
Keylan berada dirumah sakit akibat dari kecelakaan yang menimpanya setelah berlomba
motor itu, lomba yang dilakukan untuk mendapatkan hati seorang gadis bernama Arista. Sayangnya perlombaan ilegal itu di ketahui polisi, saat Keylan mencoba kabur dari kejaran polisi, ia malah tak sengaja menabrak pembatas jalan dan tak sadarkan diri.
Yang paling Keylan ingat, ia terbangun sudah berada di rumah sakit dan dokter mengatakan bahwa keadaannya baik-baik saja, tidak ada hal yang perlu di khawatirkan, hanya perlu beristirahat sejenak dari aktivitas sampai
keadaaanya membaik. Mungkin dua sampai tiga hari bisa pulang.
Malam itu, saat Keylan tidur
karena tiba-tiba kepalanya terasa nyeri kembali, Kevano dan Kesya datang
menjenguk setelah pulang dari pekerjaan yang mereka lakukan.
Dari mata kecilnya Kesya menatap
keadaan Keylan dengan mata yang masih sembab, ia rasanya sudah berusaha menjaga
anaknya dengan sebaik mungkin, tapi keadaan itu masih saja terjadi.
Kesya masih bingung dengan
penyebab kecelakaan yang menima Keylan, apalagi saat mendengar Raka mengatakan
bahwa Keylan kecelakaan karena sehabis berlomba motor.
“Yang,” ujar Kevano sambil
menyentuh pundak Kesya yang masih duduk di samping ranjang Keylan, sesekali ia
memeriksa keadaan Keylan, takut keadaan sang anak bertambah buruk.
Kesya menoleh kearah Kevano, raut
Kevano terlihat ragu tapi tetap ingin terus berbicara.
“Kenapa?” tanya Kesya pelan.
“Aku mau minta maaf soal Keylan,”
Mendengar ucapan Kevano yang
begitu terlihat sendu, Kesya benar-benar mendengarkan dan berusaha memahami.
“Minta maaf soal apa?” tanya
Kesya lagi.
“Sebenarnya aku yang membolehkan
Keylan ikut lomba itu,” ucap Kevano dengan tetap ragu, bahkan canggung. Kevano
melihat raut wajah Kesya yang berubah, matanya berusaha mencerna ucapan Kevano.
“Dua hari sebelum Keylan ikut lomba, dia bilang sama aku. Dan aku ngebolehin.”
Kesya berdiri dari duduknya,
kemudian menatap wajah Kevano dengan lekat-lekat. Rautnya benar-benar berubah,
ada rasa kesal bercampur bingung, padahal sudah berulang kali Kesya mengatakan
bahwa tak mengizinkan Keylan bermain motor.
“Kamu tahu, dan kamu gak ngomong
sama aku? Kenapa?” rentetan pertanyaan dari Kesya yang membuat lidah Kevano
kelu.
“Aku tau kalau ngomong sama kamu,
pasti kamu gak ngijinin dia ikut balapan itu,”
“Aku pasti gak ngizinin, aku gak
mau dia jadi seperti Papanya dulu,” ucap Kesya dengan nada yang meninggi, tapi
kemudian ia tekan agar tak menganggu keadaan sekitar.
“Tapi, dia masih anak-anak, Nur.
Dia pengen kayak teman-temannya,”
“Maksudmu pengen kayak
teman-temannya, jadi anak berandalan yang suka keluyuran? Coba aku tahu dari
awal ini gak bakalan terjadi,” ujar Kesya, “Kamu gak becus jadi orangtua, kamu
egois.”
“Aku gak egois, aku pengen dia
punya jati diri, gak lebih,”
“Jati diri? Kamu pikir dulu kamu
punya jati diri yang baik setelah balapan? Enggak kan? Balapan itu ilegal,
bagaimana kalau dia ketangkap polisi, kamu bakalan mati. Anak seorang pengusaha
terkenal masuk penjara,” perkataan dari Kesya itu terus membuat Kevano
berpikir, karena semua yang di katakan Kesya adalah benar. Ini semua salahnya,
ini semua karena dirinya terlalu membebaskan Keylan, terlalu memanjakan Keylan
hingga Keylan menjadi seperti itu, “Pikirkan keadaan anakmu, pikirkan nama
baikmu dan kelurga.”
Lagi-lagi dan bahkan hampir
terus, kevano hanya diam dengan semua yang dikatakan Kesya.
Awalnya ia pikir tidak apa membiarkan
Keylan, mencari jati dirinya sendiri, tapi Kevano tak pernah berpikir jika
semua akan menjadi serunyam ini.
