
Sore ini, Kevin baru saja mendapat panggilandari Orangtuanya. Mereka mengatakan bahwa Ran pergi ke Taman Bermain bersama seorang Supir tanpa diketahui oleh siapa pun.
Kevin pun langsung bergegas keluar dari ruangannya. Saat dia melewati Stefani, dia hanya berkata dingin sambil mengangkat jari telunjuknya, "Jangan bertanya apa pun saat ini padaku. Aku tidak akan melarangmu untuk mengikutiku, asal kamu tidak merecokiku kali ini."
Stefani yang menyadari perubahan mimik wajah sang pujaan hati pun hanya menurut. Dia pun mengikuti langkah kaki Kevin dengan tergesa - gesa.
Selama di perjalanan, Stefani hanya diam dan sesekali melirik ke arah Kevin yang sedang mengemudikan mobil. Dia memikirkan apa yang menjadi pusat kekhawatiran Kevin.
Tak berapa lama, mereka pun tiba di sebuah Taman Bermain. Dengan cepat, Kevin keluar dari mobil dan berjalan dengan mata yang mengitari seluruh sudut Taman Bermain seperti mencari sesuatu.
Meskipun Langkah kakinya tidak sepanjang langkah kaki Kevin, Stefani tidak kehilamgan jejak Kevin. Dia melihat ke arah yang dituju oleh Kevin.
'Ternyata dia mencari Ran.' Itulah yang terbesit dalam pikiran Stefani saat melihat posisi Kevin saat ini.
"Ran? Kenapa Anak Papa tidak menunggu Papa pulang lebih dulu baru kita sama - sama ke sini?" Tanya Kevin pada Anaknya yang sedang terduduk manis di sebuah kursi panjang dan memiliki sandaran.
Pandangan Ran tidak tertuju pada Papanya yang sedang berjongkok di hadapannya. Dia malah memperhatikan sosok Stefani yang berjalan menghampirinya. Ran tersenyum manis dan langsung beranjak dari tempat duduknya berlari ke arah Stefani.
"Merindukanku?" Tanya Stefani pada Anak kecil yang saat ini berada dalam gendongannyanya.
Kevin hanya menggelengkan kepallanya melihat tingkah Anaknya yang lebih menyukai Stefani dibandingkan dirinya. Papanya diabaikannya begitu saja demi mendapat kasih sayang dari seorang Stefani.
"Sangat!" Jawab Ran dengan penuh semangat.
Stefani terkekeh mendengar jawaban dari Anak kecil itu. Dia pun menyerahkan Ran kepada Kevin yang sudah meminta untuk bergantian menggendong Ran.
"Ran, biar Papa saja yang gendong ya? Kasihan Tantenya." Ucap Kevin pada Anaknya yang sudah berada dalam dekapannya.
Ran mengangguk berkali - kali pertanda bahwa dia menyetujui permintaan Papanya. Saat ini, mereka bertiga sedang berada di dalam sebuah Taman Bermain. Ran melihat sekelilingnya yang menunjukkan sebuah komidi putar yang berada di tengah - tengah Taman Bermain itu.
"Ayo! Kita ke sana! Keburu padat antriannya." Stefani pun menarik pergelangan tangan Kevin yang bebas berjalan menuju ke komidi putar itu.
Kevin menyunggingkan senyum tipisnya ke arah Stefani yang masih saja sesuka hati terhadapnya. Stefanilah satu - satunya perempuan yang bisa dekat dengan Ran. Anggap saja, hal itu juga yang menjadi salah satu alasan Kevin ingin menikahi Stefani.
Saat Ran bersama Stefani bermain komidi putar, Kevin yang berdiri di dekat komidi putar itu pun ikut terkekeh melihat kelakuan lucu dari Anak dan Calon Istrinya itu. Dia merasa senang melihat keduanya bahagia seperti itu.
Begitu dia teringat dengan Alm.Istrinya, dia pun berkata - kata dalam hatinya, "Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk tetap setia padamu. Aku tidak bisa mengabaikannya dan aku juga tidak bisa membiarkan Ran hidup tanpa kasih sayang seorang Ibu. Semoga kamu yang sudah tenang di sana, merestui pernikahan kami yang tinggal menghitung hari."
Ran dan Stefani begitu asik bermain komidi putar hingga tiga ronde. Mereka terlihat begitu bersemangat dan bahagia.
"Sudah puas bermainnya, Jagoan Papa?" Tanya Kevin pada Anaknya yang sudah berada dalam gendongannya lagi.
"Sudah Papa. Ran mau makan es krim." Jawab Ran manja sambil melirik ke arah Stefani.
Stefani tersenyum manis melihat tingkah imut si kecil dan mengelus rambut Ran sambil berkata, "Baiklah, kita akan makan es krim bersama."
