My Berondong Husband

My Berondong Husband
#88 Reno Meminta Maaf Pada Bian



Sejak memiliki masalah dengan laki-laki itu, hari-hari Reno tak pernah tenang lagi. Laki laki itu sudah keterlaluan, sikapnya yang aneh bahkan membuatnya bingung dan takut dengan sendirinya.


Ingin rasanya ia meminta maaf pada Bian atas apa yang telah terjadi selama ini diantara mereka, tapi ia tak pernah bisa. Ada rasa egois yang terus menarik tubuhnya untuk tak melakuakn hal itu.


Rada sesalnya kian hari kian memuncak, hingga mengalahkan segala rasa dalam dirinya.


Tapi, hari itupun Reno dengan pikiran yang jernih pergi ke kantor polisi meskipun mungkin ia tahu apa yang akan dilakukan Bian padanya, namun jika terus ia tahan iu akan menimbulkan sakit hati.


Sesaat setelah Reno sampai di sana Bian membuang muka padanya. Reno daim bingung harus mengatakan apa. Senyum menyeringai yang biasa ia sungging saat bertemu dengan Bian, kini senyum itu hilang dan pudar, bahkan berganti dengan rungutan yang terlihat getir dan sakit.


“Mau ngapain lagi lu kesini?” tanya Bian cuek tanpa sedikitpun senyum. Bahkan Bian terlihat malas dengan kedatangan Reno, jika saat itu polisi tak memkasanya untuk menemui orang yang menjenguknya.


“Gue mau ngomong soal penting sama lu, tentang masalah ini.” Kata Reno kemudian.


“Lu sama laki laki itu mau masukin gue ke masalah apa lagi, cepat ngomong biar sekalian gue tanggung. Heran, lagian kok bisa lu jahatin gue sampai kayak gini. Salah gue apa?!” tiba-tiba suara Bian meninggi karena emosinya memuncak dan muncul dengan mudah kepermukaan.


“Lu gak salah. Gue aja yang terlalu iri sama lu, sama semua yang lu miliki. Dan gue selalu pengen miliki apa yang punya.” Ucap Renota dengan suara yang hampir tercekat dileher karena ia berusaha tahan. “Gue mau minta maaf sama lu, mau lu maafin atau gak, yang penting gue udah minta maaf.”


Bian terdiam mendengar ucapan aneh dari Reno, bisa-bisa sikap Reno berubah dalam beberapa bulan saja. Bahkan seakan ia tak pernah berbuat salah pada nya.


“Lu mau ngedrama apa lagi? Kalau ini salah satu rencana lu sama laki laki itu , gue udah gak peduli.”


“Gue gak ngedrama ataupun bohong sama lu. Setelah ini kalau ada maslaah lagi sama lu, gue gak ikut campur. Itu masalah lu sama laki-laki itu.” Kata Reno “Gue permisi.”


Setelah mengucapkan hal itu, Reno benar-benar berlalu pergi dari sana, dan Bian kembali masuk kedalam tahanannya lagi. Didalam sana ia masih berpikri tentang perubahan tingkah aneh dari Reno.


Bian yakin ada masalah lain antara Reno dan laki laki itu, hingga membuat Reno berubah pikiran dengan cepat.


“Kamu kenapa?” tanya salah satu teman tahanan Bian. Bernama Bagas. “Lagi ada masalah hidup?”


“Berat sepertinya?” sambung tahanan lainnya, dengan nama Danang.


“Akhir-akhir ini banya hal aneh yang terjadi sama aku. Hidupku makin kacau, masuk penjara bukan membuatku berubah dan melupakan dendam, malah timbul masalah baru.” Bian mulai bercerita. “Gue harus gimana bang?”


Kedua tahanan itu saling pandang, meskipun mereka juga tahanan yang sama seperti Bian, tapi mereka sudah lebih lama disana dari pada Bian, dan mereka juga memiliki masalah yang mungkin jauh lebih berat dari Bian.


Kadang Bian selalu bercerita dan mengatakan semua keluah kesah pada mereka, salah satu dari mereka memang pembunuh tapi mereka masih begitu baik.


“Sebaiknya lu tenangin dulu pikran lu saat ini.” Ucap Bagas lagi. “Siapa tahu nanti masalah itu bisa hilang dengan sendirinya, sabar saja dulu.”


“Masalah ku dulu lebih berat dari kamu, Bian. Tapi, aku mencoba tenang, karena aku yakin aku bisa melewati semua itu, meskipun akhirnya aku sakit hati dan ngebunuh orang.” Sambung Dang.


Bian mengangguk angguk mendengarkan pembicaraan keduanya. Kadanng ia pikir terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang sebenarnya tak perlu ia pikirkan, bahkan sebenarnya masalahnya tak serumit dulu, kini ia bisa menarik napas, karena Papanya sudah datang dan ia tahu siapa sebenarnya laki laki itu.


