MOMMY

MOMMY
Hari Rabu



Episode sebelumnya


Itu karena Leana tidak ingin menampakkan dirinya ketika Ghea baru saja pulang kerja. Ketika masih di rumah, Ghea akan marah ketika melihat Leana saat baru datang dari tempat bekerja. Biarlah aku dan Kak Ghea bertemu besok pagi saja, pikir Leana lalu menonton televisi di kamarnya.


Sebenarnya Leana bosan sekali, hp nya tertinggal di mansion Devan. Ah ada-ada saja.


...****************...


Hari berikutnya (Rabu)


Kemarin, Ghea tidak pulang, jadi Leana makan malam sendirian, sedangkan Ibu Mayang berada di kamarnya yang sudah bersih lagi.


Pukul 6 pagi, Leana sudah pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan untuk pagi dan siang hari.


Di pasar ia bertemu dengan beberapa ibu-ibu tetangga yang tinggal di daerah yang sama.


"Eh? Leana ya? Apa kabar?" Tanya Bu Desi.


"Iya Bu, baik kok, Ibu gimana?" Tanya Leana se ramah mungkin.


"Baik juga, mau beli apa?" Tanyanya.


"Ini masih bingung Buk, kayaknya jagung deh. Di rumah masih ada daging ayam." Leana memilih-milih.


"Udah lama gak liat Leana, kamu ke mana aja, Na?" Tanya Bu Hani.


"Leana jadi baby sitter, Buk, di kota B," jawab Leana.


"Oh..."


"Majikan kamu gimana? Pasti kaya banget ya?" Tanya Bu Lili.


"Hahaha, gitu deh, Buk," jawab Leana seraya tertawa kecil lalu dibarengi oleh ibu-ibu yang lain.


Setelah selesai dari pasar, Leana segera pulang untuk memasak. Leana juga rindu dengan kegiatannya ketika di rumah, meskipun itu merepotkan dan melelahkan, tapi itu sudah jadi kebiasannya.


Sedang asik memasak di dapur, Leana mendengar suara Ghea, itu adalah Ghea yang baru bangun.


"Hoam..." Ghea duduk di kursi meja makan sembari mengucek matanya agar dapat melihat siapa yang berdiri di depan kompor.


"Pagi, Kak..." Sapa Leana.


"Tumben Mama nyapa kek gitu," sahut Ghea yang nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya.


"Bukan Mama, Kak..." Ujar Leana lagi tidak lupa dengan senyuman manisnya yang menahan tawa.


"Terus siapa?" Tanya Ghea terdengar acuh.


"Ana," jawab Leana singkat dan bernada., tidak lupa juga tersenyum.


"Ana?" Ghea menimbang-nimbang. "HAH!?" Pekiknya ketika sadar. "Kapan lo pulang?" Tanyanya sambil mendekati Leana.


"Kemarin, Kak. Emang Kakak kemarin malem pas pulang, gak makan dulu ya?" Leana bertanya kembali setelah menjawab pertanyaan Ghea.


"Kagak. Gue langsung tidur. Pantesan ada makanan, tapi gue gak makan, gue kira Mama yang masak. Terus sekarang Mama mana?" Tanya Ghea masih tetap ketus seperti sebelum-sebelumnya.


"Ibu belum ada keluar sih, Kak, tapi ga tau juga deh. Soalnya tadi Ana sempet pergi ke pasar," jelas Leana dengan lembut.


"Ga ada oleh-oleh buat gue?" Tanya Ghea kembali duduk dan menyisir rambutnya dengan jari-jarinya.


Leana mematikan kompor, lalu pergi ke kamarnya. "Tunggu di situ," ucap Leana.


"Apaan sih tu anak?" Gerutu Ghea sambil mengambil satu potong tempe goreng lalu memakannya. "Hem... Enak," gumam Ghea.


Leana kembali ke dapur dan memberikan selembar kertas pada Ghea. "Nih, Kak. Dikasih sama majikannya Ana, aku kasih ke Kakak sama Ibu aja," ujar Leana.


"Apa nih? Cek?" Tanya Ghea sembari mengambil kertas cek itu. "BUSET!? Seratus juta!?" Ghea tampak tercengang dengan nominal uang yang tertulis di atas kertas persegi panjang itu. "Ngapain aja lo di situ?" Tanya Ghea.


"Jagain anak yang ngasih cek," jawab Leana yang sudah kembali dengan aktivitas memasaknya.


"Yang bener? Masa iya cuman jadi baby sitter bayarannya segini? Lo,'kan di sana belum lama-lama banget," tukasnya.


"Leana mah nerima aja, lagian yang ngasih bukan majikannya Ana, ini dititipin ke kepala maid, katanya sih disuruh ngasih ke Ana. Ya udah, karena udah berhak, Ana ambil deh," jelas Leana dengan jujur dan polos apa adanya.


"Gak penting sih. Intinya ini buat gue semua," ucap Ghea.


"Aman," sahut Ghea santai. "Kalo semuanya udah siap, panggil gue ya." Ghea pergi dari dapur untuk ke kamar Mamanya, sekalian mengecek apakah dia sudah bangun, ini sudah pukul 7 lebih.


