My Berondong Husband

My Berondong Husband
#99 Keylan di Rumah Sakit



Keylan berada dirumah sakit akibat dari kecelakaan yang menimpanya setelah berlomba


motor itu, lomba yang dilakukan untuk mendapatkan hati seorang gadis bernama Arista. Sayangnya perlombaan ilegal itu di ketahui polisi, saat Keylan mencoba kabur dari kejaran polisi, ia malah tak sengaja menabrak pembatas jalan dan tak sadarkan diri.


Yang paling Keylan ingat, ia terbangun sudah berada di rumah sakit dan dokter mengatakan bahwa keadaannya baik-baik saja, tidak ada hal yang perlu di khawatirkan, hanya perlu beristirahat sejenak dari aktivitas sampai


keadaaanya membaik. Mungkin dua sampai tiga hari bisa pulang.


Malam itu, saat Keylan tidur


karena tiba-tiba kepalanya terasa nyeri kembali, Kevano dan Kesya datang


menjenguk setelah pulang dari pekerjaan yang mereka lakukan.


Dari mata kecilnya Kesya menatap


keadaan Keylan dengan mata yang masih sembab, ia rasanya sudah berusaha menjaga


anaknya dengan sebaik mungkin, tapi keadaan itu masih saja terjadi.


Kesya masih bingung dengan


penyebab kecelakaan yang menima Keylan, apalagi saat mendengar Raka mengatakan


bahwa Keylan kecelakaan karena sehabis berlomba motor.


“Yang,” ujar Kevano sambil


menyentuh pundak Kesya yang masih duduk di samping ranjang Keylan, sesekali ia


memeriksa keadaan Keylan, takut keadaan sang anak bertambah buruk.


Kesya menoleh kearah Kevano, raut


Kevano terlihat ragu tapi tetap ingin terus berbicara.


“Kenapa?” tanya Kesya pelan.


“Aku mau minta maaf soal Keylan,”


Mendengar ucapan Kevano yang


begitu terlihat sendu, Kesya benar-benar mendengarkan dan berusaha memahami.


“Minta maaf soal apa?” tanya


Kesya lagi.


“Sebenarnya aku yang membolehkan


Keylan ikut lomba itu,” ucap Kevano dengan tetap ragu, bahkan canggung. Kevano


melihat raut wajah Kesya yang berubah, matanya berusaha mencerna ucapan Kevano.


“Dua hari sebelum Keylan ikut lomba, dia bilang sama aku. Dan aku ngebolehin.”


Kesya berdiri dari duduknya,


kemudian menatap wajah Kevano dengan lekat-lekat. Rautnya benar-benar berubah,


ada rasa kesal bercampur bingung, padahal sudah berulang kali Kesya mengatakan


bahwa tak mengizinkan Keylan bermain motor.


“Kamu tahu, dan kamu gak ngomong


sama aku? Kenapa?” rentetan pertanyaan dari Kesya yang membuat lidah Kevano


kelu.


“Aku tau kalau ngomong sama kamu,


pasti kamu gak ngijinin dia ikut balapan itu,”


“Aku pasti gak ngizinin, aku gak


mau dia jadi seperti Papanya dulu,” ucap Kesya dengan nada yang meninggi, tapi


kemudian ia tekan agar tak menganggu keadaan sekitar.


“Tapi, dia masih anak-anak, Nur.


Dia pengen kayak teman-temannya,”


“Maksudmu pengen kayak


teman-temannya, jadi anak berandalan yang suka keluyuran? Coba aku tahu dari


awal ini gak bakalan terjadi,” ujar Kesya, “Kamu gak becus jadi orangtua, kamu


egois.”


“Aku gak egois, aku pengen dia


punya jati diri, gak lebih,”


“Jati diri? Kamu pikir dulu kamu


punya jati diri yang baik setelah balapan? Enggak kan? Balapan itu ilegal,


bagaimana kalau dia ketangkap polisi, kamu bakalan mati. Anak seorang pengusaha


terkenal masuk penjara,” perkataan dari Kesya itu terus membuat Kevano


berpikir, karena semua yang di katakan Kesya adalah benar. Ini semua salahnya,


ini semua karena dirinya terlalu membebaskan Keylan, terlalu memanjakan Keylan


hingga Keylan menjadi seperti itu, “Pikirkan keadaan anakmu, pikirkan nama


baikmu dan kelurga.”


Lagi-lagi dan bahkan hampir


terus, kevano hanya diam dengan semua yang dikatakan Kesya.


Awalnya ia pikir tidak apa membiarkan


Keylan, mencari jati dirinya sendiri, tapi Kevano tak pernah berpikir jika


semua akan menjadi serunyam ini.


