
Dalam perjalanan pulang dari liburan, mobil yang keluarga kecil Adrian tumpangi terguling dan menabrak pohon.
Adrian dan Alika selamat, sementara Mili meninggal di tempat karena terjepit besi-besi mobil.
Dua hari Adrian tak sadarkan diri dirumah sakit, bahkan saat pemakaman Mili ia pun tak tahu.
Rasa sakit mendera batinnya, saat ia tahu bahwa istri yang amat dicintainya meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Berhari-hari bahkan berminggu-minggu Adrian tak memiliki gairah untuk hidup, tak bekerja ataupun menjaga Alika yang masih kecil.
Bayangan Mili terus saja menghinggapi dirinya, muncul kemanapun setiap langkah kakinya. Semakin pusing ia didera bayangan Mili, akhirnya ia memutuskan untuk pindah keluar Kota bersama Alika.
Ia pikir hidup baru diluar kota mungkin akan lebih menyenangkan, tanpa siapapun dan mungkin ia bisa melupakan kepergian Mili.
Orang tuanya awalnya melarang nya untuk pergi, begitupun keluarga tuan Putra beserta Kevano, tapi tekad nya sudah begitu bulat untuk pergi.
Dan sepuluh tahun pun berlalu, diluar kota ia mengurus perusahaan sang papa, Alika juga sudah tumbuh menjadi gadis, meskipun bayangan Mili masih mengikuti, tapi tak sesakit dulu.
"Lu harusnya cari Mama baru buat, Alika," ujar Kevano di sela-sela kepulan asap yang meninggi di udara,
Adrian memicingkan matanya, seolah berusaha meyakinkan bahwa apa yang dikatakan Kevano tidak adalah.
"Gue bisa kok ngurus Alika sendiri," jawab Adrian meskipun agak ragu dengan omongannya sendiri.
"Bisa gimana, setiap bekerja Alika dijaga orang lain kok. Ayolah buka hati lu buat cewek lagi,"
Adrian terdiam, pikirannya terus mencerna omongan Kevano itu. Ia mencoba membohongi dirinya sendiri saat mengatakan mampu menjaga Alika, nyatanya ia selalu kerepotan.
"Alika masih butuh sosok ibu, apalagi sebentar lagi dia jadi gadis remaja, yang ngerti semuanya ya cuma sesama perempuan," sambung Kevano.
Adrian masih terdiam, belum menjawab perkataan dari Kevano itu.
Semenjak di tinggal Mili, entah bagaimana pun ia tak merasakan rasa suka atau memikirkan untuk mencari perempuan lain menjadi ibu dari anaknya Mili.
Adrian terlalu sibuk dengan pekerjanya, mengurus keluarganya, hingga tak ada waktu untuk memikirkan hal lainnya.
"Nanti aku pikirkan, sekarang aku masih ingin mengurus Alika sendiri," ucap Adrian mencoba senyum.
"Nah gitu dong, kalau butuh katalog cewek, gue ada tuh," ujar Kevano sambil terlalu.
Adrian tertawa saat mendengar kata katalog, seolah ia bisa memilih seperti sebuah baju.
Tak lama ponsel Kevano berbunyi, sebuah pesan pendek dari Kesya yang mengatakan bahwa Alika mencarinya. Kevano menunjukkan pesan itu pada Adrian, keduanya mematikan rokok dan berjalan keluar smooking room. Berjalan melewati lorong rumah sakit dengan berjalan beriringan.
"Lu ingat gak waktu gue usus buntu pas SMA dulu?" tanya Adrian pada Kevano.
Kevano berusaha mengingat kejadian beberapa puluh tahun lalu.
"Ingat, yang gue nungguin lu berhari-hari sampai operasi, kan? Elah cuma kentut doang lama banget,"
Adrian menahan tawanya mendengar kata yang bergaris bawah dari Kevano itu. "Namanya juga usus buntu lu, tapi setelah operasi semuanya berjalan lancar,"
Tak berapa lama mereka sampai kembali di ruangan Keylan, disana sudah ada Kesya dan Alika.
"Kata tante Kesya, Nenek nyariin, Pa," ujar Alika kemudian pada Adrian yang sudah berada disana.
"Tadi tante Gio ngechat kamu, gak kamu balas," kata Kesya, kemudian Adrian menarik ponselnya dari saku celana depan, ada banyak chat dan panggilan disana, "Balik gih,"
"Baru lihat, kak Nur, soalnya tadi keasyikan ngobrol sama Kevano, terus ponselnya aku silent," jawab Adrian, "Aku sama Alika pamit ya, kayaknya mama udah kangen sama Alika,"
"Hati-hati, lain kali kalau lu ke sini lagi, mampir kerumah," kata Kevano.
