
Pagi itu Bian dan Kesya pergi kesebuah gedung yang disewanya untuk acara resepsi pernikahan mereka, bersama kedua mama, mereka melihat beberapa hal.
“Gimana sama gedungnya?” tanya Nyonya Mira pada Nyonya Susan.
“Bagus gedungnya, saya suka. Tinggal dekornya saja ya, cari warna yang senada sengan cat dinding.” Ucap Nyonya Susan.
“Kalau itu pasti sudah dipikirin sama WO nanti.”
Kedua mama itu berbicara dan berbincang apapun itu soal pernikahan, sementara Kesya dan Bian masih berkeliling ruangan itu melihat siatuasi yang ada.
Kemudian Bian duduk disebuah kusi yang telah di sediakan Kesya munyusul. Entah kenapa disaat seperti itu Kesya tiba-tiba saja ingin bertanya maslaah yang begitu serius, tapi terus ia urungkan, lalu..
“Bian,” ucap Kesya, Bian menoleh kearahnya lalu mengembalikan ponslenya kedalam satu jas.
“Kenapa?” tanya Bian sambil tersenyum manis.
“Boleh aku bertanya, soal masalah kamu sama Kevano?”
“Kami gak ada maslah apa-apa kok,”
“Gak mungkin!” seru Kesya. “Kalau gak ada apa-apa, kenapa kamu bisa marah sama Bian waktu itu.”
“Aku Cuma cemburu kamu dekat sama bocah itu, emang kelihatannya aneh apalagi di masih kecil, tapi dia itu laki-laki, sayang.” Ucap Bian sambil memegang tangan Kesya dengan erat, sesekali ia mengelusnya.
“Tapi,” Kesya tak melanjutkan ucapannya. Ia hanya tak habis pikir dengan Bian.
Ucapan yang keluar dari mulut Bian seperti ambigu, tapi entah kenapa ia harus mempercayainya. Rasa cemburu Bian tak seperti biasanya, biasanya Bian tak peduli dengan siapapun Kesya dekat, banyak juga client lelaki yang besaranya, tapi Bian hanya diam.
“Jujur sama aku, please.”
Bian menggeleng, tak ingin menjawab pertanyaan Kesya. Jika Bian mengatakan yang sebenarnya pada Kesya itu akan mendambah daftar masalah lain, Kesya pasti meminta ia mengurungkan membantu Lesmana, lebih dari sekedar itu Lesmana bisa membawanya juga.
“Ya sudah, mungkin itu rahasia hanya perlu kamu simpan untuk diri sendiri.” Kesya berdiri, lalu berjalan mendekati mama dan calon mertuanya.
Bian mengikuti dari belakang, sambil sesekali mengecek ponselnya. Ia tak mau ambil pusing dengan masalah itu, ia harus fokus pada pekerjaan terakhirnya sebelum acara pernikahan dimulai.
“Kita makan dulu, yuk.” Ajak Nyonya Mira.
Ketiganya mengangguk, lalu berjalan keluar gedung itu. Sesampainya diluar gedung, mereka memasuki mobil milik Bian.
Bian membawa mobil itu berjalan menuju sebuah resto yang sudah ditunjuk mamanya, didalam mobil tak ada pembicaraan apapun. Kesya dan Bian sama-sama diam, semenatar ekduan mama mereka saling sibuk dengan dunia masing-masing. Canggung mulai nampak pada Bian dan Kesya.
Tak berapa lama mereka sampai diresto seafood yang menyediakan all you can eat. Nyonya Mira dan Nyonya Susan mencari meja yang cukup untuk mereka, sementara Kesya dan Bian mengambil beberapa makanan untuk mereka. Setelah dirasa cukup mereka kembali.
“Ayo lansung dimasak.” Suruh nyonya Susan.
Bian memanggang beberapa udang dan cumi-cumi kecil.
“Rasanya seneng kalau kita jadi keluargga ya,” kata Nyonya Mira.
“Iya, betul. Saya lihat Kesya sama Bian Cocok kok, sudah pas banget.” Ucap Nyonya Susan.
Sementara baik Bian maupun Kesya tak ada yang berbicara, mereka hany cukup diam dan tak melakukan apapun selian menikmati hidangan murah yang bisa mengenyangkan perut itu.
Bian dengan pikirannya tentang pekerjaan yang belum selesai, sedangkan Kesya memikirkan tingak laku aneh Bian.
%%%
Sesekali aku harus tak peduli.
Kata itu yang terus dingat dalam kepala Kevani hingga kini. Malam itu adalah hari terbaik baginya, dengan motor keren dan keadaan fit siap bertanding, ia datang tepat waktu.
