
Setelah mengatakan hal itu akhirnya Fahrul duduk sembari membaca koran yang ada di tempat itu. beberapa saat kemudian Bilqis juga sudah berada di ruangan sang ibu.
"Mas, nanti tolong belikan aku jus apel sama alpukat ya," pinta Bilqis.
"Ok, tolong tanya Mbak Aruna juga. dia mau beli apa." tanya Juna.
Kedua insan itu terlihat bercanda gurau, mereka nampak tidak mengetahui kalau di ruangan itu ada Fahrul.
"Bilqis." panggil Fahrul yang melihat Bilqis sedang bercanda gurau dengan supir sekaligus pengawal pribadinya. tentu saja Bilqis yang mendengar seseorang memanggilnya tentu saja Gadis itu langsung menoleh, Bilqis dan Juna tidak tahu kalau di ruangan itu ada Fahrul.
"Kau ada di sini rupanya, maaf aku kira tidak ada orang." ucap Bilqis.
"Iya aku tadi diminta oleh ayah Om Faisal untuk menunggu tante Aruna." ucap Fahrul.
"Ya sudah kalau begitu, aku kan sudah berada disini kau bisa pergi karena aku yakin kau mempunyai pekerjaan yang sangat banyak." ucap Bilqis yang seolah mengusir Fahrul untuk segera pergi dari kamar ibunya.
Aruna yang sedang berpura-pura tidur itu pun nampak Wanita itu sangat geregetan, ingin sekali Aruna segera menendang Fahrul dari kamarnya Aruna benar-benar dibuat syok dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh Fahrul. mungkin Fahrul mengira kalau Aruna kondisinya masih lemah karena hal itu dengan begitu enteng nya dia membuka semua kebusukannya di depan Aruna yang sedang tertidur.
"Aku akan menunggu Om Faisal ke sini dahulu, nanti kalau Om Faisal sudah datang aku baru makan pergi." jawab Fahrul.
Bilqis tidak memperdulikan pria itu, gadis itu meminta Juna untuk membelikan sesuatu untuknya.
"Memangnya kau minta apa Bilqis?" tanya Fahrul.
"Tidak usah, Terima kasih. Biar mas Juna saja yang membelikannya. Aku tidak ingin merepotkan seseorang." ucap Bilqis yang seolah mengatakan kalau wanita itu benar-benar tidak menyukai keberadaan Fahrul.
"Dasar gadis ingusan, kalau aku tidak ingin menghancurkan Ayah kandungmu Aku tidak akan melakukan hal ini. kau kira kau wanita secantik apa hingga kau merendahkanku seperti ini." guman Fahrul dalam hati.
Tatapan mata Juna menatap sorot mata Fahrul, pria itu yakin kalau sekarang Fahrul sedang memikirkan sesuatu yang jelek kepada Bilqis.
"Baiklah kalau begitu aku disini saja biar supirmu itu yang membeli apa yang kau inginkan." ucap Fahrul.
Bilqis nampak menatap Fahrul, ketidaksukaan itu semakin bertambah besar ketika kata-kata yang keluar dari mulut Fahrul seolah menghina Juna.
Sekitar 30 menit kemudian Juna sudah kembali di kamar Aruna, pria itu masih melihat Fahrul tetap berada di kamar Aruna bersama Faisal dan Bilqis.
"Oh ya Juna, nanti kau temani Bilqis di sini. aku akan pulang sebentar untuk mengganti pakaian ku." pinta Faisal.
"Iya Pak, saya akan berada di sini." jawab Juna.
"Oh ya aku juga harus membawa anak-anakku untuk kemari, katanya Mereka ngambek karena tidak diperbolehkan oleh ayah untuk kemari." ucap Faisal yang kemudian meminta Bilqis untuk menjaga ibunya.
"Oh ya mas Fahrul Kenapa kau tidak sekalian ikut ayah?" tanya Bilqis kepada Fahrul.
"Aku disini saja untuk membantumu, aku takut kalau kau butuh sesuatu." jawab Fahrul.
Kata-kata yang keluar dari mulut Fahrul terasa bagaikan racun di telinga Aruna yang dari tadi mendengar semua perkataan pria itu.