Sementara Keylan yang awalnya


tertidur, mendengar percakapan dari kedua orangtuanya menjadi terbangun. Keylan


belum merespon sampai ia mengerti bahwa percakapan itu karena dirinya. Selama


ini ia tak pernah melihat kedua orangtuanya beradu mulut ataupun saling maring


malah. Tapi, malam ini berbeda.


merespon lalu memhatikan Keylan yang berusaha untuk bangkit.


Kesya mempercepat gerakannya,


menahan tubuh Keylan supaya tidak duduk lebih dulu, “Jangan bangun dulu sayang,


istirahat saja. Mama ganggu ya? Omongannya kenceng? Atau kamu mau sesuatu,”


Lagi-lagi rentetan pertanyaan itu


meluncur begitu saja dari mulut Kesya untuk Keylan. Ia tak ingin terjadi hal


yang lebih dari itu pada Keylan, sebab hanya Keylan satu-satuny anak yang


dimilikinya.


Sedangkan Keylan yang mendengarkan


pertanyaan sang Mama hanya bisa menggeleng pelan, “Enggak. Keylan Cuma pengen


Mama sama Papa gak berantem lagi,”


“Mama sama Papa gak berantem kok,


Cuma biasa aja,” ujar Kevano tersenyum pada Keylan.


“Keylan tahu kok kalau Mama sama


Papa tadi ribut karena Keylan yang balapan dan akhirnya kecelakaan. Mama jangan


marahin Papa ya, soalnya yang mau ini Keylan sendiri. Dan..” Keylan menahan


ucapannya, seolah tak ingin mengatakan yang sudah tercekat di lehernya tapi


harus ia katakan, agar sang mama tak terus menyalahkan sang papa, “Motor itu


dari Kakek sama Nenek,”


Kesya dan Keylan berusaha


memahami ucapan Keylan, kemudian Keylan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi,


alasan kenapa ia sampai balapan dan dari mana motor itu, kenapa juga kakek dan


neneknya memberikan motor itu padanya.


“Kata kakek sama nenek dulu Papa


juga suka balapan, kenapa Keylan gak di bolehin?” sambung Keylan. “Keylan kan


juga pengen kayak Papa,”


“Gak perlu kamu pengen kayak


Papamu, karena dampak buruk, gak baik buat kamu,” ucap Kesya, “Sekarang kamu


tidur lagi ya, Mama sama Papa tinggal sebentar,”


Keylan mengangguk mendengar


ucapan dari sang mama, kemudian ia melanjutkan tidurnya dan memutuskan untuk


tak bertanya lagi, sementara Kesya menarik tangan Kevano keluar dari ruangan


Keylan.


“Kamu dengar kan, Kakek dan


neneknya yang ngasih motor itu, aku gak pernah membelikannya,” Kata Kevano


kemudian, Kesya hanya terdiam mengingat ucapan Keylan tadi.


“Aku ngelakuin ini semua, karena


aku pengen yang terbaik buat masa depan Keylan,”


“Aku juga pengen, tapi


berhentilah membatasi apapun yang dia mau, Nur. Dia pengen bebas kayak


teman-temannya, nanti kalau sudah gede dia pasti ngerti kok apa yang dia


lakukan salah.” Ujar Kevano, “Sudah, sekarang kamu pulang dulu saja, biar aku


yang jagain Keylan buat malam ini.”


Kesya hanya mengangguk kemudian


meninggalkan Kevano yang mulai masuk kembali keruangan Keylan.


Meskipun pikirannya masih begitu


kacau, akibat ia tahu penyebab kecelakaan yang menimpa Keylan, tapi ia berusaha


tenang.


Apa ia terlalu mengekang Keylan? Pikiran


itu tiba-tiba mengudara dalam otaknya, selama ini ia memang tak membolehkan


Keylan melakukan hal yang aneh yang diluar kendalinya.


Keylan harus melakukan sesuatu


yang positif, seperti sekolah dan belajar, meskipun kadang pengawasannya tak


berpengaruh, Keylan tetap menjadi anak yang nakal. Bolos dan suka keluyuran tak


jelas sampai berulang kali guru Keylan memanggil dirinya.


“Kita pulang, Pak,” ucap Kesya


pada sang supir saat ia telat sampai di mobilnya.


Sang supir mengangguk dan tak


berapa lama mobil itu melaju, membawa Kesya berlalu dari rumah sakit.


“Gimana keadaan den Keylan, Bu?”


tanya sang supir yang mengamati wajah Kesya dari balik kaca cermin.


“Baik, Pak. Kata dokter dua


sampai tiga hari lagi sudah bisa pulang.”


Sang supir mengangguk sambil


mengucap rasa syukur atas perkataan Kesya tadi.