
Bian keluar dari penjara menuju ruang besuk, dimana mamanya telah menunggunya sejak tadi. Seperti halnya tahanan biasa tanpa sedikitpun keistimewaan, ia tinggal disana dengan ruangan seadanya, meskipun tak berdesakan seperti tahanan umumnya.
"Ma," Ucap Bian lirih sambil memeluk mamanya.
Nyonya Mira membalas pelukan Bian dengan mata yang berkaca-kaca, sudah hampir dua bulan Bian mendekam dalam penjara.
Tak ada lagi kebahagiaan dirumahnya, tak ada lagi si pendiam yang suka memilih makanan, tak ada lagi pertengkaran antar kakak beradik. Rumahnya sepi dari sosok laki-laki, hanya tinggal ia dan Renata.
"Bian minta maaf, Ma." Sambung Bian sambil duduk disebuah bangku yang telah disediakan.
Nyonya Mira mengangguk.
"Mama bawakan kamu makanan, nanti Mama titip kepenjaga." Kata Nyonya Mira, menunjukkan tapperware yang berisi penuh makanan kesukaan Bian, udang asam manis.
"Makasih, Ma." Bian bersusah **** senyum.
Selama dipenjara, sang Mama yang selalu menjengungknya. Tidak ada yang lain, bahkan teman-teman sekantornya. Ia juga berharap Kesya datang, tapi sampai hari ini Kesya tak nampak.
"Ma, Kesya mana? Kenapa gak pernah jenguk Bian?" Sambung Bian sambil bertanya, rasa penasarannya akan keadaan Kesya memuncak.
"Kesya sibuk kerja, gak usah kamu pikirin dia."
"Bian mau minta maaf, karena rencana pernikahan gagal gara-gara Bian."
"Semua sudah terjadi, lagi pula ada laki-laki baik yang menggantikanmu."
Bian terdiam mendengar ucapan mamanya sambil meyakinkan apa yang didengarnya tak salah.
"Apa, Ma?" Tanya Bian memastikan.
"Dia menikah dengan anak dari pemilik perusahaan Putra Group."
"Maksud Mama, Kevano?"
"Iya, entah dia baik atau Bodoh."
"Kenapa Mama gak mencegahnya?" Kata Bian ia masih tak bisa menerima pernikahan itu.
Bian pikir setelah ia masuk kedalam penjara, Kesya akan sabar menunggunya, ia pikir Kesya tipe wanita setia tapi nyatanya tidak.
"Untuk apa Mama cegah, kamu masuk dalam penjara itu sudah membuat malu, lebih malu lagi kalau Kesya gagal menikah. Keluarga Susanto yang akan menanggungnya." Ucap Nyonya Mira menahan dirinya. Ia mengerti bahwa Bian tak terima tapi semua tak bisa dicegah. "Sudah Mama bilang berulang kali, jadi Pengacara itu banyak resikonya. Ujung-ujungnya kena masalah dan kabur kayak Papamu."
Bian terdiam, mamanya mulai lagi mengaitkan semua masalah pada papanya yang sudah beberapa tahun entah pergi kemana, menurut kabar yang ia dapatkan Papanya sudah menikah lagi.
Dulu saat ia mengambil jurusan hukum ia ingin menjadi pengacara seperti Papa nya, bahkan hingga sang Papa pergi, ia tetap bersikeras menjadi pengacara. Mamanya tak pernah suka dengan pekerjaanya, sang Mama lebih suka jika ia mengurus kantor warisan kakeknya.
Bian tak bisa terus didalam kantor mengerjakan sesuatu yang tak ia pahami, mengatur karyawan dan keuangan perusahaan, ia lebih senang berjibaku dengan orang-orang baru.
"Mama mau kembali kekantor, kata direktur ada masalah." Sambung Nyonya Mira.
Bian mengangguk. Tak lama setelah itu, sang Mama pergi dengan meninggalkan makanan untuknya.
Saat Bian hendak berjalan menuju selnya, sebuah tangan menariknya berusaha mencegahnya pergi.
"Reno," Ucap Bian kaget. "Ngapain lu kesini."
"Cuma? Dua bulan sejak gue dipenjara dan baru sekarang lu jenguk. Teman macam apa lu."