"Lebih baik kau kembali ke perusahaan Karena aku yakin di perusahaan banyak kerjaan, biar Bilqis sama Juna di sini saja. lagi pula aku juga tidak ke perusahaan tolong kau handel perusahaan saat aku tidak ada." pinta Faisal.
Mau tidak mau Fahrul harus mengiyakan perkataan Faisal, karena jika dia menolaknya Fahrul akan menghancurkan rencananya sendiri.
Beberapa saat kemudian akhirnya Fahrul meninggalkan Rumah Sakit bersama Faisal.
"Ya ampun...,aku lupa ada sesuatu yang tertinggal Fahrul. kau duluan saja aku akan mengambil ponselku yang tertinggal di kamar istriku." ucap Faisal yang kemudian berbalik kembali kearah kamar sang istri. Baru beberapa langkah dia berbalik arah, tatapan matanya menatap seorang pria yang sedang duduk di kursi roda. Faisal mencoba untuk mengucek matanya, pagi ini Faisal sudah minum satu gelas kopi. jadi dia yakin kalau dia sedang tidak bermimpi.
"Surya." ucap Faisal yang melihat Surya duduk di kursi roda dan didorong oleh seorang wanita.
"Aku yakin aku tidak sedang bermimpi, itu Surya..," ucap Faisal kembali yang mencoba untuk meyakinkan dirinya.
"Suster!" panggil Faisal.
"Iya, Pak." jawab suster.
"Oya suster, siapa pria yang barusan masuk itu?" tanya Faisal.
Suster rumah sakit nampak mengingat seorang pria yang baru masuk ke ruangan kemoterapi, sesaat kemudian dia nampak tersenyum. "Oh..., itu tadi Tuan Surya bersama istrinya." jawab suster.
"Surya, Surya Siapa?" tanya Faisal kembali.
"Saya kurang tahu Pak, tapi yang saya tahu dia bernama Pak Surya." jawab suster.
"Dia sakit, Memangnya sakit apa kok dia masuk ke ruang kemoterapi?" tanya Faisal yang sedikit penasaran.
"Sebenarnya tuan Surya itu sakit jantung dan kanker Pak, mungkin kankernya sudah stadium 3. sudah 2 kali pria itu, dan dirawat di tempat ini oleh dokter Harlan." jawab suster.
Faisal begitu terkejut, saat dia mendapatkan jawaban dari suster rumah sakit dokter Harlan.
"Jantung, kanker, kau yakin?" tanya Faisal.
"Tentu saja saya yakin pak, waktu dia masih di penjara dia sering keluar masuk rumah sakit ini. beberapa bulan yang lalu dia sudah keluar dan tinggal di salah satu rumah perawat yang ada di tempat ini." jawab suster.
Faisal benar-benar tidak menyangka kalau pria yang barusan masuk itu adalah adiknya.
"Terima kasih ya suster." ucap Faisal. Entah mengapa kedua kaki Faisal nampak sedikit bergetar, pria itu tidak akan pernah mengira kalau adiknya mempunyai penyakit yang begitu menakutkan.
Setelah mengetahui kebenaran mengenai Surya, akhirnya Faisal lebih memilih untuk pulang ke rumah, dia memang masih tidak percaya dengan informasi yang barusan dia dapatkan. Faisal harus menyelidiki mengenai informasi yang diberikan oleh suster itu karena hal itu Faisal ingin bertemu secara langsung dengan dokter Harlan yang merawat Surya ketika masih di penjara.
Beberapa jam kemudian Faisal sudah kembali ke rumah sakit, dia akan mencari informasi mengenai kebenaran penyakit Surya.
"Apakah Dokter Harlan ada di ruangannya?" tanya Faisal kepada salah satu suster yang ada di rumah sakit.
"Ada Pak, Dokter Harlan berada di ruangannya. jika Pak Faisal ingin menemuinya silakan langsung keruangannya." jawab suster.
Setelah mengetahui dokter Harlan berada di ruangannya, dengan segera Surya pergi ke ruangan dokter. dia harus mencari tahu mengenai kebenaran penyakit surya, kebenaran mengenai Surya yang hidupnya sudah tidak lama lagi.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Black Rose
- Mommy
- Mantan terindah
- Suami keduaku cinta pertamaku
- Dewa perang dan Ratu sihir
- Permaisuri sang kaisar
- ijinkan aku bahagia bersamamu
- jangan sakiti aku