Seperti apa yang ada dalam pikirannya, turnamen ini tak lebih seperti balapan dijalanan, namun yang berbeda hadiahnya nyata dan ada, yakni sebuah motor yang ada terpakir denagn indah tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Baik, untuk para peserta silahkan menaiki motor kalian masing-masing, karena turnamen akan segera dimulai!” Seru seorang lelaki yang tak alin adalah panitia lomba.
Kevano meinggal Adrian dikerumunan penonton, ia berjalan mendekati motornya paling kanan ujung. Saat itulah tak mengaja matanya beradu dengan pembalap lain, yang sangat ia kenal. Musuh bebuyutannya sejak SMA.
Lukas namanya, lelaki itu berulang kali mencari maslaah degannya di skeolah dulu dan berakhir dengan balapan,meskipun tak pernah menang dari Kevano, tapi Lukas selalu sombong.
“Ikut juga lu.” Ucap Lucas dari balik helmnya, mata sinsinya terlihat angkuh.
“Harusnya gue yang nanya ke lu, ngapain lu ikut. Mau kalah lagi sama gue.” Kata Kevano tak mau kalah.
Lukas tak menjawab, jika helmnya terbuka akan nampak bahwa ia sedang tersenyum mengjengkel.
“Oke, semua siap-siap dengan posisi kalian. Setelah hitungan ketiga perlombaan ini dimulai.” Ujar seorang panitia lainnya.
1
2
3
Teriak serempak para penonton, setelah hitungan ketika berakhir, keenam pembalap termasuk Lukas dan Kevano memacu gas motornya dengan kecepatan penuh.
Beberapa sudah tertinggal jauh dibelakang, sekarang hanya ada empat orang yang terus selap-selip dijalanan sepi dan lengang itu. Lampu yang cukup terang dengan jarangnya rumah yang ada, membuat pertandingan itu semakin seru.
Empat peserta sudah ada dibelakang, tinggal Lukas dan Kevano yang kini bertanding. Lukas menggunakan caranya untuk bisa mengalahkan Kevano, dipepetnya motor Kevano dan dengan kakinya ia berusah menendang, tapi ia salah sasaran.
Saat hendak mennedang bagian tebeng motor Kevano, ia terpelet dan malah menendang angin, seketika ia limbung dan membuatnay terjatuh. Melihat itu Kevano hendak menolong tapi ia urungkan, sesekali memberi pelajaran pada lelaki itu.
Tak ada lagi terlihat dibelakang Kevano, garis finis sudah nampak didepan, dengan kecepatan maksimal Kevano mendekati finis, terdengar teriakan riuh para penonton dan fans setianya. Dalam hitungan detik ia mencapai garis finis dan dinyatakan menang.
“Wah keren banget, cepat banget lu.” Puji Adrian begitu Kevano sudah menghentikan motornya.
“Kevano.” Ucapnya sombong.
Melihat seroang pemenang, para fansnya yang terdiri dari para perempuan langsung kegirangan dan meminta berfoto. Setelah itu pihak panitia memanggil Kevano untuk tanda tangan sebuah berkas penting.
“Ini apa, kak?” sambung Kevano sambil bertanya.
“Ini Cuma surat serah terima hadiah aja, biar gak ada cliem nantinya.”
Kevano mengangguk, saat hendak menandatangi kertas itu. Lukas datang dengan kakinya yang ia seret.
“Dia curang!” teriak Lukas. Beberapa penonton terlihat heran.
“Apa maksud lu!” tanya Adrian dengan suara meninggi.
“Saudara lu ini sudah celakaain gue, buat motor gue jatuh.”
“Itu salah lu sendiri, lu yang mau jatuhin gue duluan.” Seloroh Kevano tak terima dengan ucapan Lukas.
“Halah bacot!”
Buk!
Lukas memukul wajah Kevano, Kevano membalasnya dan terjadilah perkelahian antar keduanya, tapi perkelahian itu tak berlansgung lama, saat terdengar suara tembakan pistol dan sirene polisi.
Anak muda yang memadari arena itu berhamburan tak tentu arah, termasuk Keano, Adrian dan Lukas sendiri. Bahkan Kevano sampai tak memikirkan nasib motor baru yang ia dapatkan, yang penting ia selamat dari kejaran para polisi itu.
Dengan secepat mungkin Kevano menaiki motonya, tapi ia kehilangan jejak Adrian, tak mungkin ia meninggalkan Adrian sendirian, karena Adrian pergi bersamanya tadi, bisa gawat jika Om Gio bertanya soal itu.