"Kalian berdua duduklah dengan baik di sini. Jangan kemana - mana. Biar aku yang pergi membelikan es krim untuk kalian." Ucap Kevin pada kedua orang di hadapannya itu sambil menoleh sesekali ke arah Stefani.
Setelah melihat anggukan kepala dari kedua orang tersebut, Kevin pun berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan mereka menuju ke arah penjual es krim. Dia membeli es krim rasa vanila untuk Stefani dan rasa cokelat untuk Ran.
Begitu dia kembali ke tempat dia meninggalkan Ran dan Stefani, dia malah melihat Ran hanya duduk seorang diri.
"Kemana dia?" Tanya Kevin singkat pada Anaknya.
Ran hanya menunjuk ke arah depan. Tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk bersama Anaknya, Kevin melihat Stefani sedang bersenda gurau dengan seorang lelaki seusianya. Mereka terlihat begitu akrab. Karen Jarak mereka yang tidak terlalu jauh, Kevin masih bisa mendengar percakapan diantara keduanya.
"Apa aku masih punya kesempatan untuk kembali seperti dulu lagi?" Tanya lelaki itu pada Stefani.
Kevin yang mendengarnya jadi bisa menarik kesimpulan bahwasannya mereka itu memiliki hubungan yang spesial di masa lalu. Dia merasa khawatir dengan jawaban yang akan diberikan oleh Stefani pada lelaki itu.
'Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?' Pikir Kevin dalam hati.
Kevin pun mendengar kelanjutan percakapan kedua orang di hadapannya itu. Dia menajamkan indera pendengarannya.
"Maaf ya, Rio. Kamu itu masa laluku. Aku sudah menganggapmu sama seperti teman - teman lainnya." Jawab Stefani singkat tanpa ingin berbasa - basi lagi.
"Baiklah, kalau memang itu mau mu, Stef. Tapi, kita masih bisa makan bersama seperti biasanya kan? Kamu tidak akan mengabaikanku seperti waktu itu lagi kan? Aku sungguh menyesal sudah membuatmu pergi dari sisiku." Tutur Rio pada Stefani sambil memegang kedua lengan Stefani.
"Iya, kita kan teman. aku sudah melupakan semuanya, jadi jangan ungkit hal yang sudah berlalu. Aku ingin hidup bahagia dengan kehidupanku saat ini, Rio." Jawab Stefani dengan tegas.
"Iya, iya, iya. Aku mengerti. Jadi, sekarang kita teman kan?" Tanya Rio dengan mengacungkan jari kelingkingnya pada Stefani.
Kevin yang mendengar hal itu hanya bisa mendengus kesal. Apalagi saat ini dia melihat Stefani menyatukan jari kelingking mereka.
"Pastinya." Jawab Stefani dengan singkat.
"Oh iya, aku harus menyusul Kakakku. Dia sudsh menungguku di mobil. Kamu punya waktu nanti malam kan? Aku tunggu di Cafe biasa ya, Stef. Aku mau mentraktirmu sebagai tanda pertemanan kita. Bagaimana menurutmu?" Lagi - lagi Rio bertanya pada Stefani dan hal ini juga yang membuat pikiran Kevin menjadi kacau.
Setelah Stefani menganggukkan kepalanya, Rio pun berlalu begitu saja. Kevin pun berusaha menutupi rasa ketidaknyamanannya dengan menunjukkan wajah datarnya.
"Wahh, es krim nya sudah habis ya?" Tanya Stefani pada Ran yang sudah melahap kedua es krim yang dibeli oleh Papanya.
"Habis." Jawab Ran singkat sambil merentangkan kedua tangannya pada Stefani. Dia ingin digendong olehnya.
Dengan senang hati, Stefani menyambut Ran dan menggendongnya. Dia pun bertanya pada Kevin, "Apakah kita sudah bisa pulang sekarang? Aku ada janji dengan temanku malam ini."
Kevin tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Stefani. Dia tau dengan siapa Stefani akan pergi malam ini.
Kevin pun berjalan menyusuri Taman Bermain itu meninggalkan Stefani di belakangnya yang sedang berjalan mengikuti langkah kakinya. Kevin pun hanya diam membisu selama perjalanan.
Dia terus memikirkan cara untuk membuat acara makan malam Stefani batal dengan lelaki itu. Tapi, dia terlalu gengsi untuk mengajak Stefani makan malam bersamanya.
"Tante pulang duluan ya, Ran." Stefani mencium kedua pipi Ran sampai memerah merona.
"Makasih untuk hari ini, Sayang." Ucap Stefani dengan wajah yang ceria.
