MOMMY

MOMMY
Anaknya Anton



Episode sebelumnya


"Oke." Devan pergi ke luar ruangan, mungkin kembali ke kantor, atau ke mana saja terserah padanya.


Begitu juga Raffa, namun Raffa tujuannya pasti ke bank.


...****************...


Hari telah berlalu begitu cepat, besok adalah ulang tahun Leana yang ke-20 tahun. Hari ini Leana berniat untuk bekerja di bar untuk yang terakhir kalinya, sekaligus memberikan surat pengunduran diri. Namun suatu kecelakaan membuatnya bermalam di bar.


Jadi malam itu...


"Kak, minuman yang di atas meja harus dibawa kemana?" Tanya Leana pada salah satu teman kerjanya yang seumuran dengan Ghea.


"Itu dibawa ke lantai tiga, manager," jawab Perempuan itu sedikit blak-blakan.


"Ah baiklah. Kebetulan aku juga ada urusan dengan manager." Leana dengan senang hati menaikkan minuman itu ke atas talam yang dibawanya.


"Jangan bilang kau mau mengundurkan diri?" Tanya perempuan itu sembari menghalangi jalan Leana. Leana memang belum bilang pada siapapun kalau dia akan pergi dari bar.


"Iya Kak, sepertinya aku akan bekerja di cafe sebelah," jawab Leana jujur dan sopan.


"Baiklah kalau itu pilihanmu. Sampai jumpa," ujarnya lalu pergi meninggalkan Ana.


Ana hanya memperlihatkan senyumannya, dia juga segera pergi dari tempat itu menuju ke lantai 3 tempat minuman ini harusnya diantarkan.


Tiba-tiba!


Brukk


"Aduh!"


Prang!!


Gelas yang berada di atas talam terjatuh hingga pecah karena Leana tidak sengaja menyenggol seorang wanita yang juga berjalan di sana.


"Kalau jalan pake mata juga! Jangan pakai kaki doang!" Bentak perempuan itu sembari mengusap-usap gaunnya yang terkena wine.


"Maaf, Nona," ucap Leana sambil memunguti pecahan gelas yang berserakan di lantai.


"Maaf?! Kau bilang maaf?! Gaunku ini malah! Gaji yang kau dapatkan bekerja di sini pun tidak cukup untuk menggantinya!" Bentaknya lagi sambil menjambak rambut Ana.


"Akh... Maafkan saya, saya tidak sengaja." Leana tetap berusaha untuk melepaskan tangan perempuan itu dari rambutnya.


"Ada ribut-ribut apa ini?" Tanya seseorang berdiri di sebelah Ana.


"J*lang ini membuat bajuku kotor," jawab Perempuan itu masih belum melepaskan tangannya dari rambut Leana.


"Lepaskan dia." Dengan nada dingin, Pria itu memerintah.


Leana merasa sedikit lega karena kepalanya sudah tidak terlalu sakit, dengan masih terisak, Leana segera memeluk kaki pria yang berdiri di sebelahnya dan berkata, "Terima kasih banyak atas bantuanmu. Hiks hiks hiks..."


"Berdiri," pintanya.


Dengan ragu-ragu Leana berdiri, dan tetap menunduk.


"Gina, kau seharusnya tidak perlu marah hanya karena hal sekecil itu," ujar si Pria dengan nada risih.


"Itu karena aku terlalu menyayangi gaun yang kamu berikan sayang..." Sahut si Perempuan sembari menggandeng tangan Pria tadi dengan mesra.


"Jauhkan tanganmu itu. Saya tidak sudi!" Bentak si Pria membuat Leana kaget.


"Kamu masih marah ya sama aku...?" Rengek perempuan yang bernama Gina.


"Pikir sendiri," ketusnya sembari menghempas tangan Gina.


"Ih... Jangan gitu dong..." Rayu Gina mencoba menggandeng tangan pria itu lagi, namun dengan cepat ditepis.


"Pergi dari sini!" Bentak Pria itu, Leana juga sampai kaget. Bagaimana dengan Gina yang tepat berada di depannya?


"Ck. Listen me, b¡tch. Lo pasti dipecat!" Bisik Gina di telinga Leana. Leana yang tadinya menangis kini sudah mulai tenang, karena tujuannya memang untuk dipecat.


