
"Gue suka sama lu, Ta!" Ucap Angga sedikit berteriak karena angin terlalu berisik saat ia mengendarai motor dengan kecepatan sedang.
"Hah! Iya!" Teriak Renata menjawab perkataan Angga.
"Kok hah sih! Jawab dong." Angga menepikan motornya dibawah pohon disebuah trotoar, karena tak mendapat jawaban yang memuaskan dari Renata.
"Lu lagian peak, udah tahu pakai motor malah tanya." kata Renata, saat Angga sudah mematikan mesin motornya.
"Gue suka sama lu, lu mau gak jadi pacar gue?" Ucap Angga dengan nada puas, seakan perasaan itu sudah memuncak dan ingin keluar sejak lama.
"Enggak." Ujar Renata enteng.
"Iss, sakit hati banget aku. Please aku butuh oksigen," Angga mendramatisir keadaan.
"Apaan sih lu, lu itu tukang ngibul."
"Ngibul gimana?"
"Ngibul lah, pertama lu bukan anak jurusan pendidikan, lu itu senior di kampus, kedua yang lu pakai ini bukan motor lu kan. ketiga lu bukan anak orang kaya."
Angga diam sesaat, menggaruk rambutnya meskipun tak gatal. Lalu ia tersenyum.
"Yah ketahuan."
"Ketahuan Pala kau." Rajuk Renata.
"Oke, yang pertama gue emang bukan jurusan Pendidikan, kedua ini motor vespa tua milik abang gue, ketiga iya gue anak tukang buah."
"Harusnya dari awal lu jujur Angga, kita sudah barengan hampir setahun."
"Kalau gue jujur dari awal lu bakalan suka?"
"Enggak juga sih. Udah ayo jalan."
Mendengar ucapan dari Renata itu, Angga dengan wajah santainya mulai menjalakan motornya kembali, mengedarainya lebih lambat dari tadi, agar bisa lebih lama bersama Renata.
Sementara Renata hanya tersenyum simpul mengingat Angga yang mengutarakan perasaanya. Angga begitu baik, humble dan care, penuh komedi meski kadang suka marah.
Sifat Angga beda dari lelaki pada umumnya, Angga yang selalu bisa membuatnya tertawa, meski kadang ia harus gengsi, Angga berani mengatakan perasaanya pada Mamanya.
Alasan ia menolak Angga, bukan karena tak suka, tapi ia ingin melihat sejauh mana Angga berjuang untuknya.
Ia tak mungkin terus berharap pada Kevano, yang sudah menjadi milik orang lain, atau bahkan ia dendam pada Kesya, karena nyatanya mereka sudah menjadi satu jodoh yang ditakdirkan Tuhan.
Hari Itu mereka sedang dalam perjalanan pulang, awalnya Renata pikir kenapa kuliah mereka sering sama waktu pulang, karena biasanya jurusan pendidikan pagi, ternyata Angga jurusan Teknik yang memang jam masuk sama dengan jurusan Desain.
Sejak itu Renata mulai curiga dengan banyak hal yang disembunyikan Angga, mulai nama panggilan yang biasanya disebut teman-temannya, hingga hidup Angga yang penuh drama membuat Renata bersimpati.
Tapi, Angga selalu pandai menutupinya dengan senyum, bayangan kesedihan Angga seakan tak nampak pada raut wajahnya. Angga bahkan terlewat ceria seperti tak memiliki satu bebanpun.
"Makan yok!" Teriak Angga lagi, masih dalam kondisi yang sama.
"Yok, diresto bintang tujuh ya!"
"Lu kira obat sakit kepala. Duit gue cuma cukup beli sate ayam!"
"Dasar kere lu!"
"Emang!"
Setelah berteriak-teriak tak jelas, Angga melajukan motornya menuju sebuah gerobak sate pinggir jalan, yang buka hanya malam hari.
"Kita makan." Ucap Angga memarkirkan motornya, setelah itu Renata ikut turun. "Mang sate ayam dua porsi ya, satunya pakai dua lontong sambal pedasnya dicampur aja. Kamu, Ta?"
"Hah, samain aja." Ucap Renata.
"Kebanyakan lontong, nanti kamu gemuk lho."
"Bodo amat. Pokoknya samain"
"Samain mang."
