My Berondong Husband

My Berondong Husband
#111 Keylan Masuk Sekolah Lagi



“Key, ayo bangun,” ujar Kesya sambil menggoyangkan lengan kiri Keylan yang masih nyenyak tertidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.


“Lima menit lagi, Ma. Keylan ngantuk banget begadang tadi malam,” kata Keylan masih dalam posisi memeluk guling, matanya masih enggan terbuka, makin makin rapat.


“Kebiasaan main game sampai gak tahu waktu kamu ini,” kembali kata Kesya. “Ayo bangun, jangan sampai Mama siram kamu pakai air closed.”


Mendengar ucapan sang mama, seketika Keylan bangun, apalagi membayangakn sang mama marah lalu menyiramkan dirinya dengan air closed. Menjijikan.


“Iya, ini Keylan bangun. Seger banget,” ucap Keylan, sambil matanya berusaha terbuka lebar. Ia kemudian berdiri dari tempat tidurnya, mengambil handuk dan mulai masuk kedalam kamar mandi.


Kesya membereskan sesaat tempat tidur Keylan, lalu berjalan keluar kamar sang anak. Padahal Keylan sudah berumur 17 tahun, seharusnya sudah bisa membangunkan dirinya sendiri, tapi setiap berangkat sekolah Keylan minta sang mama untuk berteriak.


Seandainya ada tanda volume di leher Kesya, mungkin ia bisa menambah volume itu setiap saat agar suaranya jauh lebih nyaring lagi dan Keylan bangun tidur dengan cepat.


“Keylan udah bangun?” tanya Kevano saat Kesya sudah sampai di ruang makan.


Kevano menikmati makanan dari masakan Kesya untuk sarapan, sudah dua hari sejak Keylan pulan dari rumah sakit, akhirnya mereka bisa kembali sarapan bersama.


“Sudah, lagi mandi dia,” jawab Kesya. “Kalau dia gak sekolah, gak bakalan aku paksa bangun.”


“Tapi, kamu kan emang sering paksa dia buat bangun,”


“Mau gimana lagi, dia kan emang bangunnya kesiangan terus. Masa habis salat subuh tidur lagi.”


“Bukan tidur lagi, tapi emang dia gak tidur, kan.”


“Iya gak tidur, gara-gara kamu,” tuduh Kesya pada Kevano yang masih makan.


“Kok aku sih,” ujar Kevano tak ingin di tuduh Kesya begitu saja, membela dirinya meskipun ia tahu ia tak akan menang.


“Iya kamu lah, kan kamu bebasin dia main game sampai malam. Dia baru aja sembuh lho, Pa.”


Kevano mendengus mendengar ucapan Kesya, betul pikirannya ia akan kalah jika berdebat dengan perempuan yang sudah menajdi istrinya selama 17 tahun itu, bahkan jauh dari kata kalah, lebih kalah dari kalah.


Tak berapa lama Keylan sudah keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan, pembicaraan papa dan mamanya sudah selesai. Dengan bangganya Keylan menyungging senyumnya seperti orang tanpa beban sedikitpun.


“Pagi, Pa,” sapa Keylan.


Kevano hanya mengangguk saja sambil tersenyum karena mulutnya masih penuh dengan makanan.


“Ini hari pertamamu setelah sembuh, ingat jangan nakal,” ujar Kesya memberitahu Keylan supaya bersikap baik selama di sekolah.


“Siap, Bos!” seru Keylan sambil mengakat tangannya.


Mereka bertiga mulai menikmati sarapan itu, dengan pikiran masing-masing, Keylan dengan sekolahnya yang mungkin akan terasa berbeda, Kevano dengan banyak kliennya dan rapat, sedangkan Kesya berpikir untuk membuka cabang di daerah lain, karena restonya sudah cukup berkembang.


Saat mereka makan, terdengar suara klakson dari sebuah motor yang sepertinya berada di luar pintu gerbang. Raka sudah siap menunggu di depan gerbang.


“Raka sudah nunggu tuh Ma, Pa. Keylan berangkat dulu.” Keylan membereskan makannya, lalu menyalimi kedua orangtuanya. “Assalamualaikum.”


Keylan sudah berjalan terburu keluar dari rumah, menemui Raka yang menunggu dengan gusar, karena sudah hampir setengah tujuh pagi, meskipun sekolah mereka tak begitu jauh tapi Raka ingin datang tepat waktu.


