MOMMY

MOMMY
Leana Mau Pulang...



Episode sebelumnya


"Dia sudah tidur?" Tanya Devan dengan pelan. Leana mengerjap sebagai jawaban iya, iya takut membangunkan Jihan. Ketahuilah Jihan sedang tidak enak badan. Kemarin baru saja mendapat obat dari dokter, itulah alasan mengapa Devan sedang di rumah saat ini.


...****************...


Waktu makan malam tiba, selesai menyiapkan makan malam, Leana pergi ke kamar Jihan untuk mengecek batita itu sekaligus mengajaknya untuk makan malam bersama di bawah atau di manapun dia mau.


Ceklek


Pintu terbuka, menampakkan Jihan yang duduk di depan televisi yang sedang menayangkan kartun kesukaan Jihan akhir-akhir ini.


"Halo Jihan..." Sapa Leana sembari bersimpuh di sebelah Jihan yang duduk.


"Ai..." Sahut Jihan yang matanya masih tertuju pada televisi di depannya.


"Kita makan malam sekarang yuk?" Ajak Leana.


"Ituna, bagaimana?" Tanya Jihan sembari menunjuk televisinya yang masih menyala. Ya, kartun yang dia tonton belum selesai.


"Tonton nanti lagi ya... Ini bisa di stop dulu," jawab Leana dengan nada pelan sembari mengambil remote televisi itu.


"Mau, bikin, apa?" Tanya Jihan yang memperhatikan Leana memegang remote televisi.


"Lihat," jawab Leana. Leana mengarahkan remote pada televisi lalu menekan tombol pause. "Nah, sudah berhenti, selesai makan malam, Jihan bisa nonton lagi," jelas Leana.


"Wahhh... Keleeen!!" Seru Jihan seraya menepuk tangannya dengan gembira.


"Haha." Leana tak bisa membendung senangnya melihat antusiasme dari Jihan.


"Ayo, kita, mam malam," ujar Jihan berdiri dan memeluk Leana.


"Jihan mau gendong?"


"Tidak, I, yan, mau jalan shendili," jawab Jihan.


"Baiklah, let's go!!" Seru Leana.


"Letsh, goo...." Balas Jihan.


Sampai di meja makan, Jihan terhenti, dia menatap Ayahnya yang duduk di meja makan sambil memegang beberapa kertas.


"Papaaa..." Teriaknya sambil berlari. Leana seketika kaget dan segera menyusul Jihan yang berlari menuju ke arah Papanya itu.


"Jihan?" Terlihat sekali wajah Devan begitu kebingungan, namun Devan juga merasakan senang yang begitu besar dalam dirinya mendengar anaknya memanggilnya dengan sebutan Papa.


"Malam, Papa," ujarnya lagi ketika sudah berada di pelukan Papanya.


"Malam," sahut Leana segera mengambil mangkok yang berisi makanan untuk Jihan.


"Oh... Malam juga Jihan..." Balas Devan.


"Papa tau tida? Tadi I, yan nonton Pooh. Nanti Iyan mau nonton sama Papa ya?" Jihan begitu berharap, terlihat dari matanya.


"Em..." Begitu juga dengan Devan yang menunjukkan kebingungan dari matanya.


Leana hanya tersenyum tipis melihat Jihan yang berinteraksi dengan Papanya. "Besok Tuan libur tidak? Besok Jihan mau nonton kartun kesukaannya dengan Tuan," ucap Leana.


"Tunggu besok saja ya Sayang," ujar Devan sembari mengecup pipi Jihan yang gembul itu.


"Papa jelek," sahut Jihan sambil berusaha turun.


"Hey? Siapa yang mengajarimu?" Tanya Devan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya tadi.


Jihan tidak menjawab, dia langsung menunjuk Leana yang sedang merapikan meja makan.


Sampai sekarang, Jihan masih belum memanggil Leana dengan sebuah sebutan, bahkan untuk menyapa, Jihan hanya mengucapkan kata hai dalam bahasanya untuk menarik perhatian Leana lalu mengajaknya bermain dan bicara.


Devan hanya tersenyum, "Jihan mau makan sekarang?" Tanya Leana selesai membereskan piring untuk Tuannya makan.


"Mauuuu," seru Jihan lalu berlari menghampiri Leana yang berada di seberang Devan. Leana merasa canggung setelah seminggu tidak bertemu dengan Papa dari majikannya itu. Jadi, Leana menjaga jarak dengan Devan.


Mereka bertiga duduk, tapi setelah Devan duduk, Leana kembali berdiri dari duduk namun tetap melanjutkan menyuapi Jihan yang sepertinya sedang mood makan.


