
Beberapa hari kemudian akhirnya Faisal membawa sang isteri pulang,Aruna akan melakukan rawat jalan seperti yang sudah di beri tahu dokter Fahrul.
"Mami!" seru Habibie dan Haikal.
"Apa,Ada apa?" tanya Aruna.
"Lihat, kami buatin mami puding kesukaan mami." jawab Haikal.
"Bohong mam, Hanifa yang buatin tadi!" bentak Hanifa yang tidak terima.
"Anak-anak mami..,Bisakah mami meminta tolong kepada kalian?" tanya Aruna yang membuat Habibie dan Haikal langsung menatap mami mereka.
"Boleh mami, mami mau minta tolong apa?" tanya Habibie.
"Bisa tidak kalau berbicara itu tidak usah ngegas, kalian kira ini arena balap sirkuit sirkuit gitu? Jadi kalian kalau bicara pakai ngegas." ucap Aruna yang terlihat menatap 3 anak kembarnya.
"Habis Haikal sama Habibie begitu sih mam, enggak buatin apa-apa cuma datang-datang langsung bawa makanan yang dibuatin Hanifa."jawab Hanifah.
"Lagian walaupun kalian itu seorang pria, Kenapa kalian tidak berusaha untuk belajar memasak. Ayah kalian aja pintar memasak." ucap Aruna yang membuat Habibie dan Haikal nampak tersenyum.
"Nggak usah pamer senyum gitu, kalau salah seharusnya kalian minta maaf bukan pamer gigi gitu." sindir Aruna yang membuat 2 jagoannya itu langsung tersenyum.
"Oke Hanifa, kami minta maaf ya enggak usah marah-marah gitu dong. nanti wajah cantikmu itu berubah menjadi menjengkelkan." ucap jawab Habibie yang membuat Hanifa malah berkacak pinggang sambil melotot.
"Tuh kan mami, lihat deh dua anak kesayangan mami ini mereka itu selalu menyebalkan!!" seru Hanifa yang kemudian berjalan mendekati ibunya yang sedang beristirahat.
"Kalian ini tidak bisa apa kalau tidak bertengkar!!" seru Faisal yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Ayah, kami mau menagih janji Ayah?!" seru Habibie dan Haikal.
"Memangnya Ayah berjanji apa?" tanya Faisal kepada dua putranya.
"Ayah kan bilang kalau Ayah mau membelikan kami motor sendiri." jawab Habibi yang membuat Faisal langsung terdiam. pria itu melotot kearah dua putranya, Hal itu membuat Aruna yang sedang beristirahat langsung secara spontan turun dari ranjangnya dan mendekati tua putranya.
"Katakan sekali lagi, Ayah berjanji pada kalian membelikan apa?" tanya Aruna yang sudah berdiri di belakang dua putranya.
"Oooo..," ucap Habibie yang terlihat sedikit takut.
"Ada apa?" tanya Aruna.
Suara canda tawa terdengar di keluarga Faisal, canda tawa yang selalu membuat kebahagiaan. beberapa minggu kemudian akhirnya Aruna sudah bisa berjalan dan mulai merasa lebih baik. wanita itu sudah merencanakan untuk membuka kedok Fahrul.
"Selamat pagi sayang!" seru Aruna yang sudah memasuki kantor suaminya.
"Selamat pagi Sayang." jawab Faisal.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Faisal kepada sang istri.
"Oya, sayang. kemarin aku mendapatkan informasi mengenai sopir truk yang sudah menabrak waktu itu loh..," ucap Aruna yang dapat melihat Fahrul berada di samping sang suami.
"Maksudmu sayang?" tanya Faisal.
"Iya sayang, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan seseorang. katanya dia adalah seorang pria yang sudah menabrak ku." jawab Aruna.
DEG...
Fahrul benar-benar sangat terkejut, pria itu nampak melirik Aruna yang berada di sampingnya.
"Apakah kau yakin sayang?" tanya Faisal.
"Tentu saja aku yakin Mas, bahkan aku sudah mengingat Bagaimana ciri-ciri pria itu. aku akan memberikan laporan kepada polisi Setelah itu kita akan lihat apakah pria itu bisa melarikan diri atau tidak." Jawab Aruna dengan sengaja memancing reaksi Fakhrul. karena dengan begitu bisa mendapatkan bukti-bukti kalau dialah yang sudah melakukan atau menyuruh seseorang untuk menabraknya.
"Oh ya Om Faisal, Aku harus pergi dulu. kelihatannya tante Aruna ingin berbicara denganmu." ucap Fahrul.
"Tentu saja, Baiklah kalau begitu. nanti tangan kontrak kerjasamanya bawa saja ke rumah sekalian kau makanlah di rumah." jawab Faisal.
