MOMMY

MOMMY
S2. Kenyataan Surya



Faisal benar-benar tidak percaya kalau adiknya sekarang sakit parah.


TOK...


TOK...


"Masuk!" seru dokter Harlan.


Ceklek..


Terlihat Faisal sudah memasuki ruangan dokter Harlan, pria itu menatap seorang dokter tua yang duduk di kursinya.


"Siang dokter!!" seru Faisal.


"Siang,masuk." jawab dokter Harlan.


"Bisakah saya berbicara dengan dokter sebentar?" tanya Faisal kepada dokter Harlan.


"Bisa, silakan." jawab dokter Harlan. sesaat kemudian nampak Faisal mencari bahan pembicaraan untuk membahas mengenai penyakit dari Surya.


"Kau Faisal, kau kakaknya Surya kan?" tanya dokter Harlan yang membuat Faisal sangat terkejut. ternyata pria tua itu sudah mengetahui kalau dirinya adalah kakak dari Surya.


"Bagaimana dokter tahu?" tanya Faisal kepada dokter Harlan.


"Tentu saja aku tahu, aku merawat Surya sudah 10 tahun ini." jawab dokter Harlan.


Terlihat Faisal menatap dokter Harlan, pria itu sedikit percaya dan tidak jika saudaranya benar-benar sakit.


"Bolehkah saya bertanya sesuatu dokter?" tanya Faisal kepada dokter Harlan.


"Tentu, silahkan." jawaban dokter Harlan kembali.


Nampak Faisal menghela nafasnya, sesaat kemudian dia mencari tahu mengenai kondisi Surya.


"Surya mengalami sakit jantung ketika dia berada di penjara, aku lupa dia dipenjara berapa tahun ketika dia mengalami penyakit itu. setelah beberapa tahun kemudian saat aku membawanya ke rumah sakit ku.., aku baru tahu kalau dia mengalami sakit kanker.


"Aku kira penyakit itu masih stadium awal, namun beberapa tahun kemudian aku sangat terkejut ketika mengetahui kalau dia mengalami sakit kanker stadium 3. Aku berusaha untuk mengobatinya, aku selalu memberikannya pengertian mengenai keluarganya. aku tahu kalau saudaramu itu memiliki kesalahan yang tidak mungkin dimaafkan, Tapi alangkah baiknya jika kalian memberikannya Maaf ketika umurnya mungkin bertahan atau tidak." ucap dokter Harlan yang membuat Faisal benar-benar sangat terkejut.


"Apakah Dokter benar-benar yakin kalau dia mengalami sakit kanker dan jantung?" tanya Faisal yang seolah tidak percaya. sesaat kemudian terlihat dokter Harlan memberikan beberapa hasil laboratorium dari Surya, dia memberikannya kepada Faisal.


Faisal menatap satu persatu hasil laboratorium itu, terlihat jelas disana nama surya dan beberapa kondisinya.


"Silakan lihat sendiri bagaimana kondisi adikmu itu, karena kemungkinan besar dia tidak akan bertahan lama jika dia tidak mau dirawat secara keseluruhan." ucap dokter Harlan.


"Maksud dokter apa?" tanya Faisal.


Akhir-akhir ini mungkin bukan akhir-akhir ini beberapa tahun ini dia selalu menatap foto gadis kecil yang katanya putrinya. dia benar-benar merasa bersalah, merasa bersalah dengan semua yang dia lakukan. dia ingin sekali menebus seluruh dosa-dosanya, dia ingin mendapatkan Maaf dari kalian semua." ucap dokter Harlan.


Entah mengapa Faisal berusaha untuk mencerna kata-kata yang diucapkan oleh dokter Harlan. siang itu Faisal nampak diam di kamar rumahnya, dia masih percaya dan tidak dengan apa yang didengar dari dokter yang merawat Surya.


"Jadi selama ini dia takut untuk kembali ke rumah karena kesalahan yang dia lakukan pada kami." ucap Faisal yang terlihat memejamkan matanya.


Di tempat lain di rumah sakit Aruna membicarakan mengenai kata-kata yang diucapkan oleh Fahrul.


"Jadi pria itu yang berusaha untuk menabrak Mommy?" tanya Bilqis kepada ibunya.


"Bukan berusaha sayang, dia sudah menabrak Mommy hingga membuat Mommy seperti ini." jawab Aruna yang terlihat kesel karena dia belum dapat membuka kedok Fahrul didepan suaminya.


"Apa tidak sebaiknya kita menjebak pria itu Mbak?" tanya Juna.