"Keylan, Raka, om pamit dulu ya. Kamu cepat sembuh Keylan, dan Raka salam buat papamu,"
Keylan dan Raka mengangguk hampir bersamaan, lalu setelah itu Adrian berpamitan dengan Kesya dan Kevano, kemudian keluar dari ruangan itu.
"Papa sama Mama juga mau pulang dulu, Key. Papa ada meeting nanti jam dua, Raka tolong jagain kakakmu ya, ingat jangan boleh makan cilok, soalnya didepan itu ada," pesan Kesya pada Raka dan Keylan.
"Mama, cilok depan itu enak, lho," ucap Keylan dengan mata belagaknya dan mata yang dibuat sendu, padahal hanya sebuah cilok.
"Enggak ada, dokter kan sudah bilang kalau kamu gak boleh makan sembarangan, biar besok kamu cepat pulang," tambah Kesya.
Keylan merungut pada sang Mama, dengan memajukan kedua bibirnya. Setelah itu Kevano dan Kesya berjalan keluar dari sana, meninggalkan Keylan yang hanya ditemani Raka, seperti biasanya lagi.
Kevano dan Kesya berjalan di lorong rumah sakit, dan tak berapa lama mereka sudah sampai diluar rumah sakit, menuju parkir dan masuk kedalam mobil mereka.
"Aku lapar," ucap Kevano kemudian, setelah membawa mobil itu keluar dari area rumah sakit.
"Makan," jawab singkat Kesya, sepertinya Kesya masih tak enak hati pada Kevano akibat tragedi perdebatan beberapa hari lalu.
"Kok gitu sih jawabnya, yang,"
"Terus aku jawab apa? Kalau lapar kamu tidur gih, kan lebih ngaco,"
"Kamu masih marah soal itu, ya?" selidik Kevano.
"Gak,"
"Terus kenapa?" tanya Kevano lagi.
"Gak apa apa,"
Kevano terdiam, rasanya dunia hening dan ikut menyalahkan dirinya saat ini. Perempuan memang makhluk aneh, padahal hanya karena itu tapi bisa membuat seorang laki laki seperti makhluk paling salah di muka bumi.
Kevano memfokuskan pada mobilnya, sambil sesekali melirik jam ditangan kanannya, masih banyak waktu sampai meeting dilaksanakan, sementara Kesya masih terdiam sambil bermain ponselnya. Kesya juga belum berniat ingin kembali ke Resto sepertinya.
"Aku pengen makan mie ayam," ujar Kesya kemudian, Kevano menoleh tak percaya, seperti sebuah pelangi selepas hujan, dan angin setelah badai.
"Nanti aku tambah buncit lho," kata Kevano pelan, padahal ia juga ingin makan mie ayam itu.
"Gak apa apa, sesekali. Ke samping kampung ya,"
Kevano langsung memacu mobilnya menuju tempat yang sama yang ditunjuk Kesya, tempat yang mungkin sudah sangat lama tak mereka kunjungi. Bukan sibuk untuk makan diluar, tapi semenjak menikah dan memiliki anak Kesya menjadi seorang dokter kesehatan yang makan harus pilih-pilih, meskipun akhirnya perut Kevano tetap sedikit membuncit.
Sebenarnya buncitnya Kevano efek dari Kesya yang pintar memasak, padahal awal awal menikah Kesya payah dalam hal itu. Apalagi saat mengatakan ingin membuka resto, Kevano hampir tak percaya, tapi nyatanya semuanya berhasil.
Kesya berubah menjadi Chef Renata, yang awalnya tak tahu apa apa berubah dengan cepatnya.
Tak berapa lama mereka akhirnya sampai di tempat mie ayam langganan, Kevano saat kuliah dulu dan langganan juga saat Kesya dan Kevano sedang menikmati masa PDKT.
"Mang, mie ayam dua ya," pesan Kevano, sementara Kesya sudah duduk ditempat yang telah di sediakan, "Mang Ali kemana?"
Kevano bertanya begitu karena penjual mie ayamnya berubah orang.
"Saya yang ganti jualan mas, bapak lagi sakit, udah gak kuat jualan," jawab penjual mie ayam.
"Begitu ya, semoga cepat sembuh, salam buat mang Ali dari Kevano,"
Setelah mengucapkan hal itu, Kevano berjalan menuju Kesya.