Merasa aneh dengan Leana, Devan pun bertanya, "Kenapa tidak duduk saja?" Tanya Devan tanpa memandang Leana.


"Saya lebih suka berdiri," jawab Leana.


Devan hanya tersenyum tipis, "Sejak kapan Jihan bisa bicara?" Tanya Devan.


"Entahlah, yang pasti sudah lebih dari dua minggu yang lalu, Tuan," jawab Leana.


"Jangan pakai-"


"Tidak, Tuan tetap orang tua dari majikan saya. Jadi Anda juga sama-sama majikan saya," potong Leana yang tahu arah pembicaraan Devan tanpa menghentikan aktivitasnya menyuapi Jihan makan.


"Kita perlu bicara setelah Jihan tidur," ujar Devan.


"Iyan tidul, nya, nanti. Iyan selesai mam mau sama Papa," ucap Jihan.


"Hem...? Jihan tidak mau nonton Pooh lagi? Katanya Jihan suka," tanya Devan kepada anaknya.


"He'um." Jihan menggeleng tegas menolak Papanya.


"Salah Tuan sendiri, Anda terlalu sibuk. Sekarang lebih baik bersamanya." Leana merasa Devan tidak seharusnya menolak keinginan Jihan anaknya untuk menghabiskan waktu bersama Papanya.


Devan menoleh, "Em, maaf, saya tidak seharusnya ikut campur. Tapi Anda kelewatan," sambung Leana yang menganggap bahwa tatapan itu adalah tatapan tajam tidak terima dinasehati.


"Baiklah. Nanti malam mau tidur bersama?" Tanya Devan.


"Wahhh... Mauuu," seru Jihan tidak lupa dengan senyumannya. Leana yang tadinya datar-datar saja, kini ikut tersenyum melihat Jihan.


.


.


Pukul 8 malam, Jihan dan Papanya masih belum tertidur di kamar Jihan. Keduanya masih menonton kartun kesukaan Jihan. Haha, menggemaskan.


"Kalian berdua jangan tidur terlalu larut malam ya," ujar Leana sebelum menutup pintu kamar Jihan.


"Othee." Jihan mengacungkan ibu jarinya ke arah Leana. Leana tersenyum gemas, lalu keluar dari kamar Jihan.


"Kamu mau kemana?" Tanya Devan pada Leana.


"Mau turun, aku rindu Kakak dan Ibuku," jawab Leana pelan.


"Cih. Masih rindu pada manusia br ngsek seperti itu?" Ejek Devan.


"Maaf. Iyan, tunggu di sini dulu ya?"


"Yah... Papa, mau, ke mana?" Tanya Jihan terlihat kecewa.


"Mau keluar sebentar. Ya? Papa ke sini lagi kok nanti," jelas Devan pelan-pelan berharap Jihan mengerti situasi.


"Umm.. yaa shudah, Papa, cepat-cepat ya?"


"Siap Nona," jawab Devan sambil berpose hormat menghadap Jihan. Sungguh, Leana kaget dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan. Ini adalah sisi terang Devan yang jarang terlihat.


Lucu sekali anak dan Ayah ini.


"Ayo." Devan jalan duluan.


"Kemana?" Tanya Leana ikut.


"Telpon Ibumu, saya temani." Devan duduk di sofa ruang tengah. Jaraknya cukup dekat dengan tempat menelpon. Jadi masih bisa terdengar.


"Tuan ga perlu repot-repot gini... Saya bisa sendiri kok," Leana mencoba menolak.


"Sia-sia. Cepetan." Devan itu keras kepala, kepo, ah pokoknya privasi soal Leana itu udah ga ada, kecuali itu...


"Ya, ya udah deh." Leana mulai menekan tombol angka pada telepon rumah.


Tersambung.


"Halo?" Sambut Leana.


"Siapa ya?"


"Ini Leana, Kak," jawabnya.


"LEANA!? KE MANA AJA LO? PULANG LO!" Bentak Ghea yang tentu saja didengar oleh Devan juga. Devan berdiri dan segera menyambar telepon yang ada di tangan Leana.


"Yang sopan, sebelum rumah Anda saya gusur," ujar Devan dengan nada tenang meski wajahnya sangat tidak santai.


"Siapa lo? Oh... Lo yang beli Leana? Om bagi duit Om, saya Kakak nya, jadi Om itu beli adik saya. Jadi saya berhak dong atas bayaran Leana," sahut Ghea tanpa rasa bersalah.