"Kamu nanti mau kemana?" Tanya Kevin dengan dinginnya.
"Aku akan bertemu dengan teman lama di Cafe ABC. Kenapa Sayang?" Stefani pun kembali bertanya pada Kevin.
"Aahh, tidak apa - apa. Pergilah. Aku harus membawa Ran pulang." Jawab Kevin dengan datarnya.
Stefani pun keluar dari mobil setelah mendengar jawaban dari Kevin. Dia juga tidak lupa untuk memperbaiki posisi duduk Ran dan mengapitnya dengan sealbelt.
Setelah begitu lama berpikir, akhirnya Kevin memutuskan untuk pergi ke Cafe itu dengan membawa Ran sebagai alasannya. Dia pun tersenyum simpul sambil melirik ke arah Anaknya.
Sesampainya di Rumah, dia bersiap - siap dan juga mempersiapkan keperluan Ran. Mereka akan pergi ke Cafe itu juga dengan alasan Ran ingin bertemu dan makan malam dengan Stefani. Dia juga menyimpan sebuah kartu undangan yang sudah selesai dicetak ke dalam ransel kecil milik Ran.
"Ran mau makan malam dengan Tante Stefani?" Tanya Kevin pada Anaknya yang masih polos itu.
"Mau, Pa." Jawab Ran dengan riang.
"Kalau Ran melihat tante Stefani, langsung ajak tantenya makan bareng kita ya?" Ucap Kevin secara perlahan pada Anaknya yang sedang duduk dengan tertib di sebelahnya.
"Siap, Pa." Ran menjawab dengan penuh antusias.
"Dan satu lagi, Ran harus memanggil tante Stefani dengan sebutan Mama. Gimana? Ran mau kan punya Mama seperti Tante Stefani?" Tanya Kevin dengan hati - hati.
Kevin tau kalau Anaknya begitu menyukai Stefani sampai dia menganggap Stefani sangat spesial baginya seperti seorang kekasih. Kevin takut pertanyaan ini dapat menyinggung perasaan Anaknya.
Ran terlihat sedang berpikir dan dia menjawab dengan gamblangnya, "Tapi, Tante Fani itu pacar Ran, Pa. Bukan Mamanya Ran."
"Tante Stefani tidak mungkin menunggu Ran besar untuk melakukan semua yang Ran tidak bisa lakukan. Tapi, kalau Ran tidak mau, Papa juga tidak akan memaksa. Asal Ran juga tidak masalah jika Tante Stefani menjadi pacar orang lain daripada menjadi Mamanya Ran." Tutur Kevin secara acuh tak acuh pada Anaknya yang masih belum mengerti maksud dari perkataannya.
"Ran hanya mau Tante Fani itu jadi pacar Ran!" Umpat Ran pada Papanya.
Tidak terasa, perbincangan mereka pun berakhir karena mereka sudah tiba di Cafe yang dikunjungi oleh Stefani. Kevin pun menggendong Ran keluar dari mobil dan membiarkannya berjalan sendiri saat mereka sudah tiba di dalam Cafe.
Wajah kesal Ran terlihat sangat jelas saat melihat Stefani berbincang dengan seorang lelaki yang lebih muda dari Papanya. Dia tidak suka melihat ada orang lain yang mendekati pacarnya itu. Ran pun memikirkan kembali perkataan Kevin saat di dalam mobil tadi. Dia sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Papanya.
Dia melirik ke atas melihat Papanya. Yang dilihatnya adalah ekspresi yang mengabaikan dirinya. Ran pun berlari menuju Stefani dan berteriak, "Mama!"
Stefani yang merasa sedang mendengar suara teriakan Anak kecil yang familiar di telinganya pun menoleh. Rio juga ikut menoleh melihat ke arah Anak kecil yang sedang berlari menghampiri meja mereka.
Stefani yang melihat Ran pun beranjak seketika dari tempat duduknya dan berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya. Dia menyambut kedatangan Ran dan memeluknya erat.
Rio sangat terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, apalagi saat dia mendengar julukan yang diberikan Anak kecil itu pada pujaan hatinya.
"Ran tadi bilang apa? Coba ulangi sekali lagi, Sayang." Ucap Stefani yang merasa penasaran dengan panggilan Ran terhadapnya.
"Mama.. Ran mau makan malam bareng Mama." Jawab Ran dengan menampilkan sederetan gigi susunya pada Stefani.
"Stef, kamu sudah punya Anak? Sejak kapan?" Tanya Rio tanpa basa - basi yang tidak rela melihat kemesraan Stefani dengan Anak kecil yang kini berada di hadapannya.
"Sejak saat ini, Bung." Jawab Kevin spontan membuat Rio semakin syok.