"Ikut saya." Pria itu berjalan mendahului Leana.


"Ng-ngomong sama saya?" Tanya Leana.


"Memangnya ada orang lain di sini selain Anda?" Devan beranjak.


"Tapi pecahannya?" Tanya Ana, Devan berhenti lalu menatap Leana yang memandangi pecahan gelas kaca itu.


"Biarkan orang lain yang mengurusnya, kau membuat keributan, maka harus dibicarakan."


Ucapan dari Pria itu membuat Leana menelan ludahnya dengan susah payah karena sekarang Ana kembali merasakan takut. Dia berjalan mengikuti langkah kaki Pria tinggi itu. Leana belum tahu bagaimana wajahnya, itu karena sedari tadi dia menundukkan kepalanya.


Mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan, itu adalah ruang manager di Bar itu, bar ini bukan sembarang bar.


Setelah sampai di dalam, Ana teringat sesuatu, itu adalah surat pengunduran dirinya yang terjatuh dan basah saat tabrakan dengan Gina. Tapi Ana tenang, karena mungkin saja sekarang dia akan dipecat oleh Pria yang tidak ia kenal ini.


"Duduklah," ujarnya. Pria itu duduk sofa lalu diikuti oleh Ana yang duduk di depannya. Setelah menatap sekilas wajah Pria itu, Leana teringat kalau mereka pernah bertemu sebelumnya. Dia adalah Pria yang ada di dalam limosin dan menatapnya tajam di hari ia bertemu dengan Jihan.


"Saya siap jika akan dipecat," ujar Ana setelah dia duduk.


Pria itu tersenyum, "Tchh. Saya tahu kau tidak akan keberatan jika dipecat," ujarnya.


"Maksud Anda?" Leana menatap Pria itu dengan wajah bingung.


"Kalau tidak salah, kau membawa surat pengunduran diri tapi terjatuh dan akhirnya basah oleh minuman," jawabnya.


"Baguslah, artinya saya bisa keluar dari sini dengan cepat." Leana benar-benar bersyukur atas apa yang terjadi.


"Kau anak dari Anton Hendrawan?" Tanya Pria itu membuat Ana membulatkan matanya.


"Anda kenal dengan Ayah saya? Ya benar saya anaknya," jawab Ana tanpa mengelak.


"Saya kenal lama dengan almarhum, perkenalkan saya Devan." Leana kembali membulatkan matanya karena dia tidak menyangka kalau dia bertemu Devan dengan semudah ini.


"Ah begitu ya. Jadi Anda Ayah Nona Jihan. Senang bertemu dengan Anda," sahut Leana sembari tersenyum menatap Devan.


"Saya ingin kau menjadi baby sitter untuk Jihan. Raffa mengatakan bahwa kamu bisa diandalkan, karena ini menyangkut kepentingan putriku, maka saya sendiri yang menemui..."


"Oh ya, Leana," sambung Devan yang lupa nama Leana. Leana merasa tersentuh setelah mendengarkan Devan. Dia Ayah yang baik. "Bagaimana? Saya rasa tidak perlu berpikir terlalu panjang, setidaknya kau bisa pergi dari rumah dan tidak tinggal lagi bersama dengan Kakak dan Ibu tirimu."


Perkataan Devan membuat Leana buyar dari lamunannya karena tanpa sengaja mengenang kembali sang Ayah yang sudah tenang di alam sana.


"Dia tahu soal itu!?" Pekik Leana dalam hatinya sembari menyipitkan kedua matanya.


"Sudah saya bilang, saya sudah kenal dengan Ayahmu sejak lama, jadi almarhum yang menceritakan semuanya pada saya," jawab Devan sambil berdiri. Ana kehilangan kata-kata untuk merespon penjelasan dari Devan. "Sudahlah, sekarang ikut saya," ajak Devan sembari berjalan mendahului Leana.


.


.


Mereka berdua pergi dari Bar dan sampai di mansion yang sama. Devan dan Leana masuk ke dalam mansion, dan disambut oleh Jihan yang berlari menuju Ayahnya.


