My Berondong Husband

My Berondong Husband
#57 Bian dengan Masalahnya, Serta Kevano yang Bingung



Beberapa Hari Lalu


“Ikut gue, Sya.” Ucap Pak Ruben, Kevano mengangguk.


Mereka berdua berjalan menuju ruangan kerja pak bos Ruben, sementara trio kalong terus memperhatikan kedunya, dua bersaudara yang tak mirip, bahkan mereka bukan seperti saudara kandung dilihat dari sudut manapun.


Tak berapa lama mereka sampai diruangan Ruben, ruangan yang penuh aroma mint dan beberapa wangi alam, sengaja dipasang agar bau menyengat dari rokok tak terlalu tercium.


Ruben duduk dikursinya, sementara Kevano duduk didepan meja kerja Ruben sambil bermain ponsel.


"Lu udah kayak bodyguard, Sya." Ucap Ruben saat itu sambil menyesap coffe moka, kemudian menghembuskan asap vape ke udara.


"Gue cuma jagain istri gue doang, enggak salah, kan." Jawab Kevano dengan mata yang sibuk menatap ponsel.


"Salah sih enggak, tapi aneh. Lu jagain kayak dia anak kecil aja."


"Bang, Nur lagi hamil. Isinya itu anak gue, gue gak mau terjadi apa-apa sama kandungannya."


"Ah lebay lu. Pas hamil lu dulu, Mama sibuk kesana-kemari sendirian, ngurus kantor pas Papa lagi sakit. Buktinya lu lahir sekarang."


"Bukan gue. Lu bakalan ngerti kalau udah nikah dan istri hamil nanti." Ujar Kevano, meskipun berkata begitu, tapi matanya masih fokus pada ponselnya. "Lu manggil gue kesini ngapain? Gak mungkin kan cuma ngomongin soal gue yang ngintilin Nur?"


"Weh, sok penting banget lu. Gue cuma pengen ngobrol biasa. Kangen gue sama lu, lu jarang kerumah akhir-akhir ini. Mama kangen tuh."


"Boong banget, baru juga kemarin Mama datang ke apartemen, bawain makanan kesukaan gue lagi."


Ruben tak menjawab ia kemudian hanya diam, lalu menyingkirkan beberapa berkas yang ada di meja untuk ditaruh didalam lemari tua yang terbuat dari besi.


Ruangan Ruben memang tak ada perubahan sejak pertama kali dibuat, Papanya yang meminta dekor ruangan terlihat kuno dan tua, bukan agar terlihat membosankan tapi sepertinya Tuan Putra memiliki alasan tersendiri untuk melakukan hal itu. Mungkin.


Setelah menaruh berkas kedalam lemari, Ruben duduk kembali dan melihat sang adik yang terus bermain ponsel.


"Lu gak pengen tau keadaan Bian?" Tanya Ruben kemudian, mendengar hal itu Kevano mengalihkan pandangannya.


Entah karena apa tiba-tiba saja ia teringat laki laki yang bernama Bian, rasanya nama itu sudah hilang jauh sekali, bahkan ia tak tahu bahwa laki laki itu pernah ada.


Sesaat Kevano terdiam, pikirannya mulai aneh dan bahkan seperti bertanya-tanya. Bagaimana kabar lelaki itu didalam penjara? Selama ini memang ia dan Kesya tak pernah membahas soal Bian, bahkan saat bertemu Renata pun ia sudah lupa bahwa perempuan itu adik Bian.


"Malah ngelamun," Sambung Ruben.


Kevano menggeleng pelan.


"Enggak, gue cuma kaget aja tiba tiba lu bahas soal dia. Padahal selama ini gue gak pernah ingat soal dia." Ucap Kevano.


"Gue cuma pengen ngasih tahu aja, kalau Bian dapat potongan sama tahanan, cepat atau lambat dia bakalan keluar, Sya." Ujar Ruben.