"Terserah. Sekali lagi bentak-bentak, rumah Anda rata." Devan mengembalikan telepon pada Leana lalu kembali duduk dengan ekspresi wajah yang buruk.


"Halo Kak. Kabar Kakak gimana?"


"Gak baik. Cepet pulang. Nih rumah gak ada yang bersihin," ketus Ghea.


"Iya Kak, Leana bakal minta cuti buat pulang," jawab Leana.


"Awas ga pulang lo," ancam Ghea lalu memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Leana.


Leana meletakkan kembali telepon yang ia pegang lalu berbalik badan hendak meminta izin untuk pulang beberapa hari.


"Sudah?" Tanya Devan.


"Siap sudah Tuan. Itu, saya mau minta cuti seminggu saja boleh? Saya mau pulang," ujar Leana tanpa basa-basi.


"Boleh. Tapi berangkatnya besok lusa saja. Seminggu apa tidak terlalu lama?" Tanya Devan.


"Ah begitu ya. Ya sudah lima hari saja," tawar Leana.


"Ya sudah. Lima hari tidak lebih tidak kurang. Bu Mita sudah terlalu tua untuk menjaga Jihan yang tidak tahu diam kecuali sedang menonton televisi," ujar Devan. Ada benarnya juga.


"Siap Tuan, secepatnya saya akan pulang," jawab Leana yang begitu senang karena akan pulang. Dia sebenarnya rindu rumah, bukan rumah. Pft


She's miss the house, not the home. The memories of her family in the house. Her home still at Jihan. Leana love Jihan so much like mother to her child.


"Ya sudah, sana tidur." Devan pergi meninggalkan Leana di ruang tengah.


Sudah sepi, semuanya sudah beranjak tidur, beberapa sedang di luar rumah, berjaga. Bu Mita juga sudah berada di kamarnya setelah selesai makan malam tadi.


Leana segera tidur di kamarnya.


Devan masuk ke dalam kamar Jihan.


"Papa, Papa," panggil Jihan terburu-buru ketika pintu sudah tertutup.


"Kenapa?" Tanya Devan.


"Yang tadi itu, siapana Iyan?" Tanya Jihan.


"Menurut Jihan?" Devan bertanya kembali.


"Iyan, tidak tau, tapi, Iyan, mau, dia, jadi, Mamana, Iyan." Benar-benar tidak bisa ditebak, Devan seketika terkejut dengan ucapan Jihan barusan.


"Kenapa Iyan ingin itu?" Tanya Devan lagi.


"Kemalin, Iyan, liat, di, shana." Jihan menunjuk ke arah televisi yang masih menyala. "Iyan liat teman Iyan puna Papa, lalu ada olang satu lagi, dipanggil, Mama. Iyan,'kan duga mau puna Mama," jelas Jihan hati-hati, pelan-pelan sembari mengingat kejadian kemarin siang.


"Teman Iyan yang mana?" Tanya Devan yang tidak tahu teman Jihan yang mana karena seingatnya, Devan belum pernah membawa Jihan bertemu kerabatnya, atau kerabatnya pun belum pernah berkunjung ke mansion ini.


"Tida tau, Iyan, cuma, liat, di, shana." Sekali lagi dia menunjuk ke arah televisi. "Sepeltina, teman, Iyan," sambungnya.


"Sepertinya memang perlu dibicarakan dengan Leana," pikir Devan. "Ya sudah, untuk Iyan. Tapi Iyan bantu Papa bilang padanya ya?" pinta Devan.


"Iya, Papa," ujar Jihan berbaring di sebelah Devan yang sedang berada di karpet.


"Tapi, bilangnya saat Papa tidak ada di rumah, oke?"


"Othee, Papa." Jihan tersenyum senang.


"Ada banyak yang tidak aku ketahui tentang anakku sendiri. Benar kata Leana, aku tidak punya banyak waktu bersama Jihan. Maafkan Papa Nak," batin Devan sembari mengelus kepala Jihan yang sedang berusaha memeluk tubuh kekar Devan. "Baiklah, sekarang ayo kita tidur."


"Papa kelas, tidak bisa dipeluk," ujar Jihan sembari cemberut.


"Lalu siapa yang tidak kelas?" Tanya Devan mengikuti bahasa Jihan. Namun, Jihan tidak menjawab, tapi menertawakan Devan yang menggunakan bahasanya.


"Yang, tidak, kelas, itu, olang, yang, tadi," jawab Jihan. Yang dimaksudnya adalah Leana.


"Sudah-sudah. Kita tidur," ujar Devan sembari menyelimuti mereka berdua.


Note : kelas : keras


.........


Bersambung guys...