"Sorry-sorry gue sibuk, banyak kasus yang harus gue selesaikan selama lu gak ada." Reno mengulas tipis penuh ejekan.
"Oh sibuk. Lu sibuk, tapi kenapa pas gue butuh bantuan, lu malah gak ada." Bian berusaha menahan emosinya. Ia tak habis pikir bagaimana seseorang yang mengaku sahabatnya bisa begitu tega padanya.
"Santuy. Bukan gue gak mau bantu, tapi pamor gue bisa anjlok kalau bantuin tukang suap yang sudah jelas-jelas salah." Begitu enteng Reno mengatakan hal itu di depan Bian, tak ayal itu menyulut emosi Bian.
"Brengsek!" Seru Bian, lututnya mengenai bagian bawah meja, membuat suara begitu riuh. "Gue ambil kerjaan ini karena saran lu, karena lu juga gue hampir mati karena anak buah Lesmana. Atau jangan-jangan..."
Reno memotong, "Jangan-jangan gue sengaja nyuruh lu buat ambil kerjaan lu, kalau lu masuk penjara gue bisa gantiin posisi lu. Bener banget."
"Sialan." Emosi Bian semakin tak terbendung, ia berdiri dan meraih kerah leher kemeja Reno. Sementara Reno dengan santainya hanya tersenyum.
Bian hampir saja melayangkan pukulannya, jika suara polisi tidak menghentikannya. Jam besok Bian sudah selesai, dengan kemarahan yang masih menggebu, Bian meninggalkan Reno.
Reno berjalan keluar Kantor Polisi dengan meraih ponselnya yang berada didalam saku, ia menekan nomor dan menghubungi seseorang.
"Bagaimana kabar lelaki itu?" Tanya seseorang dari ujung telephone sana.
"Ya kabarnya gak baik-baik saja sih, untungnya dia masih hidup gitu aja." Ucap Reno.
"*Jika dia mati didalam penjara itu tak akan seru."
*"Dasar gila. Udah gue mau balik kantor." Reno mematikan ponselnya saat sudah masuk kedalam mobil.
Menjadi yang terbaik itu rasanya begitu enak, karena selama ini ia selalu dibawah Bian. Bian yang selalu mendapat pujian, Bian yang yang memiliki pamor tinggi, sementara ia hanyalah peran pengganti. Tapi, sekarang ia bisa mendapatkan posisi itu meskipun harus berbuat curang, ditambah dengan seseorang yang membantunya ia merasa menang dan diatas awang-awang.
Sementara itu Bian sudah berada didalam selnya, ia duduk disana dengan pikiran yang masih kacau. Kenapa semua ini terjadi padanya.
Pertama ia harus menerima kenyataan bahwa Kesya sudah menikah dengan bocah yang selama ini ia benci, kemudian orang yang selama ini sudah ia anggap sahabat ternyata menjadi musuhnya sendiri.
Ia hampir tak percaya, apalagi perkataan Reno tadi seakan menyiratkan ada dendam mendalam yang selama ini telat disimpin. Ia tak pernah berpikir yang macam macam soal Reno, karena selama ini Reno terkenal baik dan ramah padanya. Reno sering meminta nasehat padanya.
Disaat seperti itu seseorang lelaki datang menemuinya dari balik jeruji besi.
"Sore, Pak." Ucap lelaki berbaju rapi lengkap dengan jas itu.
Bian menyadari dan mulai bangkit dari duduknya. "Sore, kamu tumben ke sini."
"Saya hanya mengingatkan bahwa besok bapak sidang perdana."
"Iya saya tahu. Saya sudah menunggu sidang ini. Kamu cukup kumpulan data-data saja." Kata Bian, lelaki berjas itu mengangguk. "Saya harap saya bisa dapat keringanan."
"Saya akan usahakan yang terbaik untuk bapak."
"Saya bisa meminta satu hal sama kamu," Ujar Bian, lelaki itu mendengarkan. "Saya ingin kamu cari tahu soal Reno, rekan sesama pengacara saya, anggap saja ini tugas tambahan."
"Kenapa dengan Reno, Pak?"
"Kamu cari tau saja apa yang sedang dia lakukan, berikan kesaya."
Lelaki berjas itu mengangguk paham, setelah itu ia berpamitan pada Bian dan pergi.