My Berondong Husband

My Berondong Husband
#20 Ada Apa Dengan Bian?



"Sate Kambing, biar lu kuat mainya." Ucap Reno sambil menaruh sate itu diatas meja.


"Main apaan?" Tanya Bian berlagak bingung.


"Main ehem-ehem diranjang. Ah masa lu gak tau."


Bian menggeleng, agar pembicaraan antar lelaki dewasa itu tak berjalan sesuai yang diinginkan Reno.


Malam itu Bian dan Reno memutuskan menikmati sate kambing disebuah resto, setelah pulang dari kantor untuk membicarakan pekerjaan yang tak sempat mereka bahas.


Reno adalah rekan sesama pengacara Bian sejak bergabung tiga tahun lalu, meski tergolong baru dalam dunia persidangan tapi Reno sudah hampir menyamai Bian. Cara Reno memenangkan persidangan dengan kepintarannya kadang membuat Bian bangga. Tapi, entah kenapa bagi Reno, Bian adalah guru terbaiknya.


"Lu jadi nikah sama, Kesya?" Tanya Reno sambil menyuapkan lontong kedalam mulutnya.


Bian mengangguk.


"Kapan? Kok lu gak ngundang gue?" Sambung Reno.


"Undangan aja belum gue cetak. Mau gue undang pakai apa lu?" Ucap Bian.


Reno terkekeh menahan tawanya dengan punggung tangan kanan.


"Sebentar lagi kan lu nikah, apa gak seharusnya lu gak ambil kerjaan itu." Kata Reno tiba-tiba.


Bian yang menyeruput orange juicenya terbatuk sesaat. Kalimat pekerjaan itu mulai terlintas dibenaknnya.


"Kenapa?" Tanya Bian agak ragu, setidaknya itu yang terlintas dijawahnya.


"Inikan kerjaan besar, Ian. Dan Lesmana itu bukan orang biasa. Seandainya kita kalah saat membelanya entah apa yang akan dia lakukan. Lagian dia itu bekas residivis."


"Tapi, gue butuh uang ini buat bayar pernikahan, No. WO dan semuanya butuh biasa besar, Lesmana sanggup kasih berapapun yang gue."


"Mama lu dan keluarga Kesya itu kaya raya, kenapa lu gak minta mereka aja."


"Mereka emang bantu, tapi gue gengsi."


Reno tak menjawab, ia hanya terus menikmati makanannya. Sejak dulu sampai akan menikah pun sifat Bian tak pernah berubah, selalu gengsi dan merasa bahwa dia bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain.


Sedangkan Bian memikirkan hal itu. Memang sejak menerima tawaran Lesmana ia sudah agak ragu. Bagaimana tidak, Lesmana keturunan dari orang besar, memiliki perusahaan besar, tapi mantan residivis yang pernah masuk penjara meskipun sekali.


Awalnya Bian hendak menolak, tapi bayaran yang akan diberikan Lesmana tak main-main. Bahkan itu cukup untuk tabunganya setelah menikah, Lesmana tak peduli bagaimanapun caranya dan apapun yang dilakukan persidangan harus ia menangkan.


Bian memikirkan cara untuk bisa mengalahkan jaksa penuntut umum agar, ia malah tak terkena masalah jika Lesmana kalah.


"Gue harus gimana?" Sambung Bian sambil bertanya.


Reno yang sibuk dengan ponselnya mulai menoleh kearah Bian.


"Santai, nanti gue bantuin kerjaan lu." Ucap Reno sambil menepuk-nepuk pelan pundak kiri Bian. Bian yang melihat itu menggoyangkan pundaknya.


"Woy Jijik." Bian bergidik geli.


"Dih, gitu amat sih lu. Habisin makan lu, cepat pulang. Gue numpang."


"Kagak ada." Kata Bian ogah-ogahan.


"Rumah lu jauh, anjir. Ganti bensin gue."


Reno mendengar, ternyata selain gengsian, sok bisa, Bian juga pelit dan perhitungan. Sedangkan Bian terlihat tak peduli.


%%%


Bian sampai dirumah setelah pembicaraan dengan Reno, dan dengan santainya Reno meminta diantarkan pulang kerumah, karena mobilnya masuk rumah sakit (Bengkel)


Ketika hendak masuk kedalam kamar yang berada diruang tengah, Nyonya Mira memanggilnya untuk berbicara sebentar.


"Iya, Ma." Ucap Bian sambil mendekati sang mama.


"Dari mana?" Tanya nyonya Mira. Padahal biasanya ia tak pernah bertanya begitu, tapi entah kenapa akhir-akhir ini ia mulai khawatir.


"Habis pulang kantor tadi makan malam sebentar sama Reno."


Nyonya Mira belum melanjutkan pembicaraannya, masih diam sesaat lalu menaruh majalah yang tadi ia pegang diatas meja.


"Kamu masih mau ambil pekerjaan?"


"Kenapa, Ma? Tumben Mama tanya begitu?" Tanya Bian sambil menilik raut sang mama.


"Sebentar lagi kamu menikah. Apa tidak sebaiknya berhenti dulu dan ambil cuti."


"Ma, pernikahan Bian sama Kesya masih dua bulan lagi. Sayangkan kalau waktu selama itu dikosongkan. Lagi pula yang mengurus persiapannya kan Mama sama Tante Susan."


"Mama mau kamu sama Kesya benar-benar siap nantinya. Gak perlu lah kamu maksa cari uang, Mama bisa membayar itu semua."


"Enggak, Ma." Ucap Bian dibarengi gelengan kepala. "Mama gak usah khawatir, Bian gak mikirin soal itu."


Setelah mengucapkan itu, Bian meninggalkan mamanya untuk masuk kedalam kamar. Tapi, masih diambang pintu Renata datang menghampiri.


"Benar, kak." Cegah Renata.


"Apaan?" Tanya Bian malas-malasan.


"Kak Kesya kapan kesini?"


"Kagak tau. Hubungi sendiri."


Brak!


Bian menutup pintu dengan keras, Renata sedikit kaget kemudian berlalu pergi.


Setelah berada didalam kamar, Bian melepaskan dasinya, membuka perlahan kancing kemejanya dan menaruh Jas begitu saja diatas kasur. Selesai melepaskan gesper dan celana, ia menyambar handuk dan berjalan kekamar mandi.


Shower air hangat itu menyiram rambut dan tubuh putih bersihnya dengan pahatan otot semu indah, hasil gym yang kadang bisa ia lakukan seminggu dua kali jika ada waktu.


Dengan tubuh dan wajah setampan miliknya, sudah dipastikan banyak perempuan yang menginginkannya, salah satunya pasti Kesya.


Setelah menggosok perut roti sobeknya, dan turun dibawah pusat. Ia bergidik geli saat mengingat sate kambing yang dikatakan Reno tadi.


Tak makan sate kambing pun, pasti ia bisa melakukannya meskipun belum pernah mencoba.