My Berondong Husband

My Berondong Husband
#99 Perlombaan di Mulai



Malam itu


adalah hari terbaik baginya, dengan  motor keren dan keadaan fit siap


bertanding, ia datang tepat waktu.


Seperti apa


yang ada dalam pikirannya, bapalan ini tak lebih seperti balapan dijalanan,


namun yang berbeda ternyata ada hadiahnya yang nyata dan ada, yakni sebuah


tropi dan motor yang ada terpakir dengan indah tak jauh dari tempatnya berdiri.


Banyak


kerumunan orang yang menonton, ada tapi hanya sekitar lima pelmbalan yang siap


bertanding termasuk Brian. Resiko seperti kecelakaan dan tertangkap polisi


adalah tanggung jwab mereka masing-masing, pihak penyelenggara tak ikut campur


dalam msalah itu.


“Baik, untuk


para peserta silahkan menaiki motor kalian masing-masing, karena turnamen akan


segera dimulai!” Seru seorang lelaki yang tak alin adalah panitia lomba.


Keylan


meninggal Raka dikerumunan penonton, ia berjalan mendekati motornya paling


kanan ujung. Saat itulah tak mengaja matanya beradu dengan pembalap lain, yang


sangat ia kenal. Brian duduk diatas motornya persis disampingnya.


“Ikut juga


lu jadinya” Ucap Brian dari balik helmnya, mata sinisnya terlihat angkuh.


“Harusnya


gue yang nanya ke lu, ngapain lu ikut. Mau kalah sama gue.” Kata Keylan tak mau


kalah.


Brian tak


menjawab, jika helmnya terbuka akan nampak bahwa ia sedang tersenyum


mengjengkel.


“Oke, semua


siap-siap dengan posisi kalian. Setelah hitungan ketiga perlombaan ini


dimulai.” Ujar seorang panitia lainnya.


1


2


3


Teriak


serempak para penonton, setelah hitungan ketika berakhir, keenam pembalap


termasuk Brian dan Keylan memacu gas motornya dengan kecepatan penuh.


Beberapa


sudah tertinggal jauh dibelakang, sekarang hanya ada empat orang yang terus


selap-selip dijalanan sepi dan lengang itu. Lampu yang cukup terang dengan


jarangnya rumah yang ada, membuat pertandingan itu semakin seru.


Tiga peserta


sudah ada dibelakang, tinggal Brian dan Keylan yang kini bertanding. Brian


menggunakan caranya untuk bisa mengalahkan si amatiran Keylan, dipepetnya motor


Keylan dan dengan kakinya ia berusah menendang, tapi ia salah sasaran.


Saat hendak


mennedang bagian tebeng motor Keylan, ia terpleset dan malah menendang angin,


seketika ia limbung dan membuatnay terjatuh. Melihat itu Keylan hendak menolong


tapi ia urungkan, sesekali memberi pelajaran pada lelaki itu.


Tak ada lagi


terlihat dibelakang Keylan, garis finis sudah nampak didepan, dengan kecepatan


maksimal Kevano mendekati finis, terdengar teriakan riuh para penonton dan fans


setianya. Dalam hitungan detik ia mencapai garis finis dan dinyatakan menang.


“Wah keren


banget, cepat banget lu.” Puji Raka begitu Kevano sudah menghentikan motornya.


“Keylan.”


Ucapnya sombong.


Melihat


seroang pemenang, para fansnya yang terdiri dari para perempuan langsung


kegirangan dan meminta berfoto. Setelah itu pihak panitia memanggil Kevano


untuk tanda tangan sebuah berkas penting.


“Ini apa,


kak?” sambung Kevano sambil bertanya.


“Ini Cuma


surat serah terima hadiah aja, biar gak ada cliem nantinya.”


Kevano


mengangguk, saat hendak menandatangi kertas itu. Lukas datang dengan kakinya


yang ia seret.


“Dia


curang!” teriak Brian. Beberapa penonton terlihat heran.


“Apa maksud


lu!” tanya Raka dengan suara meninggi.


“Saudara lu


ini sudah celakaain gue, buat motor gue jatuh.”


“Itu salah


lu sendiri, lu yang mau jatuhin gue duluan.” Seloroh Keylan tak terima dengan


ucapan Brian.


“Halah


bacot!”


Buk!


Brian


memukul wajah Keylan, Keylan membalasnya dan terjadilah perkelahian antar


keduanya, tapi perkelahian itu tak berlansgung lama, saat terdengar suara


tembakan pistol dan sirene polisi.


yang memadari arena itu berhamburan tak tentu arah, termasuk Keano, Adrian dan


Lukas sendiri. Bahkan Kevano sampai tak memikirkan nasib motor baru yang ia


dapatkan, yang penting ia selamat dari kejaran para polisi itu.