"Ya tentu saja kita harus menjebak pria itu didepan suamiku bagaimanapun caranya. aku tidak ingin dia bebas gentayangan di luar sana. aku hampir mati bahkan sopir kita saja sampai mengalami kondisi yang seperti itu." jawab Aruna.


"Pria itu sangat licik mom, kita harus membuat siasat agar dia mau mengakui seluruh kejahatannya." ucap Bilqis.


"Kalau Mommy tahu dia mengatakan hal itu pasti Mommy bakal mencari ponsel dan merekamnya sayangnya, kondisi Mommy masih lemah, ingin menghajar dia pun tidak akan bisa." gerutu Aruna yang sangat kesal karena kondisinya masih lemah.


Memang waktu itu Aruna ingin bangun, dia ingin sekali segera menghajar Fahrul atau melakukan sesuatu.


"Maka dari itu Mbak.., Mbak harus segera sehat. kita harus segera memberikan pelajaran kepada pria itu, dia berusaha untuk membunuh Mbak Aruna kemungkinan besar pria itu tidak akan main-main untuk menghabisi nyawa Mbak Aruna juga Bilqis." ucap Juna yang membuat Aruna langsung melotot.


"Jangan teriak-teriak, Mbak. tubuh Mbak itu masih lemah, tenaganya dihemat." canda Juna yang membuat Aruna melotot.


"Kamu tadi ke sini bawa apa, apa kamu bawa nasi campur, es campur atau jus strawberry mungkin?" tanya Aruna yang membuat Juna tersenyum.


"Untung saja Bilqis tadi memintaku membeli semua itu, Mbak kalau tidak pasti Mbak Aruna bakal menggerutu tidak karuan." jawab Juna yang membuat Aruna nampak mencibirkan bibirnya.


Suara canda tawa di ruangan Aruna benar-benar membuat surya yang berada di luar ruangan nampak tersenyum.


"Bisakah aku bercanda gurau dengan mereka seperti itu, Sania?" tanya Surya kepada sang istri.


"Tentu saja bisa mas, kita pasti bisa bercanda gurau seperti itu dengan mereka. Mas harus yakin mas harus berusaha sebaik mungkin untuk menerima semua cobaan ini." jawab Sania.


Sesaat kemudian terlihat Sania mendorong Surya masuk ke dalam ruangan Aruna.


"Kau sedang apa di sana Surya, masuklah ke sini!!" seru Aruna dengan suara yang agak lemah. nampak surya yang duduk di kursi roda tersenyum saat menatap Aruna yang sudah terlihat sehat.


"Pagi." sapa Surya kepada Bilqis dan Juna.


"Pagi om." jawab Juna.


"Oh ya Surya, Bagaimana.., Apakah kamu sudah melakukan kemoterapi?" tanya Aruna kepada Surya. pria itu nampak menganggukkan kepalanya, dia tersenyum memandang Aruna yang sudah tidak terlalu pucat lagi.


"Pasti melakukan hal itu sangat sakit ya, kata orang-orang yang ada di rumah sakit ini melakukan pengobatan kanker benar-benar sangat menyiksa." ucap Aruna.


DEG..


Bilqis benar-benar sangat tersentak dengan kata-kata ibunya itu.


"Sesakit itukah." guman Bilqis dalam hati.


Sesaat kemudian Gadis itu memandang surya, yang rambutnya sedikit demi sedikit mengalami kerontokan.


"Suamiku ini sangat kuat Mbak Aruna, Tentu saja dia pasti akan berusaha untuk bertahan hidup. dia masih mempunyai cita-cita untuk menerima cinta dari putrinya." ucap Sania sambil menatap Bilqis.


"Amin, pasti Allah akan mengabulkan doa om Surya." jawab Juna.


Surya nampak tersenyum begitu hangat, pria itu menatap putrinya yang begitu akrab dengan pria yang ada di sampingnya itu.


"Siapa namamu?" tanya Surya kepada Juna.


"Nama saya Juna, waktu itu kita pernah bertemu kan." ucap Juna sambil tersenyum.


"Iya, tapi waktu itu kan kita cuma bertemu sebentar di restoran. aku dan kau belum saling mengenal." jawab Surya.


Percakapan mulai terjadi di ruangan itu, Surya benar-benar merasakan kehangatan dari sebuah keluarga.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Black Rose


- Mommy


- Mantan terindah


- Suami keduaku cinta pertamaku


- Dewa perang dan Ratu sihir


- Permaisuri sang kaisar


- ijinkan aku bahagia bersamamu


- jangan sakiti aku