MOMMY

MOMMY
Meet Jihan



Episode sebelumnya


"Iya-iya, aku pergi kerja dulu... Aku pamit Kak, Bu," ucap Ana sambil berlalu dari hadapan Kakaknya.


"Hem." Ghea hanya berdehem.


...****************...


Brukk!


"Eh? Kamu siapa manis..?" Balita itu tidak menjawab apapun, balita itu hanya diam memandang Leana yang baru saja ditabraknya bahkan tidak berdiri dari duduknya. Balita itu terduduk karena menabrak Leana tadi.


"Hem... Orang tua kamu mana yah" Balita itu tetap tidak menjawab. "Aku harus apakan dia?" Gumam Leana kebingungan dengan balita itu.


"Bagaimana bisa tersesat sayang..?"


"Sepertinya kamu terlalu kecil untuk berbicara. Hem... Oke, kamu ikut aku dulu sampai kita ketemu sama orang tua kamu ya." Kini Leana mengerti, kalau balita itu masih terlalu muda untuk berbicara. Leana segera mengangkat balita itu ke dalam gendongannya.


"Aku harus pergi kemana ya biar bisa ketemu keluarga yang bersangkutan? Aisshh! Masih pagi loh ini..." Gerutu Leana yang kebingungan dan menghentikan langkah kakinya. "Oh iya, satpam mungkin bisa membantu," ujarnya dalam hatinya lalu segera menyebrangi jalan, sampailah Leana bersama dengan balita di sebuah Bank, ia segera menghampiri seorang petugas keamanan yang ada di sana.


"Ada yang bisa saya bantu, Nak..?" Tanya satpam tersebut saat melihat Leana berada di depannya.


"Begini, Pak, saya menemukan anak ini, tapi saya tidak tahu siapa pemiliknya," jawab Leana sambil memperlihatkan balita yang ia gendong. Balita itu memandangi wajah Leana yang sedang menggendongnya, dia seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tidak bisa.


Petugas keamanan itu memandangi balita yang dimaksudkan, ekspresinya langsung berubah, seketika ia menjadi kaget, Leana yang menyadari kalau ekspresi dari petugas itu berubah segera bertanya, "Ada apa, Pak?"


"Dia... Anak dari Tuan Devan," ujar si petugas keamanan.


"Jadi?" Gadis itu terdiam, ia benar-benar tidak tahu siapa Tuan Devan dan harus bagaimana jika itu anaknya?


"Ayo ikut saya," ajak si satpam sambil berjalan mendahului gadis cantik itu beserta si balita yang masih berada di gendongannya.


Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di sebuah ruangan, ber-AC, bersih, rapi dan nyaman di dalam Bank.


"Wahhh..." Leana masih menggendong balita itu sambil bergumam karena ia sungguh kagum dengan ruangan itu. "Apa anak ini anak konglomerat..?" Gumamnya dalam hati sambil melihat ke sekeliling ruangan itu.


"Ada apa, Pak?" Tanya seorang pria di ruangan itu kepada si satpam yang baru saja selesai menutup pintu. "Hey. Bagaimana bisa Jihan bersama dengannya?!" Sambungnya dengan nada yang meninggi ketika pria tersebut memandang ke arah Leana.


"Emm, ini..." Leana yang tidak tahu apa-apa kini ketakutan dengan raut wajah dari pria itu yang sedang mengintimidasinya.


"Tenang-tenang, biar saya jelaskan. Mungkin baby sitter dari Nona Jihan lalai dalam menjaganya, jadi dia berkeliaran sendiri," pak satpam itu mulai membantu meluruskan situasinya.


"Kenapa kau membelanya?" Tanya pria itu dengan raut wajah masih tidak senang.


"Karena saya tidak melihat tanda-tanda kejahatan di wajah gadis ini," jawab pak Satpam dengan tenang. Pria itu hanya memandang sinis ke arah Satpam, "Itu benar bukan?" Sambung si Satpam.


"Siapa namamu?" Tanya pria itu kepada Leana yang masih setia menggendong balita itu.


"Em. Leana. Eh, panggil saja Ana," Leana benar-benar takut dengan pria itu, dia bahkan sampai gelagapan.


"Sebentar... Bukankah kau salah satu pekerja di Bar CR?" Tanya pria itu sambil menekuk alisnya.


"I-iya." Mulut Leana bergetar karena takut terhadap pria yang kini berdiri di hadapannya.


"Santailah. Saya tidak memakan manusia," nada pria itu kini merendah namun Ana tetap menundukkan kepalanya.


Pria itu menghela nafas panjang lalu berkata, "Pergilah," ujar si pria terhadap satpam tadi. Tanpa banyak bicara, Satpam itu segera pergi, Leana semakin takut dan gugup saat satpam sudah keluar. "Maafkan saya. Kau masih takut?" Tanyanya. Leana hanya mengangguk lalu memeluk Jihan lebih erat.


"Maaf telah membuatmu takut. Kau bisa memanggilku Raffa, sekarang ikut saya untuk mengembalikan Jihan ke tempatnya," pinta Raffa.


Raffa bersama dengan Leana yang menggendong Jihan berjalan beriringan menuju parkiran mobil, banyak karyawan yang membicarakan tentang mereka berdua. Raffa hanya menatap Ana sebentar lalu kembali fokus ke depan.


"Kenapa kau duduk di belakang?" Raffa bingung setelah Ana masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang.


