My Berondong Husband

My Berondong Husband
#60 Ruben Jatuh Cinta 2 (Kencan Pertamanya)



Ruben menarik pintu ruangannya, lalu berjalan ke arah Yunda yang tengah sibuk bermain ponsel. Saat melihat Ruben berjalan mendekatinya ia buru-buru memasukkan ponselnya kedalam lagi dan berusaha sibuk dengan komputernya.


"Yuyun, ikut saya keruangan. Bawa berkas jadwal." Perintah Ruben pada Yunda yang hanya bisa mengangguk.


Yunda mengikuti kemauan Ruben, lalu berjalan dibelakangnya. Yunda terheran, kenapa tidak menghubunginya saja, kenapa harus mendatangi mejanya.


Tak berapa lama mereka berdua sampai diruangan Ruben, lalu duduk ditempat masing -masing yang telah disediakan disana.


"Hari ini saya ada rapat jam berapa?" Sambung Ruben sambil bertanya pada Yunda.


Yunda membuka jurnal itu, lalu memeriksa jadwal rapat harian dan mingguan milik sang bos.


"Hari ini jam empat Pak, dengan pemilik perusahaan Love Travel." Ucap Yunda sambil menunjuk jadwal yang sudah tertera di jurnal tipis milik Yunda.


"Batal, kan. Pindah ke hari lain, hubungi bos Love Travel." Ujar Ruben serta merta.


"Loh Pak enggak bisa di pindah, kan bapak kemarin yang minta jadwalnya hari ini." Yunda berusaha menolak perintah Ruben, meskipun Yunda tahu itu tidak akan berhasil.


"Kenapa gak bisa? Pindah saya bilang. Minta hari lain, besok atau lusa. Jika bos Love Travel menolak biarkan saja, kita tidak akan rugi jika tidak bekerja sama dengan mereka." Papar Ruben.


"Tapi, Pak..."


"Gak ada tapi-tapi ya Yun. Saya hari ini ada kebisukan lain. Balik ke mejamu, dan jadwalnya ganti. Minggu-minggu bisa."


Yunda mengangguk, lalu berjalan keluar ruangan pak bos secepat mungkin.


Sesampainya di luar ruangan ia tiba-tiba melemaskan tubuhnya, lalu berjalan lunglai menuju mejanya.


Ganda dan Kesya merespon tingkah berbeda dari Yunda.


"Ngapa lu?" Tanya Ganda begitu Yunda sudah berada di meja kerjanya dan bersandar di punggung kursi miliknya.


"Kena SP ya? Lagian kamu akhir akhir ini jarang masuk kerja sih." Timpal Kesya ikut berbicara melihat tingkah Yunda.


"Berisik lu pada." Gerutu Yunda dengan pertanyaan kedua temannya. "Si bos buncit nyuruh gue ubah jadwal meeting sama Bos Love Travel kehari lain. Gimana gue bilang ke bos travel? Alasannya apa?"


Yunda merungut, lalu menghempaskan pelan wajahnya keatas meja kerja. Rautnya berubah sedih dan aneh.


"Lah emang pak bos bilang apa?" Tanya Ganda.


"Suruh bilang kalau dia sibuk, dan cuma itu."


"Yaudah bilang aja gitu. Lagian kalau gak kerja sama dengan Love Travel perusahaan kita tetap aman ka." Sambung Kesya.


"Aman sih, tapi tetap bingung ngomongnya gue sama orangnya." Jawab Yunda.


"Yaudah gue yang ngomong." Tawar Ganda.


"No. Bisa masalah nanti kalau makhluk kayak lu ambil pembicaraan ini." Sahut Yunda.


Sementara trip kalong sibuk menggosip ria yang mereka anggap sebagai diskusi pekerjaan, Ruben dengan santainya duduk dikursi kerjanya.


Sesekali ia memeriksa pesan chat dari Shiha yang sejak tadi berbalasan.


Sejak berkenalan dengan Shiha beberapa hari lalu, mereka sering bertemu di Cafe meskipun hanya sebatas itu.


Shiha yang begitu Baik dan ramah membuat Ruben semakin menyukai sikapnya. Ruben benar-benar sudah jatuh cinta padanya.


Perempuan pintar yang pandai berbicara, cerdas membuat suasana yang kadang nampak canggung menjadi lebih berwarna.


Hari itu Ruben ingin mengajak Shiha bertemu di Cafe lagi dan berjanji untuk menonton film horor untuk melepas penat.


Shiha menyetujui tawaran itu setelah ia pulang bekerja sekitar pukul lima sore.


Sejak membuat janji itu Ruben melirik jam di tangannya berulang kali dan memastikan bahwa jamnya hidup, meskipun itu masih pukul dua siang.


Rasa tak sabar ingin bertemu dengan Shiha sudah bersarang dalam dirinya. Mungkin bagi sebagian orang ini terlihat biasa, tapi bagi Ruben ini luar biasa.


Sudah lama sekali, atau bahkan ia lupa kapan terakhir kali ia berkencan dengan perempuan sampai seintim ini.


