
"Majulah." ucap Aruna.
"Sombong!!" seru keempat pria.
Satu pukulan dilayangkan oleh salah satu pria, Aruna langsung menghindar dari pukulan itu.
"Kalian ini lemah sekali ya." ejek Aruna.
2 pria langsung melayangkan tendangan ke arah Aruna, namun wanita itu mampu menghindar kembali.
"Kalian ini disuruh untuk menghabisi ku atau mengajakku bermain-main?" tanya Aruna.
Pukulan dan tendangan para pria itu mampu dihalau oleh Aruna, Hal itu membuat keempat pria itu begitu murka.
"Kau kira kau bisa melakukan hal itu, padaku!!" seru Aruna.
"Kami akan membunuhmu!!" teriak 4 pria.
Dengan begitu lincahnya Aruna terus menghindar dari serangan-serangan keempat pria itu, Aruna tidak akan mudah menyerah kepada siapapun yang berusaha untuk melukainya.
"Majulah, jika kalian tidak bisa melukaiku maka kalian ini tidak pantas dipanggil sebagai seorang pria!!" seru Aruna.
Satu hinaan keluar dari mulut Aruna yang membuat ke-4 pria itu langsung murka.
"Dasar wanita sialan." seru para pria.
BUKK..
BUKK...
BUKK..
Perkelahian antara lima orang itu terjadi, Aruna terus berusaha untuk menghindar dari serangan ke empat pria itu.
BUKK...
BRAKK..
Dua pria sudah tersungkur di tanah, sedangkan salah satu pria nampak memukul Aruna dengan sesuatu.
"Berani sekali kalian melakukan hal itu padaku!" seru Aruna.
Dari tempat yang tidak jauh, sebuah mobil mewah sudah memasuki jalan tempat Aruna berada.
"Tuan." panggil supir Surya.
"Ada apa?" tanya Surya.
"Kelihatannya ada yang berkelahi." jawab supir Surya.
"Seorang wanita di keroyok preman, tuan." jawab supir Surya.
"Lalu, Ada apa, apakah ada yang terjadi?" tanya Surya yang seolah tidak menghiraukan siapapun.
"Apakah kita tidak menolongnya, tuan?" tanya Surya.
"Biarkan saja." jawab Surya.
"Kasian wanita itu, tuan." ucap supir Surya.
"Biarkan saja, aku tidak perduli." jawab Surya.
Akhirnya mobil Surya melewati Aruna yang sedang di hajar para preman, padahal Aruna pernah menolong nyawa Surya.
"Tuan, itu nona Aruna." ucap si supir yang melihat Aruna terus melawan.
"Apa?" tanya Surya.
"Wanita yang di keroyok para preman itu adalah nona Aruna." jawab supir Surya.
Tatapan mata Surya nampak melihat Aruna yang berusaha untuk menghindar dari serangan serangan ke-4 pria itu. entah Surya mempunyai hati atau tidak pria itu seolah tidak melihat kejadian yang ada di depan matanya.
"Tuan, apakah kita tidak menolong Nona Aruna dulu, bukankah Tuan pernah ditolong oleh wanita itu." ucap sopir Surya.
"Biarkan saja, wanita itu kan wanita barbar. ngapain juga kita harus menolongnya. lebih baik kita segera ke tempat rapat, karena aku tidak ingin kehilangan tender bernilai triliunan." jawab surya yang meminta supirnya untuk segera meninggalkan tempat itu.
Betapa kejam Surya, betapa tidak mempunyai hati pria itu. nampak Aruna menghela nafasnya, wanita itu mencoba untuk menata nafasnya yang terengah-engah.
"Kalian kira kalian bisa membunuhku, kalian Seharusnya jangan bermimpi di siang bolong!!" seru Aruna yang sudah membuat keempat pria itu tersungkur di tanah.
Salah satu pipi Aruna terkena pukulan dari salah satu pria, sedangkan kepala Aruna terlihat sedikit mengeluarkan cairan merah karena dipukul dengan sesuatu.
Keempat pria yang diperintahkan Helena untuk membunuh Aruna nampak sudah tidak berdaya. terlihat Aruna sendiri berusaha untuk menguatkan tubuhnya agar sampai di jalan ramai.
"Aku tidak boleh sampai tidak sadar di jalan, aku harus mencari suatu tempat untuk ku berhenti." ucap Aruna.
