My Berondong Husband

My Berondong Husband
#84 Perempuan Lain Untuk Adrian



Malam tadi Adrian pulang sedikit larut dari apartemen Kesya. Disana ia bercerita pada Kevano dan Kesya, kemudian bermain PS dengan Kevano, dan tanpa sadar ia tertidur di ruang tamu.


Setelah sadar ia pulang kerumah hampir sekitar pukul satu. Untungnya sang mama sudah tertidur dan tak mebgomel lagi saat tahu ia pulang kemalaman. Jika mamanya mengomel ia malas berdebat, karena itu sudah terlalu sering.


Dan pagi ini...


Sekitar pukul tujuh pagi sebelum mamanya berangkat bekerja, Adrian lebih dulu bangun dan ikut sarapan. Saat sarapan itu, seorang perempaun seusianya ikut disana. Adrian tak mengenlanya, awalnya ia mengabaikan perempuan itu tapi sang mama yang bergerak.


“Adrian ayo kenalin, namanya Mili.” Ucap sang mama mengenalkan perempuan manis dengan rambut tergerai panjang bernama Mili itu pada Adrian.


Mili mengulurkan tangannya, Adrian menjabat tangan Mili.


“Mili.” Ucap Mili lirih


“Adrian.” Ujar Adrian datar lalu menikmati makannya.


“Mili ini anak kenalan Mama, sekaligus rekan bisnis Mama.” Timpal sang mama.


Adrian hanya bisa ber-oh ria sambil tetap makan makanannya, tanpa sedikitpun ikut mengenal lebih lanjut siapa itu Mili, meskipun Mili nampak anggun dan cantik. Senyumnya manis, ia sungging saat berbicara dengan sang mama.


Adrian terdiam sambil mendengus, apa maksud mamanya mengenal seorang perempaun padanya? Apa agar ia bisa move on dari Yola? Jika benar, kenapa harus Mili?


“Adrian mama pergi dulu ya, kamu sama Mili dirumah, ajak Mili kemana gitu.” Sambung sang mama sambil memberekan tasnya dan berlalu pergi.


“Loh ma, kok gitu!” teriak Adrian pada sang Mama yang sepertinya tak peduli malah terus berjalan dengan cepat menuju luar dan hilang ditelan dinding rumah.


Meskipun dipaksa berkenalan lebih lanjut dengan seorang perempuan yang ada didepannya, Adrian seperti tak laku. Apa maksud mamanya mengenalkan perempuan itu? Apa dipikir ia tak bisa mencari perempuan lain selain Yola. Aneh aneh saja.


“Kok diam aja?” tegur Mili pada Adrian.


“Gue masih makan, tapi kalau lu mau cerita bisa, cerita aja.” Kata Adrian.


“Lu kuliah jurusan apa?” tanya Mili lagi.


“Jurusan Desain dan Mangemen. Lu?”


“Gue Agrotenologi.”


“Yang ngurusin padi?” tanya Adrian, sebenarnya sambil mengejek Mili.


“Enggak juga sih, memang lebih kekebun.”


“Ngapain ngambil itu?”


“Karena Papa punya kebun sawit di kalimantan, gue yang mau ngurus nanti.”


Adrian hanyan mengangguk-angguk mendengar perkataan Mili itu. Perempuan smart dan berpendidikan, bagus sifatnya.


Kemudian kedunya bercerita banyak hal, Adrian mulai tertarik dan manganggap Mili asyik. Mungkin memang seharusnya ia mengenal perempuan lain selain Yola.


Ia paksa berulang kali pun Yola tak akan pernah kembali, nomor ponselnya pun sepertinya sudah benar-benar tak aktif lagi, karena Adrian sudah mencoba untuk menghubungi  setiap hari tapi tak pernah menyambung.


“Lu gak ada kuliah hari ini?” tanya Adrian pada Mili.


“Enggak. Papa ada urusan bisnis, makanya gue disuruh datang kesini sama tante Gio, katanya lu hari ini libur.” Ucap Mili.


“Kebetulan gue pengen jalan-jalan cari body motor sambil menikmati libur, lu mau ikut?”


“Ehmm..” kata Mili seolah berpikir keras dengan ajakan Adrian itu. “Boleh deh.”


“Oke.”


Kemudian kedunya bersiap-siap dengan diri mereka masing-masing. Dan tak berapa lama Adrian keluar mengganti bajunya, dan mengajak Mili pergi menggunkan motor gedenya.


Tak banyak percakapan keduanya, mereka hanya terus saling diam, hingga sampai disebuah toko khusus untuk penjualan body dan mesin kendaraan.


Adrian memilih dan melihat tebeng yang cocok untuk motor miliknya yang tak terpakai digarasi, kemungkinan motor itu akan ia gunakan untuk bapalan.


“Menurut lu bagus yang mana? Ini atau ini?” tanya Adrian pada Mili saat ia bingung menentukan body mana yang harus ia pilih, karena bagi Adrian sama-sama bagus hanya dengan corak yang berbeda.