Sementara itu Reno sedang berada di dalam mobinya dengan pikiran yang akhir-akhir ini sedikit kacau dan tak tenang. Mungkin ia sudah berbicara pada Bian dan meminta maaf, tapi bagaimana jika laki-laki itu tahu apa yang sudah ia lakukan.


Ia ingat bagaimana laki-laki itu mengancamnya dan mengatakan bahwa akan melakukan hal yang sama padanya, jika semua rahasia itu terbongkar.


Reno benar-benar takut, hingga beberapa kali ia hampir menabrak orang dan kendaraan lain dijalanan.


Kemudian Reno memutuskan untuk pulang lebih cepat, karena jam sudah menunjukkan pukul enam sore, ia ingin sejenak menenangkan dirinya dengan menyegarkan diri dan istirahat.


Tak berapa lama ia sampai kerumah, rumahnya masih sama seperti biasanya, sepi seakan itu kuburan tanpa penguni, kuburan pun masih ramai.


Reno ingin menjaga sang adik seperti kedua orang tuanya yang dulu menjaganya, mungkin Rian tak bisa lagi mendapatkan kasih sayang itu, tapi setidaknya Reno berusaha menggantikan kasih sayang itu, meskipun tak akan pernah sama.


Hari itu Rian dirumah bersama dengan seorang temannya, sedang bermain video game, suara mereka terdengar riuh, itu membuat Reno bahagia, setidaknya untuk hari ini rumahnya nampak seperti rumah keluarga lainnya.


“Yan, sudah makan?” tanya Reno pada Rian.


Rian menoleh pada Reno, lalu menaruh video gamenya.


“Sudah kak, tadi pesan makanan.”


“Bagus deh, kakak mau istirahat dulu ya.”


“Teman Rian mau nginap disini boleh gak kak?” tanya Rian kemudian.


Reno mengangguk sambil tersenyum. Ia tak ingin melarang Rian untuk melakukan hal apapun yang ia ingin kan tapi semua harus masih dalam konteks batas wajar.


Kemudian Reno berjalan masuk kedalam kamarnya, meletakkan tasnya, lalu berjalan kedalam kamar mandi, dan melepaskan semua pakaian yang ia gunakan. Mungkin penat dalam dirinya bisa menghilang dengan tetesan air itu.


Digosoknya seluruh tubuhnya dengan air yang turun dari shower, rasa sejuk masuk kedalam pori pori nya, sanagt nyaman.


Ia berharap kepalanya bisa kembali dingin dengan air itu, setidaknya bisa menyingkirkan pikiran buruk yang ada disana.


Setelah beberapa lama ia mandi, Reno keluar dari sana, mengganti pakaianya dan mulai merebahkan tubuhnya dengn hempasan pelan. Ia ingin tidur dengan nyaman malam itu, meskipun masih pukul tujuh malam.


%%%


Baru beberapa jam rasanya, Reno terbangun karena ada desakan yang memaksanya pergi kekamar mandi. Dengan secepat mungkin air menuju kamar mandi. Tak berapa lama setelah itu ia berniat kembali ke kamar.


Namun, lagi lagi saat melintasi kamar sang kakak, Reno mendengar suara tak baik, apalagi pintu tak ditutupnya.


Biasanya Reno membiarkan hal itu terjadi, tapi entah kali ini ia tak kuasa menahan semua tingkah sang kakak.


Dengan gerakan cepat Reno membuka lebar lebar pintu kamar itu, menarik selimut yang menutupi tubuh Randi dan seorang perempuan.


Mendapat perlakuan itu keduanya kaget dan langsung menatap kearah Reno.


“Bre****k lu, Ren. Ngapain sih lu.” Ucap Randi sambil mengumpat pada Reno.


“Lu tu gak pernah sadar ya sama apa yang udah lu lakuin tiap hari, pergi siang pulang malam dan bawa pe**k lagi. Lu gak mikir gimana kalau Rian ngelihat lu!” Bentak Reno, suaranya sedikit meninggi saat tersulut emosi.


“Apa pedui lu, ini hidup gue, ini rumah warisan gue. Gue berhak ngelakuin apapun.”


“Lu jangan lupa kalau rumah ini juga milik gue sama Reno. Dan lu perempuan, minggat dari sini apa enggak.” Perintah Reno pada perempuan itu.


Sang perempuan mengindahkan ucapan Reno, kemudian memungut pakaiannya dan berlalu pergi keluar, Randi sedikit mencegah namun perempuan itu keburu pergi jauh.


“Sialan lu.” Umpat Randi lagi.


Randi memakain pakainnya yang sempat berserakan dilantai, setelah ia mengenakan pakaian kembali ia pun pergi entah kemana.


Reno mengelus dadanya, ia tak ingin Rian mengetahui semua itu, meskipun ia tahu mungkin Rian mengerti, tapi malam itu sedang ada Teman Rian, setidaknya ia ingin keluarganya terlihat bahagia dimata orang.