
Seminggu Sebelumnya
Kesya mengetuk pintu ruangan pak Bos, saat pak Bos mempersilahkan ia memasuki ruangan dengan senyuman manis. Seperti biasanya agar terlihat ramah.
"Kenapa Nur?" Tanya pak Bos saat Kesya duduk didepan mejanya.
"Saya mau meminta izin Pak,"
"Izin kemana?" Pak bos mengalihkan pandangannya ke arah Kesya yang semula menghadap laptop.
Dipandangi seperti itu nyalinya tiba-tiba saja ciut, senyumnya getir seakan ia tengah menghadapi musuh berat.
"Anu, itu pak." kata Kesya gugup.
"Anu siapa? Cepet ngomong Nur saya sibuk."
"Boleh saya minta ijin seminggu ini untuk meliburkan diri, karena ada urusan penting yang harus saya kerjakan." Ucap Kesya memburu, entah terdengar atau tidak ucapannya itu.
"Saya ijinkan." kata Pak bos singkat, yang membuat Kesya terkejut.
"Serius pak Bos." tanya Kesya tak percaya.
"Apa saya harus bilang tidak,"
Kesya menggeleng.
"Sudah, berarti saya ijinkan kamu. Tapi, gajih akan saya potong dua puluh persen."
Kesya menelan salivanya, dasar bos kejam. Pikirnya. Bagaimana ada orang sepelit itu sampai memotong gajih pegawainya begitu banyak. Tapi, Kesya tak peduli, selama ia mendapatkan izin, itu sudah dari cukup.
Setelah mengucapkan kata permisi seolah tak terjadi apapun, Kesya berjalan keluar ruang pak Bos. Menutup pintu serapat mungkin, agar tidak terdengar jika para karyawannya sedang menggosip.
Tapi, percuma. Dinding ruangan pak Bos terbuat dari Kaca tembus pandang.
Sesampainya di meja kerjanya, dua mata siap menatapnya, mulut-mulut yang mulai ingin menginterogasi, dan telinga yang siap mendengarkan gibahan pagi yang menggoda. Siapa lagi kalau bukan trio kalong.
"Colok nih." Ucap Kesya sambil menodorkan pulpen pada Ganda dan Yunda.
"Habis ngapain lu diruangan pak Bos?" selidik Ganda.
"Habis manja-manjain biar gajih naik."
Cetak!
Yunda menjitak kepala Kesya tanda ingin pembicaraan itu serius.
"Sakit, Yun." Kesya mengaduh sambil memegangi ubun-ubun kepalanya.
"Gue lagi PMS, jadi gak mau bercanda. Cepet ngomong." Kata ketus Yunda. Kantung matanya mengendur.
"Galah banget. Ih atut" Ucap Ganda berlagak takut.
"Diam, banci. Cepet, Kes."
"Iya. Tadi aku minta ijin sama pak Bos." Ujar Kesya kemudian.
"Ijin apaan? Cuti? Eh masih lama, kan?" Ucap Ganda dengan rentetan pertanyaan.
"Bukan lah. Seminggu ini gue bakalan gantiin om gue mengajar." Trio kalong tak bereaksi, mereka mendengarkan Kesya dengan seksama. "Di Kampus. Dia ada urusan penting yang gak bisa ditinggal."
"Terus urusan sama si bos kejam nan jahanam itu gimana?" Tanya Yunda.
"Tenang udah beres." Meskipun mengucapkan begitu Kesya menundukkan wajahnya dan menutupinya dengan tangan. "Tapi, gajihkudipotong dua puluh persen."
"Emang lu gak dapat bayaran jadi dosen pengganti?" Tanya Ganda.
"Dapat dong. Malah lebih besar bayaran itu ketimbang persenan itu."
"Iya, Hallo." Ucap Kesya ramah.
"Kalian kerja, jangan gosip. Atau saya mau potong gajih kamu lagi Nur, Yuyun dan Ganda juga."
Mendengar perkataan itu, dengan spontan trio kalong menoleh kearah ruangan kerja pak Bos. Dinding kaca itu dibuka dan pak Bos tengah mengepalkan tangannya. Dengan sigap Kesya menutup percakapan itu, Ganda dan Yunda kembali kemeja mereka masing masing.
Sungguh Menakutkan.
%%%
***Malam Ini. *Sekarang
Kesya membuka pintu apartemennya, saat Bian masuk dengan senyuman manis. Senyuman itu lalu menghilang saat melihat Kevano berada disana.
"Vano permisi tante." Ucap Kevano sambil membereskan tasnya dan mengambilnya.
Kesya mengangguk.
"Permisi, Om." Sambung Kevano pada Bian, Bian tak merespon.
Kevano berjalan keluar apartemen, saat tubuhnya hilang ditelan pintu apartemen, Bian mulai duduk di Sofa dengan mimik serius.
"Ngapain dia disini?" Tanya Bian.
Kesya belum menjawab peetanyaa Bian, saat ia masih sibuk mengambil minuman dari kulkas.
"Minta bantuin ngerjain tugas." jawab Kesya kemudian, sambil berjalan membawa minuman pada Bian.
"Sering banget dia kesini."
"Cuma main aja kok, Bian."
"Pasti ada niat lain. Jangan-jangan dia suka kamu."
Kesya mengamati wajah Bian, tak seperti biasanya Bian begitu. seperti ada yang disembunyikan.
"Kenapa sih? Kamu cemburu?" Tanya Kesya, tapi bibirnya tersenyum.
"Gak usah mengeledek deh." Ucap Bian dengan tetap mempertahankan wajah daftarnya.
Kesya tak menjawab.
"Dia bisa ngasih dampak buruk buat kamu."
"Buruk gimana? Dia baik kok."
"Kata Renata dia itu berandal, anak gak jelas. Pokoknya kamu hindari dia. Aku gak suka."
Bian tetap pada pendiriannya, ingin memisahkan antara Kesya dan Kevano. Karena baginya jika mereka terus bersama bisa saja Kevano membuka mulutnya dan mengatakan pada Kesya.
"Dan kenapa kamu gak ngomong kalau kamu ngajar?" Sambung Bian.
"Renata yang bilang?"
Bian mengangguk.
"Sebentar aja kok, paling semingguan. Gantiin om Arman yang ada kesibukan."
"Kenapa gak ngomong sama aku?"
"Belum sempat ngomong. Lagian dua hari kamu gak ada hubungi aku. Kukira kamu sibuk sama client."
Bian mendehem.
Kesya tak banyak bicara, jika pembicaraan itu dilanjutkan dengan ia selalu menjawab pertanyaan Bian. Bisa-bisa Bian tambah emosi. Seperti yang sudah pernah terjadi dulu.