
Kesya mendorong tubuh Kevano dengan pelan hingga jatuh keatas kasur, lalu menghimpit bagian lehernya dengan kedua tangan kecilnya. Wajah teduhnya yang manis menutup wajah Kevano dari sorot lampu langit-langit. Mata Kesya menatap Kevano dengan tajam, sambil sesekali Kesya membasahi bibirnya yang sudah nampak tak kering lagi. Sebagai tanda yang Kevano pahami.
Kevano tak ingin menebak adegan berikutnya, tapi ini diluar kendalinya. Ia pernah menonton adegan seperti ini, disalah satu website penyedia jasa gratis. Tapi ini bukan tontonan, ini akan terjadi padanya. Diranjang ini, melakukannya dengan dia, sekarang. Tidak! Ini terlalu dini untuknya.
Kevano belum berpengalaman melakukan hal seperti ini, meskipun semua orang tahu ia nakal, tapi ini terlalu jauh.
Semili, secenti, seinci, hingga Kevano merasakan deru nafasnya yang memburu saat bibirnya sudah berjarak dua jari dari bibir Kesya. Sangat dekat. Adegan pembuka. Batin Kevano. Ia belum siap! Tapi, ia harus melakukan dengan Kesya.
Jantung Kevano berdetak lebih cepat, nafasnya tak beraturan, Kevano yakin Kesya mendengarnya. Keringat panas dingin menyelimuti tubuhnya, bulirnya jatuh dari dahi, seakan AC yang terpasang di sudut ruangan tak berfungsi. Tapi, Kevano tak merasakan atau mendengar suara itu digantung Kesya. Seperti Kesya sudah terbiasa melakukan ini, sampai ia terlihat begitu santai.
Sampai, Hap!
Bibir Kesya hampir menyentuh pipi Kevano, saat dengan refleks Kevano menutup mata dan menoleh ke samping.
"Kenapa, bukankah kita sudah menjadi suami-istri? Lagi pula kita memang harus melakukannya, Sya."
"Aku belum siap, sayang. Aku belum pernah melakukanya."
"Lakukan, seperti saat kita melakukannya di bus beberapa waktu lalu."
"Hal itu tak sengaja, bukan? Meskipun aku nakal tak mungkin aku melakukannya ditempat umum." Kevano menyentuh pipi mungil Kesya, lalu mengelusnya dengan perlahan. Benar-benar kulit terawat sempurna. Pantas saja Kesya selalu terlihat memesona setiap kali ada kesempatan bertemu.
"Jadi?"
"Jadi, apa?"
Kesya malah tersenyum lagi, kini dengan senyuman puas. Kemudian berlalu pergi dari atas tubuh Kevano, berbaring disampingnya. sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh setengah telanjangnya, terutama dibagian dada. Lalu memunggungi tubuh Kevano, ia tak terlihat kecewa.
Ini malam pertama mereka yang mendebarkan.
"Pasti, jika tidak mana mungkin kita menikah. Tapi, aku belum berjanji bisa jadi pasangan yang baik untuk...."
Belum sempat Kevano meneruskan, Kesya memotong dan mengucapkan "Sudah, kamu sudah menjadi yang terbaik untukku."
"Kamu milikku dan aku milikmu sekarang, tidak ada yang bisa memisahkan kita. Bahkan semestapun akan cemburu dengan kisah cinta dalam ikatan Sah ini." Ucap Kevano lalu menyusul Kesya masuk kedalam selimut, setelah sebelumnya Kevano melepas baju. Kevano peluk tubuh mungil Kesya dari belakang, agar Kevano bisa menjaganya dari siapapun yang ingin menyakitinya lagi, termasuk Bian ataupun yang lain.
Ini Pertama Kalinya Setelah Pernikahan mereka, Kevano menerima ajakan Kesya untuk melakukan hubungan badan. Beberapa kali Kevano menolak terus dengan berbagai alasan, tapi malam ini ia tak berkutik.
Dokter sudah mengatakan bahwa Kesya hanya masuk angin biasa, yang berarti Kesya tak hamil anak Bian. Berulang kali Kesya juga mengatakan bahwa selama empat bulan ini menstruasinya lancar tak tertunda.
Memang sebenarnya alasan Kevano menolak berhubungan intim, karena Kevano takut jika tiba-tiba Kesya mengandung, bisa bingung nanti anak siapa itu.
"Nur, kamu mau kita ngelanjutin ini?" Tanya Kevano saat ia merasakan bahwa Kesya belum sepenuhnya tidur.
Kesya menggeser, membalikkan tubuhnya lalu menaruh kepalanya didepan leher Kevano sementara wajahnya menghadap dada bidang Kevano yang mulai ditumbuhi bulu semu. Dengan posisi seperti itu Kevano lebih leluasa memeluk Kesya, sesekali ia mengelus kepala Kesya.
"Sya, kita sudah menikah. Dan kamu Dengar kan kalau Dokter bilang aku gak hamil. Jadi kita bisa melakukan ini, tanpa kamu takut lagi." Ucap Kesya pelan, sambil menjaga napasnya, karena berada dalam keadaan seperti itu Kesya sudah bernapas jika salah posisi.
Kevano menarik wajah Kesya, dipegangnya dagu Kesya dengan lembut. Ditatapnya mata perempuan yang sebelas tahun ini selalu ditunggunya. Dengan perlahan Bibir Kevano mendekati bibir Kesya, Kesya tak menolak dan menerimanya.
Bibir keduanya bertemu, Kesya menutup mata. Kini ia yang takut jika Kevano benar-benar melakukannya. Tapi, semua sudah terjadi, mau tidak mau itu pilihannya.
Kini Kevano memegangi leher belakangnya, sementara tangan kirinya mendekap tubuh Kesya agar mempererat pelukan keduanya. Kesya berusaha menikmati, meskipun sesekali bayangan wajah Bian yang dulu penuh nafsu terlintas dalam benaknya. Membuatnya hampir melepaskan Kevano, tapi ia urungkan.
Malam itu Kesya hanya ingin ada ia dan Kevano saja tanpa Bian atau siapapun.