My Berondong Husband

My Berondong Husband
#109 Kisah Ganda 1



“Tidur bang,” ucap Hendra sambil menyentuh pundah Ganda yang masih sibuk menggambar desain di meja kerjanya.


Hendra baru saja datang dengan mobilnya, saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


“Eh, kamu, Hen,” ujar Ganda memperhatikan sekilas sang adik yang kini masih berdiri di sampingnya.


Hendra menghembuskan napasnya, kakak lelakinya melakukan kebiasaan itu hampir setipa hari dalam seminggu, telat tidur dan bangun lebih awal.


“Ini udah hampir dini hari lho, Bang. Apa Abang gak capek, besok kan bisa di kerjakan lagi,” kata Hendra lagi meskipun ia tahu bahwa ucapannya tak akan berguna bagi Ganda.


Saat Ganda sudah mulai fokus dengan stau pekerjaan, maka jam berapapun pekerjaan itu harus selesai, apalagi sebentar lagi ada acara pagelaran busana tunggal yang khusus untuk desain miliknya. Ini adalah sebuah pencapaiannya selama beberapa tahun berkarier.


“Bentar lagi Abang pulang terus tidur. Kamu ngapain kok kesini, istrimu nyari nanti.” Ganda terus sibuk dengan pekerjaanya, tanpa melihat sang adik yang khawatir.


“Aku udah bilang sama Manda kalau mau kesini. Mama tadi yang bilang kalau Abanag belum pulang, ayolah pulang.”


“Kerjaan Abang belum selesai, sayang banget kalau di tinggalkan.”


“Masih ada besok, atau kalau gak minta karyawan Abang bantu desainnya. Abang itu desainar besar, punya karyawan banyak, kenapa semua harus di ambil sendiri sih,” gumam Hendra. Ia kadang jengkel dengan kakaknya itu yang tak tahu waktu bekerja.


Ganda menghentikan gerakan tangannya diatas tab, meletakkan pen di atas meja, lalu berpaling melihat sang adik yang masih menatapnya. Wajah tegas Hendra yang kini sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa, membuat Ganda hanya bisa mengulas senyum tipis.


Ia tak harus banyak menjawab tentang pertanyaan Hendra itu, karena ia yakin Hendrea juga tahu bagaimana sulitnya tumbuh menjadi lelaki yang harus menafkshi keluarganya, meskipun dari segi nafkah berbeda.


Hendra kini sudah memiliki seorang istri dan seorang anak perempuan, sementara Ganda yang sudah memasuki kepala empat masih senang menyandang status bujangan. Ia hanya ingin fokus mengurus mamanya sebagai orangtua satu-satunya yang dimilikinya, apalagi kedua kakaknya tak berniat untuk menjaga sang mama.


Ganda bekerja siang malam untuk memulihkan perekonomian orangtuanya, dan membiayai Hendra kuliah, agar Hendra memiliki pekerjaan yang layak. Terbukti kini Hendra sudah menjadi seorang manager keuangan di slaah satu pereusahaan bonafit di ibukota.


“Hen, minggu depan puncak karier Abang selama beberapa tahun menjadi desainer. Abang mau mempersiapkan semuanya sendiri, secara matang. Abang gak ingin ketinggalan sedikitpun,” ujar Ganda.


“Yayaya,” ucapa Hendra atas kata kata yang keluar dari mulut Ganda.


Hendra sudah tak peduli dengan apa yang di katakan Ganda, kini diambilnya tab dan pen Ganda, memasukkan kedalam tas dan merapikan beberapa barang yang harsu di bawa pulang. Ganda nampak keberatan dengan perlakuan Hendra itu, tapi Hendra nampak tak peduli.


Di tariknya Ganda hingga berdiri, lalu Hendra sedikit menyeret sang kakak agar keluar dari tempat kerjanya. Dengan tubuh Hendra yang lebih besar, Ganda tak bisa melawan, sedikit memberontak pun akan menyakitkan tulang tulang lunaknya.


“Hen, Abang mau di bawa kemana?” tanya Ganda saat Hendra sudah berhasil membawanya keluar dari boutique miliknya.


“Abang kalau gak di paksa kayak gini gak bakalan pulang. Besok kerja lagi, hari ini cukup sampai di sini,” ucap Hendra masih dengan menarik sang abang.


“Iya, tapi, Hen...”


Hendra memotong ucapan Ganda, “Gak ada tapi-tapian. Kasihan badan Abang kalau di paksa terus kerja.”


“Susi, kunci pintu toko!” teriak Ganda pada salah satu karyawannya yang masih nampak membersihkan barang-barang di luar toko.


