MOMMY

MOMMY
Kediaman



Episode sebelumnya


"Sepertinya kamu sudah menyayanginya seakan-akan dia adalah satu-satunya keluarga yang kau miliki," sahut Raffa yang menatap Ana dari kaca mobil.


"Begitulah..." Ana bingung harus menjawab apa.


...****************...


Mereka bertiga sampai di sebuah rumah megah nan mewah, itu dia mansion milik Tuan Devan, tempat tinggal Nona Jihan.


"Apa aku bisa pergi setelah memberikan Nona Jihan pada baby sitter yang ada di mansion ini?" Tanya Leana pada Raffa setelah mereka berdua masuk ke dalam mansion.


"Tentu, itupun kalau Nona Jihan mengizinkanmu untuk pergi," jawab Raffa sambil menunjukkan senyumnya.


"Kamu menakuti ku," sahut Leana.


"Kita sampai..." Raffa membukakan pintu untuk Leana yang masih menggendong Jihan, mereka sampai di kamar Nona Jihan yang sangat ramai akan hiasan.


"Kehidupan anak ini indah banget dah, seindah mimpi gue," ucap Leana dalam batinnya setelah melihat ke sekeliling ruangan khusus bayi itu.


Dinding kamar berwarna merah muda lembut, sebuah tempat tidur yang terbilang cukup besar untuk ukuran seorang balita, boneka yang lebih dari sepuluh tertata rapi di lantai yang bertujuan agar Jihan tidak berbenturan secara langsung dengan keramik jika terjatuh dari tempat tidurnya. Lantainya bahkan beralaskan karpet berwarna merah muda terang, cukup empuk, tidur di karpetnya saja Leana mau kalau perlu.


"Ni bocah hidupnya sedep banget astaga... Semangat kerja, Na biar lo bisa gini. Ahah, ga tau deh kesampean kapan. Yang penting mah semangat," nasehat Leana pada dirinya sendiri.


"Itu tempat tidur Nona Jihan." Raffa menunjuk ke arah tempat tidur bayi, bahkan tanpa diberitahu oleh Raffa, Leana sudah tahu tentang hal itu. "Hp getar, sepertinya ada yang menelepon. Kau tunggu di sini aku keluar sebentar." Raffa keluar dari kamar Jihan dan segera mengangkat panggilan yang ternyata dari Tuan Devan.


"Halo, selamat pagi Tuan. Ada apa?" Sambut Raffa setelah menjawab panggilan suara itu.


"Saya dengar dari salah satu petugas CCTV, Jihan berkeliaran sendiri di jalan depan Bank tempatmu bertugas hari ini. Apa ada alasan logis mengenai itu?" Tanya Devan dari seberang sana.


"Ah iya, itu memang benar. Tapi tenang saja, semuanya sudah aman. Nona Jihan juga sudah di mansion, dia sudah tertidur," jawab Raffa santai.


"Baiklah kalau begitu. Teleponnya saya tutup."


"Sebentar-sebentar." Raffa segera mencegah Devan.


"Apa lagi?"


"Nanti luangkan waktu, ada hal yang ingin saya bahas mengenai baby sitter Nona Jihan," jawab Raffa.


"Tentu, sebentar lagi saya kembali ke mansion." Setelah mengatakan itu, panggilan terputus secara sepihak.


Raffa yang sudah tidak heran lagi dengan hal itu segera memasukkan hpnya ke dalam jasnya lalu kembali menemui Leana yang masih setia dengan Jihan. Leana berdiri di sebelah tempat tidur bayi itu, memandangi Jihan yang masih terlelap.


"Sudah selesai menjawab teleponnya?" Tanya Leana yang menyadari keberadaan Raffa yang tidak jauh darinya.


"Sudah, kau ingin pergi?" Raffa tetap diam di tempatnya, dia tidak mendekat ke arah Leana.


"Iya, aku harus bekerja," jawab Leana memperlihatkan senyumannya.


"Perempuan ini begitu manis," batin Raffa memuji kecantikan dari Leana. "Mau aku antar tidak?"


"Tidak perlu, kau terlihat begitu sibuk. Lagipula tempatku bekerja lumayan dekat dari sini, taksi di luar juga ada banyak," jawab Leana dengan sopan dan tidak melupakan senyumannya. Sebenarnya Ana bohong tentang tempat kerjanya yang lumayan dekat, dia bahkan tidak tahu tempat ini di mana.


"Baiklah kalau begitu, hati-hatilah di jalan." Raffa juga ikut tersenyum menatap Leana yang lewat di hadapannya.


"Tentu, sampai jumpa." Leana berlalu dari hadapan Raffa, kini Raffa berjalan menuju ruangan yang biasa dia gunakan untuk berbicara hal penting bersama dengan Devan.