Leana yang melihat hal itu hanya tersenyum bahagia, perasaan bahagia dari Jihan menular hingga ke Leana.


"Lihat. Papa ajak siapa?" Devan membalikan badan anaknya agar dapat melihat Leana. Reaksi bahagia dari Jihan terpancar lagi, dia bahkan meraih Leana agar menggendongnya.


"Hai cantik..." Dengan pelan-pelan Leana mengambil Jihan dari Ayahnya. "Apa kabar kamu...?" Leana juga sama bahagianya dengan Jihan ketika bertemu kembali. "Astaga sialan! Badanku sakit sekali. Tenang Ana, bersikaplah seperti biasa..." Batin Leana sembari tetap tersenyum dan menggendong Jihan.


"Kalian sepertinya sangat cepat akrab, bahkan setelah beberapa minggu tidak bertemu, Jihan masih ingat denganmu," ujar salah satu maid yang menemani Jihan tadi. "Nak, namamu siapa kalau boleh tahu?"


"Panggil saja Ana Bu," jawab Leana sambil tersenyum hangat.


"Ah nama yang bagus, kamu bahkan memanggilku Ibu. Panggil saja Ibu jika kamu nyaman. Kalau begitu, Ibu pergi dulu." Maid itu berlalu dari hadapan keduanya.


Hening, suasananya sangat canggung, Leana merasa tidak pantas untuk memulai pembicaraan duluan, sedangkan Devan tidak tahu harus membicarakan apa. Tapi anehnya Devan masih menemani mereka berdua yang bahkan tidak peduli dengan keberadaan Devan.


Waktu berlalu, tak terasa Ana dan Jihan sudah bermain selama 2 jam, sudah waktunya Jihan untuk tidur. Devan juga dari tadi seharusnya sudah kembali ke kantornya karena masih ada pekerja, tapi malah keasikan menonton Ana dan Jihan yang sedang bermain.


Devan melamun sedangkan Ana masih bermain dengan Jihan. Ana yang sadar dengan lamunan Devan, segera menegurnya dengan topik lain.


"Em maaf." Leana berdiri tepat di depan Devan dengan menggendong Jihan. Devan yang sadar dari lamunannya, hanya menaikkan alisnya. "Tuan kenapa?" Tanya Leana memberanikan diri untuk bertanya.


Devan hanya menggeleng.


"Begini. Jihan juga sudah mengantuk-"


"Saya keluar kalau begitu," potong Devan lalu pergi dari kamar Jihan.


"Apa-apaan itu?! Padahal,'kan aku belum selesai bicara. Sabar Ana..." Ana menggerutu sendiri dengan berbisik. Jihan yang tidak tahu apa-apa hanya tertawa melihat tingkah Ana yang memukul-mukul pintu yang sudah ditutup oleh Devan tadi.


"Cantik, sekarang tidur yah..." Ana tersenyum menatap Jihan. Jihan tidak menjawab apapun, dia hanya memperhatikan mulut Leana yang berbicara. "Ya?" Jihan tidak menjawab dan masih tetap memandangi mulut Leana. "I-Ya?" Ana mengeja perkataannya.


"Ya!" Keluar satu kata dari Jihan, selama bermain dengan Jihan tadi, dia tidak mengeluarkan suara apapun kecuali tertawa dan berteriak.


"Dia sepertinya tidak pernah diajarkan untuk bicara oleh orang sekitarnya," batin Leana sembari menatap iba terhadap Jihan. Ana tersenyum lalu menidurkan Jihan, tidak perlu waktu lama, Jihan sudah tertidur pulas. Lagi pula ini memang sudah malam, sudah waktunya untuk tidur.


Ana keluar, Devan masih setia berdiri di sebelah pintu kamar Jihan bersandar pada dinding.


"Sudah?" Tanyanya datar.


Leana kaget dengan teguran dari Devan. Devan hanya menaikkan satu alisnya tapi sebenarnya dia sedang tertawa karena ekspresi kaget dari Leana.


"Sudah..." Jawab Leana sambil tersenyum ragu-ragu.


"Ada yang perlu kita bicarakan. Ikut saya." Devan berjalan mendahului Leana.


