My Berondong Husband

My Berondong Husband
#81 Kesya Menjenguk Bian di Penjara



Kesya terus cemberut sejak pertama kali masuk kedalam mobil, tak ada raut bahagia sedikit pun nampak di wajahnya.


Kevano yang melihat perubahan sikap Kesya itu hanya bisa mampu diam tak bisa berespon apapun, karena kemungkinan ia tahu penyebab Kesya melakukan hal itu.


"Senyum dong, Yang." Ucap Kevano sambil memegang tangan Kesya. Kesya menyingkirkan tangan itu perlahan, tak ingin terlibat pembicaraan itu lebih jauh. "Kan kita udah bicara ini dari lama, aku juga minta kalau kamu gak mau gak usah aja kita lakukan."


Kesya melihat ke arah Kevano dengan tatapan mata yang tak bersahabat. Sorot menyeramkan yang selama hampir satu tahun pernikahan mereka tak nampak. Kevano hanya bisa menyungging senyum dengan tatapan dari Kesya itu. Salah satu berucap lagi masalah bisa semakin besar.


"Kamu sama Bang Kano yang maksa aku untuk kesana, kamu tahu kan aku gak suka." Kata Kesya ketus, sambil ia terus menarik dan mengeluarkan napasnya berulang kali.


"Tapi, aku kan sudah tanya kamu mau apa enggak. Kalau enggak kan kita gak usah pergi. Aku ngasih saran aja, itu juga kemauan Bang Karno."


"Sudah lah cepat aja." Kata Kesya masih dengan nada ketusnya.


"Apa kita balik aja?" Tanya Kevano dengan santainya.


"Enak aja, kalau kita balik malah buang buang bensin ke apartemen. Udah lanjutan aja kesana."


Kevano hanya bisa diam mendengar ucapan Kesya itu. Ya apa bisa ia lakukan lagi jika sudah begitu.


Ia yang memaksa Kesya untuk kesana, ia pula yang harus menanggung amarah Kesya. Meskipun sebenarnya Kesya tak semarah itu, hanya ada gejolak tak baik dalam hatinya.


Sepertinya sakit hati dan kecewa masih terasa menyesakkan dada, teringat semua hal yang pernah di lakukan Bian padanya.


Dan sejak malam itu Kevano selalu memaksa Kesya untuk datang ketempat dimana Bian berada. Kesya selalu menolak keinginan itu, tapi semakin ditolak Kevano semakin memaksanya.


Akhirnya dengan berat hati ia pun menyanggupi permintaan Kevano untuk datang.


Hari ini Kesya pergi ke kantor polisi meskipun masih dengan pikiran yang kacau. Tak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti, entah berkata kasat pada Bian atau menghantam kepala Bian ke tembok.


Tapi sepertinya tidak akan terjadi. Mungkin ia hanya akan menyimpan lukanya dalam diri, yang tak pernah ia bagi pada siapapun karena meraka hanya bisa berkata "sabar."


Kevano terus melajukan mobilnya, setelah melewati jalanan. Mereka sampai di kantor polisi. Kedua turun dan Kevano lebih dulu pergi kesana. Kesya masih berusaha memenangkan dirinya sendiri. Dengan perkataan yang terus keluar dari mulutnya.


Sebuah imaji yang membuat pikiran nya tenang.


%%%


Bian hampir tak percaya bahkan tercekat kaget melihat Kesya datang menjenguknya. Padahal sudah hampir setahun sejak ia masuk kedalam penjara dan Kesya seperti enggak peduli.


Sementara Kesya masih terdiam meskipun melihat ekspresi bahagia nampak diwajah Bian.


Semua masih membekas dalam pikirannya, selama dua tahun menjalin hubungan dan dalam satu malam semuanya hancur.


Tak ada yang ingin ia ucapkan pada Bian, sebagai seorang perempuan yang sebenarnya tak pernah peduli Kesya hanya berpikir bahwa Bian memiliki alasan untuk itu.


Tapi, alasan tak logis yang membuatnya sakit hati dan kecewa.


Perempuan mana yang tak kecewa saat melihat calon suaminya yang hampir menikahinya pergi meninggal begitu saja bahkan setelah mereka melakukan hubungan yang tak baik.


Jika pun saat itu Bian datang dan meminta maaf atas perlakuannya mungkin Kesya bisa berpikir untuk memaafkannya, tapi tidak.


Bian menghilang dan menghindarinya. Seperti tisu yang tak bisa dipakai lagi. Ia merasa sedih dan kotor sebagai perempuan.


Sakit hati itu bertambah setelah melihat melihat wajah Bian kali ini. Meskipun Bian tak segagah dulu.


Bian lebih kurus dan kulitnya musim. Berantakan dan tak terawat. Ia.harusnya kasihan, tapi rasa muak mengalahkan segalanya.


Kesya sesekali mengelus perutnya, agar anak Kevano yang sedang dikandungnya tak sebejad laki laki yang ada di depannya.


"Kes, Kesya. Kamu datang buat menjengukku." Ucap Bian sedikit hari sambil tangannya berusaha memegang Kesya.


Kesya menjauhkan tangannya agar tak dapat diraih Bian lagi. Ia masih merasa risih dan jijik.