Dengan


secepat mungkin Keylan menaiki motonya, tapi ia kehilangan jejak Raka, tak


mungkin ia meninggalkan Raka sendirian, karena Raka pergi bersamanya tadi, bisa


gawat jika Om Ruben bertanya soal itu.


Keylan yang


tak ingin tertangkap polisi, bergegas memacu gasnya. Dengan gesit melewati


jalanan malam yang sepi, sayangnya ia tak melihat jalan, sampai ia tak sadar


jika ada sebuah kayu yang cukup besar dijalan itu.


Selangkah


kemudian Keylan memutar stangnya kekiri sambil berusaha menghindari kayu itu,


tapi yang ia dapatkan kesialan. Motor depannya menabrak pembatas jalan


dipinggir jalan. Tebeng dan lampu depannya hancur tak berbekas, membuat tubuh


Keylan terguling kesamping motor, helmnya terlepas dari kepala dan membuat


kepalanya terbentur tanah keras. Terlihat sekarang genangan darah pekat disana.


Dari


kejauhan Raka melihat Hal itu dan mendekati Keylan.


Luna tak mau


tinggal diam. Berusaha menolong, tapi dia malah bingung. Sesekali digigitnya


jari kukunya dan berulang kali dia menaruh lalu menarik kembali mantel bulu


coklatnya. Gelisah.


“Aduh kenapa


ini Keylan, apa dia mati?” tanya Raka panik sendiri. “Tidak-tidak. Tenang lu


Raka, dia nggak mati. Lu nggak bunuh manusia ceroboh ini.” Dia berusaha terus


menenangkan pikirannya yang sudah semakin kacau.


Keadaan Raka


sudah mengenaskan, tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Bahkan tangannya tak


berdaya, saat berulang kali Raka mengangkat lalu menjatuhkannya lagi.


Raka


berpikir keras, kemudian mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi ambulance


atau rumah sakit agar Keylan bisa cepat dibawa kerumah sakit.


%%%


Lampu


ruangan itu terang menyilaukan mata. Tubuh Keylan mulai bergerak, matanya


terbuka lebar, tapi ia mulai mengaduh saat kepalanya yang diperban kesakitan.


Keylan berada dirumah sakit sekarang, sudah jelas, ruangan itu, infus


ditangannya, dan bajunya yang entah kapan diganti menandakan bahwa ia sudah


tertahan disana untuk beberapa saat.


Tak mau


terus bingung, Keylan berusaha bangkit dengan tubuh yang masih lemas. Tapi,


saat ia menggerakkan tangan kanannya sesuatu benda mencegah, ia merasakannya dan


yakin kalau benda itu bukan tikus atau sejenisnya yang akan membuatnya


berteriak selain kemarahan sang Mama. Saat ditengokkan wajahnya, sebuah tangan


menggenggam erat tangannya. Yang tak lain tangan Raka.


Digoyang-goyangkannya


lengan Raka itu, tapi tak ada reaksi. Raka itu malah hanya menggaruk pipinya


sambil melap air liurnya yang menggenang diselimut Keylan. Jorok! Keylan


menggidik jijik dengan Raka itu.


“Eh Lu. Hei


bangun, Raka cepatan bangun? Bangun gak, atau gue timpuk pakai botol infus


nih.”


Keylan sudah


naik pitam, kepalanya mulai berasap karena jengkel. Tapi, Raka tetap tak


ber-respon. Bahkan disaat tidur pegangannya masih begitu erat. Keylan menarik


tangannya sekencang mungkin, lalu sedikit menyepak Raka dengan kakinya. Ia


kejam pada Raka! Ah mana ia peduli. Sejurus kemudian tubuh Raka terjungkal


kebawah ranjang.


“Aw!” Raka


mengaduh. Keylan pura-pula bego’.


“Ngapain loe


dibawah?”


“Ngapain-ngapain.


Apa Lu nggak lihat. Eh lu sudah bangun, kukira lu bakalan mati.”


“Mati? Gak


mungkinlah cuma gara-gara nabrak pembatas jalan gitu aja mati... semua ini


karena kayu sialan itu. Brengsek.”


Raka


menggeram diam mendengar Keylan menyebutnya pembatas jalan sialan dan brengsek.


“Wait, loe


Ngapain disini? lagian lu kok berdarah gitu.” Lanjut Keylan.


“Berdarah,


lu ini nggak tahu kalau gue yang nolongin lu. Untung aku bawa kesini, kalau


nggak kamu udah dikulitin sama anjing, digigitin tikus, terus dimakan sama


serigala.”


“Udah-udah,


bikin parno gue aja loe. Oke, makasih."


"Lagian


lu somplak banget pakai acara jatuh segala lagi. Gak jelas banget lu."


Tak berapa


lama Keluarga Keylan dan Raka datang mereka mendengar kabar dari Raka.