My Berondong Husband

My Berondong Husband
#5 Berondong Itu Mulai Aneh



"Pak! Woi, Pak! Berhenti dulu!." Ujar Kesya sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah karena mengejar bus yang mulai berjalan.


Sial sekali paginya, jam dikamarnya mati dan ponsel dialarmnya berbunyi. Akibat bergadang mengejarkan laporan audit bulanan, alhasil dia sekarang berlari mengejar bus.


Setelah Kesya berteriak, bus itu berhenti meskipun jauh dari halte. Buru-buru ia masuk kedalam bus, mencari tempat duduk, tapi tidak ada satupun tempat tersedia. Ujung sampai ujung semua penuh, akhir nya ia ngambil tempat untuk berdiri.


Memojok didekat pintu keluar, menggantungkan tanganya, lalu menyibukkan diri dengan ponselnya. Ia akan berdiri disana sampai Kantor sekitar tiga puluh menit, apa kabar kaki mulusnya.


Saat ia tengah sibuk dan tak memperdulikan sekeliling, sebuah tangan ikut menggenggam tangannya yang menggantung diatas, kontan saja Kesya kaget dan tersadar.


"Hai tante." Kata Kevano mengangkat alis kirinya.


"Kamu." Kesya kaget sambil bingung.


"Iya saya kenapa? Ganteng? Dari dulu lah."


Kesya mengabaikannya, lalu sibuk kembali dengan ponselnya, mereka berdiri sejajar tanpa pedulikan sekeliling.


"Tante capek gak berdiri?"


"Capek, lagian gak ada tempat duduk."


Kevano merogoh saku belakang celananya, mengambil sesuatu dari sana, dan "nih."


"Balon?"


Tanpa memperdulikan Kesya yang bingung dengan balon itu, Kevano malah sibuk meniupnya lalu menarik baju Kesya dan memasukan balon itu kedalam sana.


"Apa-apaan sih kamu, No."


"Hus, diam." Kevano menutup mulut Kesya dengan jarinya, matanya menatap wajah Kesya sangat dekat, bahkan membuat Kesya sedikit memundurkannya. "Pak, gak kasihan lihat ibu hamil berdiri."


Melihat Kevano yang begitu berani mengucapkan itu membuat Kesya memalingkan wajahnya. Tapi, anehnya orang yang diteriaki Kevano tadi berdiri dan malah mempersilahkan Kesya duduk, bahkan orang itu tidak curiga.


"Sama-sama." Sergah Kevano sebelum Kesya mengatakan terima kasih.


Sikap percaya diri Kevano membuat Kesya sampai bingung, sebenarnya berapa sifat malu bocah itu, atau ia lahir dengan wajah dinding.


Sementara Kesya dengan perasaan gugup duduk, takut jika balon itu meletus dan ia diusir dari bus karena berbohong hanya karena ingin duduk.


"Udah santai aja mukanya, gak usah tegang gitu."


"Nanti kalau ini balon meletus gimana?"


"Tenang, itu balonnya kuat kok, tan."


Meskipun Kevano bilang begitu, Kesya tetap saja gugup.


Selain itu ada sesuatu yang terus berkecamuk dalam pikiran Kesya, kenapa akhir-akhir ini ia selalu saja bertemu Kevano, entah ini sebuah takdir atau kebetulan, meskipun ia tak pernah percaya kebetulan. Jika hanya kebetulan, kenapa semua seperti terencana, soal kaset porno itu, dompet jatuh, hingga balon tadi.


%%%


"Gila memang itu bocah." Kesya melemparkan tasnya diatas meja kerja sambil bersungut. Melihat hal itu Ganda dan Yunda mendekat.


"Lu kenapa dah, datang bintang?" Ucap Ganda dengan nada centilnya. Lelaki tulang rawan.


"Jauh lebih buruk dari itu."


"Kenapa? Lu digodain tetangga apartement lu lagi," Sergah Yunda.


"Kagak. Tiga hari berturut-turut masa ya aku ketemu Berondong terus."


"Ganteng gak?" Tanya Ganda.


"Enggak. Dan kalian tau, masa ya aku dicium pas di bus."


"Apa?!!" Ganda dan Yunda berteriak bersama sambil berdiri, lalu duduk kembali dan Ganda berbisik. "Serius lu?"


"Awalnya aku mergokin bocah itu ngejatuhin kaset porno, aku ambil, eh aku malah dicium karena gak mau balikin."


"Apa rasanya dicium Berondong, Kes?"


"Enak sih. Tapi, bukan itu lho. Bian aja belum pernah cium gue dibibir."


"Lu masih mikirin itu pengacara, Kes. Apa baiknya sih. Cowoknya aneh gitu."


"Mulutmu ya, Ndis (Panggilan manja Ganda). Kujambak lho."


Kesya mulai geram dengan ucapan Ganda, apalagi jika menyinggung soal Bian. Meskipun Bian kenyataanya begitu, tapi dia pacar Kesya, lelaki yang selalu membuat dunianya berwarna, meski kadang abu abu kulit kambing.


"Emang Bian begitu sih. Eh terus si Berondong tadi gimana?"


"Gitu lah pokoknya."


"Kalian menggosip ya, mau saya potong gajih." Entah dari Mana tiba-tiba pak Bos muncul dan langsung menggertak, jelas saja trio kalong itu gelagapan.


"Ihh bapak, jangan dong. Kami lagi diskusi kok." Ucap Yunda.


"Hus. Yuyun saya kemarin minta laporan untuk meeting nanti sore kan, mana?"


"Sudah saya taruh di meja pak Bos, coba deh bapak periksa."


"Ogah. Kamu saja yang periksa. Cepat cari!"


"Iya, Pak."


Drama pagi yang membuat Kesya murung kini tersenyum lagi, memang tak ada duanya jika salah satu personil trio kalong ini terkena masalah pak Bos, pasti seisi kantor heboh.