Di sebuah toko kecil nampak Aruna menghentikan motornya di depan toko itu, Aruna mencoba menekan dahinya yang terus mengeluarkan darah sehingga mengganggu pandangan mata nya.
"Mbak, apa yang terjadi dengan mu?!" tanya seorang wanita yang melihat Aruna berhenti di depan tokonya.
"Maaf ya Bu, aku berhenti sebentar. tadi aku bertemu para perampok yang berusaha untuk mencuri dariku." jawab Aruna.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya seorang wanita kepada Aruna.
"Maaf ya bu, aku cuma mau beristirahat sebentar." jawab Aruna.
"Apa yang terjadi dengan mu, masuklah dulu ke tokoku aku akan merawat lukamu." pinta ibu pemilik toko.
"Tidak usah Bu, aku hanya perlu minum air dan mencari klinik saja." Jawab Aruna.
"Tidak, kau tidak boleh seperti itu. masuklah dulu ke tempatku, aku akan membersihkan lukamu, kelihatannya kepalamu pusing ya?" tanya ibu pemilik toko.
Aruna menganggukkan kepalanya, terlihat pandangan matanya sudah sedikit samar.
"Istirahatlah dahulu, masuklah dulu ke tokoku. tidak apa-apa biar nanti karyawanku yang akan memarkirkan motormu." ucap Ibu pemilik toko.
Yang membuat Aruna masuk ke dalam toko kecil tersebut.
Di sebuah perusahaan terlihat Faisal sudah menunggu kedatangan Aruna, dari tadi dia mondar-mandir karena Aruna belum menampakan batang hidungnya. salah satu tangan Faisal langsung mengambil ponsel yang ada di mejanya, dia menelpon salah satu orang yang ada di rumahnya.
Salah satu pembantu mengatakan kalau Aruna sudah pergi dari rumah semenjak tadi, tapi mengapa Aruna belum juga sampai di perusahaan. Ponsel Aruna nampak tidak aktif. Hal itu membuat Faisal benar-benar sangat kebingungan.
"Dimana Aruna, kenapa dari tadi dia belum sampai." ucap Faisal.
Salah satu sekretaris Faisal sudah memasuki kantor Bosnya itu.
"Pak, Sebentar lagi kita akan ada rapat." ucap sekretaris Faisal.
"Iya." jawab Faisal yang kemudian meletakkan ponselnya.
Aruna yang berada di toko makanan itu dia melihat ponselnya, ternyata ponsel itu sudah mati.
"Bu, Bolehkah aku pinjam charger untuk mengisi daya ponsel ku?" tanya Aruna.
Ibu pemilik toko memberikan charger untuk Aruna, wanita itu berpikir untuk menelepon Faisal dan memintanya untuk menjemput dirinya di tempat Ibu pemilik toko.
Selama lima belas menit Aruna menelfon Faisal, namun pria itu tak kunjung mengangkat ponselnya.
"Ada apa?" tanya ibu pemilik toko.
"Bos saya tidak mengangkat ponselnya Bu. mungkin dia sedang berada di luar perusahaannya." ucap Aruna.
"Ya sudah kalau begitu, kamu beristirahatlah sebentar disini. kelihatannya lukamu itu cukup parah. nanti kalau temanmu sudah menelepon kamu bisa pergi dari sini." Ibu pemilik toko itu nampak melihat Aruna. wajah cantik itu terlihat sedikit memerah di salah satu Itu pipinya.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya ibu pemilik toko.
"Entahlah Bu, orang-orang itu berusaha untuk merampok. padahal saya tidak mempunyai apa-apa." jawab Aruna. tidak mungkin bagi Aruna mengatakan kalau para pria itu berusaha untuk membunuhnya.
Ibu pemilik toko terlihat memberikan teh hangat dan makanan kecil untuk Aruna.
"Makanlah dulu." pinta ibu pemilik toko.
"Maaf ya bu sudah merepotkan." ucap Aruna.
"Tidak, kenapa kau bilang begitu, kita ini adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. jadi kita harus saling menolong satu sama lain, mungkin suatu saat ibu akan butuh Pertolonganmu, Jadi kau tidak usah memikirkan hal itu." ucap Ibu pemilik tokoh yang membuat Aruna tersenyum atas kebaikan wanita itu.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Mommy
- Mantan terindah
- Suami keduaku cinta pertamaku
- Dewa perang dan Ratu sihir
- Permaisuri sang kaisar
- ijinkan aku bahagia bersamamu