MOMMY

MOMMY
Mulai Bekerja



Episode sebelumnya


"Astaga... Bisa-bisanya aku emosi hanya karena gadis itu. Maafkan aku Paman. Aku ingat kalau sudah berjanji untuk menjaga Leana dengan baik." Devan kembali sadar lalu bersandar pada pintu. "Lebih baik tidur daripada tambah stress." Devan kembali ke kamarnya yang berada di sebelah ruang kerjanya itu.


...****************...


"Hoaaammm..."


Leana terbangun lalu mencoba meregangkan tubuhnya, "Adududuh...." Leana meringis, benar saja. Tubuhnya masih punya luka lebam dan sedikit lecet.


"Kalau aku tidak mandi? Mau diletakan di mana wajah ini? Kalau aku mandi? Semuanya akan sakit," Leana berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Ya sudah, mandi itu harus." Leana masuk ke dalam kamar mandi lalu membersihkan sekujur tubuhnya.


"Astaga!" Leana dikejutkan oleh penampakan pakaian yang ada di dalam lemari kamar itu. Memang bagus, hanya saja benar-benar menekan Leana. Kekecilan. Itu yang Leana rasakan setelah mencoba salah satu dari pakaian itu.


Setelah lama memilah dan memilih pakaian, Leana menemukan setelan pakaian yang setidaknya tidak membuatnya terlalu merasa kesakitan dan memudahkannya untuk bergerak.


Setelah itu, Leana segera pergi keluar untuk bantu-bantu.


Matahari sudah menunjukkan dirinya, namun terlambat, Leana sudah beraktivitas bahkan sebelum sang matahari muncul.


"Tidak nyaman" yang dirasakan oleh Leana memaksa Leana agar bangun pagi lalu membantu asisten rumah tangga yang sedang bekerja.


Pakaian di kamar ini benar-benar menyiksa Leana. Pakaiannya terlalu ketat untuk Leana yang sekujur tubuhnya dipenuhi oleh memar. Memar itu dia dapatkan dari Ibu tirinya, di Bar juga biasanya dia mendapat perlakuan yang tidak bagus dari perempuan yang berumur 20 tahun ke atas. Ghea yang melihat itu pura-pura tidak tahu, dia enggan untuk bertindak.


Bahkan di Bar, Ghea merahasiakan identitasnya sebagai Kakak tiri dari Leana. Saking malunya Ghea memiliki adik tiri yang menjadi bahan kebuli di Bar.


Sekaligus juga, Leana akan menunggu Devan berangkat bekerja. Kata Ibu yang kemarin, Leana harus izin dulu kepada Devan jika hendak pergi kemanapun. Itu karena, Leana di sini bekerja sebagai baby sitter yang keperluan bayinya sudah disiapkan oleh asisten lainnya.


Akan terlihat mencurigakan jika pergi diam-diam dari mansion. Begitulah penuturan dari Ibu... Ya, panggil saja Ibu.


[Author belum ngasih nama ke Ibu itu😅]


Setelah selesai di dapur, Ana kembali naik ke lantai atas untuk menengok Jihan, apa balita itu sudah terbangun dari tidurnya atau belum.


Belum. Jihan masih terlelap dalam tidurnya. Dia bahkan mengigau, dia tersenyum sembari menggerakkan tangannya seperti sedang bermain.


Leana tersenyum menatap Jihan. Bukan anaknya, bahkan tidak ada hubungan darah sedikitpun. Baru saja bertemu beberapa kali, Leana sudah sangat amat menyayangi Jihan seperti darah dagingnya sendiri. Entah sebagai anak atau adik. Belum jelas di pikiran Leana.


Devan yang sudah rapi berdiri tepat di sebelah Leana yang kebetulan masih berdiri di ambang pintu kamar.


"Sedang apa di sini?" Tanya Devan pelan.


"Heh astaga-astaga!" Latah Leana yang kaget, bahkan saat Devan sudah berbicara dengan suara pelan.


"Lain kali jangan diam di depan pintu begini," nasehat dari Devan. Leana hanya mengangguk lalu menutup pintu kamar Jihan. "Jadi?"


"Jadi?" Leana bingung.


"Kamu di sini lagi sedang apa?" Devan mengulangi pertanyaannya yang tadi dengan nada lebih sabar setelah menghela nafas.