"Terus? Hubungannya sama gue apa?" Tanya Kevano kemudian.


"Lu tahu kan, kalau Bian cinta mati sama Kesya. Pas keluar yang pertama kali dicari pasti Kesya, dia juga pasti dendam sama lu."


"Dendam gimana? Gue nikah sama Kesya sah, gue gak ngerasa merebut Kesya dari Siapapun. Karena saat itu mereka sudah gak ada hubungan apapun."


Meskipun mengucapkan hal itu, apa yang ada dalam pikiran Kevano berbeda. Ada benarnya ucapan Ruben tentang dendam yang ada pada Bian.


Karena sebelum didalam penjara, ia memang sudah begitu dekat dengan Kesya, bahkan berniat mengambil Menyadari Kesya dari Bian. Meskipun ia akhirnya mendapatkan Kesya karena masalah lain.


Kevano bukan takut karena akan apa yang terjadi nanti, tapi karena hal lain yang terus menganggu pikirannya sejak beberapa menit lalu.


Bahkan yang paling ia takutkan sebenarnya adalah, ia tak bisa melihat Bian berusaha mengambil Kesya dari hidupnya lebih lai mengambil anak yang kandungnya sendiri. Meskipun itu juga anak Kesya.


"Coba lu ajak Kesya lihat kondisinya Bian. Bicara perlahan aja, jadi orang dewasa sesuai keadaan lu sekarang, Sya."


"Bukannya gue gak mau, Bang. Tapi Kesya gak pernah bahas soal itu, kayaknya sejak Bian masuk penjara, dia berusaha melupakan Bian." Ucap Kevano.


"Lu ajak aja coba, perasaan gue gak enak."


"Gak enak gimana?"


"Gue punya mata-mata yang ngawasin gerak-gerik Bian, dan Bian juga punya mata-mata buat ngawasin seseorang."


Kemudian Ruben mengatakan apa yang terjadi selama Bisa didalam penjara, tentang seorang laki-laki bernama Reno dan seseorang yang terus Bian panggil sebagai pengacaranya.


Kehidupan mereka yang penuh dengan drama saling mematai-matai, bahkan asumsi Ruben soal firasat buruk itu bukan cuma firasat tapi sesuatu yang ia khawatirkan.


"Jadi maksud lu, ini ada hubungannya sama Kesya?" Tanya Kevano memotong penjelasan Ruben.


"Iya, kalau menurut gue ada hubungannya antara Kesya, Bian, Reno sama Laki-laki yang sering ketemu Reno. Target mereka kayaknya buat menghancurkan Bian."


"Kenapa Bian seakan jadi korban?"


"Enggak ada korban atau tersangka, semuanya punya motif buruk buat lawannya."


Kevano mengangguk, ia mulai paham dengan maksud Ruben. Memang seharusnya ia harus bersikap baik pada Bian, agar saat Bian keluar dari penjara tak menimbulkan masalah yang sudah ada sejak lama.


"Terus laki-laki yang bernama Reno itu gimana?"


"Dia cuma boneka yang sengaja digerakan laki-laki itu, Reno sengaja dibuat benci. Kemudian dimanfaatkan sama dia."


Masalah hidupnya terlihat makin rumit, Kevano mulai tak bisa berpikir jernih. Rasanya semua berubah dalam sekejap. Masalah yang tak pernah ia tahu, tiba-tiba saja menajdi bagian dari hidupnya.


Ia seakan diseret begitu dalam, kemudian dijatuhkan bersama-sama. Pikiran kecilnya begejolak, antara bingung dan tak sanggup.


"Papa udah tahu ini?"


"Enggak, gue gak mau ngasih tau. Lagian ini gak ada hubungannya sama keluarga kita, Om Gio masalahnya juga udah selesai, gak ada lagi."


Kevano kembali mengangguk angguk, ia mulai paham sedang situasinya. Ini adalah masalah dirinya, Kesya dan Bian, meskipun ia tak tahu motif dari laki laki itu apa. Bahkan dari penjelasan Ruben, ia belum tahu siapa laki-laki itu.