"Aku hanya ingin duduk di sini," jawab Ana apa adanya.


.


.


5 menit kemudian mereka bertiga sampai di sebuah rumah, dengan plakat yang bertuliskan "Penitipan Anak".


"Tunggu di sini. Aku akan segera kembali," ujar Raffa lalu keluar dari mobil meninggalkan Ana dan Jihan.


"Seharusnya dari awal aku tidak berempati terhadap anak kecil ini. Semoga saja hidupku tidak dipenuhi oleh kerumitan setelah ini." Ana berdoa untuk keselamatan dirinya sendiri.


Tidak lama kemudian, Raffa keluar dari rumah itu dan diikuti oleh seorang perempuan yang sepertinya seumuran dengan Ghea, atau mungkin dengan Ana sendiri.


Ana tidak ingin tahu apa yang dibicarakan oleh kedua orang di luar itu, jadi Ana tetap diam di dalam mobil.


"Tolong beri aku satu kesempatan lagi, Raffa..." Pinta perempuan yang mengikuti Raffa tadi dengan wajah memelas nya.


"Tidak! Tidak akan pernah. Kau hampir saja membuatnya celaka!" Raffa benar-benar marah terhadap perempuan itu. Raffa segera masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesinnya.


"Raffa! Raffa! Satu kali kesempatan saja..." Teriaknya dari luar mobil sambil memukul-mukul kaca mobil. Sayangnya, Raffa tidak peduli sedikitpun terhadapnya dan segera pergi dari depan rumah penitipan anak itu.


Ana segera duduk ke sisi lain dari mobil itu, takut kalau-kalau nanti kaca mobilnya pecah, ia tidak tahu kalau kaca itu tidak akan pecah hanya karena dipukul oleh tangan seorang perempuan.


Jihan yang tidak mengerti apa-apa sekarang mulai menangis, mungkin karena Jihan merasa takut dan terganggu oleh perempuan itu.


"Tenang sayang... Tidak akan terjadi apa-apa..." Suara lembut dan pelukan hangat dari Ana berhasil membuat Jihan tenang. "Tenang ya...?" Tanya Ana terhadap Jihan yang sudah mulai reda tangisannya. Jihan mengangguk mengiyakan, dia mengerti apa yang dikatakan oleh Ana? Tapi dia tidak bisa menjawabnya? Bagaimana bisa?


Ana bingung dengan keadaan ini, ketiga pertanyaan itu ada dipikiran Ana sekarang. Tapi Ana tidak terlalu memikirkan itu karena Jihan sepertinya ingin tidur, dan benar saja, beberapa menit kemudian Jihan sudah tertidur pulas di pangkuan Ana.


"Nona Jihan sudah tertidur ya?" Tanya Raffa.


"Iya," jawab Ana sambil menatap Raffa dari kaca mobil depan, Raffa juga melakukan hal yang sama.


"Kau sudah tidak takut denganku lagi,'kan?" Tanya Raffa.


"Sepertinya aku tidak takut lagi..." Jawab Ana sambil membenarkan posisi duduknya. "Maaf aku lancang. Tapi perempuan tadi itu siapa?" Tanya Ana.


"Tadi itu pengasuhnya Nona Jihan. Tuan Devan percaya penuh kepadanya, namun perempuan itu tidak pernah menjaga Nona Jihan dengan baik dan benar," jawab Raffa sambil tetap mengemudi.


"Jadi, Tuan Devan itu siapa...?" Tanya Leana.


"Kau benar-benar tidak tahu?" Raffa menekuk alisnya tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan dari mulut Leana.


"Tidak..." Leana sudah jujur.


"Tuan Devan itu Ayahnya Nona Jihan. Dia itu pemilik dari Bank yang tadi. Dia juga punya cabang lainnya di negara ini," jelas Raffa. "Bukan hanya itu. Masih banyak penghasil uang yang dimiliki oleh Tuan Devan," sambung Devan. Devan sebenarnya bingung harus menjelaskan dari mana, itu karena orang yang bernama Devan memiliki banyak sekali penghasil uang.


"Begitu rupanya... Tapi, bagaimana dengan Ibu dari Nona Jihan?" Leana tiba-tiba merasa penasaran tentang balita yang dipangkunya sekarang.


"Ah soal itu aku tidak tahu spesifikasinya. Yang aku tahu hanya kira-kira tiga tahun yang lalu Ibu dari Nona Jihan pergi dari rumah dan tidak kembali sampai saat ini. Kalau menurutku sendiri mungkin mereka sudah bercerai, tapi sampai saat ini aku tidak berani menanyakan tentang hal itu kepada bosku itu," jelas Raffa panjang lebar.


"Terima kasih sudah mau bercerita. Aku kasihan pada Nona Jihan, dia mengerti dengan apa yang aku katakan, tapi dia tidak bisa menjawabnya," ucap Ana sembari membelai lembut wajah Jihan yang matanya terpejam karena sedang tertidur pulas. "Nona kecil ini bahkan sangat kelelahan, dia tidur begitu pulas," sambung Ana tersenyum menatap Jihan.


"Sepertinya kamu sudah menyayanginya seakan-akan dia adalah satu-satunya keluarga yang kau miliki," sahut Raffa yang menatap Ana dari kaca mobil.


"Begitulah..." Ana bingung harus menjawab apa.


.........


Bersambung guys~


Aduh, gimana ya... Yaudah deh, udah terlanjur dipublikasi 😸