Tok tok tok


Tanpa menunggu jawaban dari Mamanya, Ghea segera masuk ke dalam kamar Mamanya.


"Ma. Bangun, Ma," ujar Ghea sedikit teriak karena senang.


"Aduhh.... Kenapa sihh...?!" Tanya Mama Mayang dengan nada malas dan marah.


"Ini, Ma. Liat deh, KITA KAYA!" Seru Ghea yang sudah tidak tertahan bahagianya.


"Apa sih!?" Mama Mayang berusaha keras untuk tidak emosi, tapi jujur dia ingin menendang anaknya sendiri. Mama Mayang duduk dan mengumpulkan nyawanya, dia masih mengantuk.


"LIAT, MA. LIAT!" Ghea berseru, tapi tidak berteriak. Kebayang ga si? Teriak, tapi gak teriak😁 ya gitu deh pokoknya.


Mama Mayang duduk lalu mengambil kertas yang ditunjukkan oleh Ghea tadi. Ayo hitung bersama.


1


2


3


4


5


"HAH!?" Mata Mama Mayang seketika melotot ketika sudah melihat digit angka yang tertera pada cek tersebut.


"Ssustt..." Ghea menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sebagai isyarat agar Mamanya memelankan suara. Ga enak cuy, masih pagi udah ribut, ntar dikira kenapa lagi.


"Ini punya siapa?" Mama Mayang masih sedikit melotot.


"Punya kita, dikasi Leana. Mantap juga tuh anak," jawab Ghea dengan sombong seraya duduk di sebelah Mama nya yang duduk di atas tempat tidur.


"Waduh. Kalo gini terus, cepet kaya kita. Apa kita sekap aja ya si Leana, terus minta tebusan." Keluar sudah sikap asli mereka, padahal Leana baru saja pulang kemarin.


"Emang majikannya mau ya? Ghea sih gak yakin bakalan ditebus. Lagian cuman baby sitter, mending nyari yang baru kalo Ghea yang jadi majikannya. Ngapain susah-susah nebus," jawab Ghea yang tidak setuju dengan akalan Mamanya.


Seferti ini, seferti di felem-felem disniey. Maksudnya, kayak, emang ada? Majikan yang mau nebus buat keselamatan baby sitter yang bahkan bukan termasuk keluarganya. Duh... Kurang kerjaan banget. Mending nyari yang baru.


"Eh iya juga ya. Ya intinya, jangan kasih Leana balik lagi deh. Takutnya dia pergi, terus pulang nya gak tau kapan. Ini aja kita gak tau dia mau di rumah sampe kapan. Biasanya kalo baby sitter cuti ya paling bulanan atau dua mingguan." Mama Mayang setuju kalau misalkan idenya tadi tidak masuk akal.


"Udah jangan dipikirin dulu, mending kita makan. Sambil caper ke Leana, biar dia mikir kalo kita udah mau nerima dia," ajak Ghea.


"Oh iya bener... Ide bagus tuh," timpal Mama Mayang.


Mereka berdua keluar dari kamar dan menuju dapur. Terlihat Leana sedang merapikan meja makan yang di atasnya sudah tersedia beberapa lauk dan sayur. Sederhana namun Ghea dan Mamanya sudah terlihat begitu kelaparan.


Ya jelas lah, selama sebulan lebih makan lauk yang keasinan lah, gosong lah, ya pokoknya ga ada yang normal kecuali mie instan atau delivery. Kasian banget deh... Siapa suruh hidup bergantung pada orang lain.


"Ini udah mateng ya, Na?" Tanya Ghea sambil menarik kursi untuknya duduk.


"Udah, Kak," sahut Leana. "Baru aja Ana mau manggil kalian berdua. Eh udah pada dateng. Ayo dimakan. Bu? Gimana tidurnya? Nyenyak?" Tanya Leana sekedar basa-basi.


"Nyenyak kok, Na. Kamu juga sarapan ya," ucap Mama Mayang.


"Siap." Leana duduk lalu ikut sarapan. Hening tapi Leana bahagia karena setelah sekian lama, ini pertama kalinya mereka bertiga makan bersama. Biasanya Leana akan makan sendiri, yang paling menyedihkan adalah Leana harus makan besoknya, atau yang sudah basi.


Setelah sarapan, Ghea mandi lalu pergi bekerja meninggalkan Mama Mayang dan Leana berdua di rumah. Tapi tak lama kemudian beberapa Ibu-ibu mendatangi rumah dan mencari keberadaan Ibu Mayang untuk diajak pergi.


Ibu Mayang sih bilangnya mau pergi jalan-jalan. Ya sudah, dari pada di rumah canggung cuman berdua, Leana mengiyakan Ibu tirinya untuk pergi. Alhasil, Leana di rumah sendirian sampai pukul 6 sore. Ibu Mayang pulang jam 6 sore, sedangkan Leana sudah selesai memasak.


.........


Bersambung guys...


Kiw dukungannya 🤭


Ayo like, komen, dan subscribe. Vote juga gak sih...😸😸😸