Ruben mengatakan bisa saja laki-laki itu orang terdekat diantara mereka, jika benar ia orang terdekat, dendam seperti apa yang dirasakannya hingga membuatnya begitu membenci Bian, bahkan berusaha membuat Bian terus celaka.


Pembicaraan itu berjalan seperti biasa, Kevano mendapatkan sebuah cerita baru yang membuatnya harus berhati-hati, bahkan saat keluar dari sana, ia berusaha bertenang mungkin.


Mengatakan pada Kesya bahwa mereka hanya melakukan obrolan biasa.


%%%


Hari Ini. Sekarang.


Bian masih berada didalam tahanannya dengan santainya setelah menikmati makan siang yang dititipkan sang Mama untuknya.


Jika bukan karena makanan itu, mungkin ia akan mati kelaparan. Makanan penjaranya yang rasanya tak karuan, kadang hambar dan aneh. Lauk yang tak pernah berubah bentuk, hanya itu-itu saja.


Bian kadang mual memakannya, ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi tahanan lain yang mungkin lebih buruk darinya. Mungkin mereka akan lebih mengeluh.


"Bian!" Teriak salah seorang polisi sambil mengetukkan senjatanya pada salah satu jeruji.


Bian menatap polisi, dengan mata sorot tajamnya. Ia tak menyukai mereka, bagi Bian mereka adalah sesuatu yang memuakkan, aparat yang berlagak punya kekuasaan.


"Kau punya mulut tidak?!" Sambungnya sambil membuka pintu tempat tahanan Bian.


"Kenapa? Kamu mau membebaskanku?" Tanya Bian kemudian, meskipun itu tidak akan mungkin terjadi.


"Mimpi. Tahananmu masih tiga tahun lagi, sidangmu masih berulang kali, bisa saja kau diperberat."


Bian tak menjawab ucapan polisi itu. Beberapa polisi memang terlihat arogan dan menyebalkan, maka dari itu tak heran jika kadang masyarakat tak menyukai sifat mereka.


"Aku berdiri, kepala penjaga mau berbicara sama kamu." Polisi itu memaksa Bian untuk berdiri, Bian mengikuti perintahnya jika tidak salah satu benda yang dipegang polisi itu bisa mengenai tubuhnya.


"Kenapa aku dipanggil?"


"Sudah ikuti saja."


Kemudian sang polisi mendorong perlahan Bian, semenatara polisi itu berjalan di belakang. Mereka berjalan keluar dari sel tahanan, menuju tempat yang diucapkan polisi tadi.


Dari keadaan seperti itu rasanya ingin sekali menyikut serta menendang sang polisi, tapi jika ia lakukan itu akan membuat kegaduhan nantinya. Tangannya serasa gatal ingin mendaratkan pukulan, karena sejak sampai disana selama setahun ini banyak polisi yang melakukan hal tak baik padanya, bahkan beberapa hal terlihat senonoh.


Tak berapa lama ia sampai di meja kepala tahanan, Bian dipersilakan duduk, dan kemudian polisi yang mengantarnya tadi berlalu pergi.


"Sore, Pak Bian. Bagaimana kabarnya?" sapa ramah kepala tahanan itu pada Bian. Berusaha bersikap ramah. Meskipun Bian tahu itu sebuah kebohongan.


"Baik, kecuali saat aku makan makananmu, aku akan jadi tidak baik." Jawab Bian dengan wajah datar nya. Ia tak bisa berusaha menanggung senyum untuk membuat polisi didepannya berkesan.


Mendengar ucapan Bian itu, kepala tahanan malah tertawa kecil, seakan yang dikatakan Bian itu sebuah lelucon atau bahkan hanya bualan biasanya yang sering ia dengar.