Reaksi Fakhrul benar-benar sedikit aneh, pria itu menolak untuk makan bersama dengan Faisal. padahal dia selalu mencari alasan untuk mendekati Faisal agar dia dapat menikahi Bilqis.
Aruna yang melihat reaksi Fahrul, wanita itu sedikit tersenyum. memang Aruna mengingat pria yang sudah menabrak mobilnya itu, hingga membuat sopir yang mengantarkannya harus koma selama beberapa bulan.
"Brengsek, jika sampai wanita itu mengingat mengenai Siapa yang menabrak nya. bisa-bisa aku dalam bahaya." guman Fahrul yang sudah pergi dari ruangan Faisal.
Di sisi lain Juna juga mencari bukti-bukti mengenai Fahrul begitu pula dengan Surya, mereka tidak ingin kehilangan orang-orang yang mereka cintai.
"Bos!!" seru salah satu anak buah Surya.
"Bagaimana, Apakah kau sudah mendapatkan informasi mengenai pria itu?" tanya Surya kepada salah satu anak buahnya.
"Baguslah kalau begitu, aku akan segera menelepon Aruna agar dia menyerahkan bukti-bukti itu ke kantor polisi." ucap Surya.
"Apakah kau senang Mas?" tanya Sania kepada sang suami.
"Tentu saja Aku sangat senang, aku tidak ingin putriku mendapatkan celaka." jawab Surya.
Bilqis yang berada di luar ruangan Surya nampak gadis muda itu menghentikan langkahnya. ternyata pria yang telah membuatnya terlahir di dunia dan benar-benar dia benci itu masih memiliki kebaikan di hatinya.
"Benar apa yang dikatakan mommy, aku harus memberikannya maaf. aku harus memberikannya kesembuhan agar dia mendapatkan kehidupan yang kedua." ucap Bilqis yang kemudian mengetuk pintu kamar Surya.
TOK...
TOK..
TOK...
"Masuk !!" seru Sania dari dalam kamar sang suami.
Sesaat kemudian seorang gadis muda nampak memasuki ruangan itu.
"Bilqis." Sania yang terkejut.
"Selamat siang tante, Om." ucap Bilqis.
"Masuk sini." pinta Sania.
"Tadi Mommy membuatkan bubur sumsum buat om Surya." ucap Bilqis.
"Benarkah, kalau begitu bisa tunggu di sini sebentar tidak. aku akan mengambilkan teh hangat untuk suamiku." ucap Sania.
"Tidak apa-apa tante, biar aku menyuapi om Surya. jika om Surya tidak keberatan." ucap Bilqis yang membuat Sania langsung menghentikan langkahnya.
"Apa, Bilqis?" tanya Sania.
"Tante Sania ambil aja teh hangat, biar aku yang menyuapi om Surya." jawab Bilqis.
Memang kemoterapi membuat Surya sedikit bertahan, tapi proses penyembuhan itu masih belum selesai 100%.
"Benarkah? boleh kalau begitu, aku akan mengambilkan sesuatu untukmu juga." Jawab Sania yang kemudian pergi dengan raut wajah yang begitu bahagia.
Surya yang mendapatkan perkataan seperti itu tentu saja pria itu sangat bahagia, seorang putri yang begitu dia rindukan, begitu dia ingin sentuh.
"Kalau kamu tidak mau menyuapi tidak apa-apa. Bilqis biar tante Sania saja yang menyuapi om Surya." ucap Surya.
"Tidak apa-apa Om, Memangnya Bilqis tidak boleh menyuapi om Surya?" tanya Bilqis.
"Boleh, bahkan Om Surya yang sangat senang jika kamu mau melakukan hal itu." jawab Surya.
Kebahagiaan Surya benar-benar begitu besar ketika Bilqis memberikan perlakuan yang begitu baik padanya. perlakuan seorang putri kepada ayahnya.
"Om Surya benar-benar sangat bahagia, Bilqis. bila waktu sudah menjemput Ku maka aku akan ikhlas karena kau mau merawatku." ucap Surya.
"Om Surya yang tidak boleh mengatakan hal itu, om Surya harus bertahan. bukankah kau ingin mendapatkan maaf dariku dan keluargaku, jadi kau harus bertahan dan melakukan pengobatan ini sebaik mungkin." jawab Bilqis yang membuat airmata Surya langsung berlinang.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Black Rose
- Mommy
- Mantan terindah
- Suami keduaku cinta pertamaku
- Dewa perang dan Ratu sihir
- Permaisuri sang kaisar
- ijinkan aku bahagia bersamamu
- jangan sakiti aku