MOMMY

MOMMY
Mereka Punya Rencana?



Episode sebelumnya


"Ayah, di mana pun Ayah berada, semoga Ayah bisa denger Nana. Nana ninggalin rumah bukan tanpa sebab, maafin Nana ga bisa jaga rumah, tapi kalo nanti saatnya udah tiba, Nana bakalan ambil balik rumah itu. Karena kata Ayah, Nana berhak atas rumah itu. Sekarang masih ketutup Ibu sama Kak Ghea. Nana sedih sih, tapi mau gimana lagi, sedih berlebihan juga ga bisa bikin kehidupan Nana kembali normal. Jagain Nana dari sana ya Yah, Bu."


...****************...


Leana sampai di mansion, setelah membayar taksinya, ia masuk ke dalam dan melihat sebuah mobil terparkir di depan lobi.


"Raffa..." Leana segera berlari menuju pintu belakang yang tidak sengaja ia temukan tadi pagi saat menyapu.


Selamat. Leana selamat sampai di dalam kamarnya. Karena dari pintu belakang, area ruang tamu serta tangga tidak terlihat.


Bu Mita sadar kalau Leana sudah pulang, segera menyuruh Raffa untuk mengecek Leana ke kamarnya saja agar lebih jelas. Bu Mita sudah tidak dapat menahan Raffa lagi bersamanya.


"Leana." Teriak Raffa yang tidak mengetuk pintu kamar itu, entah apa yang ada di dalam pikiran pria yang tak kalah tampan dari Devan itu.


"Iya-iya. Sebentar," sahut penghuni kamar. Pintu terbuka dan menampakkan Leana dengan nafas yang tidak karuan.


"Kamu tadi ke mana?"


"Aku tadi pergi sebentar," jawab Leana tanpa rasa bersalah.


"Tuan Devan,'kan sudah bilang supaya menungguku, setelah itu baru pergi," balas Raffa yang masih berusaha menahan amarahnya.


"Sudahlah... Toh cuman sebentar. Lihat,'kan? Sekarang aku sudah kembali dan baik-baik saja," ujar Leana yang merasa tidak perlu berlebihan seperti itu sembari menelan ludahnya dengan susah payah.


"Lain kali jangan lakukan ini lagi. Aku, bahkan Tuan Devan sekalipun tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau berkeliaran sendiri." Wajah Raffa begitu tegas dan lagi-lagi Leana berusaha menelan ludahnya.


"Ah... I-iya-iya. Aku tidak akan melakukannya lagi," sahut Leana sambil berusaha tersenyum ramah dan menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal sama sekali.


"Aku pergi dulu."


"Hati-hati," gumam Leana yang masih merasa tidak enak karena sudah membuat Raffa kesal.


Namun Raffa yang masih mendengar ucapan Leana hanya tersenyum tipis dan tetap pergi dari sana karena ada urusan penting lainnya.


"Raffa tuh kaku banget deh bahasanya, ya sebelas dua belas sih sama bos nya, si Devan. Haha. Lucu deh mereka. Eh hus-hus."


.


.


Flashback Devan POV


Sudah 5 menit aku pergi dari mansion. Pagi ini harusnya aku ada meeting dengan orang yang penting. Ya, begitulah.


Ngomong-ngomong aku kepikiran dengan ucapan Ana tadi, "Mereka terlalu ketat". Entah bagaimana kalimat itu berputar di kepalaku.


Terlalu ketat? Aku rasa Cindy tidak sekurus itu sampai-sampai Leana tidak muat memakai pakaiannya. Apa ada masalah lain? Sepertinya iya.


Ah benar, aku tadi mengatakan bahwa Raffa akan menjemput Leana untuk mengambil pakaiannya di rumahnya.


"Halo, Devan?" Balas Raffa di seberang.


"Datang ke mansion, dan antar Leana ke rumahnya untuk mengambil pakaiannya," jawabku.


"Siap. Saya segera pergi," sahutnya. Aku segera menutup panggilan itu dan melanjutkan perjalananku. Aku menyetir sendiri. Hanya itu kurasa, belum ada hal yang penting.


.


.


Aku baru saja menerima telepon dari Bosku, Devan.