Sementara Keylan yang awalnya
tertidur, mendengar percakapan dari kedua orangtuanya menjadi terbangun. Keylan
belum merespon sampai ia mengerti bahwa percakapan itu karena dirinya. Selama
ini ia tak pernah melihat kedua orangtuanya beradu mulut ataupun saling maring
malah. Tapi, malam ini berbeda.
merespon lalu memhatikan Keylan yang berusaha untuk bangkit.
Kesya mempercepat gerakannya,
menahan tubuh Keylan supaya tidak duduk lebih dulu, “Jangan bangun dulu sayang,
istirahat saja. Mama ganggu ya? Omongannya kenceng? Atau kamu mau sesuatu,”
Lagi-lagi rentetan pertanyaan itu
meluncur begitu saja dari mulut Kesya untuk Keylan. Ia tak ingin terjadi hal
yang lebih dari itu pada Keylan, sebab hanya Keylan satu-satuny anak yang
dimilikinya.
Sedangkan Keylan yang mendengarkan
pertanyaan sang Mama hanya bisa menggeleng pelan, “Enggak. Keylan Cuma pengen
Mama sama Papa gak berantem lagi,”
“Mama sama Papa gak berantem kok,
Cuma biasa aja,” ujar Kevano tersenyum pada Keylan.
“Keylan tahu kok kalau Mama sama
Papa tadi ribut karena Keylan yang balapan dan akhirnya kecelakaan. Mama jangan
marahin Papa ya, soalnya yang mau ini Keylan sendiri. Dan..” Keylan menahan
ucapannya, seolah tak ingin mengatakan yang sudah tercekat di lehernya tapi
harus ia katakan, agar sang mama tak terus menyalahkan sang papa, “Motor itu
dari Kakek sama Nenek,”
Kesya dan Keylan berusaha
memahami ucapan Keylan, kemudian Keylan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi,
alasan kenapa ia sampai balapan dan dari mana motor itu, kenapa juga kakek dan
neneknya memberikan motor itu padanya.
“Kata kakek sama nenek dulu Papa
juga suka balapan, kenapa Keylan gak di bolehin?” sambung Keylan. “Keylan kan
juga pengen kayak Papa,”
“Gak perlu kamu pengen kayak
Papamu, karena dampak buruk, gak baik buat kamu,” ucap Kesya, “Sekarang kamu
tidur lagi ya, Mama sama Papa tinggal sebentar,”
Keylan mengangguk mendengar
ucapan dari sang mama, kemudian ia melanjutkan tidurnya dan memutuskan untuk
tak bertanya lagi, sementara Kesya menarik tangan Kevano keluar dari ruangan
Keylan.
“Kamu dengar kan, Kakek dan
neneknya yang ngasih motor itu, aku gak pernah membelikannya,” Kata Kevano
kemudian, Kesya hanya terdiam mengingat ucapan Keylan tadi.
“Aku ngelakuin ini semua, karena
aku pengen yang terbaik buat masa depan Keylan,”
“Aku juga pengen, tapi
berhentilah membatasi apapun yang dia mau, Nur. Dia pengen bebas kayak
teman-temannya, nanti kalau sudah gede dia pasti ngerti kok apa yang dia
lakukan salah.” Ujar Kevano, “Sudah, sekarang kamu pulang dulu saja, biar aku
yang jagain Keylan buat malam ini.”
Kesya hanya mengangguk kemudian
meninggalkan Kevano yang mulai masuk kembali keruangan Keylan.
Meskipun pikirannya masih begitu
kacau, akibat ia tahu penyebab kecelakaan yang menimpa Keylan, tapi ia berusaha
tenang.
Apa ia terlalu mengekang Keylan? Pikiran
itu tiba-tiba mengudara dalam otaknya, selama ini ia memang tak membolehkan
Keylan melakukan hal yang aneh yang diluar kendalinya.
Keylan harus melakukan sesuatu
yang positif, seperti sekolah dan belajar, meskipun kadang pengawasannya tak
berpengaruh, Keylan tetap menjadi anak yang nakal. Bolos dan suka keluyuran tak
jelas sampai berulang kali guru Keylan memanggil dirinya.
“Kita pulang, Pak,” ucap Kesya
pada sang supir saat ia telat sampai di mobilnya.
Sang supir mengangguk dan tak
berapa lama mobil itu melaju, membawa Kesya berlalu dari rumah sakit.
“Gimana keadaan den Keylan, Bu?”
tanya sang supir yang mengamati wajah Kesya dari balik kaca cermin.
“Baik, Pak. Kata dokter dua
sampai tiga hari lagi sudah bisa pulang.”
Sang supir mengangguk sambil
mengucap rasa syukur atas perkataan Kesya tadi.