
Pagi itu Fahrul sengaja datang sedikit pagi ke rumah Faisal, dia akan meyakinkan Faisal agar Bilqis segera menikah dengannya.
"Selamat pagi, om Faisal!" seru Fahrul yang sudah berada di rumah besar milik Faisal.
"Selamat pagi." jawab Faisal.
"Terima kasih ya Om, karena sudah mau mengundang Fahrul ke mari." ucap Fahrul dengan wajah yang begitu bahagia.
Fahrul Hamzah, seorang pengusaha muda berlesung Pipit yang begitu menawan. tutur katanya memang sopan, namun entah seperti apa sifat sebenarnya dari pria itu.
"Pagi, ayah!!" seru Habibie.
Pagi di Minggu yang begitu ceria di rumah Faisal, seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul. tapi sayang hari ini Kakek Fajar dan nenek Yanti sedang menginap di rumah besar milik kakek Fajar.
"Ayah, mengapa ayah mengizinkan Hani ikut kakek ke tempat Kakek. sedangkan aku dan Haikal tidak boleh ikut." rengek Habibie.
"Kamu tuh, kalau kalian bertiga ikut kakek ke rumah besar..,pasti kalian di sana cuma main saja tanpa mau belajar." jawab Faisal.
"Main itu bisa membuat otak berkembang, ayah." ucap Habibie.
"Berkembang apanya, jika kalian pergi ke arena balap liar. itu namanya cari masalah." jawab Faisal sambil menepuk dahi putranya dengan koran.
"Itu kan cuma uji nyali, ayah." Haikal yang mencoba membantu saudaranya.
"Sudah, sudah. kalian ini banyak alasan,memang kalian suka balap liar nurun dari siapa?" tanya Faisal yang secara tidak sengaja.
"Apa maksudmu, mas!" seru Aruna.
Faisal nampak terdiam, pria itu lupa kalau Isterinya dahulu sangat menyukai balap liar.
"Maaf sayang, aku lupa!" seru Faisal.
"Yeye...,nanti malam ayah bakal tidur di kamar kami." ejek Habibie dan Haikal.
"Dasar kalian." ucap Faisal yang kemudian berjalan mendekati sang isteri.
Di ruang tamu, terlihat Fahrul menatap Habibie dan Haikal. "Hai Habibie, Haikal." sapa Fahrul.
"Hai mas Fahrul." jawab Habibie.
"Jadi..., kalian berdua suka dengan motor balap ya?" tanya Fahrul yang mencoba mendekati Habibie dan Haikal.
"Suka banget sih, Soalnya waktu kecil mami pernah ngajak kami untuk melihat mami melakukan balap motor tanpa sepengetahuan Ayah. ketika ayah mengetahuinya, wow..., Ayah marah banget sampai-sampai mami tidak boleh lepas dari ayah, mami harus ikut Ayah 24jam." jawab Haikal sambil tersenyum menatap saudara kembarnya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke sirkuit untuk lihat balap motor?" tanya Fahrul. pria itu mencoba untuk mengambil hati si kembar agar mau berpihak kepadanya.
"Tidak mas, daripada Kami nanti kena omelan Ayah sehari penuh.., Mas tidak tahu sih kalau Ayah sedang marah dia itu cerewet melebihi mami, kami males mendengarnya." jawab Habibie yang diangguki oleh Haikal.
"Aku akan bilang kepada Om Faisal agar kalian boleh ikut denganku." ucap Fahrul.
"Tidak Mas, lebih baik kami menyelamatkan diri. apalagi kalau sampai Hai Kak Bilqis tahu dia pasti marah banget sama kami." ucap Haikal yang kemudian menatap ponsel yang dari tadi dia bawa.
"Ayo cepat kita pergi, ini sudah waktunya." ucap Haikal.
"Kalian mau kemana?" tanya Habibie.
"Kami mau mengerjakan tugas sekolah." jawab Haikal yang kemudian pergi bersama Habibie.
Fahrul nampak tersenyum, pria itu mengira kalau dia akan bisa mengambil hati Haikal dan Habibie. padahal dua bocah kembar itu sudah diancam oleh Bilqis agar mereka tidak terlalu dekat dengan Fahrul.
Sekitar 30 menit kemudian terlihat Faisal kembali ke ruang tamu.
"Ayo Fahrul, makan dulu." ajak Faisal.