Bukan keinginanku untuk memanggilnya Devan, hanya saja ia bersikeras agar aku memanggilnya dengan sebutan Devan tanpa embel-embel Tuan atau apapun itu yang menunjukkan bahwa statusnya lebih tinggi dariku.


Pertama aku menolaknya, namun karena ia tetap memaksa, aku pun setuju tapi aku hanya memanggilnya Devan ketika sedang berdua saja. Itu juga sudah cukup untuknya, sebenarnya dia orang yang amat sangat baik. Tapi dia terlalu banyak diam, dan segera bertindak.


Berpengalaman tentang Devan? Oh tentu, aku bersamanya sudah selama 15 tahun. Itu semenjak dia pindah di lingkunganku lalu kami ternyata bersekolah di satu tempat yang sama. Hanya saja dia adalah kakak kelasku. Sekarang umurnya 30 tahun, sedangkan aku baru saja seperempat abad.


Lajang? Iya, aku belum menemukan orang yang tepat denganku. Tidak tahu sampai kapan begini, tapi seharusnya ada harapan untuk Leana.


Aku segera pergi menuju mansion untuk menjemput Leana. Tapi sesampainya aku di sana, Bu Mita mengajakku mengobrol banyak. Dia mengatakan kalau Leana sedang mandi dan mengurus Jihan.


Aku sudah tahu kalau sebenarnya Leana sudah pergi sebelum aku datang, aku melihat sebuah taksi berhenti di depan mansion. Siapa lagi kalau bukan Leana yang pergi karena tidak tahu tempat ini di mana.


Aku hanya mengikuti alur yang di arahkan oleh Bu Mita, yang harusnya kena marah adalah Ana bukan Bu Mita.


Kira-kira 20 menit kemudian Bu Mita memperbolehkan diriku untuk mengecek Leana ke lantai atas. Leana membuka pintu dengan nafas yang tidak beraturan. Benar tebakanku, kalau dia sudah pergi sebelum aku datang.


Leana belum dan tidak mengerti bahaya apa yang mengancamnya jika berkeliaran sendirian di kota ini apalagi setelah dia masuk ke dalam mansion. Sudahlah, Ana sudah aku peringatkan. Aku harap Bu Mita juga ikut memperingati gadis itu agar tidak keluar sendiri. Aku masih ada urusan lain dengan Devan.


.


.


.


In other place


"Hah!? Dia punya perempuan lain!?" Tanya wanita paruh baya itu sambil melotot ke arah Gina.


"Iya Tante..." Gina mengerucutkan bibirnya pertanda dia kesal. "Gina kesel tau kemarin, tumben-tumbenan aja si Devan belain karyawan. Karyawan bar lagi, Gina,'kan jadi curiga banget-banget Tan..." Sambungnya untuk memanasi pikiran wanita paruh baya itu yang memang sudah panas.


"Kamu tau siapa perempuan itu?" Tanyanya lagi sambil duduk di sebelah Gina.


"Nggak, aku gak kenal. Tapi kata orang suruhan aku, perempuan itu tinggal di mansion nya Devan juga. Keliatannya sih jadi baby sitter nya Jihan," jelas Gina.


"What? Udah berapa kali tuh anak gonta-ganti baby sitter? Anaknya aja kali yang susah diatur, sama aja kayak Cindy," gerutu wanita paruh baya.


"Ga boleh gitu Tante... Gitu-gitu juga cucu Tante," balas Gina.


"Ck. Tapi Tante udah kepikiran rencana buat ngasih pelajaran ke perempuan itu. Tungguin aja. Biar Tante yang bergerak, jangan kotorin tangan kamu biar Devan gak curiga," ujar wanita itu sembari tersenyum puas.


"Aaa Tante.... Emang gak salah aku ke sini, Tante selalu ngerti apa yang aku butuhin," ujar Gina terharu sembari memeluk wanita itu dari belakang.


Dari panggilannya saja, mereka bukan keluarga kandung, tapi entah mengapa mereka begitu cocok satu sama lain. Mungkin karena memiliki sikap iri dengki dengan persenan yang sama.


"Iya, Gin... Sama-sama, selama ada Tante, kamu harus maju terus," balasnya.


"Siap Tante!" Gina menjawab dengan semangat dan gembira.


.........


Bersambung guys...


Kiw dukungannya 🤭