“Bagus ini.” Tunjuk Mili pada salah satu body motor itu. “Yang ini perpaduan merah sama putihnya bagus, kalau yang ini hitamnya lebih ketaran merahnya kayaknya bakalan tenggelam deh.”


“Oke.” Ucap Adrian lalu menaruh salah satu dari body itu. Lalu ia mengambil body yang lain.“Kalau ini?”


“Enggak bagus, tetep bagus yang ini. Warnanya cerah dan jreng gitu. Jadi kalau habis di cuci warnanya mengkilat, kan keren tuh.” Ujar Mili lagi.


“Setuju, gue juga mikirnya gitu. Lu pinter juga ya.” Puji Adrian, Mili tersenyum sombong.


“Jangan kira cewek gak tahu apa-apa.”


“Gue kira emang enggak tahu.” Kata Adrian lalu berjalan kekasir sambil membawa body motor itu untuk membayarnya.


Setelah selesai membayar, Adrian dan Mili berlalu pergi dari sana, barang milik Adrian Mili dengan senang hati membawanya.


Adrian menuju bengkel untuk mengurus keperluan motor kesayangannya.


Tak lama setelah itu ia dan Mili sampai disana.


“Bang!” teriak Adrian begitu sampai dibengkel.


“Dateng juga lu, mana bodynya.” Tanya si montir.


“Nih, lu cakepin tuh motor biar enak dibuat ngebut.” Ucap Adrian.


“Siap.” Jawab si montir, kemudian matanya menatap Mili dengan penuh tanda tanya. “Cakep bener tuh cewek, siapa? Kayaknya kemarin lu galau gara-gara Yola.”


“Hus.” Kata Adrian menutup mulutnya dengan jari telunjuk sebagai tanda agar si montir diam. “Gak usah bahas Yola, kata lu gue suruh move on.”


“Nah bagus itu. Kalau gitu gue suka, asal jangan jadiin pelarian aja.”


“Bawel, cepat pasang. Gue mau alan-alan dulu, meikmati liburan.” Ujar Adrian lalu meningglkan bengkel itu, si montir hanya bisa menggeleng –geleng melihat tingkah Adrian.


%%%


Setelah dari bengkel tadi, Adrian mengajak Mili berkeliling sambil menikmati udara pagi yang cukup tenang. Sesekali keduanya terlibat obrola yang seru, mereka bercanda dan keudian bermain di mall.


Mili begitu aktif dan menyenangkan dengan segala tingkah naturalnya tanpa dibuat-buat seolah ia bisa. Mili memiliki segalanya yang dimiliki perempuan, cantik, pindah dan bertalenta.


Jika dibandingkan dengan Yola mungkin berbeda jauh, karena Yola hanya perempuan biasa, yang bahkan tak memiliki pendidikan yang tinggi, seperti dirinya.


 "Jadi lu anak pengusaha kebun sawit ya?" tanya Adrian saat mereka tengah bersantai sambil menikmati minuman.


"Enggak juga sih, Papa punya perkebunan sawit aja. Tapi kalau disini dia ada kerjaan lagi." Jawab Mili.


"Oh, begitu. Eh gue mau tanya sama lu, boleh?"


"Boleh, soal apa?"


"Kita kan baru kenal hari ini? Dan Mama nyuruh kita berdua jalan, apa menurut lu kita gak berusaha dijodohin?"


Mili mengangguk paham dengan perkataan Adrian.


"Gue ngerti kok maksud lu, gue juga mikirnya gitu. Ya mungkin orang tua kita pengen kita pacaran atau nikah gitu, kan mereka sama sama sudah tahu sifat anaknya."


"Ngaco aja lu. Gak mungkin lah kita nikah, gue masih kuliah."


"Ya nanti kalau kita udah sama sama dewasa, lagian belum tentu gue suka sama lu."


Keduanya terus saja membahas hal itu, sampai mengalir kearah mana pun. Sampai tak terasa waktu sudah hampir sore, tapi mereka tak peduli dengan hal itu.


Adrian dan Mili masih saja terus mengobrol.


"Gue gantian tanya dong." Ucap Mili kemudian.


"Boleh, tanya apa?" tanya Adrian.


"Tadi pas di bengkel gue dengar lu ngomong soal cewek namanya Yola. Dia siapa?"


Mendengar pertanyaan Mili, Adrian diam sesat. Padahal saat bersama Mili ia bisa lupa akan Yola, tapi tiba-tiba nama itu hadir lagi.


"Cewek gue, tapi dia pergi entah kemana?"


"Kok bisa gitu?"


"Enggak tahu, pergi sama keluarganya, pindahnya kemana gue juga gak ngerti."


"Sabar ya, lu pasti dapat penggantinya kok."


"Lu aja deh penggantinya." Canda Adrian.


"Dih, ogah."


"Kenapa? Emang gue kurang ganteng?"


"Lu itu tipikal cowok yang lebih mementingkan hobi ketimbang pacaran."


"Emang." Ujar singkat Adrian.


Lalu pembicaraan itu berjalan terus menerus. Hingga keduanya nampak begitu akrab. Kemudian meraka memutuskan untuk pulang, karena tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat, sebentar lagi sang Mama pulang.