My Berondong Husband

My Berondong Husband
#105 Persiapan Keylan Pulang



Kesya mengangguk lalu berdiri dan berjalan beriringan dengan Kevano, keluar dari resto dan membiarkan pegawainya mengunci pintu.


Saat sampai dimobil keduanya masih diam, sampai mobil itu melaju. Kevano belum berniat ingin mengajak Kesya untuk berbicara, ia ingin Kesya tenang lebih dulu.


Ini bukan pertama kalinya bagi Kesya bertemu dengan Bian, sudah berulang kali dengan motif yang sama, "meminta maaf".


Kevano tak bisa mencegah hal itu selama meraka tak beradu mulut atau saling serang satu sama lain, selama ini yang ia tahu bahwa  Bian berusaha meminta maaf dengan baik pada Kesya, sayangnya Kesya seperti tidak mau memaafkan.


Bertahun-tahun lamanya, Kevano seperti tak ingin ikut campur urusan yang telah lalu antara Istrinya dan Bian, sebelum Kesya yang ingin berbicara.


Kesya yang awalnya berniat tak ingin mengenal lagi seorang Bian, harus terus merasa waspada saat Bian bisa muncul dimana pun ia berada.


Bian memang tak ingin mengajak balikkan atau membangun kembali sesuatu yang sudah hancur selama ini, tapi mencoba meminta maaf Bian seperti sebuah terus yang menakutkan.


Tujuh belas tahun lalu, dari yang Kevano dengar jika mantan mertuanya ada masalah serius dengan Bian dan orang tua Bian, masalah apa itu pun tak begitu ia tahu, karena saat itu ia masih sangat muda untuk paham masalah begitu.


Beberapa tahun berlalu lewat, meskipun Kevano masih mengingatnya, dan ingin sekali bertanya, tapi Kesya menyimpannya dengan sangat rapat dan tak ingin mengingat kembali apa yang telah terjadi.


"Gimana tadi resto?" tanya Kevano kemudian, saat ia menghentikan mobilnya di deretan kemacetan.


Kesya membuyarkan lambannya lalu menatap Kevano yang awalnya terus melihat jendela, "Ehmm, ramai banget, sampai aku Bantuin,"


"Gak berniat cari tambahan pegawai?"


"Pengennya sih begitu, tapi nanti dulu lah, selama aku masih bisa bantu, aku rasa bisa mengirit uang dari resto, kan,"


Kevano memalingkan wajahnya pada Kesya lalu mengangguk perlahan. Mobilnya masih berjalan lambat seperti siput, karena macet padahal sudah pukul delapan malam.


"Kita pulang dulu ya,"  sambung Kesya.


"Iya kan Kita juga harus mandi, emang kamu mau ke rumah sakit dalam keadaan kayak gini nanti yang ada yang sakit," jawab Kevano tanpa memalingkan wajahnya ke arah Kesya lagi.


"Besok Keylan sudah boleh pulang, meskipun harus tetap dirawat,"


"Syukur lah kalau sudah boleh pulang, jadi jaganya lebih enak,"


"Emang kamu merasa kerepotan jagain dia?" tanya Kesya.


"Ya enggak kerepotan juga sih, cuma kalau dirumah kan kamu gak bolak-balik kerumah sakit-resto,"


Kesya hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Kevano.


Tak berapa lama mobil itu pun melaju kembali saat jalan tak begitu ramai dan macet, masuk jalan yang menuju perumahan elit orang kaya.


%%%


Selesai mandi dan bersiap-siap, Kesya dan Kevano sudah berapa dirumah sakit kembali. Kesya membereskan beberapa pakaian dan hal lain yang harus di bawa pulang nantinya.


"Selamat malam, Keylan chek sebentar ya," ucap seorang dokter dan bersama perawat masuk kedalam ruangan Keylan.


Kevano dan Kesya mengangguk, sang dokter kemudian memeriksa apa yang perlu ia periksa, kemudian menyuruh si perawat mencatatnya.


"Keylan sudah stabil dan dalam kondisi yang sangat bagus," sambung sang dokter.


"Berarti besok Keylan sudah boleh pulang, dok?" tanya Keylan kegirangan.