Tak lama kemudian mereka berdua sampai di sebuah ruangan yang tidak jauh dari kamar Jihan. Di sana ada meja kerja dan satu set lengkap sofa.


"Ada apa ya?" Tanya Leana sedikit takut, dia tidak percaya dengan dirinya sendiri.


"Bekerjalah mulai besok," jawab Devan memunggungi Leana.


"Besok? Maksud Tuan jadi baby sitter untuk Nona Jihan?" Tanya Leana.


"Iya. Satu lagi, jangan panggil menyertakan embel-embel Nona, Jihan saja agar lebih santai."


"Baiklah. Terima kasih atas kepercayaanmu. Ya sudah, kalau begitu saya pamit pulang," ujarnya beranjak dari ruangan itu.


"Untuk apa pulang?" Tanya Devan menghentikan langkah kaki gadis itu.


"Saya,'kan masih punya rumah," jawab Leana dengan polos.


"Ah benar kata Paman, Leana mulutnya kadang tidak bisa dijaga," batin Devan yang hampir saja memarahi Ana atas jawabannya. "Saya sengaja membawamu ke sini agar tidak perlu pulang lagi. Sudah cukup kau disakiti oleh Ibu dan Kakak tirimu itu." Dengan tegas Devan mengatakan hal itu.


"Tapi..."


"Tidak ada alasan lagi. Masih ada kamar kosong di mansion ini!" Nada tinggi dari Devan terdengar lagi. Itu menakutkan.


"Ba-baiklah. Tapi pakaian saya?"


"Kamarnya ada di sebelah kamar Jihan, sudah ada pakaian perempuan di sana. Pakai saja sesukamu," jawab Devan terkesan acuh terhadap Ana.


"Astaga.... Terima kasih banyak Tuan..." Leana memeluk kaki Devan yang membuatnya kaget.


"He-hey. Berdirilah." Devan menuntun Leana agar berdiri.


"Terima kasih ya." Air mata Leana hampir tumpah karena saking bahagianya.


"Jangan berlebihan. Tidur. Besok kau mulai bekerja." Devan kembali pada sikap datar dan ketusnya.


"Di Bar, saya sudah dikeluarkan?" Tanya Ana.


"Kau bisa kembali jika kau mau. Tapi saya tidak akan ikut campur soal tadi, mungkin saja wanita yang kamu tabrak sudah mengadu pada manager Bar," jawab Devan.


"Baiklah kalau begitu, di sini sepertinya lebih aman," sahut Ana.


"Argh!! Gadis ini benar-benar menjengkelkan!" Ingin rasanya Devan mencubit pipi Leana. Devan menoleh sekilas ke arah Ana, jadi ia bisa melihat kalau Leana tersenyum setelah mengatakan kalau di mansion lebih aman daripada di Bar. "Ya sudah sana tidur."


"Tuan gimana?" Tanya Leana mendongak menatap Devan.


"Entah dia menjengkelkan atau tidak. Tetap saja membuatku emosi." Sepertinya batin Devan tertekan jika berada di dekat Leana. "Bukan urusanmu," ketus Devan.


"Oh gitu ya, baiklah saya pergi dulu." Leana pergi, meninggalkan Devan sendiri di ruangan itu.


"Argghh!! Gadis sialan!!! Kalau bukan karena kau anak Paman, sudah aku usir!" Tingkah laku Devan yang sebenarnya pun keluar setelah tidak ada Leana di sana. Dia seakan-akan ingin memukul Leana, namun tidak bisa, dia tetap anak dari Anton. Ingin memukul pintu, tapi dia sedang sadar, kalau sadar maka rasa sakitnya akan terasa.


Devan hanya mengepalkan tangannya sembari menatap pintu kamar yang baru saja membuatnya berpisah dengan Leana.


"Astaga... Bisa-bisanya aku emosi hanya karena gadis itu. Maafkan aku Paman. Aku ingat kalau sudah berjanji untuk menjaga Leana dengan baik." Devan kembali sadar lalu bersandar pada pintu. "Lebih baik tidur daripada tambah stress." Devan kembali ke kamarnya yang berada di sebelah ruang kerjanya itu.


.........


Bersambung Guys...


Bingung aku tuh...