“Mundur,” ujar Keylan pada Raka yang langsung memundurkan diri kebelakang, agar Keylan bisa membawa motor itu. “Ngomong ngomong motor gue gimana, Ka?”


“Motor lu masih di bengkel lah, rusaknya parah banget tuh,” jawab Raka saat motor itu sudah melaju dengan cekepatan semaksimal mungkin bagi Keylan, sepertinya ia belum kapok meski sudah pernah kecelakaan.


“Lama juga ya, padahal udah kangen pengen ngebut lagi,” kata Keylan masih dengan sombongnya.


Raka memukul pelan kepala Keylan dari balik helm yang di gunannya. Raka sedikit kesal pada ucapan Keylan, karena ia akan repot jika terjadi apa-apa pada sepupunya yang agak sinting itu.


“Lu masih mau balik lagi ke rumah sakit ya?”


“Enggak juga sih, untuk sekarang gue udah punya ajian supaya gak jatuh lagi,” ujar Keylan.


Motor yang mereka naiki sudah masuk gerbang sekolah dan berhenti tepat di parkiran para siswa.


“Ajian apa?” tanya Raka penasaran setelah ia turun dari motor dan melepaskan helmnya.


“Jarang goyang,” jawab spontan Keylan tanpa peduli jika Raka penasaran.


Lagi-lagi Keylan memukul kepala Keylan yang kini sudah tak menggunakan helm. “Itu ajian buat melet Bambang, bukan ajian kebal supaya gak sakit kalau jatuh.”


Mendengar ucapan itu Keylan hanya bisa memamerkan rentetan giginya yang nampak rapi, lalu kedunya berjalan menuju kelas masing-masing.


Keylan sudah merindukan sekolahnya ini karena sudah lebih dari seminggu tak bisa masuk. Meskipun ia jarang sekali masuk kelas dan lebih senang berbuat onar serta bolos, tapi itu tetap menyenangkan.


Bertemu dengan banyak temannya, menganggu para siswi dan menjadi langganan para guru untuk di hukum. Selain itu ia juga merindukan gadis pujaanya Aresti, meskipun sekarang sudah tidak lagi, karena gadis itu sudah menjalin hubungan dengan musuh Keylan, tepat saat Keylan masuk rumah sakit.


Aresti juga tak nampak sekalipun datang saat Keylan mengalami kecelakaan, Keylan mulai berpikir gadis itu memang tak baik untuknya, sikapnya yang egois yang merasa benar itu tak baik.


“Eh Keylan, sudah masuk sekolah kamu,” ujar seseorang. Kevano menoleh kearah kanannya pada sumber suara, saat ia melihat pak Rahman tengah membawa barang dari gudang.


“Eh iya Pak, Keylan baru masuk,” jawab Keylan sedikit kaget, nasib apesnya mulai datang. Padahal baru saja ia masuk sekolah tapi harus berurusan dengan guru BK nya itu.


“Sudah sehat, kan?” tanya pak Rahman, Keylan mengangguk. “Bagus deh, kalau gitu bantuin Bapak angkat barang-barang dari gudang, sudah Bapak siapkan didepan tinggal diangkat saja.”


“Sekarang Pak?” tanya Keylan bodoh.


“Tahun depan, Key. Ya sekarang dong. Cepetan, keburu masuk nanti.”


Keylan hanya bisa mengangguk, lalu berjalan menuju gudang yang jaraknya cukup jauh dari kantor. Berulang kali Keylan terus menggerutu saat menuju gudang, apalagi hanya dia dan pak Rahman yang akan mengangkat barang-barang itu.


Saat dilihat isinya adalah tumpukan buku yang cukup banyak, ada enam kardus dengan ukuran cukup besar.


Karena merasa malas, Keylan memperhatikan Pak Rahman dari kejauhan, muncul ada tanda-tanda muncul. Dengan bergebas Keylan berjalan menjauh dan berlari mengendap-endap menuju kelasnya, biarkan saja pak Rahman nanti sibuk mencarinya.


Tak berapa lama lonceng jam pelajaran pertama pun dimulai, Keylan menghembuskan napasnya. Karena jika sudah jam pelajaran Pak Rahman tak akan menganggunya.