Malam semakin melarut, pukul delapan. Mereka baru saja pulang dari kampus, meskipun sebenarnya kuliah Angga lebih dulu pulang.
"Ngga," ujar Renata tertahan, belum sempat mengucapkan kata-kata lagi, ia mengalihkan pandangannya pada Smartphone.
"Iya, kenapa Nata sayang." jawab Angga bersikap sok manis, seakan mereka sudah memiliki hubungan.
"Jijik Angga. Gue mau tanya serius nih."
Angga mengangguk dan tersenyum sebagai tanda membolehkan.
"Kenapa temen-temen lu, memanggil lu Sat-Sat sih. Nama lu, Ba*g Sat."
"Bisa ae nih. Nama gue Satria Angga Prayudipta Adi Kusuma Citpo. Dan biasanya teman-teman manggis Satria, dirumah Tria sih."
"Panjang bener namanya."
"Biasa nama orang jawa. Dan gue kenalin ke lu nama Angga, sebenarnya gk ada alasan, gue mau aja."
Renata mengangguk-angguk, meskipun tak paham dengan alasan Angga.
Tak berapa lama, pesanan mereka datang dan Angga sudah begitu antusias dengan makanannya.
Angga dan Renata menikmati makanannya dengan nikmati, bagi Renata makan seperti sangat jarang bahkan ia lupa kapan pertama kali ia makan dipinggir jalan dengan beratapkan langit dan duduk disebuah bangku kayu. Yang pasti itu pengalaman tak terlupakan untuknya.
Sesekali perasaan jijiknya makan dipinggir jalan bisa menghilang, karena makanan itu tak seburuk dalam pikirannya.
%%%
Dimalam yang sama, Kesya dan Kevano tengah menikmati malam itu dari balik selimut.
Kevano yang sibuk dengan ponselnya, sementara Kesya tertidur dilengan kanan Kevano sambil membaca sebuah buku novel, biasanya ia tak suka membaca, tapi karena itu rekomendasi Yunda yang juga benci membaca, akhirnya ia membeli dan membaca.
Judulnya, My Berondong Husband. Kisahnya mirip dengan kisahnya. Seorang tante-tante yang menikahi Berondong.
"Eh Sya, besok jadwal chek kandungan lho," ucap Kesya kemudian.
"Eh udah bisa USG belum, Nur?" Tanya Kevano dengan antusias.
"Belum kelihatan juga kali, Sya. Baru tiga bulan."
"Siapa tau kan, aku pengen lihat jagoan kecilku."
"Enggak, Princess kecil." Sela Kesya.
"Pasti cowok itu, soalnya pas hamil makanmu banyak dan kamu makin kuat."
"Enggak, pokoknya cewek, aku aja makin rajin dandan."
Keduanya berdebat soal tak jelas tentang jenis kelamin mereka, tapi bagi mereka itu sesuatu yang lucu. Setelah perdebatan itu kadang mereka tertawa.
"Eh Sya, aku mau tanya sesuatu." Sambung Kesya.
"Apa?"
"Kamu dulu sebelum kita nikah pernah bilang kan, kalau kamu udah nungguin aku selama sebelas tahun. Gimana kamu tahu kalau gadis itu ternyata aku?"
"Karena dari SMA sampai sekarang wajahmu gak banyak berubah, apalagi sejak aku melihat kamu dilaptop Bang Ruben. Aku sudah mendapat titik terang keberadaanmu selama sebelas tahun pergi, dan juga insiden di bus itu sengaja aku buat." Papar Kevano seakan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Ih jahat banget sih." Kesya memukul pelan dada kiri Kevano. "Padahal pas habis kamu cium itu aku syok, Bian aja yang selama dua tahun pacaran sama aku belum pernah cium-cium segala."
"Dasar polos banget. Kalau sekarang aku cium syok lagi gak?" Goda Kevano, pipi Kesya terlihat mulai memerah.
"Udah ah tidur, ngantuk. Besok kerja."
"Besok Weekend, Nur."
"Besok masih rabu, weekend dari mana coba."
Kevano terkekeh mendengar ucapan Kesya, karena besok memang masih hari Rabu. Kevano selalu berpikir weekend agar terus bisa seharian bersama Kesya, yang istri.