Ia benar benar muak berbicara dengan Bian


"Kamu masih marah sama aku?"


"Pertanyaan bo**h." Ejek Kesya. "Apa kamu gak pikir apa yang sudah kamu lakukan padaku, sampai kamu tanya apa aku masih marah atau tidak."


Mata Bian berkaca-kaca, ia tahu ia salah setelah melakukan itu pada Kesya, tapi ia sangat takut awalnya untuk mengakui hal itu.


Tiba tiba saja Bian menjatuhkan tubuhnya kebawah tepat didepan Kesya, sampai kedua lututnya menyentuh lantai. Ia bersimpuh seperti seseorang yang amat menyesal.


"Aku minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan sama kamu." Ucap Bian dengan beberapa tarikan napas, agar air matanya tak terjatuh. "Iya aku bo**h. Dan aku menyesal melakukan hal itu sama kamu. Tapi itu terjadi begitu saja."


Kesya memalingkan wajahnya, matanya ikut berkaca-kaca. Ia pun mengatur napasnya berulang kali. Sesak sekali dadanya dengan apa yang telah terjadi.


"Saat itu aku khilaf, bukan berhubungan dengan mu. Tapi aku takut kamu kecewa dengan apa yang akan terjadi sama aku nanti. Aku dalam masalah saat itu, Kesya."


"Semasalah apapun. Harusnya kamu datang dan mengatakan semaunya, bukan pergi. Seperti sudah puas memakaiku. Aku ini perempuan. Aku pasti sakit hati, calon suaminya pergi meninggalkannya saat pernikahan tinggal menunggu hari." Pecah tangis Kesya, ia tak kuat menahan air matanya. Sesak terus dalam dadanya. Sesal memuncak dihati.


"Aku minta maaf. Aku minta maaf." Bian terus meminta maaf pada Kesya, sambil berusaha menyentuh kaki Kesya. Tapi lagi lagi Kesya menghindari sentuhan itu.


Ia tak ingin anggota tubuhnya terjamah orang yang sangat dibencinya.


Semantara Kevano hanya bisa diam melihat apa yang terjadi pada Kesya dan Bian. Ia ingin memberikan Kesya waktu menyelesaikan masalahnya sendiri.


Kevano tahu bagaimana sakit yang dirasakan Kesya, awalnya ia pikir mungkin Bian sedikit berharap lebih akan kedatangan Kesya kembali. Tapi, jika ia berpikir begitu ia akan dianggap egois dan berusaha membuat Kesya hanya menjadi miliknya.


"Tak perlu kamu minta maaf padaku. Tapi, minta maaf lah pada Kevano. Karena dia mau menikahi seorang perempuan sepertiku. Aku beruntung mendapatkan Kevano. Aku awalnya tidak cinta pada Kevano, tapi sekarang cintaku sama Kevano lebih besar dari cintaku sama kamu dulu." Ucap Kesya.


Bian sedikit menggeser tubuhnya. Lalu menghadap Kevano yang berdiri disisi Kesya.


"No, gue minta maaf atas apa yang sudah gue lakukan dulu sam lu." Kata Bian, nanar Mata nya begitu jujur dan ikhlas.


"Iya, aku maafin. Aku gak menyimpan dendam sama kamu, karena saat itu kamu cuma berusaha melindungi hubungannyamu." Ucap Kevano sambil tersenyum. "Udah ayo berdiri."


Kevano menarik tubuh Bian untuk berdiri. Bian berdiri dan menyeka matanya yang masih berkaca kaca. Bian mendiri sambil menggigit bibir bawahnya dan terus menunduk.


"Jaga kesehatan ya, Bian. Aku sama Kesya pamit dulu. Kami mau ke rumah sakit periksa kandungan Kesya." sambung Kevano. Bian mengangguk.


Kemudian Kesya berdiri dari duduknya dan berjalan beriringan dengan Kevano. Kesya berusaha merendahkan sakit hati dalam dirinya. Sakit hati yang berusaha ia disembuhkan sendiri meskipun begitu sulit.


Setiap berusaha sembuh dari luka itu, bayang bayang wajah Bian terus saja menghantuinya. Dan kini setiap wajah itu mengudara dalam pikirannya Kesya mencoba menggantikan dengan wajah Kevano.


"Sudah jangan nangis lagi dong." Ucap Kevano sambil menutup pintu mobil.


"Aku gak nangis. Cuma mataku keringatan. Dipenjara tadi panas banget. Gak ada Ac." Kata Kesya bohong sambil menyeka air matanya sendiri.


"Bisa ya bohong gitu. Padahal jelas lho tadi disana itu nangis gitu." Goda Kevano pada Kesya sambil menjalankan mobilnya.


"Bawel. Aku mau makan." Rungut Kesya.


"Kita kan udah makan tadi pagi."


"Itu tiga jam lalu."


"Iya deh Ratuku yang manis banget. Tapi, manisan aku." Ucap Kevano.


Kesya mengulas senyum sedikit mendengar ucapan aneh dari Kevano.


Bagi Kesya, Kevano sekarang adalah dunianya tempat disana ia berporos.


"Buat Readers yang kangen Kevano, Kesya dan Bian dalam Satu Scene."