungan I-A Melati, Bu." Ucap Sang suster.


"Makasih Suster."


Setelah mengucapkan hal itu Yunda kembali berlari kecil, bodohnya ia lupa bertanya dimana ruangan I-A itu.


Dengan memelankan larinya yang malah menjadi berjalan, Yunda terus melihat setiap papan tulisan yang berada diatas ruangan.


Setiap belokan ia beloki, hingga sampai keujung, dan menemukan ruangan Jenazah. Dengan merinding ia berjalan lagi menjauh, keluar belokan.


Saat ia keluar, ia melihat seorang tukang bersih-bersih.


"Permisi, Pak. Bisa bertanya?" Ujar Yunda. OB itu menoleh dan memperhatikan Yunda. " Ruangan I-A melati dimana ya?"


Tukang bersih-bersih itu tak menjawab, tapi kemudian menunjuk sebuah dinding. Yunda menatapnya, ternyata peta dan rute seisi rumah sakit. Yunda memperhatikan dengan seksama, Ruangan yang tengah ia tuju tak jauh dari tempatnya berdiri, hanya berjarak empat kamar.


Ia kembali melangkahkan kakinya dengan perlahan, mengatur napas dengan baik, agar Mamanya tak bertanya kenapa ia terburu-buru, meskipun sebenarnya tahu alasannya. Heh, Dasar ibu-ibu.


Sesampainya ruangan yang dituju, Yunda menarik gagang pintu dan kemudian masuk. Disana aja Mamanya, Raihan, Papanya yang tengah berbaring, seorang suster, dan seorang laki-laki berjas snelli putih yang menyita perhatiannya.


"Kalau begitu saya permisi, Pak Rendra jangan diajak berbicara berlebihan dulu, ya." Ucap laki-laki yang tadi menyita perhatian Yunda.


Laki-laki itu berjalan keluar, saat berpapasan dengan Yunda, Ia tersenyum dan mengangguk. Dunia Yunda teralihkan, bahkan hingga Laki-laki itu keluar pintu.


Sesaat kemudian ia baru tersadar, dan berjalan mendekati sang Papa yang lemah terbaring tanpa membuka mata.


Yunda menaruh tasnya dibangku samping Mamanya, lalu merendah dan memeluk tubuh Papanya. Ia berusaha bersedih.


"Pa, kok bisa kambuh sih. Kan Yunda bilang suruh istirahat dan gak ia mikir yang berat." Ucap Yunda, ia mencoba menangis tapi begitu sulit, memang sulit karena sedihnya sudah diambil Dokter muda tadi.


"Pasti ini gara-gara Bang Raihan," katanya lagi, sambil menyipitkan mata dan melihat Raihan yang duduk memojok sembari bermain ponsel.


"Heh, kok gue?" Ujar Raihan tak terima, ia memalingkan wajah dari ponsel miliknya.


"Lu kan sering banget ribut sama Papa. Pasti lu ribut lagi dan Papa kepikiran, terus jantungnya kumat."


"Sembarangan, gara-gara lu paling. Lu suka keluyuran dan pulang malam, Papa kepikiran hal itu."


"Enak aja." Yunda bangkit dari duduknya, dan kemudian berjalan mendekati Raihan sambil berkacak pinggang.


Raihan ikut berdiri dan memposisikan kedua tangannya didepan dada. Wajahnya nampak muak dengan Yunda.


"Apa lu." sambung Yunda.


"Lu yang apa." Kata Raihan tak mau mengalah.


Cetak!


Cetak!


"Papa lagi sakit, kalian malah berantem." Ujar Nyonya Rendra, memperlihatkan wajah sebalnya.


Yunda mengelus kepalanya yang terasa sakit dan juga kaget.


Sejak kecil Raihan dan Yunda memang tak pernah akur, mereka lalu saja memiliki alasan untuk bertengkar. Tapi, hal itu yang membuat suasana ruma nampak ramai.


Baik Raihan maupun Yunda memang belum berniat memiliki pasangan. Yunda yang sibuk dengan dunia malamnya, sementara Raihan si gila bekerja.


Berulang kali tuan dan nyonya Rendra memaksa mereka menikah, tapi mereka balum juga menyanggupinya apa lagi mengatakan siapa calon mereka.


Padahal jika dilihat dari segi umur, keduanya berada ditahap harus memiliki rumah tangga.


"Sakit ma," Keluh Yunda.


"Makanya jangan ribut." Jawab Raihan, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Yunda menggeram, tapi sebelum itu ia menoleh kearah sang Mama dan tak jadi berbicara. Gawat kan jika singa perempuan marah.


"Ma, gimana keadaan Papa?" Tanya Yunda lagi sambil memeluk lengan nyonya Rendra.


"Kata dokter Abrar, Papa butuh istirahat yang cukup beberapa ini dirumah sakit." Kata nyonya Rendra.


Yunda mengangguk, ia malah terpikirkan ternyata nama dokter muda tadi, Abrar, namanya begitu tampan mirip orangnya. Ia bisa langsung suka pada lelaki itu, Apa itu efek sakit hatinya pada Yoga.


Teringat Yoga ia jadi merasa kesal sendiri, setelah ia diporoti ia ditinggalkan begitu saja. Dan memilih tante-tante lain yang lebih glamor darinya.


Dasar, ternyata gak semua Berondong desa yang kinyis-kinyis itu baik. Menyebalkan. Gumam Yunda dalam hati.


"Tapi, Papa gak parah kan, Ma? Papa pasti sembuh, kan? Yunda sayang banget sama, Papa."


"Kalau parah kenapa? Lu doain ya?" Ujar Raihan kembali. Kali ini Yunda tak ingin merespon ucapan Abangnya itu. Bisa-bisa ia naik pitam lagi.


Yunda semakin mempererat pelukan pada sang Mama, saat ia sadar jari dan tangan Papanya bergerak. Dan matanya terbuka.


Yunda, Raihan, dan nyonya Rendra tersadar, lalu mendekati Tuan Rendra. Mereka membiarkan Tuan Rendra hingga sadar sepenuhnya, lalu Raihan menekan tombol emergency untuk memanggil suster dan dokter.


Setelah tombol itu ditekan, tak berapa lama kemudian dokter muda Abrar tadi datang dengan suster lainnya.


"Biar saya periksa dulu Pak Rendranya." Ucap dokter Abrar, ketiganya mundur sendiri agar sang dokter dan suster bisa memeriksa.


Dokter Abrar melakukan pemeriksaan, Yunda terus menatapnya dari setiap sisi wajah. Terlihat tampan dari manapun. Bibirnya yang tipis mungil, matanya yang kecil, dagu yang terbelah dan wajahnya yang putih mulus-bersih.


Semoga dokter Abrar belum memiliki pasangan. Doa Yunda dalam hati.


"Setelah siuman, Pak Rendra mengalami pemulihan yang baik. Sepertinya dua hari lagi bisa dibawa pulang." Sambung dokter Abrar.


Ketiganya mengangguk, termasuk Tuan Rendra yang tersenyum.


"Jadi, Papa saya tidak apa-apa, kan, dok?" Tanya Yunda mencari simpati.


"Tidak, Mbak. Hanya perlu istirahat. Kalau begitu saya permisi dulu."


Ketiganya kembali mengangguk, sekarang bergantian Yunda yang tersenyum sendiri.