"Aku hanya menengoknya. Kalau-kalau dia sudah bangun," jawab Leana. "Oh ya, Tuan akan pergi bekerja sekarang?" Devan hanya mengangguk untuk jawaban iya. "Tadi Ibu bilang kalau mau keluar mansion harus izin padamu dulu. Aku ingin pergi ke rumahku untuk mengambil semua pakaianku," sambung Leana sembari memperlihatkan senyum ramahnya agar diberikan izin.


"Memangnya pakaian di kamar itu kenapa?"


"Mereka terlalu ketat," jawab Leana yang mulai mengeluarkan keringat dingin. "Tolong jangan bertanya lebih banyak," batin Leana.


"Terserah padamu. Pergilah setelah Raffa menjemputmu ke sini," jawab Devan lalu berjalan meninggalkan Leana di depan pintu kamar Jihan.


"Hah...." Leana lega karena Devan tidak bertanya lebih banyak. Bukan apa-apa, hanya saja Leana malu untuk memberi tahu Devan tentang apapun yang terjadi padanya selama di rumah. "Entah kapan Raffa akan ke sini." Leana tersenyum tipis, bisa dipercaya atau tidak.


.


07:02 AM


Devan pergi setelah sarapan, masakan itu dibuat oleh Ibu. Mita, itulah namanya. Leana mengetahuinya setelah iseng bertanya.


"Bu, kira-kira kalau aku pergi sekarang bagaimana?" Tanya Leana hendak mendengar pendapat dari Bu Mita sedangkan Devan baru saja pergi meninggalkan area mansion.


"Memangnya sudah diizinkan oleh Devan?" Tanya Ibu lembut.


"Sudah..." Jawab Leana ragu-ragu. Memang sudah, hanya saja dia diminta untuk menunggu Devan untuk menjemputnya.


"Ya sudah, hati-hatilah di jalan. Segeralah pulang," ujar Ibu tanpa curiga sedikitpun terhadap jawaban Leana.


"Maaf aku berbohong, tapi aku pasti akan segera kembali bahkan sebelum Raffa sampai di sini," batin Leana sembari tersenyum menatap Bu Mita yang sedang duduk di salah satu kursi meja makan.


Pekerjaan para asisten rumah tangga sudah selesai, tinggal berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Asisten ini bukan asisten sembarangan, Leana dapat menilai mereka dari pakaiannya. Pakaian mereka berisikan setidaknya satu pistol dengan beberapa peluru.


Leana berjalan menuju rumahnya, bukan berjalan. Dia naik taksi, jujur saja Leana tidak tahu dirinya berada di kompleks, daerah, bahkan kota mana.


Kalau dilihat dari plakat-plakat yang ia lewati saat bersama Devan, seperti sudah berada di kota yang berbeda dengan kota rumahnya.


Leana hanya memberi alamat tempat yang akan ia tuju kepada supir taksi, dengan senyum ramah, si supir taksi mengantarkan Leana sampai di depan rumahnya.


"Pak, tunggu di sini ya. Saya tidak lama." Leana keluar dari taksi.


"Iya-iya. Cepat ya..." Dengan ramah supir itu mengiyakan permintaan penumpangnya.


Tok tok tok


Leana mengetuk pintu rumahnya.


Ceklek


Wajah Ibu tirinya terlihat setelah pintu terbuka, bukan dengan wajah khawatir, Ibunya terlihat begitu marah.


"Abis ke mana aja? Pergi pagi pulang pagi. Lupa harus ngerjain tugas rumah?!" Tanyanya sembari berkacak pinggang dan menghalangi jalan agar Leana tidak masuk ke dalam.


"Ah sial, seharusnya tadi aku langsung masuk saja lalu mengambil pakaianku. Kalau begini, supir itu akan lama menungguku." Leana ribut dengan dirinya sendiri memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa cepat pergi dari sini bersama dengan kebutuhannya.


"HEH! JAWAB!" Pekik sang Ibu tiri sembari memukul pintu.


"Be-begini... Aku dapat pekerjaan yang baru, mungkin aku bakalan nggak pulang selama beberapa hari," jawab Leana berusaha tetap tenang.