Saat berjalan menuju pintu gerbang, Leana berpapasan dengan sebuah limosin dengan satu orang pengemudi dan seorang pria di kursi belakang.


Pria itu menatap tajam ke arah Leana, sedangkan Leana yang juga kebetulan memandangi pria itu kini bingung dan sedikit ketakutan. Bingung, kenapa pria itu memandanginya seperti itu. Takut, tatapannya begitu mengintimidasi.


"Ada apa ya?" Batin Leana sembari tetap berjalan dan mencoba tidak menghiraukan tatapan tadi.


Tapi Leana mencoba untuk tidak peduli, bukan urusan nya, ia juga tidak kenal dengan orang itu. Leana kembali ke bar dengan menggunakan taksi, sebenarnya Leana malas pergi dengan taksi karena mahal, tapi Leana tidak tahu dirinya sedang di mana. Haha.


.


.


"Kak," sapa Leana ketika bertemu Vio, orang yang paling dekat dengannya di tempat kerja.


"Ahahahaha..." Bukannya menjawab, Leana malah tertawa, Leana merasa senang ketika seseorang begitu peduli padanya.


Vio menatap sinis ke arah Leana yang sedang tertawa. "Ni bocah malah ketawa, eh tapi kalo udah ketawa artinya udah gapapa sih."


"Iya Kak, aku gapapa, cuman tadi ada masalah dikit, hehe," jawab Leana.


"Masalah sama nenek sihir sama Mak lampir lagi?" Tanya Vio, Ghea dan Mayang yang ia maksudkan.


"Ahahahah... Gak kok, bukan, di jalan tadi. Ga penting kok," jawab Leana.


"Iya deh."


"Btw, nanti jangan bilang nenek sihir sama Mak lampir lagi ya," ujar Leana nyengir padahal ia sedang takut kalau-kalau Ghea mendengar mereka.


"Oh iya-iya. Sworry," sahut Vio.


"Rame?"


"Tuh, meja nomor tujuh," jawab Vio lalu pergi dari kitchen bar.


"Okey," jawab Leana agak berteriak karena Vio menjauh.


.


.


Raffa POV


Leana pergi dari mansion, menyisakan Raffa yang berdiri di depan pintu kamar Jihan, sedangkan Jihan sudah terlelap. Tenang sekali wajahnya. Raffa tersenyum sekilas lalu pergi menuju ruang kerja Devan ketika di mansion.


Sekitar 5 menit Raffa menunggu, langkah kaki Devan mulai terdengar mendekati ruang kerja tempat mereka akan membicarakan sesuatu.


Pintu terbuka dan menampakkan Devan yang datar. "Flat banget," batin Raffa tapi ia juga sama datarnya.


"To the point." Devan duduk di sofa single.


"Mira, baby sitter nya Jihan yang sebulan lalu kita rekrut sudah tidak bisa diandalkan. Saran saya, ganti." Raffa sebenarnya sudah tidak heran dan sudah terbiasa.


"Sudah ada penggantinya?" Tanya Devan lagi.


"Sudah, salah satu pekerja mu yang ada di bar CR," jawab Raffa sembari memberikan Devan selembaran yang berisikan biodata tentang Leana, tidak lengkap tapi akurat.


"Yakin?" Devan terlihat tidak begitu yakin.


"Ck. Ragu? Cari sendiri..." Sahut Raffa.


"You are too brave now." Devan menganggukkan kepalanya.


"Nah. Just kidding." Raffa nyengir padahal sebenarnya ia sedang takut. "Perhatiin deh baik-baik, dia belum dua puluh tahun, jadi di bar dia belum jadi pemain. Kalau nanti tanggalnya sudah tiba, dan dia mengundurkan diri, berarti dia memang wanita baik-baik. Kalau tidak, nanti kita carikan yang lain," jelas Raffa dengan teliti.


"Ini modus kamu biar ketemu dia terus?" Tanya Devan di luar dugaan Raffa.


"Astaga, Bang, bisa-bisanya di saat genting begini bercanda." Raffa kadang ingin sekali menoyor kepala Devan.


"Oke, tunggu tanggalnya, ada lagi yang perlu dibicarakan?" Devan menyisir rambutnya dengan jarinya.


"Gak ada sih, saya juga mau balik ke bank," jawab Raffa. Dia bertanggung jawab atas bank, tempat ia bertemu dengan Leana yang menggendong Jihan tadi.


"Oke." Devan pergi ke luar ruangan, mungkin kembali ke kantor, atau ke mana saja terserah padanya.


Begitu juga Raffa, namun Raffa tujuannya pasti ke bank.


.........


Bersambung Guys...


Mohon dukungannya 😸😸