"Iya Om." jawab Fahrul yang kemudian berjalan mengikuti Faisal di ruang tamu. nampak Fahrul menatap Bilqis yang memakai pakaian santai serta memakai bandana dan rambut yang terikat ke atas.
"Sayang, bisa ambilkan satu piring lagi nggak?" pinta Faisal.
Di meja kan sudah ditata satu piring, Mas. Memangnya Mas mau makan 2 piring sekali makan?" sindir Aruna yang membuat Faisal tersenyum.
"Habibi, Haikal. Ayo makan, Nanti kalian tidak kebagian loh!!" seru Bilqis yang membuat Haikal dan Habibie langsung ke ruang makan.
Tatapan mata Fahrul menatap Bilqis yang memang berwajah sangat cantik. "Seandainya kau bukan putri dari musuhku, Aku mungkin tidak akan berusaha untuk balas dendam kepadamu." guman Fahrul dalam hati.
"Oh ya Fahrul, katanya rumahmu di dekat tempat kami. kau tinggal di mana?" tanya Aruna kepada Fahrul.
"Di apartemen Taman Dahlia, Tante." jawab Fahrul.
"Apartemen itu ya." jawab Aruna.
"Memangnya tante punya teman di sana ya?" tanya Fahrul.
"Banyak, tante punya teman di sana sangat banyak. bahkan beberapa di antara mereka adalah investor di apartemen itu." jawab Aruna yang kemudian menyajikan makanan.
Fahrul menganggukkan kepalanya, dia bersikap begitu santai tanpa memikirkan kalau Aruna sudah mulai menyelidiki dirinya dan membuat rencana untuk menggagalkan balas dendam Fahrul.
"Oh ya, nanti sore kamu mau nggak ikut aku jalan-jalan sama adik-adik mu?" tanya Fahrul.
"Aku tidak tahu Mas, karena aku juga harus menyelesaikan beberapa tugas dari mata kuliah ku." jawab Bilqis.
"Bagaimana kalau kita ke perpustakaan, kan saja nanti di sana kita bisa mengerjakan tugasmu sambil melihat-lihat referensi buku baru." ucap Fahrul.
"Ogah ah, kalau aku ke perpustakaan umum Aku malas!!" seru Haikal.
"Otakmu itu otak minim, makanya males baca buku." sindir Habibie.
"Memangnya otakmu itu besar, kau saja kalau mengerjakan tugas selalu cari Mbah Google." jawab Haikal yang membuat orang-orang yang ada di ruangan itu nampak tersenyum.
"Sudah, cepat makan nggak usah banyak bicara. kalau sudah selesai makan pembicaraannya dilanjutkan." pinta Faisal yang membuat semua orang yang ada di rumah makan terdiam.
Secara diam-diam terlihat Fahrul terus menatap Bilqis, cara makan Bilqis, senyumnya dan semua gerakan Bilqis. tujuan Fahrul hanyalah ingin membalas dendam kepada Bilqis, karena kesalahan ayah kandungnya pria itu akan menghancurkan Bilqis kemudian membuat Surya menderita.
Sekitar 40 menit kemudian, Setelah selesai makan orang-orang yang ada di tempat itu nampak sudah berada di ruang tamu.
"Bilqis, lebih baik kamu ikut Fahrul saja untuk pergi ke perpustakaan agar tugas-tugas mau itu selesai." pinta Faisal.
"Entahlah ayah, akan aku pikirkan dahulu." jawab Bilqis.
"Ikut saja Bilqis, daripada nanti kamu dibuat pusing sama dua adikmu itu." jawab Aruna yang membuat Bilqis mengiyakan semua permintaan Fahrul.
"Ternyata wanita tua itu sudah menerima kehadiranku, sebentar lagi aku akan membuat putrimu ini menderita. Jika dia sudah menikah denganku akan ku pastikan dia menderita tanpa bisa kembali kepada kalian." guman Fahrul dalam hati. Entah berapa rencana yang dimiliki oleh Fahrul, namun Aruna dan Bilqis juga sudah mempunyai rencana untuk menggagalkan seluruh rencana Fahrul.
"Oh ya Mas, nanti aku mau ke tempat temanku untuk melihat kondisi suaminya yang mulai membaik." ucap Aruna.
"Nanti supir yang antar ya." pinta Faisal.
"Boleh." jawab Aruna.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Black Rose
- Mommy
- Mantan terindah
- Suami keduaku cinta pertamaku
- Dewa perang dan Ratu sihir
- Permaisuri sang kaisar
- ijinkan aku bahagia bersamamu
- jangan sakiti aku