"Bagus, lain kali kamu tuh harus lebih berguna. Hidup di kota itu gak mudah. Sekarang mau ke mana nih?" Sinis nya.


"Aku akan mengambil pakaianku lalu kembali ke tempatku bekerja," jawab Leana.


"Sebenarnya kamu itu kerja di mana sih?" Tanya Ibunya.


"Aku hanya bekerja cuman jadi baby sitter," jawab Leana sambil tersenyum tipis.


"Tidak buruk, terserah aja sih. Yang penting cuan nya banyak," ujarnya acuh. Lalu memberikan jalan untuk Leana masuk.


Leana merasa lega karena Ibu tirinya tidak menahannya lebih lama lagi. Baru saja akan masuk ke dalam kamarnya tiba-tiba Ghea datang dari belakang sambil mencengkram lengannya dengan kuat.


"Sa-sakit." Leana meringis, lengannya belum selesai dengan memar, sekarang malah semakin dirusak oleh Ghea.


"Hai jal ng... Ke mana lo semalam? Di Bar gak ada, di rumah juga gak ada. Jangan-jangan orang kaya udah nyewa lo ya? Udah mulai jadi kupu-kupu malam nih si kepompong? Gimana rasanya? Dapet duit banyak gak? Hebat deh, besok-besok ajarin gue." Ceroscos Ghea yang bahkan tidak melepaskan cengkraman tangannya.


"Sakit Kak..." Air mata Leana menetes.


"Ah! Lo lemah banget tau gak." Ghea melepaskan Leana dengan kesal. "Sekarang bilang, siapa yang nyewa lo?" Tanya Ghea.


"Gak ada..." Jawab Leana dengan nada pelan dan masih memegangi lengannya yang sangat-sangat sakit.


"Bohong! Lo pasti bohong! Lo gak mungkin jadi baby sitter!"


"Gapapa kalo gak percaya," ujar Leana lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Lo pinter ya sekarang, progresnya tinggi. Diajarin Vio ya? Lawak," ejek Ghea yang berada di luar kamar Leana. Ghea benar-benar enggan untuk masuk ke dalam kamar adik tirinya itu, dan itu yang membuat Leana kadang masih bisa bersyukur.


Vio, dia adalah perempuan yang sedikit memiliki rasa iba terhadap Leana ketika dia dibuli di Bar.


Apa kabar dengan Ibu tirinya? Dia sedari tadi hanya menonton kedua putrinya bersilat lidah kecil. Ibu yang sangat amat "peduli".


Sesegera mungkin, Leana memasukan seluruh pakaiannya ke dalam satu-satunya koper yang ia miliki. Tidak lupa hp dan dompetnya yang tipis juga masuk ke dalam koper tersebut.


"Cepat balik ya ******. Ingat, kami juga perlu jasa-jasa lo buat bersihin rumah!" Teriak Ghea dari depan pintu rumah.


Leana tidak memberi respon apapun, ia hanya tetap berjalan menuju taksi dan menarik kopernya. Ingin sekali Leana meninju wajah Ghea. Namun sudahlah, supaya cepat. Lagipula Leana tidak bisa melakukannya.


"Dia bakal balik?"


"Peduli amat sih, Ma. Biarin terserah dia, intinya kalo dia ga ngirimin uang. Kita hajar pas dia balik," jawab Ghea dengan percaya diri. Dia bahkan tidak tahu di sisi lain ada Devan yang sedang berusaha keras untuk memisahkan Leana dengan Ghea dan Ibu tirinya.


Di dalam taksi, entah kenapa air mata Leana menetes begitu saja. Dia teringat ternyata dia meninggalkan rumah yang berisi kenangannya bersama sang Ayah.


"Ayah, di mana pun Ayah berada, semoga Ayah bisa denger Nana. Nana ninggalin rumah bukan tanpa sebab, maafin Nana ga bisa jaga rumah, tapi kalo nanti saatnya udah tiba, Nana bakalan ambil balik rumah itu. Karena kata Ayah, Nana berhak atas rumah itu. Sekarang masih ketutup Ibu sama Kak Ghea. Nana sedih sih, tapi mau gimana lagi, sedih berlebihan juga ga bisa bikin kehidupan Nana kembali normal. Jagain Nana dari sana ya Yah, Bu."


.........


Bersambung guys...


Kiw dukungannya 🤭