
Malam itu
adalah hari terbaik baginya, dengan motor keren dan keadaan fit siap
bertanding, ia datang tepat waktu.
Seperti apa
yang ada dalam pikirannya, bapalan ini tak lebih seperti balapan dijalanan,
namun yang berbeda ternyata ada hadiahnya yang nyata dan ada, yakni sebuah
tropi dan motor yang ada terpakir dengan indah tak jauh dari tempatnya berdiri.
Banyak
kerumunan orang yang menonton, ada tapi hanya sekitar lima pelmbalan yang siap
bertanding termasuk Brian. Resiko seperti kecelakaan dan tertangkap polisi
adalah tanggung jwab mereka masing-masing, pihak penyelenggara tak ikut campur
dalam msalah itu.
“Baik, untuk
para peserta silahkan menaiki motor kalian masing-masing, karena turnamen akan
segera dimulai!” Seru seorang lelaki yang tak alin adalah panitia lomba.
Keylan
meninggal Raka dikerumunan penonton, ia berjalan mendekati motornya paling
kanan ujung. Saat itulah tak mengaja matanya beradu dengan pembalap lain, yang
sangat ia kenal. Brian duduk diatas motornya persis disampingnya.
“Ikut juga
lu jadinya” Ucap Brian dari balik helmnya, mata sinisnya terlihat angkuh.
“Harusnya
gue yang nanya ke lu, ngapain lu ikut. Mau kalah sama gue.” Kata Keylan tak mau
kalah.
Brian tak
menjawab, jika helmnya terbuka akan nampak bahwa ia sedang tersenyum
mengjengkel.
“Oke, semua
siap-siap dengan posisi kalian. Setelah hitungan ketiga perlombaan ini
dimulai.” Ujar seorang panitia lainnya.
1
2
3
Teriak
serempak para penonton, setelah hitungan ketika berakhir, keenam pembalap
termasuk Brian dan Keylan memacu gas motornya dengan kecepatan penuh.
Beberapa
sudah tertinggal jauh dibelakang, sekarang hanya ada empat orang yang terus
selap-selip dijalanan sepi dan lengang itu. Lampu yang cukup terang dengan
jarangnya rumah yang ada, membuat pertandingan itu semakin seru.
Tiga peserta
sudah ada dibelakang, tinggal Brian dan Keylan yang kini bertanding. Brian
menggunakan caranya untuk bisa mengalahkan si amatiran Keylan, dipepetnya motor
Keylan dan dengan kakinya ia berusah menendang, tapi ia salah sasaran.
Saat hendak
mennedang bagian tebeng motor Keylan, ia terpleset dan malah menendang angin,
seketika ia limbung dan membuatnay terjatuh. Melihat itu Keylan hendak menolong
tapi ia urungkan, sesekali memberi pelajaran pada lelaki itu.
Tak ada lagi
terlihat dibelakang Keylan, garis finis sudah nampak didepan, dengan kecepatan
maksimal Kevano mendekati finis, terdengar teriakan riuh para penonton dan fans
setianya. Dalam hitungan detik ia mencapai garis finis dan dinyatakan menang.
“Wah keren
banget, cepat banget lu.” Puji Raka begitu Kevano sudah menghentikan motornya.
“Keylan.”
Ucapnya sombong.
Melihat
seroang pemenang, para fansnya yang terdiri dari para perempuan langsung
kegirangan dan meminta berfoto. Setelah itu pihak panitia memanggil Kevano
untuk tanda tangan sebuah berkas penting.
“Ini apa,
kak?” sambung Kevano sambil bertanya.
“Ini Cuma
surat serah terima hadiah aja, biar gak ada cliem nantinya.”
Kevano
mengangguk, saat hendak menandatangi kertas itu. Lukas datang dengan kakinya
yang ia seret.
“Dia
curang!” teriak Brian. Beberapa penonton terlihat heran.
“Apa maksud
lu!” tanya Raka dengan suara meninggi.
“Saudara lu
ini sudah celakaain gue, buat motor gue jatuh.”
“Itu salah
lu sendiri, lu yang mau jatuhin gue duluan.” Seloroh Keylan tak terima dengan
ucapan Brian.
“Halah
bacot!”
Buk!
Brian
memukul wajah Keylan, Keylan membalasnya dan terjadilah perkelahian antar
keduanya, tapi perkelahian itu tak berlansgung lama, saat terdengar suara
tembakan pistol dan sirene polisi.
yang memadari arena itu berhamburan tak tentu arah, termasuk Keano, Adrian dan
Lukas sendiri. Bahkan Kevano sampai tak memikirkan nasib motor baru yang ia
dapatkan, yang penting ia selamat dari kejaran para polisi itu.