Perempuan yang di panggil Susi memperhatiakn bosnya dengan sang adik hanya bisa mengangguk, sementara Ganda kini hanya bisa pasrah, hingga Hendra memasukkan Ganda kedalam mobil. Hendra duduk di belakang kemudi, membawa mobil itu melaju di jalanan.


“Abang mau cek hp, Hen,” ucap Ganda pelan, Hendra belum menjawab pernyataan Ganda ataupun berniat memberikan tas itu. “Hen.”


Hendra menghebuskan napasnya, memperlambat laju mobilnya, dan mencoba menatap sekilas sang kakak.


“Bang, Hendra mau ngomong serius sebentar aja.” Raut wajah Ganda berubah, berusaha nampak serius.


“Yaudah ngomong aja, mumpung kamu ada waktu sama Abangmu ini, kamu biasanya kan sibuk,” kata Ganda.


“Abang yang sibuk, bukan Hendra.” Ganda terdiam mendengar ucapan Hendra. “Minggu depan Hendra pindah tugas ngurus perusahaan di Sumatera, Hendra bawa Manda sama Maura.”


“Lalu?” tanya Ganda masih bingung.


“Abang masih tanya, itu berarti Hendra gak bisa ngurus Mama lagi, Abang yang harus ada waktu buat Mama. Bang kerja boleh, tapi harus mengerti kondisi. Hendra ini juga laki-laki dewasa, Hendra ngerti kok seharusnya Hendra bersikap.”


Ganda belum menjawab ucapan Hendra itu, Ganda yang awalnya meragukan sang adik, lama-lama ia menyadari bahwa apa yang di pikirkannya salah. Hendra lebih dewasa dari dirinya, baik sikap dan juga pola pikir.


Namun bukan itu yang kini menganggunya, ia mulai berpikir, apa yang sudah ia tinggalkan selama sibuk dengan dunianya sendiri?


“Abang ini sudah lebih 40 tahun, sudah harusnya Abang menikah, coba berpikir untuk cari istri,” sambung Hendra.


Jika membahas tentang istri dan pasangan hidup, kadang Ganda begitu bosan, meskipun selama ini tak pernah ada yang mempertanyakan hal itu, tapi jika sudah keluar dari mulut sang adik, maka di pastikan itu harus.


“Abang belum kepikiran, Hen,” jawab Ganda bohong, sebenarnya sudah.


Tapi, siapa yang akan menerima laki-laki sepertinya, dengan penampilan yangsedikit perempuan, gaya kemayu dan tulang yang cukup lunak, mungkin para perempuan akan menganggapnya menyimpang dan tak berniat menikah.


Begitupun yang di pikrikan Hendra. Di matanya Ganda memang tak seperti dirinya, Aris, ataupun lelaki pada umumnya, tapi itu tak merubah status Ganda sebagai laki-laki. Fisik Ganda hanya berbeda, tapi rasa tanggung jawabnya benar-benar tulus.


“Abang pasti kepikiran. Kalau Abang mau, Hendra atau Manda bisa kok bantu carikan, Mama juga pasti punya kenalan perempuan-perempuan cantik, tapi...” ucap Hendra terpotong, Ganda menunggu lanjutan ucapan Hendra. “Tapi, jangan di ajarin make-up, Bang.”


Hendra sedikitr menahan tawanya, senyumnya mengambang tipis. Ganda pun ikut tersenyum, suasana seriuspun berubah menjadi kacau. Tak berapa lama Hendra mengentikan mobilnya tepat didepan teras rumah sang kakak.


Ganda dan Hendra turun, menuju pintu yang kini sudah mulai terbuka, karena sang mama ada disana.


“Ma, Hendra langsung pulang ya,” ucap Hendra sambil menyalimi tangan kanan sang mama. Sang mama mengangguk.


Hendra kemudian berlalu pergi, Ganda menggandeng tangan sang mama masuk kedalam rumah.


“Mama tadi telephone Hendra, ya?” tanya Ganda saat sudah berada di dalam rumah.


“Kalau Mama gak telephone Hendra dan nyuruh jemput kamu pulang, kamu pasti gak pulang-pulang,” ujar sang mama.


“Tapi, kan Ganda masih kerja, Ma,” gumam Ganda sambil menuju kamarnya, badannya sudah tercium bau keringat yang menyengat, ia berniat mandi dan kemudian tidur.


Sementara sang mama hanya bisa menggeleng melihat Ganda yang sedikit cemberut jika sudah di paksa untuk pulang kerumah karena lebih sibuk dengan pekerjaanya.