"Boleh, tapi ingat jangan melakukan hal yang berat-berat dulu, selalu jaga pola makan sama kesehatan, ya," pesan sang dokter.


"Kalau itu pasti, dok. Masakan Mama kan enak, kalau masakan rumah sakit gak enak, hambar," ucap Keylan, mendengar hal itu Kesya memukul pelan lengan Keylan, "Sakit, Ma,"


Sang dokter hanya tersenyum melihat tingkah Kesya dan Keylan, lalu berpamitan untuk pergi keluar dari ruangan.


"Gak boleh ngomong gitu," ujar Kesya pada Keylan.


"Memang dibuat begitu masakannya, biar gak ada campuran msg sama garam, kan gak baik buat kesehatan keduanya,"


"Aneh," celetuk singkat Keylan.


"Mama mau menata barang-barangmu dulu, kamu istirahat gih," perintah Kesya pada Keylan, tapi sepertinya Keylan tak memperdulikan hal itu.


"Keylan mau mabar sama Papa, satu kali main aja," ucap Keylan.


Mendengar hal itu Kesya langsung menarik ponsel yang sedang Keylan pegang, Keylan tak berani mengatakan apapun saat sang Mama menatap matanya.


Kevano yang sudah duduk di pojokan, kembali memutar ponselnya dan tak main game lagi.


"Mama bilang tidur, udah malam. Malah ngeyel," ujar Kesya menaruh ponsel Keylan diatas meja, "Papanya juga gitu, udah tau anaknya perlu istirahat malah dibiarkan main game, ditemani lagi,"


"Sekali aja lho, Ma," Ucap Kevano.


"Gak ada sekali kali, mulai sekarang Keylan gak boleh begadang,"


Keylan tak menjawab, ia malah berusaha menutup matanya, Kevano masih sibuk dengan ponselnya, sementara Kesya kembali menata lagi.


Setelah itu seseorang seperti hendak masuk dari luar, membuka pintu yang tak dikunci. Dua orang masuk kedalam, satu perempuan berusia sepantaran Kesya sementara satunya mungkin seusia Raka.


"Malam," Ucap perempuan itu yang tak lain adalah Laras.


Kesya dan Kevano menatap sedikit aneh dan kaget dengan kedatangan Laras yang begitu mendadak. Kesya sedikit kagok dan bingung.


"Ma-malam juga, duduk," Ujar Kesya menyuruh Laras duduk tak jauh dari Kevano duduk.


"Ini buat Keylan,"


"Terima kasih, padahal kami besok mau pulang,"


"Oiya, berarti aku telat, ya," ucap Laras.


"Enggak apa apa, berdua aja?" tanya Kesya lagi, matanya masih menelisik mencari sosok yang seharusnya bersama Laras, yakni Bian sang suami.


"Bian ada di mobil, katanya ngantuk, jadi aku suruh tidur aja," jawab Laras.


Kesya berusaha mengangkat bibirnya keatas, sedikit bergetar.


"Kamu tau Keylan masuk rumah sakit dari mana?" tanya Kesya.


"Dari Bian, dia yang ngasih tau,"


Kesya hanya mengangguk sambil berkata-oh-panjang, sementara Kevano hanya bisa terdiam di pojokan tanpa melakukan apapun.


Kesya masih merasa aneh berbicara dengan Laras, maskipun Laras dulu mantan karyawan sang papa, tapi lebih dari itu, karena ia dan Laras dulu sama-sama menyukai laki-laki yang sama, yakni.


Kesya berusaha santai mengobrol, meskipun masih nampak canggung, sementara Laras terlihat biasa dengan omongannya yang banyak.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, seharusnya jam besuk sudah habis, maka dari itu Laras tak begitu lama berada disana.


Laras dan sang anak berpamitan untuk pulang, berjalan keluar rumah sakit dan menuju parkir, dimana Bian berada.


"Cepet banget, aku masih ngantuk," kata Bian berusaha bangun.


"Aku aja yang bawa kalau kamu ngantuk," ucap Laras.


Bian menggeser tubuhnya menuju kursi samping dan duduk disana, menyadarkan kepalanya dan mencoba tidur, sementara mobil yang membawa Laras.


Laras membawa mobil itu keluar dari area rumah sakit.