Dengan
secepat mungkin Keylan menaiki motonya, tapi ia kehilangan jejak Raka, tak
mungkin ia meninggalkan Raka sendirian, karena Raka pergi bersamanya tadi, bisa
gawat jika Om Ruben bertanya soal itu.
Keylan yang
tak ingin tertangkap polisi, bergegas memacu gasnya. Dengan gesit melewati
jalanan malam yang sepi, sayangnya ia tak melihat jalan, sampai ia tak sadar
jika ada sebuah kayu yang cukup besar dijalan itu.
Selangkah
kemudian Keylan memutar stangnya kekiri sambil berusaha menghindari kayu itu,
tapi yang ia dapatkan kesialan. Motor depannya menabrak pembatas jalan
dipinggir jalan. Tebeng dan lampu depannya hancur tak berbekas, membuat tubuh
Keylan terguling kesamping motor, helmnya terlepas dari kepala dan membuat
kepalanya terbentur tanah keras. Terlihat sekarang genangan darah pekat disana.
Dari
kejauhan Raka melihat Hal itu dan mendekati Keylan.
Luna tak mau
tinggal diam. Berusaha menolong, tapi dia malah bingung. Sesekali digigitnya
jari kukunya dan berulang kali dia menaruh lalu menarik kembali mantel bulu
coklatnya. Gelisah.
“Aduh kenapa
ini Keylan, apa dia mati?” tanya Raka panik sendiri. “Tidak-tidak. Tenang lu
Raka, dia nggak mati. Lu nggak bunuh manusia ceroboh ini.” Dia berusaha terus
menenangkan pikirannya yang sudah semakin kacau.
Keadaan Raka
sudah mengenaskan, tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Bahkan tangannya tak
berdaya, saat berulang kali Raka mengangkat lalu menjatuhkannya lagi.
Raka
berpikir keras, kemudian mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi ambulance
atau rumah sakit agar Keylan bisa cepat dibawa kerumah sakit.
%%%
Lampu
ruangan itu terang menyilaukan mata. Tubuh Keylan mulai bergerak, matanya
terbuka lebar, tapi ia mulai mengaduh saat kepalanya yang diperban kesakitan.
Keylan berada dirumah sakit sekarang, sudah jelas, ruangan itu, infus
ditangannya, dan bajunya yang entah kapan diganti menandakan bahwa ia sudah
tertahan disana untuk beberapa saat.
Tak mau
terus bingung, Keylan berusaha bangkit dengan tubuh yang masih lemas. Tapi,
saat ia menggerakkan tangan kanannya sesuatu benda mencegah, ia merasakannya dan
yakin kalau benda itu bukan tikus atau sejenisnya yang akan membuatnya
berteriak selain kemarahan sang Mama. Saat ditengokkan wajahnya, sebuah tangan
menggenggam erat tangannya. Yang tak lain tangan Raka.
Digoyang-goyangkannya
lengan Raka itu, tapi tak ada reaksi. Raka itu malah hanya menggaruk pipinya
sambil melap air liurnya yang menggenang diselimut Keylan. Jorok! Keylan
menggidik jijik dengan Raka itu.
“Eh Lu. Hei
bangun, Raka cepatan bangun? Bangun gak, atau gue timpuk pakai botol infus
nih.”
Keylan sudah
naik pitam, kepalanya mulai berasap karena jengkel. Tapi, Raka tetap tak
ber-respon. Bahkan disaat tidur pegangannya masih begitu erat. Keylan menarik
tangannya sekencang mungkin, lalu sedikit menyepak Raka dengan kakinya. Ia
kejam pada Raka! Ah mana ia peduli. Sejurus kemudian tubuh Raka terjungkal
kebawah ranjang.
“Aw!” Raka
mengaduh. Keylan pura-pula bego’.
“Ngapain loe
dibawah?”
“Ngapain-ngapain.
Apa Lu nggak lihat. Eh lu sudah bangun, kukira lu bakalan mati.”
“Mati? Gak
mungkinlah cuma gara-gara nabrak pembatas jalan gitu aja mati... semua ini
karena kayu sialan itu. Brengsek.”
Raka
menggeram diam mendengar Keylan menyebutnya pembatas jalan sialan dan brengsek.
“Wait, loe
Ngapain disini? lagian lu kok berdarah gitu.” Lanjut Keylan.
“Berdarah,
lu ini nggak tahu kalau gue yang nolongin lu. Untung aku bawa kesini, kalau
nggak kamu udah dikulitin sama anjing, digigitin tikus, terus dimakan sama
serigala.”
“Udah-udah,
bikin parno gue aja loe. Oke, makasih."
"Lagian
lu somplak banget pakai acara jatuh segala lagi. Gak jelas banget lu."
Tak berapa
lama Keluarga Keylan dan Raka datang mereka mendengar kabar dari Raka.