"Dan ini adalah undangan pernikahan kami yang akan di gelar meriah seminggu lagi. Aku harap kamu datang, teman." Lanjut Kevin dengan memberikan penekanan pada kata teman pada Rio.
Kevin sangat senang dengan inisiatif dari Anaknya yang bersedia memanggil Stefani dengan sebutan Mama. Padahal tadi Anaknya menolak permintaannya saat di dalam mobil.
"Undangan pernikahannya sudah siap cetak? Kapan? Kenapa kamu tidak memberitahukannya padaku?" Tanya Stefani dengan menggebu - gebu melihat kartu undangan yang dipegang oleh Rio.
Melihat ekspresi bahagia dari Stefani, Rio pun mengambil kesimpulan bahwa yang ada di depannya kini bukanlah sebuah khayalan. Ini nyata! Dia tidak sanggup melihat Stefani bersama dengan lelaki lain, apalagi lelaki itu sudah tua karena Anak kecil yang sedang digendong Stefani sudah pasti Anak dari lelaki itu.
"Stef, kamu serius akan menikah dengan seorang Duda beranak satu?" Rio bertanya pada Stefani dengan raut wajah penasaran.
"Rio, aku sudah bilang kalau kita ini teman kan? Sebagai seorang teman, seharusnya kamu itu senang mendapat kabar bahagia dari temanmu sendiri. Bukannya malah mempertanyakan keputusan dari temanmu." Jawab Stefani dengan ketus.
Rio tidak bisa berkutik lagi. Dia merasa seluruh tubuhnya kaku setelah mendengar jawaban dari Stefani. Dia benar - benar tidak memiliki harapan lagi sedikit pun untuk kembali bersama dengan Stefani lagi.
"Mama.. Ran lapar. Ayo! Kita makan, Ma." Ajak Ran sambil mengayun - ayunkan kedua kakinya dengan manja.
"Baiklah, Sayang. Kita akan makan di meja sana." Ucap Stefani dengan lembut pada Ran. Tidak lupa dia berpamitan pada Rio sebelum meninggalkannya sendirian.
Ran terlihat begitu bahagia. Ternyata usahanya tidak sia - sia memanggil dan menganggap Stefani sebagai Mamanya. Dia merasa seperti seorang pahlawan yang menolong Papanya dan dirinya untuk tidak kehilangan Stefani.
Dengan sikapnya yang bijak sebagai seorang bocak berusia 5 tahun, kini dia mendapat elusan di kepalanya yang dilakukan oleh Papanya berkali - kali. Mereka pun makan dengan damai sampai akhirnya Kevin bersuara, "Besok kita akan fitting baju pengantin dan menyebarkan kartu undangan. Aku akan menjemputmu jam 8 pagi,"
"Besok? Aku pasti akan berdandan secantik mungkin." Jawab Stefani dengan penuh semangat.
Usai menghabiskan makan malamnya, mereka pun kembali. Sama seperti tadi, Kevin mengantar Stefani terlebih dahulu lalu dia pulan bersama Anaknya yang manja itu.
Seminggu lagi adalah acara Pernikahan mereka. Kevin sudah sangat tidak sabar untuk menjadikan Stefani menjadi miliknya seutuhnya. Selama seminggu penuh, Kevin berusaha membuat dirinya bersama dengan Stefani sibuk dengan maksud ingin berduaan lebih lama dengan sang pujaan hati.
Hari pertama dan kedua menjelang hari H, Kevin mengajak Stefani untuk mengurus hal - hal yang berhubungan dengan penampilan mereka dan pembagian kartu undangan. Hari ketiga sampai kelima, mereka disibukkan dengan kegiatan mengatur ulang dan memantau para pegawai sebuah Restoran ternama yang sudah di sewa pada hari H. Sedangkan sehari sebelum hari H, mereka sibuk mengecek ulang seluruh keperluan mereka selama acara Pernikahan mereka.
Akhirnya, hari yang di tunggu - tunggu pun tiba. Acara Pernikahan antara Kevin dan Stefani pun berlangsung dengan lancar. Seluruh tamu undangan ikut serta merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua pasangan itu. Dalam jangka waktu yang singkat, sekarang mereka sudah menjadi sepasang Suami - Istri yang sah.
Kevano dan Kesya beserta rombongannya juga ikut serta memeriahkan acara Pernikahan tersebut. Mereka memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru itu. Tidak tertinggal, rombongan Kesya memberikan hadiah pernikahan untuk sepasang insan yang baru saja menikah. Yunda dan Ganda pun datang. Bahkan Ruben yang sudah lama tidak menampakkan dirinya pun ikut serta dalam acara itu.
Bab Dengan Kata Paling Panjang. Semoga Puas. Author Sayang Readers...