"Memang begitu Pak, bapak mau makanan seperti apa? Resto cepat saji atau restauran mahal, begitu?" gelak Kepala tahanan, ia tertawa lagi, Bian muak.


Bian tak merespon, hanya terus diam.


"Baik, begini Pak Bian. Saya mendapat amanat dari atasan, bahwa Pak Bian harus dipindahkan ke sel biasa. Tertulis mulai hari ini." Sambung kepala tahanan.


Raut wajah Bian berubah tak percaya dengan ucapan itu.


"Maksudnya?" Tanya Bian memastikan.


"Pak Bian, harus pindah ke sel biasa bersama tahanan lainnya."


"Loh kenapa begitu, Pak? Enggak bisa dong, saya kasus suap, gak mungkin saya ditahan di sel bersama kriminal lainnya. Masa saya harus bersama para pembunuh dan perampok." Ujar Bian terus, ia tak bisa terima dengan apa yang dikatan kepala tahanan.


"Pak ini sudah keputusan dari pusat, saya hanya menjalakan amanatnya."


"Enggak, saya pokoknya gak mau!" Bian tetap menolak, tapi Kepala tahanan tak merespon hal itu. Kemudian memaksa seorang polisi untuk membawanya pergi.


Bian berusaha memberontak dan menolak, tapi tangannya yang terborgol tak bisa melakukan apapun.


Ia hanya bisa mengikuti kemuan polisi yang membawanya pergi berjalan menuju arah lain dari sel tahanannya tadi.


Dari kejauhan nampak beberapa sel yang dimana satu sel diisi lebih dari tiga hingga lima orang.


Bian menggeleng kepala melihat sel barunya, ia merasa didiskriminasi, tak seharusnya ia berada ditahanan yang sama seperti para kriminal lainnya.


Mereka sampai disel baru Bian, polisi melepaskan borgol Bian lalu membukakan pintu, memaksa Bian untuk masuk.


Didalam sel itu ada tiga orang lainnya, wajah mereka memang tidak sesangar tipikal residivis kebanyakan yang ada di televisi, tapi tetap saja menakutkan baginya.


Ia benar-benar merasa seperti berada didalam mimpi buruk, disel lamanya ia sudah tak begitu nyaman, lalu pindah sel baru yang jauh lebih tak nyaman.


Sesaat setelah ia masuk dan duduk, ia hanya terdiam. Dua dari tiga tahanan yang usianya mungkin tiga hingga empat puluh tahanan melihatnya dengan seksama, tatapan baik yang tidak mengancam ataupun mengintimidasi.


"Pindahan dari mana, mas?" Tanya salah satu dari mereka, dengan nomor tahanan didadanya 0470.


"Tahanan kasus suap, Pak." Jawab Bian, terlihat ramah.


"Loh, kok pindah kesini? Ini untuk kriminal Pembunuhan sama pencuri." Sambung tahanan lainnya yang bernomor 3177.


"Enggak tau juga, saya dipaksa pindah."


Keduanya mengangguk-angguk pada Bian, Bian berusaha melegakan dirinya karena sepertinya teman barunya cukup ramah sebagai kesan pertama.


Kemudian meraka memperkenalkan diri, nomor 0470 bernama Idrus, nomor 3177 bernama Andri, dan salah satunya yang tengah tertidur bernama Japrak, dia sedikit emosional menurut kedua temannya Jarpak kasus pembunuhan terhadap satu keluarga.


Tak jauh dari tempat Bian, saat kembali pada sang kepala tanahan. Saat ini ia tengah terlihat pembicaraan dengan seseorang melalui telephone.


"Bian sudah saya pindahkan kesel lainnya. Saya akan membuat hidupnya serasa di neraka nanti." Ucap Kepala tahanan.


"Bagus, saya akan tambahan nanti komisinya, Pak. Anggap sebagai rasa terima kasih saya." Ujar seseorang dari ujung telephone sana.


Kemudian keduanya terlibat pembicaraan yang entah membahas hal apa.