Kadang ia pikir, apa ia begitu tak menarik sampai tak ada perempuan yang menyukainya? Apa dari potongan luar orang menganggapnya laki laki buncit yang penuh berewok, sampai tak ada yang menganggapnya bos pemilik perusahaan besar.


Mengingat itu Ruben hanya bisa menghela napasnya. Jika dibandingkan dengan Kevano sang adik, memang berbeda jauh, Kevano yang berisih terawat dan memiliki badan bagus, sementara ia setiap mengaca seperti melihat sapi jantan yang hanya bisa mengunyah rumput dipadang sabana.


Lamunanya buyar seketika, saat ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk dari ID bernama Mama.


"Hallo," Sapa Ruben dengan sang Mama yang berada diujung telephone sana.


"Hari ini kamu pulang cepat kan?" Tanya sang Mama.


"Makan malam kamu gak bisa pulang? Ada Arsya sama Nur disini."


"Enggak ratuku, lain kali kita makan bareng lagi, ya."


"Yaudah, jangan lupa makan."


"Oke, Ma."


Ruben mematikan sambungan telephone itu, kemudian menaruh ponselnya diatas meja.


%%%


Jam sudah menjunjukkan pukul enam belas lewat tiga puluh tepat, Ruben keluar dari ruangannya berjalan cepat keluar kantor.


Beberapa pegawai termasuk trio kavling memperhatikan si bos yang terburu pulang tak seperti biasanya.


"Akhir-akhir ini pak bos kok sering pulang cepat ya, biasanya dia yang kunci kantor." celetuk Ganda.


"Sibuk mungkin, katanya tadi ada kesibukan." Timpal Yunda.


"Sibuk apaan?" Tanya Kesya.


"Mana gue tau Kes, urusan orang itu." Jawab Yunda.


"Harus tau lah, ini kan hubungan antara bos dan karyawan."


"Dan itu hanya di kantor, Gendis."


Sedangkan Ruben sudah menjalankan mobil dinasnya keluar dari area kantor, ia tak berniat melewati jalan raya yang macet jam seperti ini.


Ruben berputar arah, menuju cafe tempat bertukar janji dengan Shiha.


Dari kantornya menuju Cafe sekitar tiga puluh menit, dan masih ada tiga puluh menit untuk menuju bioskop disalah satu mall yang ada.


Didalam mobil berulang kali Ruben membenarkan pakaiannya dari spion yang ada diatas kemudi, ia sengaja melepaskan jas yang hanya menyisakan kemeja biru yang dibuka kancing atasnya dan dasi belang hitam putih yang dibuatnya acak acakan.


Ruben ingin membuat Shiha terus berpikir bahwa ia hanya karyawan biasa, tanpa memperlihatkan status miliknya.


Jalanan menuju Cafe terasa lambat, padahal hanya ada beberapa kendaraan yang terus berada didepan dan disampingnya. Ia sudah tak sabar ingin bertemu Shiha.


Beberapa menit kemudian, Ruben memarkirkan mobil dinasnya diluar Cafe. Keluar dari mobil dan masuk kedalam cafe dengan cepat.


"Hot Chocolate, satu!" Teriak Ruben pada salah satu kasir, lalu ia mengambil tempat duduk didepan Shiha. "Sudah lama menunggu?"


Shiha merespon, lalu menutup ponselnya dan meletakkannya diatas meja. "Baru beberapa menit lalu, pesananku juga belum datang."


"Aku kira sudah lama. Tadi aku putar jalan soalnya, kalau lewat jalan raya jam segini macet."


"Iya, biasalah jam pulang. Aku pikir kamu gak jadi datang, karena kerja diperusahaan besar itu pasti sibuk."


"Enggak juga, biasalah. Seperti jam pulang karyawan pada umumnya. Film mulai tayang pukul delapan belas lewat lima belas, dan aku sudah pesan e-tiket, jadi setengah jam lagi kita berangkat."


"Oke, santai saja."


Kemudian pesanan Hot Chocolate dan Coffe latte datang, keduanya menikmatinya. Lalu sibuk masing-masing.


Shiha sibuk dengan ponselnya, Ruben sibuk dengan dunianya yang penuh dengan Shiha.


"Sibuk ngapain sih?" Tanya Ruben.


"Ini lagi baca sinopsis film nanti, dari posternya aja kan sudah agak ngeri gitu."


"Itukan film rekame,"


"Iya betul, tapi ini yang garap kan sutradara yang lagi hits akhir-akhir ini, semua film horornya kan booming."


"Terus gimana? Jadi nonton apa enggak?" Tanya Ruben lagi memastikan.


"Jadi dong."


Keduanya kembali terlihat obrolan yang cukup seru, membahas film yang akan mereka tonton ini. Karena katanya film ini adalah film rekame yang pernah hits pada jamannya.


Tak terasa tiga puluh menit berlalu, keduanya keluar dari cafe dan bergegas menuju bioskop yang telah mereka sepakati.


Kencan pertama bagi Ruben, dan entah kencan ke berapa bagi Shiha. Ruben yakin perempuan seramah Shiha pasti banyak laki laki yang menyukainya.